Fragmen 29 : Bodohnya Diriku
Dari atas ranjang kutatap Agung yang langsung mengenakan pakaian dan mengambil rokok setelah puas bercinta.
"Aku mau cari sunset dulu..." Agung menjawab tatapan penuh tanya.
"Nanti aku nyusul. Aku mau mandi dulu," jawabku.
"Ok," jawab Agung sambil mengecup pipiku.
...— x —...
Selesai mandi aku pun kembali ke kamar tidur tanpa mengenakan sehelaipun pakaian.
"Hei La..."
"Siapa kamu?!" Aku berusaha menutupi buah dada dan liang berbulu saat kulihat ada pria asing yang sedang duduk di atas ranjang kamar hotelku tepat di sebelah tumpukan pakaianku.
"Pa... Pak Dosen?" tanyaku saat kusadar bila pria itu adalah salah satu dosenku di kampus.
"Bapak iangan main selonong masuk kamar orang aja dong! Bapak ini dosen tapi gak tahu etika ya?!" teriakku marah.
Agung bilang kalau dia sudah menyewa pulau pribadi ini. Dan wajar saja kalau ada kolega Agung yang dia ajak datang ke pulau ini. Tapi itu bukan berarti mereka bisa keluar masuk kamar Agung dengan seenaknya begini kan?!
Ckrek!
Pintu kamar terbuka. Kulihat Agung memasuki kamar.
"Agung! Lihat! Temanmu ini udah... Eh!" Aku tak melanjutkan kalimatku saat kulihat Agung masuk kamar bersama tiga orang pria lain di belakangnya.
"Apa-apaan ini Gung!" aku yang panik sedikit berlari hendak mengambil bajuku yang tergeletak di atas ranjang.
"Eits!" bagaikan perangkap tikus, Pak Dosen yang duduk di samping tumpuk pakaianku langsung memelukku gemas begitu aku sudah berada di dalam jangkauannya.
"Lepaskan!" aku berontak melepaskan diri hingga tubuh telanjang ini jatuh bersimpuh di atas lantai.
"Gung?!" aku semakin protes menatap Agung. Tapi Agung hanya membalas dengan tersenyum tipis.
"Seharusnya kau baca kontrak kerjamu," ujar Agung sambil mengeluarkan tablet dari dalam tasnya.
"Ma... Maksudmu?"
Agung menjawab dengan menunjukkan kontrak kerja yang sudah kutandatangani di dalam layar tabletnya. Agung menzoom bagian pekerjaanku yang kini merupakan seorang lady escort.
Prak!
Aku yang panik dan emosi secara refleks menampar tablet Agung hingga terlempar jauh.
Agung senyum lalu berbisik, "Kamu pasti sudah tahu kalau yang bisa sukses di dunia ini hanyalah Raja, Pedagang, dan juga Mafia. Tapi setahuku masih ada yang keempat. Yaitu perempuan seperti kamu yang siap menyedot pusaka pria layaknya mesin penyedot debu."
"Bajingan!"
Grep!
Kuhendak menampar Agung tapi dia berhasil menahan tanganku.
"La... Aku bisa menuntutmu dengan pasal pelanggaran kontrak jika kau nggak mau diajak bekerjasama," ancam Agung.
"Cukup kau temani mereka semua selama sepuluh hari ke depan. Maka kau akan terbebas dari ancaman menjadi budak belian," gugat Agung masuk akal.
Tubuhku langsung melemas setelah ku kalah argumen. Aku benar-benar merasa bodoh. Ini semua bisa terjadi akibat kepolosanku yang langsung membubuhkan tanda tangan tanpa membaca isi kontraknya.
Akh...
Bisa-bisanya aku begitu naif dan sepenuhnya percaya pada pria yang baru kupacari selama enam bulan lamanya.
"Baiklah... Tapi aku ingin membaca kontrakku terlebih dahulu," ujarku pasrah.
"Gadis pintar."
Tak lagi berminat untuk mengenakan pakaian, aku duduk di atas kursi bertelanjang ria. Selama belasan menit aku membaca kontrak yang dikirimkan Agung ke ponselku. Dan aku menemukan kalau kontrak kerja ini telah diatur dengan cukup adil dan masuk akal. Sama sekali tidak terlihat bahwa kontrak ini merupakan hasil dari penipuan.
Intinya...
Aku tetap diperkenankan untuk menjalankan hidupku seperti biasa.
Hanya saja...
Dengan upah 25 ribu Haipur per bulan, Aku kini diwajibkan untuk meluangkan sepuluh hari dalam sebulan sebagai seorang escort. Sedangkan Agung berkewajiban untuk mencari pelanggan bagiku. Selain itu, Agung juga wajib memfasilitasi serta menghandle seluruh biaya hidupku.
Kontrak ini berlaku seumur hidup dan hanya bisa dibatalkan apabila kedua belah pihak mencapai mufakat.
"Sudah siap?" tanya Agung saat kuletakkan handphoneku di atas meja.
"Yah... Mau bagaimana lagi!" jawabku menerima nasib.
Nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak mungkin bisa lari dari kontrak yang sudah kutandatangani.
Lagipula setelah kupikir-pikir...
Aku bukanlah seorang perawan suci. Sudah banyak pria yang sempat mencicipi tubuh sempurnaku tanpa bayaran sepeserpun.
Benar!
Bercinta dengan pacar dan bercinta dengan pelanggan sungguh tak ada bedanya. Hanya saja yang satu itu gratisan dan yang lainnya berbayar.
...— Bersambung —...
Fragmen 30 : Tenggelam Semakin Dalam
Delapan bulan kemudian aku pun telah wisuda. Aku akhirnya tahu kalau Agung adalah seorang mucikari profesional yang kerap menggunakan seni peran demi memanipulasi gadis belia hingga bersedia menjadi aset dagangannya.
Dan sejak kejadian di pulau pribadi, aku tidak pernah memperkenankan Agung untuk menyeruput sari-sariku bila dia tidak mau membayar. Katakanlah ini adalah sedikit pembalasan dari bidadari yang telah dia sia-siakan.
Tapi...
Dunia hitam itu bagaikan pasir hidup. Sekali kita tenggelam, maka akan tenggelam semakin dalam.
Berkat pengalaman kerjaku saat ini. Aku kini tahu bila banyak masalah dalam hidupku yang ternyata bisa kuselesaikan hanya dengan menggoda dan mengangkang.
Contohnya adalah di kampus. Dengan upah berupa perbaikan nilai dan kemudahan dalam sidang skripsi, aku mempersilahkan mereka menggenjot tubuh seksiku. Walhasil, aku berhasil menyelesaikan kuliahku tepat waktu dengan nilai akhir yang sempurna.
Tidak hanya berprestasi di kampus. Aku yang cuman bekerja part time pun kini memiliki gaji sepuluh kali lipat gaji supervisor karena mampu memberikan perhatian lebih pada pemilik perusahaan.
Aku tidak bisa mengatakan kalau aku membenci pekerjaan kotor ini. Karena berkatnya hutangku hanya tersisa 100 ribu lagi. Bahkan kini hidupku terasa begitu nyaman dengan berbagai fasilitas mewah yang Agung berikan.
Tapi...
Plak!
"Kamu tidak bisa berhenti begitu saja La!" bentak Agung setelah menampar pipiku.
"Tapi Gung! Aku hamil. Sudah enam bulan," jelasku kembali.
"Gugurkan La!"
"Kamu gila ya?! Aku tuh hamil enam bulan. Bukan enam minggu! Walaupun aku tak tahu siapa Bapaknya, tapi Aku tetap akan melahirkan anak ini!"
"Tapi kalau kamu ingin hutangmu benar-benar lunas. Kamu harus lanjutkan pekerjaan ini."
"Aku tahu! Aku tidak berniat untuk berhenti dari pekerjaan ini. Tapi setidaknya biarkan aku istirahat melahirkan dulu."
"Jangan bodoh Laela!"
"Alah! Peduli bagong!" bentakku balik sambil melangkah meninggalkan Agung.
Brag!
Agung kalap. Dia menarik tubuhku hingga aku jatuh tersungkur.
"Kalau kamu tidak mau menggugurkan anak itu, biar aku saja yang melakukannya! Aku akan bawa dokter kenalanku ke sini sekarang juga!" teriak Agung sebelum mengurungku di dalam kamar apartemennya.
Saat ini aku memang sedang menangis. Tapi aku tidaklah pasrah.
Dengan insting seorang calon Ibu, Aku nekad keluar melalui jendela apartemen yang berada di lantai 12. Aku melompat dari satu jendela ke jendela yang lain hingga sampailah aku di salah satu jendela apartemen yang ada penghuninya. Dengan sedikit bantuan dari mereka, akhirnya akupun berhasil kabur dari apartemen ini.
Tapi...
Aku yakin kalau Agung pasti akan mengejarku kemanapun aku pergi. Apalagi aku yang masih terikat kontrak akan membuatnya semakin leluasa dalam bertindak.
Aku tidak boleh sekedar kabur. Aku harus nenemukan cara agar bisa terlepas dari jerat kontrak kerjaku dengan Agung. Tapi bagaimana caranya?
Ayo Berpikir...! Untuk sekali ini saja aku harus bisa membuat keputusan yang benar.
...— Bersambung —...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sutardi Sutardi
hebat kai
2022-08-06
1
Harman LokeST
next
2022-07-12
1
Kaylha✌️✌️
waw
2022-06-04
2