Fragmen 13 : Pembelian Pertama
Aku menunduk melihat bajuku yang kini sudah bersih dari darah.
'Lusuh banget,' komentarku pada penampilanku sendiri.
'Ah... Benar juga...' pekikku dalam hati.
Aku baru ingat kalau aku saat ini sudah memiliki banyak uang dari hasil Extraction barusan. Kupikir ini adalah saat yang tepat bagiku untuk mencoba fitur Shop yang disediakan oleh Sistem.
...— x —...
Begitu membuka Shop, aku langsung membelanjakan 650 Haipur untuk membeli dalaman, T-Shirt polos hitam, celana jeans berwarna biru tua dan juga sepasang sepatu casual.
Walaupun semua yang kubeli tidak bermerek, tapi barang-barang yang kubeli memiliki bahan yang cukup nyaman bila kugunakan.
Selain itu...
Aku juga membeli sebuah jaket hoodie, sebuah handphone, dan sebuah jam tangan. Sehingga total belanjaku saat ini mencapai lebih dari 25 ribu Haipur.
Jumlah yang sangat banyak bagi diriku yang dulu. Tapi sangat kecil bila dibandingkan dengan saldo yang ada di dalam Bank Sistem.
Bukan pelit. Aku hanya sadar kalau aku belum boleh boros. Mengingat aku masih belum tahu seberapa besar uang yang bisa kudapatkan dari Sistem.
...— x —...
Selesai berbelanja, Aku membuka Bank Sistem dan berniat untuk mengenakan semua barang yang barusan kubeli.
Ajaib!
Dalam sekejap aku sudah mengenakan seluruh barang belanjaanku barusan. Sedangkan setelan usang yang semula kukenakan, langsung masuk ke dalam Bank Sistem.
Segala kepraktisan ini terlihat seperti fitur Equipment yang terdapat dalam berbagai Game Virtual MMORPG.
Haha...
Sistem yang kumiliki saat ini memang sangat spesial. Walaupun tidak bisa dipakai untuk bertarung, berbagai fitur bawaan dari Sistem bisa dibilang sudah cukup overpower.
Hahaha...
Kini sistem telah membuktikan berbagai kuasanya di hadapanku. Membuatku semakin yakin kalau aku pasti akan dapat menggapai seluruh angan dan cita-cita bodohku.
...— Bersambung —...
Fragmen 14 : Laela Ramlan
Namaku Laela Ramlan. Aku adalah seorang ibu beranak satu yang berusia hampir kepala empat.
Walaupun terkesan sombong, tapi aku percaya kalau kesempurnaan rupa yang kumiliki tidaklah kalah dari para gadis belia.
Tidak hanya berwajah cantik. Aku juga memiliki bentuk tubuh yang ideal. Orang-orang bilang kalau siluet tubuhku mirip dengan siluet gitar spanyol yang dapat menghipnotis para pria.
Tentu saja semua kecantikan ini tidak kudapatkan secara cuma-cuma. Olahraga yang keras dan berbagai perawatan yang mahal kerap kulakukan demi mempertahankan kecantikan hakiki yang sudah kudapatkan sejak lahir.
...— x —...
Di bawah guyuran air shower hangat aku menelusuri seluruh lekuk tubuh sempurnaku.
Aku diam membisu. Berharap kalau ritual mandiku ini dapat membersihkan rasa bersalah yang kini tengah menyesaki relung jiwaku.
Rasa bersalah yang bukan diakibatkan oleh kesalahanku. Tapi oleh kesalahan pria tua yang kini sedang berada di luar kamar mandi.
...— x —...
Kurang lebih satu jam yang lalu...
Mobil sport yang kami tunggangi tanpa sengaja menabrak seseorang. Kami baru saja melakukan aksi tabrak lari.
'Kakek Tua bodoh! Seandainya dia membiarkanku untuk memeriksa kondisi dia yang kami tabrak. Mungkin aku tidak akan merasa sebersalah ini,' umpatku dalam hati.
Kutarik nafas panjang sambil nenengadah membiarkan titik-titik air memijat lembut wajahku.
'Sudahlah Laela... Tak ada gunanya memikirkan hal yang tak perlu...' ujarku pada diriku sendiri.
'Fokus Laela! Kamu sekarang sedang bekerja. Malammu masih sangat panjang,' aku berteriak di dalam hati.
Di luar sana kini tengah menunggu seorang Kakek tua yang merupakan pelangganku. Aku tak boleh berlarut pada rasa bersalah hingga harus bertindak tidak profesional.
Yang terjadi, terjadilah. Yang sudah mati, tidak mungkin bisa hidup kembali.
...— x —...
Walaupun berprofesi sebagai wanita panggilan, aku sebenarnya adalah seorang wanita yang berpendidikan.
Tapi...
Demi dapat hidup nyaman di dunia yang sudah tidak bermoral ini. Berpendidikan saja tidaklah cukup. Aku harus beradaptasi dengan merelakan diriku untuk digerayangi oleh para pria berdompet tebal.
Aku sangat setuju apa kata orang. Kalau yang bisa meraih kesuksesan di dunia ini hanyalah para Raja, Mafia, dan juga Pedagang.
Tapi menurutku masih ada yang keempat. Yaitu para wanita cantik yang mampu menghisap habis cairan kejantanan para pria seperti sebuah mesin penyedot debu.
...— x —...
Aku harus mengakui bahwa sebagai seorang penghibur aku tidak boleh mengharapkan kepuasan.
Lihat saja si Kakek tua itu yang mana kejantanannya mirip singkong yang sudah mengalami fermentasi. Lembek dan berbau menyengat.
Tapi tenang saja...
Walaupun rata-rata pelangganku adalah pria renta. Untuk urusan kepuasan di atas ranjang. Aku punya solusinya.
Tidak seperti kebanyakan orang, aku tidak peduli pada status sosial. Sehingga aku punya banyak cadangan pria yang bisa memuaskan libidoku.
Aku gak masalah apakah mereka tukang kebun, tukang bangunan, tukang sayur, atau bahkan tukang kirim paket. Selama mereka dapat menggaruk dinding stalaktitku dengan sempurna. Aku dengan senang hati siap untuk ditiduri oleh mereka semua.
Tidak hanya sampai di situ saja...
Anak gadisku yang ku tak tahu siapakah Ayahnya kini sudah menginjak usia belasan.
Like mother like daughter. Putriku pun kerap membawa para pejantan muda gagah juga tampan masuk ke dalam kamar tidurnya.
Dan terkadang...
Para pejantan muda yang berniat merasakan genjotan anakku. Pada akhirnya dapat juga merasakan jepitan sang ibu. Katakanlah ini adalah paket beli satu gratis satu.
...— x —...
Lelah menunggu dia yang katanya ingin mandi bersama. Kuputuskan untuk mengakhiri kegiatan bersih-bersihku.
Dengan telaten kukeringkan sekujur tubuhku lalu kukenakan kimono handuk yang panjangnya hanya sampai sedikit di atas lutut.
Aku suka sekali mengenakan pakaian seperti ini. Telanjang tidak. Tertutup pun tidak. Pakaian yang tetap menyuguhkan keseksian tubuh ini, namun juga masih menyimpan sedikit misteri.
Ceklek!
Kubuka pintu kamar mandi seperlahan mungkin. Samar kulihat siluet bayangan si lelaki tua sedang berdiri tegak di dekat ranjang.
"Katanya kamu mau nyusul aku buat mandi bareng?" Aku bertanya dengan nada genit sambil menutup pintu dan berbalik untuk menatapnya.
'Eh! Si... Siapa dia?!' aku melotot terkejut saat melihat sosok yang sedang berdiri di dalam kamarku ternyata bukanlah sosok Kakek yang mesti kulayani malam ini.
Sosok yang kulihat saat ini merupakan sosok anak muda yang kuduga berusia sama dengan putriku. Anak ini berambut kribo, memiliki kulit yang legam, dan menggunakan jaket hoodie yang tampak seperti masih baru.
Dari lekukan yang terdapat di pipinya, aku menduga kalau anak ini memiliki tubuh yang kurus bak orang kekurangan gizi.
Namun dibalik semua deskripsi negatif tersebut. Harus kuakui kalau wajah anak ini sangatlah tampan. Mungkin seandainya dia lebih berisi, dia akan tampak lebih tampan dari seluruh pria yang pernah kutemui hingga saat ini.
...— x —...
Tersadar dengan situasi gawat yang tengah kualami. Aku pun mencoba untuk berteriak meminta pertolongan.
'Tol... HMPH!'
Brak!
Dengan sigap bocah itu langsung melesat menghampiriku sebelum dengan sekuat tenaga membekap mulutku hingga punggungku terdorong menabrak dinding kamarku.
Punggungku kini terasa sakit. Mulutku tersumpal dengan kasar.
Tapi anehnya...
Bekapan kasar yang dia lakukan malah membuat tubuhku merasa rileks dan juga nyaman. Bahkan saking nyamannya, bagian paling privasiku langsung berkedut tak karuan.
Apa yang sebenarnya tengah terjadi?
Apakah pemuda ini adalah manusia tak biasa dengan kekuatan supranatural?
Ataukah...
Ah... Aku benci mengakuinya!
Ataukah ini hanya karena akunya saja yang terlampau binal.
$h!t! I want to fvck with him!
...— Bersambung —...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sutardi Sutardi
pemulung pintar
2022-08-06
1
Harman LokeST
host bodoh terlalu banyak bertanya
2022-07-11
1
leluhur kaisar naga
Wkwkwkwk
2022-06-06
2