Fragmen 21 : Menuju Cijagung
Kai terbangun dari istirahat singkat pasca marathon birahi semalam. Kai terbangun karena tak sabar untuk memeriksa seberapa besar uang yang berhasil ia dapatkan dari Sistem.
'Wow... Enam juta Haipur!' pekik Kai tak percaya dengan nominal uang yang ada di Bank Sistem.
Kai menatap sejenak tubuh tanpa busana yang sedang tertidur di sebelahnya sambil tersenyum bahagia.
"Terima kasih," bisik Kai pada Laela.
...— x —...
Setelah mandi, Kai kini terlihat berbeda. Kai mengenakan setelan kemeja dan jas yang begitu elegan. Membuatnya tampak seperti seorang eksekutif muda yang kaya raya.
Sambil memandangi sang bidadari yang sedang tertidur pulas. Kai meletakkan sejumlah uang di sebelah tas Laela yang berada di atas meja.
'Semoga ini cukup,' bagi Kai 200 ribu Haipur sangat kecil dibandingkan dengan empat juta Haipur yang baru ia dapatkan.
Tidak puas dengan hanya memberikan uang, Kai pun berniat untuk memberikan Laela pakaian ganti.
Kai yang tidak terlalu mengerti fashion akhirnya memutuskan untuk membeli pakaian yang dia nilai cukup mahal dari toko Sistem lengkap dengan dalaman berwarna senada.
'Bisakah kamu menyimpannya dalam kondisi terbungkus rapi di atas meja?' tanya Kai pada Sistem.
[Selesai.]
'Terima kasih Sistem,' puji Kai saat melihat sebuah tas belanjaan dengan logo brand ternama seketika muncul dari ketiadaan.
...— x —...
Setelah mengecup lembut bidadari tanpa busana, Kai pun pergi meninggalkan hotel mewah itu untuk melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
Dengan penghasilan sebesar ini, Kai memang tidak perlu lagi mengais sampah di TPA Cijagung. Tapi Kai memutuskan untuk tetap pergi ke desa yang sedang dia tuju tersebut demi memulai kehidupannya yang baru.
...— Bersambung —...
Fragmen 22 : Fitur Rahasia
Beberapa menit semenjak meninggalkan Hotel. Benak Kai dipenuhi oleh ekspresi, suara, juga gerak Laela semalaman tadi.
'Kalau di usia setengah baya dia secantik ini. Seberapa cantikkah Laela di usia remajanya?' Kai tulus memuji.
Tring! Tring! Tring! Tring!
Dering suara notifikasi yang begitu banyak tiba-tiba menggema di dalam kepala Kai. Membuat Kai terkejut dibuatnya.
Kai terpaksa menepikan mobilnya sejenak karena berbagai tampilan antarmuka hologram yang saling bertumpuk menghalangi pandangannya.
Tanpa protes pada Sistem, Kai membaca satu per satu keterangan pada layar antarmuka hologram.
[Laela Ramlan telah takluk sepenuhnya.]
[Tuan telah berhasil membuka sebuah fitur rahasia.]
[Firur Pet telah didapatkan.]
Kai terkejut dengan pemberitahuan dari Sistem ini. Fitur Pet adalah fitur di dalam game dimana kita memelihara monster yang telah dijinakkan untuk membantu petualangan kita ke depannya.
'Kenapa Laela yang notabene adalah manusia kau nilai sebagai peliharaan?' tanya Kai pada Sistem.
[Kalau dianalogikan sebagai game. Maka Tuan di sini adalah player. Dan entitas yang lain akan dianggap sebagai monster.]
'Siapapun itu?'
[Ya. Siapapun itu.]
Kai kemudian coba untuk mempelajari berbagai seluk beluk pada fitur barunya itu.
Kai sedikit kecewa saat dia lihat ternyata keterangan yang terdapat pada fitur ini hanyalah biodata singkat dari Laela yang berisi nama, ras, jenis kelamin, dan juga usianya.
'Keterangannya hanya begini saja? Lalu apa keuntungan yang kudapatkan dari fitur ini?' tanya Kai pada Sistem.
[Setiap orang yang sudah menjadi Pet akan memiliki ketergantungan yang tinggi dan kesetiaan penuh pada Tuan.]
[Tuan bisa memanfaatkan mereka untuk menjalankan berbagai tugas. Sehingga Tuan tidak perlu menjalankan berbagai misi sendirian.]
[Dan karena jiwa Tuan dan Laela sudah terikat. Tuan bisa mengetahui dimana Laela berada dan sedang ngapain saja.]
Kai lalu meniatkan dirinya untuk melihat dan mengetahui dimana Laela berada sekarang.
Bzzt...
Sebuah layar hologram seketika muncul menampilkan Laela yang sedang tertidur lengkap dengan keterangan lokasi Laela. Kai seperti melihat Laela dari sebuah layar CCTV
'Apa ini?' tanya Kai saat melihat dua buah tombol di bagian bawah layar hologram.
[Tuan bisa berteleportasi ke lokasi pet dalam sekejap. Atau Tuan bisa menteleportasi pet ke hadapan Tuan saat ini juga.]
'Wah... Berarti kini aku tidak memerlukan nomor handphone Laela ataupun repot-repot berkendara kalau ingin menemui Laela.'
[Benar Tuan.]
Kai merasa sangat lega. Karena barusan Kai sempat menyesal karena tidak sempat meminta nomor handphone Laela.
Kai belum tahu bakat dari Laela. Dan apakah Laela bisa membantu Kai dalam menjalankan misi. Tapi setidaknya Kai bisa memanfaatkan Laela untuk menjadi Scavenging Source baginya. Sehingga Kai tidak perlu lagi menyewa pelacur atau mencari wanita lain saat membutuhkan uang.
'Ah... Sekarang yang penting aku harus ke Cijagung dulu. Urusan Laela bisa nanti saja,' simpul Kai di dalam hati.
...— Bersambung —...
Fragmen 23 : Roti Kering
Perjalanan menuju Cijagung benar-benar menyenangkan. Kai merasa kalau dia kini bermasa depan cerah.
Padahal sejak delapan tahun yang lalu seluruh harapan Kai akan kehidupan telah luluh lantah. Tepatnya saat Kai masih berusia sepuluh tahun.
Saat itu dini hari. Sehingga wajar bila suasana yang tercipta dikala itu hanyalah lengang dan juga sepi.
Tapi di tengah suasana yang sepi tersebut. Tampaklah seorang anak kecil yang sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita setengah baya berpenampilan glamor berlebihan.
"Tunggu di sini ya… Tante mau pergi sebentar. Nanti Tante jemput kamu lagi," ujar sang wanita kepada anak di hadapannya.
"Emangnya Tante mau ke mana?" tanya si anak merasa ketakutan.
"Tante ada urusan dimana Tante nggak boleh bawa anak-anak," jawab si Tante beralasan.
"Jadi sebaiknya kamu tetap di sini dan jangan kemana-mana ya..." lanjut si Tante kemudian.
"Baik Tan," jawab Kai kecil tanpa menatap wajah Tantenya.
Wanita nyaris tua itu memasuki mobil mewah berwarna perak sebelum berlalu pergi meninggalkan Kai yang saat itu masih polos dan tak tahu apa-apa.
...– x –...
Belasan jam berlalu. Kai hanya berdiri di titik yang sama. Hanya berani berpindah posisi beberapa meter saja saat kaki mulai terasa pegal butuh digerakkan sebelum kemudian dia kembali lagi ke titik yang sama.
Kai kecil begitu kebingungan. Dia belum mampu untuk berpikir jernih. Dia tak tahu harus melangkahkan kakinya ke arah mana. Ditambah lagi Kai yang penurut merasa kalau dia tidak boleh meninggalkan tempatnya kini berdiri.
Keberadaan Kai yang sedang berdiri di sana tentu sudah cukup untuk membuat para pengamen, pengemis, dan anak-anak jalanan menjadi heboh. Sudah ada beberapa orang yang mencoba untuk menghampiri Kai sekedar menawarkan bantuan.
Beberapa di antara mereka juga sudah ada yang mengajak Kai untuk ke kantor polisi guna mencari keluarganya. Tapi Kai kecil selalu menolak seluruh bantuan yang ditawarkan tersebut dengan cara meronta dan juga menangis.
...— x —...
Dan di saat semua orang sudah berputus asa untuk membantu Kai, seorang Kakek tua dengan senyum lebar dari pipi ke pipi tiba-tiba datang menghampiri Kai kecil.
"Siapa namamu anak manis?" tanya Kakek tersebut ramah.
"Sa... Saya Oka Kek," jawab Kai kecil ragu.
"Hai Oka... Nama Kakek... Ar... Ya...," sang Kakek balik memperkenalkan diri.
Kai kecil hanya diam menunduk tak menjawab keramahan yang ditunjukkan oleh Arya.
"Pasti kamu lapar," tebak Kakek Arya sambil menawarkan Kai sebuah roti yang sudah mengering.
"Makanlah… Jangan malu." titah Kakek Arya pada Kai yang membisu.
Kai yang pada awalnya merasa malu, kemudian memberanikan diri untuk menerima pemberian dari Kakek Arya. Kai memakan roti tersebut dengan sangat lahap.
Kai tak ingat kenapa dia bersedia menerima bantuan Kakek Arya dan tidak dari yang lain.
Tapi Kai yang telah dewasa menduga bila aura yang dimiliki Kakek Aryalah yang membuat Kai kecil dapat merasa nyaman dan juga percaya pada Kakek Arya.
Kai dewasa tanpa sengaja tersenyum, 'Kek... Tanpa roti kering di hari itu mungkin aku tidak akan menjadi seperti saat ini.'
...– Bersambung –...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Hades Riyadi
hahaha...pulung yang hebat 😛👍👍👍
2022-10-23
1
Sutardi Sutardi
anjrit skali mulung 1,5jt,, kalah gaji karyawan 🤣🤣🤣🤣🤣
2022-08-06
1
Harman LokeST
laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuuuuuuutttttt
2022-07-12
1