Fragmen 33 : Minimalis
"La... Bersiaplah. Kita akan pergi ke tempatku berlatih sekarang," ajak Kai sambil menyerahkan satu setel pakaian kasual kepadaku.
"Ba... Baiklah..." aku tidak lagi merasa heran saat Kai kembali memberikanku pakaian baru.
Tiga hari telah berlalu sejak Kai resmi menyewaku. Selama itu pula kami hanya tinggal di hotel mewah yang sama. Nggak ke mana-mana.
Dengan seluruh fasilitas yang dimiliki olehnya, sangatlah wajar bila hotel mewah ini kerap dijadikan destinasi staycation. Namun bila kuingat kembali seluruh agendaku selama tiga hari ke belakang. Maka ini sih bukan staycation. Mungkin lebih pas bila disebut sebagai sexcation.
Memang benar bila bercinta dengan Kai adalah kenikmatan tertinggi di dunia. Tapi tetap saja yang namanya olahraga ranjang itu melelahkan. Apalagi bila itu dilakukan hingga beberapa kali dalam sehari.
Alhasil...
Semenjak mobil Kai pergi meninggalkan hotel, aku pun langsung tertidur pulas.
"La... Bangun... Kita sudah sampai," Kai menggoyang lembut tubuhku.
Aku turun dari mobil dan tersadar bila kami sudah berada di sebuah Villa yang luas dengan konsep minimalis. Sementara itu kulihat Kai sedang berbicara serius dengan pria seumuranku yang cukup berwibawa.
"Kenalkan. Ini Pak Yono," setelah sempat nyuekin aku, akhirnya Kai memperkenalkan pria itu padaku.
"Dia adalah manajer rumah tangga yang mengurus seluruh keperluan dan juga perawatan Villaku ini," lanjut Kai kembali.
"Yono."
"Laela."
Mengingat Villa ini memiliki manajer sendiri, sepertinya Kai merupakan orang yang cukup detail dan juga rapi.
...— x —...
Yono kemudian menunjukkan kami seluruh denah dari Villa. Sepanjang kakiku melangkah, tak hentinya ku terkagum dengan betapa lengkapnya fasilitas yang dimiliki oleh Villa ini. Hingga akhirnya sampailah kami di depan pintu kamar utama.
"Kalau begitu saya pamit dulu Tuan," Tono pun mengakhiri tur singkatnya.
"Ya. Silahkan."
Kami berdua memasuki kamar. Aku tertegun saat melihat dinding kaca satu arah di salah satu sisi kamar. Mempertontonkan pemandangan taman yang begitu asri.
Cklek!
Karena penasaran. Kubuka satu-satunya pintu yang terdapat di dalam kamar ini.
"Eh!" lagi-lagi kutertegun.
Kamar mandi ini sangat luas dengan lantai berupa susunan batu kali. Seluruh dinding dan atap kamar mandi terbuat dari kaca satu arah yang memberikan sensasi sedang berada di ruang terbuka.
Bertema hutan tropis. Kamar mandi ini memiliki sebuah jacuzzi yang diletakkan di antara tanaman rimbun hingga tampak bagaikan sebuah kolam mata air.
...— x —...
"Kai aku mau keliling lagi ya..." izinku sambil menunjuk kamera handphoneku. Kai tersenyum dan mengangguk lembut.
Kutinggalkan kamar utama lalu kubuka aplikasi Instagram ku.
"Hah..." kuhembuskan nafas panjang saat tanpa sengaja kulihat postingan terakhirku. Itu adalah fotoku saat sedang makan bersama si Kang Ghosting.
'Syukurlah... Kalau kamu kemarin gak pergi, aku nggak akan sampai di tempat yang Instagram-able begini,' ujarku sambil ber swafoto ria.
...— Bersambung —...
Fragmen 34 : Kemana Boss Pergi?
Empat hari yang lalu di dalam sebuah ruang kantor berlampu minim dan penuh asap rokok tampak empat orang pria bertampang sangar sedang duduk berkeliling.
"Kemana sih Boss Besar?" tanya salah satu dari mereka.
"Terakhir dia kasih kabar aku sih, katanya dia akan datang satu jam yang lalu," jawab pria sangar yang lain.
"Padahal Boss Besar gak pernah telat loh..." tegas pria yang ketiga.
Orang yang sedari tadi belum bicara tiba-tiba didatangi oleh seorang pemuda yang langsung berbisik padanya.
"Benarkah?" tanya pria keempat dengan nada sedikit terkejut kepada sang pembisik. Sang pemuda mengangguk tuk mengiyakan.
"Pergilah," ujar pria keempat pada pembisiknya.
"Boss menghilang. Sinyal mobil dan hapenya juga tidak bisa dilacak," pria keempat langsung menyampaikan apa yang baru saja dia dengar.
"Apa?!" teriak mereka bertiga sambil berdiri bersamaan.
Berbeda dengan keempat orang ini. Boss mereka bukanlah ahli beladiri. Hartanyalah yang membuat keempat orang ini bertekuk lutut padanya. Tanpa Boss mereka, kelompok Mafia kecil yang mereka dirikan ini tidak akan mungkin dapat beroperasi.
Seorang pemuda lain masuk ke dalam ruangan pengap.
"Ini baru diposting kemarin Kak..." ujarnya sambil menunjukkan foto Boss Besar yang sedang bersama seorang wanita di sebuah rumah makan.
"Telusuri kemana saja wanita ini pergi sebelum dan sesudah dia memposting foto ini!" titah pria yang paling gempal.
"Siap Kakak Keempat!"
...— x —...
Tiga hari telah berlalu sejak Boss besar dari Keluarga mereka dinyatakan menghilang. Keluarga Mafia itu kini tengah berada di dalam Motel tempat Kai dan Laela pertama kali bertemu.
Di sebuah ruangan CCTV yang sempit terdapat tumpukan lima mayat pria dan wanita dengan seragam motel. Sementara di depan tumpukan mayat itu berlututlah Pemilik Motel yang kini terluka parah.
Tiga orang mafia muda tampak sedang berkonsentrasi menonton rekaman CCTV yang dimiliki oleh motel tersebut.
"Ini dia Kak!" ujar salah seorang pemuda saat mereka lihat Laela memasuki kamar bersama dengan Boss Besar.
"Coba telusuri terus," titah Kakak Pertama dengan wajah khawatir.
Beberapa menit kemudian mereka pun terkejut saat mereka lihat sosok Kai yang merangsek masuk ke dalam kamar.
"Zoom wajahnya!" titah Kakak Keempat yang dituruti oleh ketiga pemuda ahli IT.
"Kamu! Foto layar ini dan cari tahu siapa pemuda itu!"
"Baik Kakak Kedua!" jawab salah seorang pemuda yang berlari masuk kamar CCTV.
Duar!
"Argh! Sialan!" teriak Kakak Pertama setelah memukul tembok ruang CCTV hingga berlubang.
Merasa kesal dan putus asa. Kakak Pertama pun pergi meninggalkan ruangan CCTV diikuti ketiga Kakak yang lain.
...— x —...
Beberapa jam kemudian seorang pemuda menghampiri keempat Kakak yang sedang ngopi dengan menjadikan Pemilik Motel sebagai meja.
"Jangan geter-geter! Kopinya tumpah nih!" Kakak Ketiga menoyor kepala Pemilik Motel dengan kakinya.
"Bagaimana?" tanya Kakak Pertama.
"Mendekati tengah malam, perempuan itu keluar bersama si pemuda. Tapi sejak saat itu hingga pagi barusan, Boss sama sekali tidak tampak keluar dari kamar tersebut."
"Ini aneh. Tak ada sedikitpun jejak Boss di dalam kamar itu. Bahkan sidik jarinya juga gak ada," bisik Kakak Keempat sambil berpikir keras.
"Hei... Kamu gak memanipulasi data CCTV ini kan?" tanya Kakak kedua sambil kembali menoyor kepala Pemilik Motel.
"A... Aku gak tahu caranya! Kalian bisa periksa sendiri keaslian rekaman itu!"
Kakak Pertama menoleh pada pemuda yang kasih laporan. Pemuda itu lalu mengangguk mengiyakan.
"Ah B@N9ke!"
Dor! Dor! Dor!
Kakak ketiga menumpahkan kekesalannya dengan menembak Pemilik Motel hingga beberapa kali.
Dari kejauhan tampak seorang pemuda berlari mendekati kekacauan tersebut.
"Ada apa?!"
"Ini Kak!" pemuda itu memperlihatkan layar Instagramnya.
"Perempuan itu kini sedang berada di Villa dekat Cijagung!"
"Apakah kau sudah dapat data mengenai siapa wanita ini?" tanya Kakak Pertama.
Pemuda itu pun menceritakan semua informasi yang sudah dia dapatkan mengenai Laela.
"Keluarga Prayoga ya?"
"Ya Kak... Dia adalah salah satu escort senior. Primadona yang jadi aset dari Keluarga Prayoga."
"Argh... Kalau begitu Kita harus ekstra hati-hati agar tidak berhadapan langsung dengan Keluarga Prayoga," Kakak Kedua tampak kesal karena ketidakberdayaan mereka.
"Kirim orang buat mengawasi!"
"Siap Kakak Pertama!"
"Tapi ingat. Kalian harus hati-hati. Keluarga Prayoga dapat menghabisi kita dalam satu hembusan nafas."
"Baik Kakak Ketiga!"
Kakak Pertama mengambil nafas panjang. Dia pusing berat. Kenapa dari semua escort yang tersedia, Boss Besarnya malah harus berurusan dengan escort milik Keluarga Prayoga.
'Dan siapakah pemuda hitam sialan yang pergi bersama dengan escort itu?!' teriaknya dalam hati.
...— Bersambung —...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Thomson Belagu
kok jd cupu si kai nya tor
kan udah berani ngebunuh orang
2023-04-26
1
Hades Riyadi
musti ada wik-wiknya sama Janda muda ini Thor 😀💪👍👍👍
2022-10-23
1
Sutardi Sutardi
mantap thor
2022-08-06
1