"Bukankah Nona, sering menemui Ibu Nona?" tanya Adam.
"Ah, iya ... maksudku aku ingin menemui Ibu, bisakah kau mengantarku?" tanya Jihan penuh harap.
"Sudah senja seperti ini?" Adam mengerutkan kening.
"Baiklah," ucap Adam setelah Jihan mengangguk penuh semangat.
Mereka berempat keluar dari area Greenvile saat hari sudah mulai gelap. Sepanjang perjalanan Jihan sibuk merangkai kata dan mereka-reka bagaimana karakter ibunya Luna, apa yang akan ditanyakan, dan sedekat apa Luna dengan ibunya.
Tubuh Jihan menegang saat Sebastian mengarahkan kendaraan yang mereka tumpangi, berbelok mengikuti penunjuk arah yang bertuliskan pemakaman.
Dalam hati Jihan berharap jika perkiraannya salah. Namun saat laju mobil mulai melambat dan berhenti tepat di depan gerbang bertuliskan Pemakaman Eternity, tubuh Jihan langsung lemas.
"Silahkan, Nona," ujar Sebastian.
Jihan menelan ludah saat melihat area pemakaman yang sunyi dan temaram, dengan lampu berwarna kuning di sepanjang jalur pejalan kaki.
"Kau menemani aku 'kan Adam?" Jihan menoleh ke arah Adam.
"Nona ingin aku ikut?" Ingin rasanya Jihan memaki, tentu saja bodoh kau kira aku berani masuk ke area pemakaman di malam hari. Selain itu ia tidak tahu letak makam ibunya Luna.
"Iya," sahut Jihan singkat. Ia ingin segera cepat pergi dari tempat ini. Jihan merasa kesal dengan dirinya sendiri terlalu cepat memaksa ingin bertemu dengan Ibunya Luna, tanpa bertanya terlebih dahulu keberadaanya.
"Silahkan, Nona." Adam memberi jalan pada Jihan.
"Bisakah kamu jalan di depanku?" pinta Jihan, "Aku sedikit takut malam ini," lanjutnya saat Adam memandangnya dengan wajah heran.
Adam berhenti di salah satu makam besar yang sangat terawat dengan baik. Pada nisannya tertulis Amanda Jose Broom.
Jihan mengusap batu nisan milik Ibu Luna, sedangkan Adam berdiri sedikit menjauh darinya.
"Hai ... Ibu," sapa Jihan canggung. Jihan merasakan kehangatan menjalar dalam dadanya.
Jihan memejamkan matanya, ia berharap mendapatkan petunjuk lagi seperti saat ia mengusap lukisan Luna tadi siang. Namun sekeras apapun ia berkosentrasi, Jihan tidak mendapatkan apapun.
"Sudah, Nona?" tanya Adam saat ia berjalan mendekat. Jihan mengangguk kecewa.
"Iissh." Jihan mendesis saat ranting pohon yang menjuntai melukai pelipisnya.
"Tahan luka Nona dengan ini, agar darahnya tidak terus mengalir." Adam menyodorkan sapu tangan biru gelap miliknya.
"Terima kasih, Adam." Jihan mengambil sapu tangan dari tangan Adam dan menempelkan ke pelipisnya.
Jarak antara mansion ayah Luna dengan pemakaman cukup jauh, hingga Jihan sempat tertidur sebentar karena menahan rasa nyeri di pelipisnya. Matanya terbuka saat Millie mengguncang bahunya dan berbisik, "Suami anda datang, Nona."
"Biarkan saja, aku ngantuk," ujar Jihan malas.
Jihan berjalan masuk ke dalam mansion disusul Millie di belakangnya.
"Dari mana kau, Luna?" tanya Ayah Luna.
"Dari makam Ibu," sahut Jihan seraya melirik pada Barra dan Violet yang selalu bergelayut di lengan Barra. Ayah Luna menganggukan kepala dengan raut wajah sendu.
"Suamimu datang kesini sedang membicarakan proyek kerjasama perluasan kebun anggur," jelas Ayah Luna.
Jihan hanya menjawab dengan O yang singkat, hanya untuk menyenangkan ayahnya. Selebih itu, ia tidak peduli dengan keberadaan Barra di mansionnya.
"Iya, kami kemari untuk membicarakan bisnis, bukan ingin menganggumu, Luna," ucap Violet seolah menegaskan Barra datang bukan untuk bertemu dengannya.
"Baguslah," ucap Jihan singkat.
"Permisi, Tuan dan Nona. Maaf, Nona, sapu tangannya tertinggal di dalam mobil. Apa luka anda sudah membaik?" tanya Adam khawatir.
"Ah, terima kasih Adam, mungkin jatuh saat aku tertidur. Biar aku cuci dulu." Jihan meraih sapu tangan itu dari tangan Adam.
"Baiklah, Nona. Semoga cepat sembuh, saya permisi." Adam membungkuk sedikit lalu membalikan badan dan berjalan menjauh.
"Kamu pergi berdua dengan dia?" tanya Barra dingin, di sebelahnya Violet bergumam, "Tidak berubah, sama saja."
"Kami berempat. Adam, Sebastian dan Millie yang selalu menemaniku," sahut Jihan tak acuh.
"Saya permisi dulu, silahkan dilanjut pembicaraan bisnisnya," ujar Jihan santai. Setelah mengecup kedua pipi ayahnya, ia berjalan masuk tanpa menoleh lagi.
B : Apa yang kau cari di makam Nyonya Amanda, Nona?
Suara gaib itu langsung terdengar saat Jihan masuk dalam kamar.
J : Kau kemana saja seharian ini, B?" tanya Jihan tak menganggap pertanyaan suara gaib itu.
B : Saya selalu di dekat anda, Nona.
J : B, aku tidak pernah mendengar nama Baron disebut dalam cerita Lidia. Aku juga tidak pernah mendengar kisah Luna dan keluarganya, yang selalu diceritakan Lidia adalah selalu tentang kejahatan Luna dan penderitaan Violet. Apa aku melewatkan sesuatu, B?"
B : Cerita yang teman anda baca berjudul Violet untuk Tuan Muda Barra, sudah jelas hanya menceritakan dari sisi Violet bukan Luna, Nona
J : Jadi maksudmu, apa yang aku alami sekarang tidak tertulis di novel?
B : Apa yang anda lakukan saat ini, mungkin saja akan tertulis menjadi sebuah kisah, tapi akhir cerita indah atau menyedihkan andalah yang tentukan sendiri
Jihan mengacak-acak rambutnya frustasi mendengar penjelasan suara gaib itu.
B : Terkadang di dunia ini, ada hal yang tidak terlihat oleh mata sehingga terkubur begitu saja.
J : Jadi maksudmu aku harus membuka cerita kehidupan Luna yang tidak ditulis oleh penulis novel Violet untuk Tuan Muda Barra?
B : Begitulah kira-kira, sesuai dengan apa yang anda katakan dahulu pada sahabat anda Lidia, Jika karakter antagonis jauh lebih baik dari pada protagonis yang hanya bisa menangis tapi selalu mendapat kebahagiaan di akhir cerita
J : Ya, ya, yaa. Jihan menyahuti dengan nada malas.
Tok .. tok ... tok
Suara ketukan di pintu menghentikan percakapan antara suara gaib itu dengan Jihan.
"Ada apa, Millie?" tanya Jihan saat kepala mungil Millie menyembul di ambang pintu kamar.
"Tuan Barra ingin anda pulang ke mansionnya malam ini."
"Ha?" Jihan tergelak keras mendengar perkataan pelayan setianya itu, "Setelah aku diperlakukan tidak adil dan diusir, dia ingin memintaku kembali?"
"Katakan padanya, Millie. Dia yang sudah mengusirku berarti dia juga yang harus meminta padaku secara langsung untuk kembali," ujar Jihan angkuh.
"Nona ingin saya berkata seperti itu pada Tuan Barra??" Millie tampak terkejut.
"Iya, katakan padanya," ucap Jihan tegas.
Jika perkiraannya benar bahwa Luna dan Barra dahulunya pernah ada hubungan dekat, maka Barra pernah atau bahkan masih menyimpan rasa pada Luna. Sangat terlihat saat Adam mengembalikan sapu tangan miliknya, sorot mata Barra menyiratkan kecemburuan.
Suara langkah tegas diiringi ketukan sepatu wanita terdengar semakin mendekat ke arah kamar Luna. Jihan duduk di tepi ranjang bersiap menghadapi kemarahan atau perkataan sengit yang akan dilontarkan Barra maupun Violet.
Album foto terbuka di pangkuan Jihan. Ia bersikap seolah-olah sedang merenung dan bersedih sambil melihat foto-foto masa lalunya.
...❤❤...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sandisalbiah
mulailah berakting Jihan.. jd lah sosok Luna yg pernah dekat dgn Barra... obrak abrik hatinya...
2023-12-11
0
Kartika Aytia
sumpah keren, nagih baca nya. beda dengan cerita yang lain
2023-10-19
0
Red Velvet
Benar2 kisah yg tak pernah ku bayangkan, good job buat kak author🥰
2023-03-30
0