Panggil saya B

Otak Jihan langsung bekerja keras mengingat nama-nama yang terasa akrab di pendengarannya.

Tuan Barra … Luna …Tuan Barra … Luna. Sementara pelayan muda itu menyabuni tubuhnya, Jihan terus berusaha mengorek ingatannya.

“Ini di mana?” tanyanya.

“Nona Luna lagi di kamar mandi,” sahut pelayan senior.

“Maksud saya, ini lagi di kota mana, daerah mana, negara manaa??" tekan Jihan tidak sabar.

Kedua pelayan itu saling berpandangan, sedetik kemudian mereka tertawa bersama, “Sepertinya Nona Luna mabuk berat semalam, benar-benar sampai lupa segalanya. Kita tinggal di kota Zena, Negara bagian timur Trivenuz. Kembali lagi dua pelayan itu terkikik geli.

Aku di mana! Seketika Jihan mematung ngeri. Ia berada di dunia yang sangat asing.

“Li-Lidia di mana, tugas kami belum selesai.” Jihan mencoba membawa ingatannya ke dalam dunia aneh ini, sekedar untuk mengetes apakah ia sedang dipermainkan atau ini hanya sekedar halusinasinya saja.

“Lidia siapa, Non?” tanya pelayan muda itu seraya mengeringkan tubuhnya. Jihan menarik nafas panjang. Baiklah ikuti saja dulu permainannya.

“Nama kamu siapa?” tanyanya pada pelayan senior yang mengeringkan rambutnya.

Sejenak pelayan itu menghentikan kegiatannya dan menatap dirinya melalui cermin, lalu tersenyum dan menjawab, “Soya. Kalau dia Milie. Pelayan senior itu menunjuk pelayan muda yang sedang menyiapkan gaun pengantin.

Gaun pengantin. Aahhh, apakah benar ini hari pernikahannya?

Jihan mengamati wajahnya di cermin. Bukan. Itu bukan wajahnya, wanita yang di dalam cermin itu terlihat lebih dewasa dan tegas. Matanya yang hitam dan tajam, dengan alis yang rapi dan hitam terkesan garang namun sangat cantik. Rambutnya yang coklat sekarang berganti hitam lurus mempertegas kesan kuat di wajahnya.

Semoga ini hanya mimpi.

Sayangnya ini bukan mimpi. Sebuah suara pria seakan berbisik di telinganya.

“Siapa itu!” Sontak Jihan menoleh ke arah samping kanannya.

“Ada apa, Non?” tanya Soya.

“Ada laki-laki di kamar ini.” Mata Jihan mencari-cari sosok yang mencurigakan.

“Tidak ada siapa-siapa di kamar ini selain kita bertiga, dan tidak ada orang yang berani masuk ke kamar Nona Luna jika tidak diijinkan oleh Tuan besar atau Nona sendiri,” jelas Soya.

Aarrgghh sepertinya aku sudah gila.

“Aku menikah dengan siapa katamu tadi?” tanya Jihan pada Soya yang sedang membantunya memakai gaun pengantin.

“Tuan Barra. Pria idaman Non Luna, akhirnya impian Nona menikah dengan Tuan Barra terwujud.”

“Seingin itukah aku menikah dengan pria bernama Tuan Barra?”

“Iyaa, walaupun harus menjadi yang kedua setelah Nona Violet, tapi kami yakin Non Luna nantinya bisa memiliki Tuan Barra seutuhnya,” ucap Millie berapi-api.

“Violet …. yang kedua, maksudmu …?” Jihan mengkerutkan keningnya.

“Violet, istri pertama Tuan Barra,” bisik Millie.

Oke bagus, belum sehari di dunia antah berantah ini, aku sudah jadi pelakor.

“Biar aku aja,” Jihan mengambil alih perlengkapan make up dari tangan Millie. Ia tidak biasa wajahnya di sentuh orang lain, terlebih wajah ini bukan miliknya. Ia ingin mempelajari tiap sisi dari pemilik tubuh yang ia tempati.

“Bisa tolong ambilkan aku minum?” pintanya pada Millie.

Ada sesuatu yang ingin ia rencanakan, tapi sebelumnya ia harus mengusir Millie dari dalam kamarnya. Sedangkan Soya sudah sejak tadi keluar dari kamar membawa pakaian kotor miliknya.

Begitu Millie keluar dari dalam kamarnya, Jihan langsung melempar semua peralatan make up ke atas meja rias, dan berkeliling ke semua sudut kamar.

Sejak sadar tadi, ia belum sempat mengamati kondisi kamar ini. Kamar yang sangat luas, jelas wanita yang bernama Luna ini bukan wanita biasa. Semua perabotannya merupakan barang antik, begitupun isi lemari bajunya. Gaun yang indah, tas mahal yang berkelas, koleksi sepatu beraneka warna ditambah dengan deretan perhiasan yang berkilau.

Jihan menggelengkan kepala dan berdecak kagum, rasanya ia tidak ingin terbangun dari mimpi indahnya ini. Pandangannya beralih pada lukisan besar yang tergantung di atas ranjang. Wanita anggun dalam lukisan itu sangat mirip sekali dengan dirinya yang ada di dalam cermin.

Cantik bukan?

“Siapa itu?!” jihan terjingkat saat suara itu muncul kembali seakan berbisik di telinganya, “Dasar pengecut! Keluar!” serunya antara merasa marah dan takut.

"Anda tidak bisa melihatku Nona Luna, atau lebih akrab lagi saya panggil … Jihan?

“Kamu kenal aku siapa??” Jihan berjalan tak tentu arah di dalam kamar, seolah ingin mencari sosok suara yang sedang berbicara dengannya.

"Sangat kenal. Bagaimana masih mau marah-marah denganku, Nona Jihan?"

“Cepat bilang sekarang, aku di mana, kenapa dan untuk apa aku ada di sini??!”

"Sudah dijelaskan tadi oleh pelayan anda yang cantik. Nona Jihan sedang berada di kota Zena, Negara Trivenuz bgian timur."

“Di mana itu, sejak SD aku belajar IPS dan Geografi tidak ada nama negara itu?”

"Selamat datang di dunia novel Violet milik Tuan Muda Barra." Suara tawa yang menjengkelkan menggelegar.

Novel Violet milik Tuan Muda Barra? Bercanda! Jangan bilang novel yang biasa dibaca sama lidia. Pantas dari tadi rasanya tidak asing nama-nama ini.

"Benar sekali, Nona."

Heh? Apa dia bilang? Dia bisa baca pikiranku?

"Bisa. Saya tahu anda tidak percaya bahkan merasa jika ini settingan atau prank, dan sekarang anda sedang merencakan melarikan diri dengan melompat dari jendela, bukan? Silahkan lakukan Nona, jika tidak ingin kembali lagi ke dunia nyata."

“Apa maksudmu?!”

"Anda sudah menertawakan cerita novel Violet milik Tuan Muda Barra dan anda harus mempertanggungjawabkannya."

“Emang ceritanya ga asyik kok, aduuh!” Jihan memegang telinganya yang terasa memanas seolah ada yang menariknya dengan keras, “Kamu yang tarik telinga saya?”

"Lalu menurut Nona bagaimana cerita yang asyik itu?"

“Novel itu terlalu membosankan, protagonis wanitanya terlalu lemah kerjaannya menangis terus karena suaminya menikah lagi. Lemah tak berdaya seolah ingin mengundang simpati pembaca. Meskipun begitu, ujung-ujungnya tetep aja protagonis wanita menang dari si antagonis. Mau pintar dan selicik apapun, si antagonis selalu kalah dan dicaci. Sudah bisa ditebak alurnya kemana,” papar Jihan seraya mentertawakan alur novel kesayangan sahabatnya itu.

"Buktikan."

“Maksudnya?”

"Buktikan jika anda menjadi Luna sebagai si antagonis jauh lebih baik dari Violet sang protagonis."

Sial! Bagaimana ia bisa lupa sekarang dirinya ada dalam tubuh Luna yang licik dan kejam.

"Anda bisa kembali ke dunia nyata, jika anda bisa meyakinkan Tuan Muda Barra, bahwa andalah yang terbaik. Bukan Violet, wanita kesayangan calon suami anda." Suara itu terdengar seperti ancaman.

“Bagaimana jika aku gagal?”

"Anda sudah tahu jawabannya. Ucapkan selamat tinggal Jihan, dan selamat datang Luna se ... la ... ma ... nya."

"Jika anda tahu jalan ceritanya, pasti anda juga tahu bagaimana nasib Luna di ujung cerita itu."

Tiba-tiba seluruh persendian Jihan melemah, ia jatuh terduduk di atas ranjang. Semua kesombongan dan keangkuhannya seketika menguap entah kemana.

"Ayolah kemana Jihan yang punya kepercayaan diri yang tinggi." Suara itu seolah menghiburnya sekaligus mengejeknya.

“Aku ga tau harus bagaimana. Aku ga ngerti jalan cerita novel itu,” keluh Jihan. Ia hanya sekilas saja mendengar cerita Lidia, itupun tidak ia ambil peduli segala ocehan sahabatnya.

"Tugas saya di sini untuk membantu anda, Nona. Asal anda menurut dan percaya pada saya semua akan aman."

“Siapa kamu?”

"Panggil saja saya B."

...❤❤...

Mau promoin karya teman, ramaikan di sana ya

Terpopuler

Comments

Red Velvet

Red Velvet

Biar aku tebak, yg bikin cerita ini pasti dosen yg kata Lidia itu pak Abi.

2023-03-30

1

juli mustikadewi

juli mustikadewi

gak ngerti si alurnya

2022-06-13

1

Rahma

Rahma

seru...
lanjut lagi thor...

2022-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!