Jihan mengeratkan penutup dadanya sembari berjalan cepat menuju kamarnya.
Sialan! Mata keranjang! Mesum!
Makinya terus dalam hati. Ia juga mengutuki Luna dalam hati, mengapa sempat-sempatnya terpesona pada Barra yang berpenampilan acak-acakan seperti itu.
Oww but he is so hot!
Damn Luna! berhenti kau menjijikan!
Jihan meremas rambutnya kesal. Ia merasa frustasi dengan berbagai macam suara dan perasaan di dalam kepala dan hatinya yang mencuat bersamaan.
B : Tapi dia memang sexy
J : No! he is not! Please B, bantu aku supaya cepat keluar dari dunia gila ini
Jihan berjongkok di depan taman sembari *******-***** rambutnya.
B : Goda suamimu, Nona. Sudah ku katakan, tugasmu hanyalah harus membuatnya mencintaimu dan menyingkirkan Violet. Seperti yang kau katakan dengan mulut besarmu itu
J : Ooww, B tidak bisakah aku meminta maaf saja?
B : Konsekuen. Selesaikanlah apa yang sudah kau mulai, Nona
J : Ciih! gayamu mirip dosen aja
Seperti biasa suara misterius itu menghilang dengan suara tawa yang menjengkelkan. Lama-lama Jihan sudah mulai terbiasa dengan kedatangan dan kepergian suara gaib itu yang tiba-tiba.
...❤...
"Nona cantik sekali," puji Millie.
"Bukannya aku selalu tampil cantik, Millie?" ujarnya seraya berputar di depan cermin.
Hari ini Jihan memakai gaun satin terusan di atas lutut dengan corak bunga kuning dan biru muda. Rambutnya yang hitam lurus dan panjang, ia ikat tinggi ke atas. Wajahnya ia rias sangat natural, karena wajah Luna sudah sangat cantik walau tanpa polesan make up.
"Nona selalu cantik dan elegant, tapi hari ini terlihat sangat segar dan muda," pujinya lagi. Millie tidak salah, karena Luna yang asli selalu tampil dengan sexy dan full make up serta balutan gaun yang ketat membentuk tubuhnya yang tinggi dan ramping.
"Terima kasih, Millie. Oke let's go kita ke dapur dan memasak," ujar Jihan bersemangat.
Sesampainya mereka di dapur, keduanya saling menatap heran karena di sana sudah ada tiga orang koki yang tampak sibuk menyiapkan makan.
"Selamat pagi, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu koki itu seraya mengembangkan senyumnya.
"Eh, kalian yang memasak?"
"Benar, kami yang biasa memasak di sini. Sebelumnya Tuan Barra meliburkan kami, rencana selama satu bulan dan mungkin bisa akan diperpanjang. Kemarin kami di minta masuk kembali, karena ada penghuni mansion yang baru katanya," jelas salah satu Koki wanita.
Dalam hati Luna merasa senang karena ternyata Barra masih menganggapnya ada di mansion ini, tapi ia juga sedikit merasa jengkel karena ternyata pria itu sempat merencanakan menjadikannya sebagai koki selama satu bulan.
"Ow, baiklah. Salam kenal dari saya, Luna." Jihan mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Kami sudah sangat mengenal, Nona," ujar koki itu ditanggapi dengan senyum tertahan dari kedua rekannya.
"Benarkah?"
"Nona kan sering datang kemari."
"Benarkah??" ulang Jihan dengan nada semakin tinggi. Jika benar Barra bisa curiga dengan sikapnya yang seolah baru pertama kali menginjakkan kaki di mansion ini.
"Iya, tapi hanya sampai di kebun depan. Tuan Barra kan tidak mengijinkan Nona masuk ke dalam mansion," sahut salah satu koki yang paling muda. Dua koki lainnya memberi kode dengan melebarkan kedua mata mereka.
"Aahh, iyaa benar-benar." Jihan tertawa canggung, "Baiklah, kalian bisa lanjutkan memasaknya."
"Nona, saya di sini aja ya. Bantu mereka masak," pinta Millie memohon.
"Okee." Jihan mengangguk dan menjauh dari dapur.
Sejenak ia bingung harus melakukan apa. Langkah kakinya membawanya pergi ke taman samping. Sepanjang perjalanannya keluar dari mansion utama, Jihan berpapasan dengan beberapa pelayan yang menundukan badan sopan padanya.
Suasana mansion terlihat lebih bernyawa dibanding saat pertama ia datang. Tidak perlu ditanya, sudah pasti mereka diminta libur untuk mengerjai dirinya.
Ingin rasanya ia berbalik dan berlalu dengan cepat dari taman belakang ini, saat melihat sepasang sejoli itu berpelukan di dalam kolam renang. Rupanya ia salah memilih tempat untuk bersantai.
Mengingat pesan suara gaib itu semalam, bahwa ia harus membuat Barra jatuh cinta pada Luna, memaksa Jihan untuk mendekati dua manusia yang sedang berpagutan mesra.
"Selamat Pagi, Barra, Vio, maaf mengganggu. Bolehkah aku ikut bergabung di sini?" tanya Jihan seraya duduk di kursi pinggir kolam.
Barra melepaskan bibirnya yang menempel pada bibir Violet saat mendengar suara Jihan. Sesaat Barra hanya diam mengamati penampilan Jihan, lalu mengangguk samar.
Violet tampak tidak peduli dengan kehadiran Jihan. Ia memaksa kepala Barra agar memalingkan wajahnya kembali menghadap dirinya. Lalu tanpa sungkan, Violet lebih dulu menyambar bibir Barra.
Jihan meringis melihat keagresifan wanita yang selalu berusaha tampil anggun itu. Tiba-tiba muncul ide gilanya, jiwa kompetisi Jihan merasa terpacu saat melihat kemesraan antara Barra dan Violet.
Sejenak ia ragu membuka gaunnya, tapi sedetika kemudian gaunnya itu sudah jatuh begitu saja di pinggir kolam.
Pers*etan! ini tubuh Luna, bukan milikku. Lagi pula, jika aku berhasil kita akan sama-sama senang. Aku kembali ke duniaku dan kau Luna, akan memiliki Barra sepenuhnya. Jadi berterima kasilah padaku, Luna.
"A-apa yang kau lakukan, Luna?!" seru Barra heran.
"Aku ingin berenang juga sama sepertimu, bolehkan?" tanya Jihan seraya menenggelamkan tubuhnya sebatas dada ke dalam air.
"Terserah kau, masalahnya kamu sedang tidak memakai pakaian renang, Luna," ujar Barra.
Jihan sontak mengamati kostumnya. Bagaimana ia bisa sebodoh itu, memang betul ia masih memakai pakaian dalam yang menyerupai bikini. Namun ia lupa bahan bikini dan pakaian dalam itu berbeda.
Jika pakaian renang terkena air tidak akan memperlihatkan isi bagian yang terbungkus, beda dengan pakaian dalam yang terbuat dari kain katun. Begitu Jihan masuk ke dalam air dan naik kembali, pakaian dalamnya yang tipis dengan jelas menggambarkan apa yang ia sembunyikan di dalamnya.
Jihan spontan semakin menenggelamkan tubuhnya masuk ke dalam air. Violet tertawa semakin keras saat melihat kepanikan Jihan. Namun tawanya berangsur-angsur menghilang saat ia melihat suaminya memandang nanar pada tubuh Jihan.
Tubuh Luna memang mempesona semua pria yang memandangnya, mungkin hanya Barra yang tidak tertarik karena Violet sudah merajai hati dan pikirannya.
Namun saat Luna ada di dalam kolam renang bersamanya dengan pakaian yang super minim, pria normal mana yang sanggup mengalihkan pandangan matanya.
Pakaian dalam Jihan yang basah seolah menawarkan pada Barra dada yang penuh dan padat, serta tonjolan kecil yang menggoda. Barra masih dapat melihat belahan kecil di pangkal paha Jihan meski di dalam air. Saat Jihan berbalik bukannya semakin mengurangi tatapan nakal Barra, tapi malah menggodanya dengan bentuk pinggul dan pan*tat yang menggemaskan.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Red Velvet
Jihan udah terlanjur basah ya udah bercebur aja sekalian😁
2023-03-30
0
fatma
ku kira dia si abi dosen ny jihan sama lidia🤣🤣
2022-11-24
1
Ida Blado
bego
2022-07-27
0