Pernikahan Luna

“B?”

"Yup cukup B saja."

Tok … tok … tok

Suara ketukan di pintu dan kemunculan Millie masuk ke dalam kamar dengan segelas air putih di atas nampan, membuat Jihan terdiam.

“Nona, mengapa anda belum bersiap? Tuan Muda Barra dan keluarga sudah menunggu di depan.” Millie segera mengambil peralatan make up yang tadi dilempar oleh Jihan ke atas meja rias, lalu ia segera membantu Nona mudanya berhias.

“Mari Nona saya antar ke ruang depan.” Millie menuntun Jihan ke luar kamar. Langkah Jihan sedikit ragu, matanya melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.

B : "Saya di sini Nona, anda tidak perlu khawatir. Tidak ada yang bisa mendengar saya selain Nona."

Mata Jihan terbelalak kagum saat berjalan menyusuri lorong panjang rumah Luna. Setiap sudut rumah mewah itu membuatnya sangat kagum. Luar biasa imajinasi penulis, ini kalo di dunia nyata Luna benar-benar anak sultan yang sesungguhnya.

“Mmm, Millie … Luna, eh saya tinggal sama siapa saja di sini?” pertanyaan Jihan itu membuat Millie tertawa kecil.

“Nona masih mabuk sepertinya? Nona Luna tinggal berdua dengan Tuan Besar, dan beberapa pelayan juga penjaga rumah ini.” Jihan ber-O panjang mendengar penjelasan Millie.

Tidak heran banyak wanita yang berseragam menunduk padanya saat mereka melintas. Dari dalam rumah ia juga bisa melihat beberapa pria berseragam berjalan mondar- mandir di pekarangan, mungkin itu yang dimaksud Millie penjaga rumah.

“Calon suami saya, Tuan Barra … bagaimana orangnya?” Pertanyaan Jihan kali ini membuat kening Millie berkerut dalam.

“Nona ga mungkin lupa dengan Tuan Muda Barra bukan? Pria itu cinta sejati Nona, sampai Nona depresi saat Tuan Muda Barra menikahi Nona Violet.”

“Jika dia cinta sejati saya, mengapa pria itu menikahi wanita lain?” tanya Jihan tak mengerti.

Langkah Millie terhenti dan menatap Nona mudanya dengan sedih, “Karena cinta Nona bertepuk sebelah tangan. Tuan Muda Barra sangat mencintai Nona Violet.”

Mantap. Saya di sini seorang pelakor yang tidak dicintai. Malangnya kamu Luna. Jihan menarik nafas panjang dan berat.

“Tapi, sekarang impian Nona terwujud. Hari ini Nona Luna akan menikah dengan Tuan Muda Barra berkat Tuan Besar Jose, Ayah Nona.” Wajah Millie kembali ceria dan bersemangat. Rupanya pelayan muda ini sangat menyayangi Nona mudanya.

“Dia sudah mencintaiku?” tanya Jihan penuh harap.

“Mmm, iya. Saya yakin Nona bisa meyakinkan Tuan Muda Barra,” sahut Millie dengan senyum terpaksa. Sungguh jawaban yang menyesakkan hati.

Millie terus menggiringnya sampai pada dua bilah pintu kayu yang sangat besar. Dua orang penjaga bertubuh besar, membukakan pintu untuk mereka.

Saat ia mulai masuk, Jihan merasakan suasana di dalam ruangan tidak seperti akan ada acara pernikahan, malah lebih terlihat seperti suasana duka.

Walaupun tiap sudut ruangan berhiaskan warna-warni bunga hidup yang mahal, suasana tetap hening dan mencekam.

Saat Ia berjalan lurus melewati barisan para undangan, pandangan yang ia terima sama sekali bukan tatapan kagum melainkan ada rasa benci dan juga kecewa. Hanya satu raut wajah bahagia yang ada di sana, pria dewasa yang marah-marah di kamarnya tadi pagi. Tuan besar Jose, ayahnya.

Jihan merasa menyesal tidak mendengarkan sungguh-sungguh saat Lidia bercerita. Ia jadi kurang mengerti situasi dan cerita yang ada di dalam novel, tapi setidaknya ada si B yang bisa membantunya.

J : "Di Mana dia. Mengapa diam saja … B!"

B : "Saya di sini Nona, jangan cerewet cepat menikahlah."

J : "Sialan, kau pikir kondisinya semudah itu?"

Jihan terus berjalan mencoba mengabaikan tatapan-tatapan tajam yang menusuk. Ia mengangkat wajahnya tinggi, mencoba menantang semua wajah yang memandangnya sinis walaupun hati dan kakinya sedang bergetar.

Seorang wanita bergaun hitam dan berambut pirang bergelombang tampak tertunduk dan menangis.

Sepertinya itu yang namanya Violet, wanita kesayangan Tuan Muda Barra. Protagonis wanita yang manis tapi licik, mengasyikan untuk ditindas. Jihan terkejut dengan apa yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya.

B : "Hahaha, jangan terkejut Nona. Dalam tubuh Nona Luna sekarang ada anda di dalamnya, jadi sisa kenangan dan perasaan Nona Luna masih tersimpan rapat di sana."

Seorang pria berpunggung lebar berdiri membelakanginya, dari tampak belakang pria ini sudah terlihat sangat tampan dan gagah.

Dia kah yang disebut Tuan Muda Barra, calon suamiku? Ah bukan, dia calon suami Luna.

Menyadari ada orang yang berdiri di belakangnya, pria itu membalikkan tubuhnya. Sorot matanya tajam menusuk langsung tepat di bola mata Jihan. Tatapan kebencian yang diterimanya di hari pernikahan.

Jihan menarik nafas pelan, menegakan kepalanya lagi dan mencoba menguasai keadaan.

“Hei,” sapa Jihan. Tak ada respon yang diharapkan seperti pelukan atau minimal senyuman, hanya dengusan nafas kasar yang ia terima.

B : "Good job, Nona. Ingat tugas anda membuat Tuan Muda Barra jatuh cinta pada anda, bukan semakin muak melihat anda." Peringatan suara gaib itu terdengar seperti menyindirnya.

Prosesi pernikahan langsung dimulai saat Jihan yang membawa tubuh Luna, sudah hadir di tengah-tengah ruangan.

Jihan melirik sedikit ke arah pria yang duduk di sebelahnya, sangat tampan dan berwibawa. Alis matanya yang tebal mendukung sorot matanya yang tajam dan dalam. Rahang dan pundaknya bagai terpahat sempurna. Jihan terkesiap saat pria itu juga meliriknya dengan tajam.

Acara resepsi yang mewah terhidang setelah prosesi pernikahan yang sakral. Saat ini Luna sah menjadi istri kedua dari Tuan Muda Barra. Suasana dalam ruangan masih mencekam, senyum yang ditebarkan para undangan saat memeberinya selamat, terlihat sangat palsu.

J : "B, bagaimana Luna sebenarnya?"

B : "Luna adalah bagaimana cara mereka melihatmu."

J : "Jawabanmu sangat tidak membantu, B."

B : "Aku tahu."

“Sayang, aku lelah.” Wanita bergaun hitam itu mendekati pria yang sudah sah menjadi suaminya itu, lalu bergelayut manja di lengannya.

“Baiklah, sebentar lagi kita pulang,” suara berat itu terdengar seksi.

Jihan menatap wanita itu kesal. Meski baru kali ini bertemu dengan Tuan Muda Barra, rasa egois dan memiliki itu tiba-tiba ada di hatinya. Mungkin ini perasaan Luna yang tersimpan.

“Jangan mengacau di acara pernikahanku, Violet,” tandas Jihan tajam.

“Kamu yang sudah mengacaukan kehidupanku, bit*ch,” bisik Barra di telinganya. Jihan terbelalak tak sanggup membalas kalimat Barra, ia hanya dapat membuka mulutnya tanpa berkata-kata, "Kamu memang memiliki aku tapi kamu tidak akan mendapatkan cintaku,” tambah Barra.

Kalau bukan karena aku ingin kembali ke dunia nyata, kalian berdua sudah aku tendang dari hadapanku. Baiklah mari kita mulai bermain. Batin Jihan.

“Maafkan aku, a-aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Tolong maafkan aku, Violet,” ucap Jihan dengan pandangan mengiba namun suaranya sengaja ia lantangkan, agar sapat mengundang simpati para undangan.

Percobaan pertama berhasil, Barra dan Violet tampak terkejut dengan jawaban Luna. Reaksi yang tidak disangka-sangka, Luna yang biasanya tidak pernah mau mengalah dan kejam, sekarang seolah wanita tanpa daya.

...❤❤...

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

waktunya menjalankan peranmu Jihan... berektinglah sebaik mungkin..

2023-12-11

0

Red Velvet

Red Velvet

Wah, Jihan sepertinya harus berusaha keras. 🤔

2023-03-30

0

Rahma

Rahma

lanjut lagi

2022-05-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!