Jihan berdiri di ambang pintu besar, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Mansion milik Barra tak kalah luasnya dengan milik Ayah Luna, namun mansion ini lebih terkesan modern sedangkan Ayah Luna lebih menyukai gaya klasik.
"Kamarmu dan pelayanmu ada di belakang. Cari aja lukisan danau biru, kamar kalian ada di seberangnya." Barra menunjuk dengan kepalanya.
"Terima kasih," sahut Luna seraya tersenyum manis, tapi di dalam hati memendam rasa dongkol.
Jihan memberi kode pada Millie untuk mengikutinya. Ia berjalan lurus ke arah yang ditunjukan Barra tadi.
Sudah hampir mencapai sudut rumah paling akhir, tapi Jihan dan Millie belum menemukan lukisan danau biru yang dibilang Barra tadi.
"Itu, Nona," seru Millie tiba-tiba. Jihan mengikuti arah pandang pelayannya itu. Seketika matanya membesar melihat lokasi yang ditunjuk oleh Millie.
"Dia ingin kita tinggal di sini??" Tangan Jihan lemas seketika. Semua tas yang berada dalam genggamannya, jatuh tergeletak di lantai.
Ruangan yang di maksud oleh Barra untuk menjadi kamarnya dan juga kamar Millie, tidak lebih dari bangunan tua yang sudah lapuk di makan usia.
Bangunan itu terpisah dari bangunan utama. Dibatasi oleh taman dan kolam yang cukup luas, dengan atap yang sudah miring dan dinding yang mengelupas catnya.
"Kamu suka?" Suara Barra yang terkesan mengejek, terdengar dari belakang tubuhnya.
Jihan menarik nafas panjang sebelum berbalik menghadap Barra, "Maaf Barra, apakah tidak ada ... kamar yang lebih layak dari ini?" tanya Jihan masih dengan senyuman di bibirnya.
"Ada ... tapi sudah terisi penuh dengan semua koleksiku. Lagi pula, kamar ini masih cukup bagus untuk ditinggali," ucap Barra seraya membuka pintu ruangan yang langsung mengeluarkan bunyi decit mengerikan.
Saat pintu itu terbuka, hawa pengap dan bau tak sedap menyambut mereka bertiga.
"Maaf kalau tidak semewah mansion milik Ayahmu, aku harap kamu betah tinggal di sini," lanjut Barra sambil membuka semua jendela yang ada di ruangan itu.
Jihan memperhatikan semua gerak gerik Barra baik itu saat membuka jendela dan saat mencoba menghidupkan lampu. Jelas apa yang dikatakan pria itu berbeda dengan apa yang diinginkannya. Barra tidak ingin Luna tinggal bersamanya dan Violet, tapi Jihan akan membuat Barra memohon agar dirinya tidak meninggalkan mansionnya.
"Tentu saja aku akan betah tinggal di sini, Barra. Selama bersamamu aku pasti akan bahagia," ujar Jihan menimpali.
Barra menoleh dengan cepat, sejenak ia terkejut mendengar nada suara Luna yang terdengar tanpa emosi dan sabar. Namun dengan cepat ia kembali menguasai keadaan.
"Senang mendengarnya, Luna. Baiklah, silahkan beristirahat, aku ke kamar dulu. Vio ku pasti sudah menunggu ku di sana," ucap Barra dengan seringaian yang menjengkelkan.
"Oh, ya makan malam dua jam lagi. Aku harap kamu tidak terlambat," ucap Barra sebelum menghilang di balik pintu.
"Tentu, Barra aku pasti akan tepat waktu," sahut Jihan lega. Akhirnya ada kabar yang melegakan di mansion ini. Setelah mengangkat beban tas yang tidak ringan, perutnya menjerit minta segera diisi.
"Maksudku, kamu yang menyiapkan makan malam, jadi jangan sampai terlambat," lanjut Barra dengan senyum penuh kepuasan.
Brraakk!
Jihan melempar tas tangannya ke arah pintu masuk saat Barra sudah menjauh dari sana.
"Sabar, Nona. Ada saya di sini, nanti saya yang masak, Nona tenang aja," sahut Millie. Pelayan muda itu tergopoh-gopoh mengambil tas tangan Nona mudanya yang dilempar tadi.
Jihan meletakan pan*tatnya dengan kasar di atas bangku yang kakinya sudah sedikit goyah. Sejujurnya ia tidak sanggup dan tidak mengerti bagaimana bisa merebut hati Barra yang licik dan kejam itu.
Di kehidupan nyata, ia juga tidak pernah berhubungan dengan seorang pria. Bagaimana sekarang ia harus menarik perhatian pria yang jelas membenci sosok wanita yang ia gunakan tubuhnya ini.
J : B ... B ... kamu di mana? kamu ga melarikan diri bukan?
B : Saya selalu di sini, Nona. Anda tidak perlu khawatir.
J : Saya harus bagaimana, B?
B : Bukannya anda jauh lebih pintar, Nona?
Suara tawa mengejek, mengiringi pertanyaan suara gaib itu.
J : Lalu untuk apa gunanya kamu di sini?
Jihan terus berbincang dari dalam hati, sembari memperhatikan Millie yang sibuk membersihkan ruangan yang akan mereka tempati.
B : Menemani, mengawasi, dan membantu anda
J : Sudah ada Millie yang menemani. Aku tidak perlu ditemani lagi oleh sosok tak kasat mata. Mengawasi apa? aku tidak berbuat jahat. Membantu? aku tidak merasakan bantuanmu.
B : Anda memang belum perlu bantuan saya, Nona. Saat ini yang anda butuhkan adalah Millie, karena saya tidak bisa memasak. Hahahahaha ...
Suara gaib itu berangsur-angsur menghilang diiringi dengan tawa membahana yang menjengkelkan.
"Nona, kamarnya sudah bersih. Nona beristirahat dulu aja. Saya ke dapur, mau menyiapkan makan malam," ucap Millie dengan wajah kuyu yang terlihat sangat lelah.
"Kita masak sama-sama." Jihan berdiri dari duduknya.
"No-nona mau masak?" Mulut Millie terbuka lebar.
"Iya, kenapa? saya memang ga pandai memasak, jadi nanti tolong ajarin ya. Saya ganti baju dulu." Jihan berjalan ke kamar meninggalkan pelayannya yang masih berdiri di tempatnya dengan mulut terbuka.
"Yuk." Jihan keluar dari kamar dengan baju yang jauh lebih santai. Rambut panjang hitamnya ia ikat tinggi ke atas menyerupai buntut kuda.
Millie memperhatikan Nona mudanya yang berjalan di depannya. Dalam sehari ia sudah berkali-kali dikejutkan dengan perubahan drastis dari wanita yang ia kira Luna itu.
Sepanjang perjalanan ke arah dapur, mereka tidak menemukan seorangpun pelayan. Rupanya Barra tidak main-main dengan perkataanya.
"Kita mau masak apa, Millie?" tanya Jihan bingung.
Ia bukannya tidak pernah masuk dapur, tapi sebagai seorang mahasiswi jomblo, keahliannya dalam memasak hanyalah nasi, mie instan, telor dan air.
Millie membuka satu persatu lemari pendingin yang berjumlah empat buah di dapur yang luas itu. Ia juga membuka lemari kayu yang berisi segala macam jenis bumbu dan peralatan masak.
"Kita masak iga domba bakar saus zutini, sup jamur kacang dan salad sayur saus apel. Bahannya lengkap semua," ujar Millie dengan sigap mengeluarkan semua bahan ke atas meja.
"Makanan apa itu Millie?" tanya Jihan dengan dahi berkerut. Nama makanan itu sangat asing ditelinganya
"Itu semua termasuk makanan kesukaan, Nona Luna," ujar Millie keheranan.
"Oww ... ah, ya benar. Aku lupa namanya, hanya tau rasanya aja. Mari kita memasak."
Jihan mulai mengolah masakan dipandu oleh Millie. Satu demi satu langkah yang diarahkan oleh Millie ia ikuti dengan seksama, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mengamati dari balik jendela dapur yang terbuka.
...❤❤...
Mampir di karyaku yang lain yuk
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Novel online_Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sandisalbiah
jangan lupa bumbunya di campur sedikit bubuk sianida ya Milli.. kan seru tuh kalau lihat mulut Barra dan Violet sedikit berbusa setelah makan.. 🤭🤭🤭🤭🤭
2023-12-11
0
Red Velvet
Lucunya saat B bilang yg dia butuhkan itu Mille karena B gak bisa masak🤣🤣🤣
2023-03-30
0
Shu@08CH..Siti hajar
iya aku juga
2022-07-31
0