Kilasan ingatan

Jihan tidak bisa membayangkan hancurnya hati ayah Luna, jika mengetahui putri kesayangannya nanti akan dipenjara seumur hidup oleh pria yang sangat dicintai oleh putrinya.

Sejak kepulangannya kembali ke mansion, Jihan mencari tahu segala sesuatu tentang kehidupan Luna, melalui para pelayan dan juga ayahnya. Namun ia masih tidak menemukan jawaban yang memuaskan.

Mereka hanya mengatakan jika Luna adalah wanita yang baik, penyayang dan cerdas. Namun tatapan para tamu saat pernikahan Luna dan Barra, tidak mencerminkan hal itu semua. Bisa jadi para pelayan dan ayahnya mengatakan hal itu, karena mereka sangat menyayangi Luna atau bahkan mungkin takut mengatakan yang sebenarnya.

Tak puas dengan informasi dari penghuni mansion, Jihan mulai membongkar lemari yang menyimpan barang-barang pribadi Luna. Ia bertekad mencari tahu sendiri tentang wanita yang tubuhnya ia singgahi, karena untuk berperang menghadapi Barra dan Violet ia tidak bisa maju dengan tangan kosong.

Come on, Luna. Bantu aku. Jihan mulai membuka album foto Luna satu persatu. Luna rupanya sangat rajin menyusun dengan rapi foto kenangan tiap tahunnya. Foto Luna saat masih kecil, terlihat sangat bahagia dan lucu. Banyak foto yang menggambarkan kedekatan Luna dengan kedua orang tuanya.

Luna di masa remaja juga terlihat sangat aktif dan ceria dengan senyumannya yang sangat khas, menampilkan lesung di kedua pipinya. Kumpulan foto Luna terhenti hanya sampai ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Saat pesta ulang tahunnya, terlihat di sana Luna sangat cantik dan bahagia dikelilingi oleh teman-teman sebayanya.

Jihan mengambil satu foto ulang tahun Luna yang sangat menarik perhatiannya. Tampak di sana, pipi Luna dikecup oleh seorang pria, "Barra?" Jihan lebih mendekatkan foto itu ke wajahnya. Ia ingin memastikan apakah pengamatannya tidak salah.

"Barra dan Luna sudah saling mengenal sejak remaja? bahkan mereka tampak dekat sekali."

Jihan mengamati wajah dan tampilan Luna di foto, lalu ia membandingkan dengan lukisan Luna yang tergantung di atas dinding, "Kemana senyummu Luna?"

Luna saat remaja terlihat sangat ceria dan selalu tersenyum di setiap fotonya, sedangkan lukisan Luna saat dewasa terlihat angkuh dan dingin.

"Apa yang terjadi, Luna?" Jihan mendekati lukisan Luna yang tergantung. Ia mengusap wajah Luna yang tergambar di sana, sebelah tangannya membawa foto Luna yang dikecup oleh Barra.

Air mata Jihan menetes, ia merasakan nyeri di dadanya.

Perasaan apa ini? Jihan meremas baju di dadanya. Kepalanya terasa berputar, kilatan cahaya berpendar di matanya. Sekelebat ingatan melintas bagai film yang diputar ulang di kepala Jihan.

"Mamaaaa ...." Jihan melihat Luna remaja berlari mengejar sebuah kereta kuda yang membawa Ibunya pergi.

Luna terjatuh dan terus menangis, sementara sang Ibu memandangnya dari balik jendela kereta kuda dengan bersimbah air mata.

Papa Luna terlihat berlari mengejar putrinya dan memeluknya erat. Sayangnya Jihan tidak mendengar jelas perbincangan mereka.

"Nonaa ... nonaaa!" Sayup-sayup Jihan mendengar suara Millie memanggilnya. Tubuhnya berguncang cukup keras. Sekali tarikan nafas Jihan seperti tersedot ke dalam lingkaran gelap.

"Aaachh! kepalaku." Jihan memegang kepalanya yang terasa pening.

"Nona kenapa?" Millie memandangnya dengan khawatir. Jihan mengedarkan pandangannya, entah sejak kapan ia sudah tergeletak di lantai.

"Aku ga apa-apa, Millie." Jihan berusaha berdiri di bantu oleh pelayannya.

"Nona, kalau Tuan besar tahu Nona masih membuka album foto ini, pasti Tuan akan sedih sekali." Millie menyusun kembali lembaran foto yang tersebar di atas ranjang.

"Millie, sepertinya aku butuh udara segar." Jihan melihat ke arah luar jendela. Rasa sesak Luna yang ditinggal Ibunya, masih terasa di dada Jihan.

"Baik, Nona akan saya siapkan."

...❤...

"Mari Nona." Pengawal yang disukai Millie bernama Sebastian, membuka pintu mobil untuk Jihan.

"Terima kasih, Sebastian," ucap Jihan seraya memberikan kerlingan mata pada Millie yang tertunduk malu di sampingnya.

Jihan masuk dan duduk di bangku belakang mobil diikuti Millie di sebelahnya, sementara Sebastian berlari kecil memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.

Jihan terkejut saat ada seorang pria bertubuh tegap, membuka pintu mobil bagian depan dan duduk di samping Sebastian.

"Siapa dia?" Jihan berbisik pada Millie.

"Itu Adam, jangan bilang Nona sudah lupa dengan pengawal Tuan besar."

Adam sedikit menoleh ke arah Jihan, dan menundukan kepala dengan sopan saat pandangan mata mereka bertemu.

"Kita ke taman Greenville, Nona?" tanya Sebastian.

"Ya?" Jihan mengerutkan kening tak mengerti.

"Nona lagi suntuk bukan? biasa ingin melepas penat, Nona selalu kesana," ucap Millie.

"Ow ... ya itu maksudku tadi." Jihan tertawa kikuk.

Greenville yang disebutkan Sebastian dan Millie ternyata sebuah telaga berkabut yang dikelilingi oleh pohon pinus.

Jihan merentangkan tangannya dan mengisi paru-parunya dengan udara segar.

Sebastian dan Millie sudah memilih sudut sendiri untuk berduaan. Sedangkan Adam tidak terlihat dimanapun.

Ciih, katanya pengawal tapi ga ada siaganya. Jihan mendesah kecewa.

"Anda mencari saya, Nona?" Jihan terjengkat saat tiba-tiba suara bariton Adam terdengar dari balik tubuhnya.

"Dari mana kamu?"

"Jangan khawatir, saya selalu menjaga anda. Bersenang-senanglah," sahut Adam lalu membalikan badan dan berjalan menjauhi Jihan.

"Hei, tunggu!" Jihan lari mengejar Adam yang sudah cukup jauh.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Temani saya ngobrol."

Adam terdiam lalu akhirnya menjawab, "Baiklah."

Jihan duduk pada sebatang pohon yang sudah rebah ke tanah sedangkan Adam, duduk disampingnya dengan jarak yang cukup jauh. Keduanya hanya diam memandangi bulan yang semakin lama semakin tenggelam di balik deretan pohon pinus.

"Sudah berapa lama kamu bekerja menjadi pengawal ayah saya?" tanya Jihan berbasa-basi.

"Saya menggantikan ayah saya menjadi pengawal keluarga Nona, di usia tujuh belas tahun."

"Udah lama ya berarti. Mmm ... menurut kamu Lu, eh saya orangnya bagaimana. Aku minta kamu jujur." Jihan menekankan kalimat terakhir.

"Nona orangnya sangat baik, ramah, ceria, tegar dan gigih."

"Apa benar yang kamu bilang? Saya kok ga merasa gitu ya? Saya juga merasa banyak orang yang membenci saya."

"Hanya perasaan anda saja." Adam tersenyum kecil.

"Tanya sama kamu percuma juga." Jihan mendengus kesal lalu berdiri hendak meninggalkan Adam sendirian.

"Jauhi Baron, Nona." Kalimat Adam membuat ia menghentikan langkahnya.

"Baron?"

"Saya tidak ingin anda terjebak lagi dalam situasi sulit. Jangan terlalu ramah dan baik pada orang lain. Tetaplah seperti ini, menjaga jarak dan tidak tersentuh oleh orang yang akan berniat jahat pada Nona." Adam menyampaikan dengan dengan nada datar.

"Menurutmu aku harus seperti itu?" Jihan membalikkan badan menghadap Adam.

"Adam, aku ... merindukan Ibu, apakah aku bisa bertemu dengannya?" tanya Jihan. Ia sedikit bingung mengajukan pertanyaan yang tepat agar Adam tidak menaruh curiga padanya.

...❤❤...

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

susah ya Jihan.. dipaksa merubah jln hidup Luna tp kamu sendiri gak tau latar belakang kehidupan Luna.. jd harus meraba perlahan...

2023-12-11

0

Red Velvet

Red Velvet

Sedikit demi sedikit masalalu Luna terkuak. 🤔🤔

2023-03-30

0

AdindaRa

AdindaRa

Lanjut kaaaak. Semangaaaat

2022-05-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!