"Sayang!" teriakan Violet menyadarkan Barra, dengan berat hati ia memaksa pandangannya beralih pada istri pertamanya.
"Heh?" sahutnya dengan tatapan yang nanar seolah di otaknya hanya ada tubuh Luna.
"Barra!" teriak Violet lagi lebih keras dengan wajah mengkerut.
"Apa?!" jawab Barra sedikit berteriak karena merasa terganggu keasyikannya.
"Kok kamu marah sih?!" rengek Violet.
"Sori, aku ga marah sayang. Aku cuman ...." Barra kembali mencari sosok Luna, tapi yang dicarinya sudah naik ke atas kolam dan memakai kembali gaunnya. " ... cuman lapar. Kita belum sarapan bukan?" kelit Barra berusaha merayu Violet.
Jihan berjalan cepat sambil mengutuk dirinya sendiri. Mengapa sejak ia menjadi Luna, kecerdasannya sebagai mahasiswi seolah lenyap.
B : Anda sungguh memukau, Nona
J : Diamlah B! kau sama sekali tidak membantu tapi terlalu banyak berkomentar
Jihan bergidik kedinginan. Ia menyambar handuk lantas berjalan ke arah kamar mandi.
B : Saya hanya memuji
J : Thank you
Saat Jihan akan masuk ke dalam kamar mandi, langkahnya terhenti dan berbalik.
J : B, aku bisa berbicara denganmu tapi tidak bisa melihatmu. Apakah kamu bisa melihatku?
B : Tentu saja, Nona. Seperti yang saya katakan, anda sungguh memukau.
J : Katakan padaku, B. Jika aku masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian bahkan saat aku mandi. Kamu tetap bisa melihatku?? Jihan menaruh kedua tangannya di pinggangnya.
Krik ... krik ... krik. Tidak ada jawaban dan tak ada tanda-tanda suara gaib itu pergi.
J : B!!
B : Ya, Nona
J : Apa maksudmu, ya Nona?? jadi selama ini kamu mengintip?? Jihan membelalakan mata.
B : Bukan, Nona. Tadi saya menjawab panggilan Nona, bukan maksudnya saya mengintip.
Jihan menyipitkan mata dan semakin mengeratkan bajunya di bagian dada. Matanya nyalang mencari-cari di mana sekiranya keberadaan si suara gaib itu berada.
B : Mandilah Nona, kalau anda curiga terus selama di sini anda tidak akan mandi. Suami anda bukannya cinta bisa jadi semakin jijik melihat anda.
Jihan tidak berkata apapun lantas masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya dengan keras.
...❤...
"Maaf terlambat," ucap Jihan seraya menarik kursi makan.
Barra tidak menyahut hanya pandangannya tidak lepas dari wajah Luna. Biasanya ia melihat Luna hanya beberapa detik. Kali ini sedikit lebih lama dan tatapannya semakin melembut.
Violet menyadari perubahan suaminya itu. Berbanding terbalik dengan Barra, wajahnya berubah masam saat Jihan duduk di hadapannya.
"Kamu tidak masuk angin," tanya Barra seraya mengusap-usap dagunya.
"Eh? ow, tidak. Aku sehat-sehat aja, terima kasih atas perhatiannya," sahut Jihan. Sekilas ia melirik pada Violet yang memandangnya sinis.
"Kamu ingin sup jagung, sayang?" tanya Violet pada Barra saat mereka bertiga sudah hampir menyelesaikan sarapan.
"Ada? kenapa tidak sekalian dikeluarkan tadi?"
"Sup jagung yang ini memang paling enak dijadikan makanan penutup. Tunggu sebentar aku ambilkan, eh, Luna bisakah kau menolongku?" Violet membalikan badan kembali setelah dua langkah menjauh dari meja makan.
"Tentu bisa, Vio." Jihan mengikuti langkah Violet ke dalam dapur.
"Kenapa bukan pelayan yang membawakan ke ruang makan, Vio?" tanya Jihan saat Violet menuangkan beberapa sendok sup jagung ke dalam mangkuk besar.
"Bukankah lebih baik kita melayani suami kita sendiri?" ujar Violet dengan menekankan kata suami kita. Jihan meringis mendengar sebutan suami untuknya.
"Luna, tolong bawakan tiga mangkuk kecil ini, biar aku yang bawa mangkuk besar yang ini." Violet berjalan mendahului Jihan dengan membawa mangkuk berisi sup jagung yang masih hangat, sedangkan Jihan di belakangnya mengikuti dengan tiga mangkuk kecil yang masih kosong di tangannya.
"Aaaahhhh!!"
Pyaaarrrr!!
Saat baru selangkah masuk ke dalam ruang makan, tiba-tiba Violet terjatuh dan mangkuk berisi sup jagung itu terlempar dan pecah.
"VIO!" Barra segera berlari dan menggendong tubuh Violet yang sudah basah karena terkena tumpahan sup jagung.
Para pelayan yang ada di sekitar ruang makan ikut berlari menghampiri, ada yang membersihkan lantai ada pula yang membawakan perlengkapan P3K.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Barra memeriksa seluruh tubuh Violet dengan panik.
"Panas, perih, Barra," rengek Violet.
Jihan masih terpaku di tempatnya berdiri dengan memegang mangkuk kosong di tangannya. Kejadiannya begitu cepat, ia tidak sempat mencerna dengan otaknya.
Perlahan Jihan melangkahkan kakinya mendekati Violet yang dibaringkan Barra di sofa. Tangan dan lutut wanita itu terlihat berdarah terkena pecahan mangkuk. Beberapa bagian tubuhnya memerah karena sup yang panas.
"Kamu baik-baik saja, Vio?" tanya Jihan khawatir.
"Kenapa kamu mendorong aku, Luna? Aku salah apa padamu?" Violet menangis terisak.
"Hah?" Kening Jihan berkerut. Awalnya ia tidak mengerti mengapa Violet mengatakan demikian. Tubuh wanita itu terjatuh begitu saja, padahal jaraknya dengan dirinya ada sekitar tiga langkah bagaimana caranya ia mendorong Violet?
"Apa yang kamu lakukan, Luna?" Tatapan Jihan beralih pada Barra yang memandangnya penuh kebencian.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Barra. Mana mungkin aku mendorongnya. Tanganku sedang memegang mangkuk, lihatlah!" Jihan memperlihatkan kedua tangannya yang masih penuh.
"Jadi kamu bilang aku mau memfitnahmu, Luna?" Violet menutup mulutnya seolah tak percaya. Tangisannya semakin meraung.
"Tapi Vio, kau tahu sendi---"
"Tutup mulutmu, Luna! sejak awal aku sudah salah mengijinkan wanita jahat sepertimu masuk ke dalam mansionku. Harusnya kamu berterima kasih pada istriku, ia yang meminta padaku untuk membiarkan kamu tinggal di sini!" Barra menatap Luna seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Aku tidak bersalah, Barra." Jihan bersikukuh.
"Pulanglah ke mansionmu, Luna." Barra bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Jihan.
"Maksudnya?"
"Kembalilah tinggal bersama Ayahmu."
"Kamu tidak akan menceraikanku kan, Barra?!" Jihan sedikit panik dengan kemarahan Barra. Bagaimana tidak jika ia diceraikan dan pulang ke mansion ayahnya, akan semakin sulit menjalankan misinya.
"Satu-satunya alasanku mempertahankan pernikahan ini hanya karena aku menghormati ayahmu." Jihan bernafas lega saat mendengar pernyataan Barra, setidaknya ia masih mempunyai kesempatan.
"Barraa, tolong jangan biarkan aku keluar dari sini. Aku tidak bisa jauh dari kamu." Jihan bersimpuh di depan Barra. Ia keluarkan segala kemampuannya dalam berakting.
Tidak sia-sia ia menjadi ketua bidang seni di kampusnya, kalau hanya mengeluarkan air mata seperti ini sudah menjadi salah satu keahliannya.
"Sayang, jangan seperti itu." Violet memegang lengan suaminya.
Ciih rupanya ia ingin beradu akting denganku. Jihan melirik Violeta dari ujung matanya.
"Aku tidak ingin kau terluka lagi gara-gara dia," ujar Barra seraya menangkup wajah Violet.
"Jangan usir aku, Barra. Aku mohon." Jihan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata palsunya.
"Pulanglah," ucap Barra. Jihan menggelengkan kepala dengan keras menolak.
"PERGI DARI HADAPANKU DAN KELUAR DARI MANSIONKU!" Barra berteriak sangat kencang sampai beberapa pelayan terkejut dan menghentikan pekerjaan mereka.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Red Velvet
Biarkan jauh jauhan dulu, jd Barra berasa ada yg hilang nanti
2023-03-30
0
est
sistem busuk
2022-09-16
0
Ida Blado
mc nya kurang greget dan lgi apa gunanya sistem mending hilangin gk usah pakai sistem2 man kalau gk bisa ngasih peringatan
2022-07-27
1