Jihan tahu jika Barra melihatnya dengan tatapan menyelidik. Kena kau, perhatikan terus saja aku dan jatuh cintalah, agar aku cepat kembali ke dunia sesungguhnya.
"Luna ... Lunaa!" panggil Ayah Luna semakin keras.
"Ah, iya Ayah." Jihan menoleh ke arah Ayahnya. Rupanya tadi ia terlalu fokus untuk membuat Barra terpesona, sampai tidak mendengar suara Ayah Luna memanggilnya
"Kamu ini, apa yang kamu lamunkan lagi? Pria yang selalu kamu impikan tiap hari sudah ada di hadapanmu. Setelah ini Barra bisa kamu peluk dan cium sesuka hati," ujar Ayah Luna tanpa filter.
Barra tersenyum mengejek, sedangkan Violet mengernyitkan wajah seolah jijik.
"Ah, Ayah jangan buat aku malu." Jihan tertunduk malu, lebih tepatnya berpura-pura tersipu.
"Luna, sekarang kamu sudah resmi menikah dengan Barra. Kamu boleh bebas memilih, di mana kamu akan tinggal. Di mansion Barra atau tetap bersama Ayah di sini."
"Lebih baik kamu tetap tinggal di sini, Luna. Ayahmu pasti akan kesepian jika kamu tinggal bersamaku," ucap Barra tenang.
"Apakah aku harus tinggal terpisah darimu?" tanya Jihan pada Barra dengan wajah sendu.
"Aku bisa datang kapanpun kau mau, dan kamu juga bisa datang ke mansionku kapanpun kau mau." Jihan melihat Violet mencengkram tangan Barra semakin erat, saat suami mereka berkata demikian.
"Ah, aku pasti bakal rindu," ucap Jihan tertunduk. Jihan masih sempat melihat Barra dan Violet memutar mata mereka jengah saat ia mengatakan kalimat itu. Dalam hati Jihan terikik melihat perubahan raut wajah keduanya.
"Jangan khawatir Luna, aku pasti bakal adil dengan kalian berdua," ujar Barra bijak.
"Ayah, sebelumnya aku minta maaf. Sebaiknya sebagai seorang istri, aku harus mengikuti kemanapun suaminya pergi."
"Maksudmu kamu mau tinggal bersama Barra dan Violet?" tanya Ayah Luna.
"Iya, Ayah." Jihan mengangguk. Dari sudut matanya ia melihat Barra dan Violet yang nampak panik mendengar keputusannya.
"Luna, kamu yakin mau tinggal bersamaku? Mansionku tidak ada apa-apanya dibandingkan mansion Ayahmu ini." Barra berusaha menolaknya secara halus.
"Suamiku, aku tetap akan tinggal bersamamu, meski harus hidup menderita sekalipun. Dianggap atau tidak dianggap nanti aku di mansionmu, di mana suamiku berada itulah yang akan menjadi istanaku," ucap Jihan pelan.
Barra melongo sesaat mendengar kalimat Jihan yang terdengar seperti merayu. Sedangkan Violet masih tetap dengan pandangan sinisnya.
"Apapun keputusanmu, Ayah tetap senang mendengarnya. Rumah ini selalu terbuka untukmu." Jihan memeluk Ayah Luna dengan senyuman kemenangan.
...❤...
"Nona, anda yakin mau membawa saya ke mansion Tuan Muda Barra?" tanya Millie saat membantu Jihan memilih pakaian Luna yang akan ia bawa ke mansion Barra.
"Sangat yakin, Millie. Kenapa kamu ga mau? jangan bilang kamu berat berpisah dengan Sebastian?" Jihan mengerling menggoda.
Baru satu hari menjadi Luna, Jihan sudah sedikit mengenal dan memahami situasi di sekitar mansion Ayah Luna. Saat resepsi pernikahannya berlangsung, Jihan sempat melihat Millie dan salah satu pengawal kepercayaan Ayah Luna yang bernama Sebastian, sedang duduk dan bercanda berdua di pojok ruangan.
"Nonaaaa." Millie menutup wajahnya malu.
"Ayolah Millie, aku sangat membutuhkanmu di sana. Kalau kamu ga mau ikut denganku, jangan menyesal jika nanti kamu mendapat kabar aku meninggal karena di siksa oleh Barra dan Violet." Jihan pura-pura merajuk. Ia tahu jika tidak ada satupun pelayan dan pengawal yang berani menolak perintah maupun permintaan dari tuannya.
"Nona jangan bicara seperti itu, sudah pasti aku akan ikut kemanapun Nona Luna pergi."
"Terima kasih, aku pastikan Sebastian setia menunggumu," goda Jihan. Wajah Millie kembali memerah.
...❤...
Jihan turun dari mobil yang mengantarnya ke mansion Barra berdua dengan Millie.
Suasana di pekarangan mansion Barra sangatlah sepi. Tidak seperti mansion ayahnya, banyak pengawal dan pelayan yang berjaga di depan pintu.
Besar mansion suaminya ini, mungkin hanya setengah dari mansion ayahnya.
Jihan memandang ke belakang, tumpukan koper serta tas miliknya dan Millie berjajar rapi. Sopir yang mengantar mereka sudah kembali setelah membantu mengeluarkan barangnya dari dalam bagasi.
Jihan dan Millie saling berpandangan bingung. Bagaimana cara mengangkat semua barang bawaan mereka masuk ke dalam mansion yang masih terutup rapat. Tidak ada penyambutan sedikitpun untuk nyonya baru di mansion ini.
"Biar saya yang menekan bel pintunya, Nona," ucap Millie seraya berlari kecil menuju pintu mansion Barra.
Beberapa saat kemudian wajah Barra muncul dari balik pintu. Dari jarak Jihan berdiri, ia tidak bisa mendengar apa yang Millie dan Barra bicarakan.Beberapa saat kemudian, Millie kembali berlari ke arahnya.
"Apa katanya?" tanyanya. Matanya melirik pria yang berstatus suaminya itu, sedang bersandar santai di pilar teras mansionnya.
"Nona dipersilahkan masuk," ucap Millie.
"Lalu ini?" Jihan menunjuk deretan koper miliknya.
"Biar saya yang bawakan ke dalam," ujar Millie.
"Mengapa harus kamu sendirian? apa dia tidak punya pengawal dan pelayan di mansion sebesar ini?" Sekali lagi Jihan melirik Barra yang masih tetap pada posisinya.
"Tidak apa-apa, Nona." Millie mencoba meyakinkan Nona mudanya.
"Tunggu di sini," perintah Jihan. Dengan sedikit menahan rasa kesal, Jihan berjalan ke arah Barra.
Sampai di hadapan Barra, Jihan mengatur mimik wajahnya agar terlihat menyedihkan.
"Barra, apa boleh aku meminta bantuan pelayan atau pengawalmu untuk membawa semua barangku masuk ke dalam mansionmu?" tanya Jihan dengan sorot mata sendu.
Barra memandangnya dengan masih bersandar di pilar dan tangan terlipat di depan dada, "Semua pelayanku sudah aku pecat kemarin, untuk pengawal hanya ada beberapa dan mereka baru akan datang siang nanti, dan itu berarti tiga jam lagi. Kalau kamu mau menunggu mereka, tinggalkan saja barang-barangmu di sana," papar Barra lalu berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Baru beberapa langkah, pria itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, "Oh ya, tapi aku sarankan kamu segera masukan saja, karena di daerah sini sangat tidak aman, banyak pencuri walaupun tengah hari," ujarnya seraya tersenyum dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
"Aaarrggghhh." Jihan berteriak tanpa suara.
"Non, sudah ga apa-apa. Biar saya yang bawa semua ke dalam. Non Luna temui Tuan Muda Barra aja dulu," ucap Millie yang sudah menyeret dua buah tas besar di tangannya.
Mana mungkin ia membiarkan Millie membawa semua barang itu sendirian. Jihan kembali ke pekarangan lalu menarik satu koper, satu tangannya yang lain menggendong sebuah tas besar.
"Biar saya aja, Non," protes Millie panik melihat Nona mudanya mengangkat barang bawaan.
"Sudahlah, jangan berdebat. Aku bukan wanita lemah," ujar Jihan seraya masuk ke dalam mansion dengan kepala tegak.
Millie hanya melongo dan membiarkan nona mudanya berjalan melewatinya. Selama ia mengabdi pada keluarga Tuan Jose, baru ini ia melihat nona mudanya itu membawa sesuatu yang lebih besar dari tas tangan mewahnya.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Novel online_Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sandisalbiah
sayang misi Jihan harus membuat Barra mencintainya agar dia bisa kembali ke tubuh aslinya, kalau tidak... yakin Barra dan Violet bakal di babat habis sama Jihan.. 🤔🤔🤔
2023-12-11
0
Red Velvet
Bagus Jihan harus menjadi tokoh yg beda. karena ucapannya sendiri yg menghina novel yg dibaca Lidia😁
2023-03-30
1
Ida Blado
ish mc nya gk ada power nya
2022-07-27
0