Jihan menangis terisak-isak di sudut kamar. Ia merasa sangat takut, situasinya sekarang seperti memakan buah simalakama.
Jika gagal di dunia novel, ia akan dipenjara dan mati dengan dikenal sebagai Luna. Namun jika ia berhasil pun, belum tentu tubuhnya di dunia nyata akan bertahan menunggunya kembali. Itu sama saja ia akan mati.
Bagaimana jika ia berhasil, namun tubuhnya di dunia nyata sudah terkubur di dalam tanah. Di saat yang sama, Luna kembali mengambil perannya di dunia ini. Kemanakah jiwanya akan mengembara, karena ia sudah tidak dibutuhkan lagi.
B : Maafkan saya, Nona
"Aarrgghh!" Jihan menghempaskan pigura foto Luna yang berada di atas nakas.
"Nonaaa, anda kenapa??" Millie tergopoh-gopoh masuk, lalu segera membersihkan kepingan kaca yang berhamburan.
"Maafkan aku, maafkan aku, Millie." Dengan perasaan bersalah, Jihan membantu Millie membersihkan serpihan kaca di lantai.
"Ada apa?" Barra ikut masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Hah? auuchh!" Tangan Jihan tidak sengaja tergores, saat kepalanya mendongak melihat kedatangan Barra kembali ke kamarnya.
"No---" Tangan dan suara panggilan Millie terhenti saat melihat Barra dengan sigap mengusap darah yang mengalir menggunakan jemarinya.
"Aku ga apa-apa, Barra." Jihan menarik tangannya dari genggaman tangan Barra.
"Apa yang sedang kau pikirkan?!" tanya Barra lebih ke arah menggerutu. Tangannya meraih tissu dan mengusap darah di tangan Jihan.
"Aku tidak apa-apa, sungguh." Jihan kembali menarik tangannya karena melihat Violet berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengancam.
"Aku akan menemanimu," ujar Barra masih dengan fokusnya pada luka di tangan Jihan.
"Ha, apa?"
"Malam ini aku akan menemanimu. Sepertinya kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja."
"Barra!" Violet menarik tangan Barra yang sedang memegang tangan Jihan.
"Malam ini aku bersama Luna," ucap Barra datar.
"Tapi sayaaang?!" Wanita itu masih berusaha menarik tangan Barra.
"Kembalilah ke kamarmu, Vio. Malam ini aku di sini." Barra mengucapkan dengan tegas.
"Aku tidak apa-apa, Barra. Kamu temani saja Violet, biar aku bersama Millie," ucap Jihan seraya memberi pelayannya itu kode dengan sebelah matanya.
"Maaf Nona saya lancang, malam ini teman sekamar saya sakit dan saya harus menjaganya." Jihan melongo mendengar pelayan setianya itu berani menolak permintaannya.
"Pergilah ke kamarmu," perintah Barra pada Millie. Jihan memberikan tatapan kesal pada Millie sebelum gadis itu menghilang dengan senyuman nakalnya di balik pintu.
"Dan kamu, Vio kembalilah ke kamarmu," perintah Barra dengan suara lembut.
"Sa---"
"Kembalilah, Vio!" seru Barra sedikit agak tegas. Violet menghentakkan kakinya dan membanting pintu kamar Jihan dengan keras.
"Barra, sebaiknya kamu temani Violet. Dia sepertinya marah sekali kamu ada di sini bersamaku."
Sebenarnya situasi ini adalah kesempatan emas bagi Jihan untuk menarik perhatian Barra. Langkahnya semakin lebar untuk membantu Luna memiliki Barra dan menendang Violet semakin jauh.
Namun jika diingat lagi, malam ini adalah malam pertamanya bersama Barra setelah mereka melaksanakan pernikahan. Jihan sama sekali belum siap dan tidak akan pernah siap berada dalam satu ranjang dengan seorang pria yang menganggapnya orang lain.
"Naiklah ke atas ranjang," perintah Barra dengan tenang.
"Hah? kamu mau aku naik ke atas ranjang?"
"Lalu bagaimana kau akan tidur jika tidak mau naik ke atas ranjang?"
"Ow, ya kamu benar," sahut Jihan gugup. Jihan naik ke sisi pembaringan paling ujung dan langsung merebahkan diri membelakangi Barra yang masih berdiri dan sedang mengamatinya.
"Siapa kamu?" tanya Barra tiba-tiba
...❤❤...
Haiii mampir ke karya teman aku ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Barra : Siap kamu?
Luna : kamu nanyakkk ?
Barra. : kamu tiba² berubah..
Luna. : emangnya aku power ranjers
bisa berubah.. 🙄🙄
Barra :..???
2023-12-11
0
Red Velvet
Hah, apa itu. jgn bilang Barra sdh tau kalau Luna itu bukanlah luna🤔
2023-03-30
0
AdindaRa
Lanjuuuuut kaaaak 😍😍😍
2022-05-16
1