" ... Baiklah." Setelah bertatapan sejenak, akhirnya Barra sedikit luluh dan mengijinkan Luna menuangkan anggur untuknya.
"Silahkan, Luna," ujar Violet mempersilahkan Jihan menuangkan anggur untuk suami mereka. Bibirnya tersenyum manis, tapi jemarinya mencengkram keras alat makan yang ada di tangannya.
Jihan berusaha menyembunyikan sorak gembira dalam hatinya. Baginya satu langkah besar jika pria angkuh itu mengabulkan permintaannya sekaligus mengabaikan wanita kesayangannya.
"Cheers." Jihan mengangkat gelasnya.
"Cheers," sahut Barra dan Violet.
"Mari makan. Aku harap kamu suka Barra dan tentunya kamu juga Violet," ucap Jihan saat Millie selesai mengantar menu terakhir ke ruang makan.
Barra tidak menyahut. Ia perlahan menyuapkan sendok demi sendok makanan ke dalam mulutnya. Sesekali kepalanya mengangguk pelan dan wajahnya menunjukan rasa menikmati.
Setiap reaksi Barra tidak lepas dari perhatian Jihan. Dari ujung matanya, ia memperhatikan pria yang sekarang berstatus suami Luna. Jihan tersenyum dalam hatinya, percobaan pertamanya merebut perhatian Barra cukup berhasil.
Sebaliknya Violet menunjukkan respon tidak sukanya. Ia merasakan hawa persaingan sudah dimulai.
"Kamu suka, Barra?" tanya Jihan.
"Lumayan," sahut Barra tak acuh tanpa memandang pada Jihan.
"Aku bisa memasak menu ini untukmu, kapanpun kamu mau. Atau kamu boleh minta menu apapun, ak---"
"Tidak perlu Luna, Barra sudah ada yang memasak untuknya," potong Violet.
"Kamu yang memasak Violet?"
"Bukan. Ada koki mansion ini ... tapi hari ini dia libur," ujar Violet cepat saat menyadari kesalahannya.
"Ow." Jihan tersenyum simpul. Tepat dugaannya, pelayan dan koki mansion ini sengaja diliburkan hanya untuk mengerjai dirinya.
"Tapi boleh kan sesekali aku masak untuk Barra dan kamu, Vio?" tanya Jihan sekali lagi.
"Boleh," sahut Barra sambil mengunyah. Terdengar hembusan nafas Violet yang kasar.
"Terima kasih, Barra," ujar Jihan seraya tersenyum manis.
1:0 bit*ch. Batin Jihan seraya menyuapkan sendok ke dalam mulut dengan mata menatap lurus pada Violet.
Violet membalas tatapan Jihan dengan sorot mata mengancam tapi bibir mengulas senyuman.
"Sudah selesai? biar aku bawa piringnya ke dapur," ujar Jihan seraya berdiri dari duduknya.
"Terima kasih atas makan malamnya, Luna," ucap Barra. Jihan sempat menghentikan gerakannya, ia tercengang menatap Barra yang baru ini mengucapkan hal yang manis padanya.
"Sama-sama." Senyum Jihan semakin terkembang sempurna.
Jihan menaruh piring beserta gelas di tempat pencucian piring, saat membalikan badan Violet sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Ada yang kau cari, Vio?" tanya Jihan setelah menguasai rasa terkejutnya.
"Senang?" tanya Violet sinis.
"Apa maksudmu, Vio?" balas Jihan pura-pura tidak mengerti.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Luna?"
"Apa yang kamu bicarakan, Vio? Aku benar-benar tak mengerti."
"Lepas semua topeng busukmu. Aku sudah kenal luar dalam tentangmu, wanita licik yang penuh tipu muslihat," ujar Violet setengah mendesis.
"Ahh, itu masa lalu Vio. Aku sudah menemukan kebahagiaanku di samping Barra sekarang. Tidak bolehkah aku menikmatinya?" ucap Jihan dengan nada pelan.
"Buls*hit!" maki Violet lalu pergi begitu saja dari dapur.
Wanita yang licik yang penuh dengan tipu muslihat. Hmmm ... kau hebat juga Luna. Tapi masih jauh lebih baik dari pada wanita itu ... munafik!
...❤...
"Tak bisa tidur, Nona?" tanya Millie yang melihat nona mudanya gelisah di atas ranjang.
"Mungkin belum terbiasa aja, Millie. Tidurlah aku tidak apa-apa," ujar Jihan.
Bagaimana bisa tidur, banyak nyamuk dan pengap sekali kamar ini! keluh Jihan dalam hati. Ia melirik ke arah pelayannya yang sudah terlelap dengan pakaian yang sama tipisnya seperti yang ia gunakan.
Perlahan Jihan turun dari ranjang, selimut tipisnya ia tutupkan di tubuh Millie agar tidak ada nyamuk yang menggigitnya.
Jihan melapisi tubuhnya dengan jubah tidur sebelum melangkah keluar kamar.
Pantas saja banyak nyamuk, kamar ini di depan taman yang gelap.
Jihan berjalan ke arah dapur dan membuka lemari pendingin. Di ambilnya sebotol anggur, ia hanya ingin terlelap pulas malam ini agar besok siap menghadapi rencana busuk sepasang suami istri yang menjengkelkan itu.
Jihan berjalan menyusuri mansion di dalam gelap dengan botol anggur di tangannya. Ia mengamati tiap sudut mansion yang sama sekali tidak ada sentuhan hangat dari seorang wanita.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara berisik dari dalam sebuah kamar yang besar. Suara itu seakan mengundangnya untuk mendekat sekaligus ingin mengusirnya agar menjauh.
Jihan mengikuti langkah kaki yang membawanya menuju kamar itu. Suara itu terdengar semakin keras, dengan desa*han dan rin*tihan kenikmatan.
Dua bilah pintu itu tidak tertutup sempurna, tanpa berusaha mengintip pun, Jihan sudah dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Antara mual dan merinding Jihan menyaksikan pergulatan antara sepasang manusia berbeda jenis kelamin di atas ranjang.
Saat leng*uhan panjang dari sang wanita terdengar, Jihan memaksa kedua kakinya untuk menjauh dari sana. Dengan dada berdegub kencang, Jihan berjalan kembali ke dapur.
Jihan berusaha mengeluarkan segala rasa mualnya ke dalam wastafel, tapi tetap tidak ada yang keluar.
Sebagai mahasiswi teladan yang hanya hidup bersama buku dan laptop, Jihan sama sekali tidak pernah mengenal hubungan dengan seorang pria.
Jangankan berhubungan intim, berpegangan tangan dengan lawan jenis saja belum pernah ia lakukan. Di saat blue film menjadi tontonan wajib bagi teman-temannya, tapi itu tidak berlaku bagi Jihan yang lebih memilih film dokumenter atau drama klasik.
Saat tontonan dewasa itu secara langsung ditangkap oleh kedua matanya, Jihan merasa mual sekaligus ada yang menggelitik di beberapa bagian sensitifnya.
"Belum tidur?" suara serak dan berat dari balik tubuhnya membuat Jihan terjingkat kaget.
"Be-belum." Jihan membalikan tubuh dan bersandar di wastafel.
Diamatinya Barra yang hanya menggunakan celana boxer. Wajahnya kemerahan dengan sedikit peluh di pelipisnya. Rambut yang sedikit ikal itu terlihat agak kusut, tidak klimis seperti biasanya.
Damn! why he is so sexy. Jihan terkejut dengan suara hatinya yang tiba-tiba mencuat. Ah, ini pasti suara hati Luna. Batin Jihan menghibur dirinya sendiri.
Matanya turun ke dada Barra yang terbuka. Sangat jelas di sana tanda kemerahan dengan jelas menghias leher hingga perut Barra yang keras. Belum lagi ada beberapa bekas goresan kuku pada bahu dan punggung Barra. Sudah sangat menjelaskan bagaimana panasnya pergulatan mereka berdua.
Dada Jihan mendadak ikut memanas, bukan karena ikut bergulat tapi ada rasa yang tidak biasa ia rasakan.
"Untukku," ucap Barra seraya meraup botol anggur yang ia pegang. Barra meminum langsung habis dengan sekali teguk. Matanya terus mengawasi tubuh Jihan yang sedikit terbuka jubah tidurnya.
Beberapa saat kemudian Jihan baru tersadar jika mata Barra sedang mengamati lekuk dadanya. Dengan cepat ia menutup jubah tidurnya rapat dan berjalan keluar dari dapur dengan wajah memerah.
...❤❤...
Bagi yang merayakan
...Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin 🙏😊...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
kalea rizuky
males mending cerai Barra bekas jalang vio
2024-10-05
0
Red Velvet
Kena kau Barra, jgn ngintip2 nanti kepengen nyoba lagi😁 Jihan benar2 perempuan yg polos ya🤭
2023-03-30
0
moerni🍉🍉
❤️❤️
2022-05-02
1