"Kamu capek, Vio?" tanya Jihan yang berada di dalam tubuh Luna dengan wajah seolah prihatin.
"Sandiwara apa lagi yang akan kamu mainkan, Luna?" geram Barra. Tangannya yang melingkar di pinggang Violeta membuat rasa panas menjalar di dada Jihan. Ah, inikah perasaan cemburu yang dimiliki Luna ... sakit, aku juga bisa merasakannya Luna.
"Tidak ada sandiwara, Barra. Violeta mengijinkan kita menikah saja aku sudah sangat bersyukur," ucap Jihan tulus.
"Omong kosong, Vio tidak pernah mengijinkan kita menikah. Kamu yang memaksa dan mengancam kalau kamu lupa, Nona Luna," sindir Barra dengan tatapan sinisnya. Jihan bisa melihat, jika pria di hadapannya ini sangat membenci sosok Luna.
"Ah, ya maafkan aku hanya terlalu senang."
"Jangan terlalu cepat senang, neraka yang kusiapkan sudah menantimu, Nona," bisik Barra yang terdengar seperti sebuah ancaman.
Bohong jika Jihan tidak bergidik saat pria itu mengancamnya. Ia yang belum paham alur cerita, sifat dan situasi yang akan dihadapi harus menghadapi pria berhati iblis macam Barra.
"Barra, menantuku," Tuan besar Jose yang Ayah dari Luna, merentangkan tangan pada pria angkuh yang berdiri di sebelahnya.
"Tuan Besar Jose," ucap Barra seraya menyambut pelukan hangat Ayah Luna.
Ciiihh, munafik!
"Saya sangat bahagia sekali kalian berdua akhirnya bisa bersatu. Saya harap kamu bisa menjaga dan menyayangi putri saya satu-satunya," ucap Ayah Luna seraya menepuk-nepuk pundak Barra. Dari sudut mata Jihan, ia melihat seringaian sinis dari ujung bibir Violet.
"Pastinya, Tuan."
"Aahh, jangan lagi panggil Tuan. Saya sekarang Ayahmu juga, milikku adalah milikmu juga." Mata Jihan terbuka lebar mendengar penjelasan Ayah Luna, terlebih senyum kemenangan muncul di bibir Barra dan Violet.
Jadi ini alasan Barra mau menerima Luna menjadi istrinya? Harta Ayah Luna. Dasar licik!
B : "Anda sudah menyadarinya, Nona?" Dunia ini tidak nyata, apapun bisa terjadi. Yang baik bisa saja buruk, begitu juga sebaliknya. Jadi berhati-hatilah menganalisa."
L : "Untuk itulah kamu ada, B."
Suara gaib itu tidak menyahuti kalimatnya, hanya suara tawa yang menjengkelkan terdengar semakin menjauh.
"Baiklah, Ayah," ucap Barra masih memeluk Ayah Luna.
"Saya boleh memanggil Tuan Jose, Ayah juga?" tanya Violet dengan wajah manisnya. Jihan spontan memutar matanya jengah melihat kemunafikan istri pertama Barra.
"Tentu saja boleh, Vio," sahut Ayah Luna.
"Luna, jangan pernah kecewakan, Ayah hmmm?!" Ayah Luna mengerlingkan mata pada Jihan.
"Tentu, Ayah," Jihan memeluk tubuh Ayah Luna. Ada rasa hangat yang menjalar di dada Jihan. Jihan merasakan kasih sayang yang begitu besar dari Ayah Luna pada putrinya.
"Ayah menemui Tuan Larco dulu," tunjuk Ayah Luna pada sekelompok bangsawan yang sedang menikmati anggur mahal, "Berbahagialah," bisik Ayah Luna.
Jihan mengalihkan pandangan dari Ayahnya ke arah Barra. Ternyata suaminya itu sudah meninggalkannya seorang diri di atas pelaminan.
Barra menuntun Violet yang nampak tertatih karena hak sepatunya yang sebenarnya tidak terlampau tinggi.
Beberapa pasang mata undangan tampak menatap ke arah panggung dengan sorot mata kasihan dan mengejek.
Baiklah. Tunjukan sisi malaikatmu, Luna.
Jihan ikut turun dari pelaminan menghampiri Barra yang sedang mengusap-usap tumit Violet yang terlihat baik-baik saja.
"Ow, kasihan sekali kamu, Vio. Mau beristirahat sebentar di kamarku?" tawar Jihan.
"Tak perlu, Luna. Terima kasih," sahut Violet.
"Pergilah Luna, jangan terus mendekati kami," usir Barra dengan suara pelan namun tegas.
"Barra, tidak kah kamu dengar tadi, Ayahku memintamu menjagaku. Apa katanya nanti jika aku berjalan sendiri. Setidaknya biarlah aku membantu mengobati kaki, Vio." Jihan ikut berjongkok di sisi Barra.
"Lepaskan tanganmu! aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti istriku lagi!" seru Barra. Beberapa undangan yang berdiri di sekitar mereka sudah menaruh perhatian pada ketiganya.
"Maaf, Barra a-aku hanya ingin membantu. Maaf jika aku mengganggu kalian." Jihan sedikit terisak lalu berlari menjauh menuju ke dalam kamarnya.
"Aaaahhhh, leganyaaaa." Jihan membanting tubuhnya di atas ranjang Luna. Ia merasa cukup puas untuk hari ini.
Tadi saat Barra sedikit bersuara keras dan ia bersandiwara layaknya wanita yang tersakiti, beberapa pandangan orang yang berada di sana berubah. Banyak yang berubah menjadi simpati padanya.
B : "Sudah puas bermain-main, Nona?"
"Bagaimana tadi pertunjukanku?" tanya Jihan bangga.
B : "Lumayan."
"Ingin rasanya kuremas kedua orang itu, B." Jihan mengepalkan tangannya.
B : "Hahahaha, anda terlalu menghayati peran, Nona."
"Bagus bukan? aku bisa secepatnya keluar dari dunia hayalan ini," ucap Jihan bersemangat.
B : "Satu lagi, Nona saya lupa memberitahu anda. Ini masalah yang sangat penting."
"Apalagi? jangan kamu tambah-tambahkan tugasku, B!"
B : "Bukan tugas, tapi sebuah peringatan."
"Apa?" tanya Jihan khawatir.
B : "Jaga hatimu, Nona. Jangan sampai anda jatuh hati pada Tuan Barra."
"Aku? jatuh hati sama laki-laki iblis itu? hahahaha ... kamu ngelawak, B." Jihan terpingkal geli.
B : "Memang kenapa? suami anda tampan."
"Barra suami Luna, bukan suamiku," tandas Jihan seraya menyapukan perona pipi yang memudar akibat tangisan palsunya tadi.
B : "Luna adalah anda. Apa yang dirasakan Luna tentunya juga anda rasakan, Nona."
Jihan menghentikan kegiatannya merias wajah. Dalam hati ia membenarkan perkataan suara gaib itu. Belum ada satu hari, ia sudah mulai mengerti dan memahami perasaan Luna. Namun untuk perasaan cinta tidak sedikit pun.
"Kamu jangan khawatir, B. Aku tidak bakal jatuh cinta pada milik orang lain. Lagi pula dunia ini tidak nyata, bukan? tentunya ketampanan Barra juga tidak nyata hahahaha ...."
B : "Anda mulai menghina lagi, Nona."
"Oh, ayolah B. Itu hanya candaan, aku minta maaf okay." Jihan mengatupkan telapak tangannya di depan dada.
Tok ... tok ... tok
"Nona, anda dipanggil Tuan besar." Kepala Millie menyembul dari balik pintu kamar setelah diijinkan Jihan untuk membuka pintu.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Terima kasih, Millie."
Jihan berputar-putar di depan cermin, memastikan penampilannya masih terlihat memukau setelah sandiwara singkatnya tadi.
"Oke, aku siap." Jihan kembali memasang wajah sedih layaknya seorang istri yang disakiti.
Jihan menghampiri Ayahnya yang sedang duduk bertiga bersama dengan Barra dan Violet.
"Ya, Ayah," ucapnya dengan nada pelan dan kepala tertunduk.
Ketiga orang di hadapannya seketika mengerutkan kening mendengar nada suara Luna dan sikap tubuhnya yang sangat jauh berbeda.
"Kamu ... baik-baik saja, Sayang?" tanya Ayah Luna khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Mari duduk sini, Luna. Ayah ingin berbicara sesuatu pada kalian bertiga." Ayah Luna menunjuk sofa sisi kanan Barra yang kosong, sedangkan Violet duduk di sisi kirinya.
Perlahan Jihan melangkah dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan Barra, bukan seperti yang ditunjukan oleh Ayahnya.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Novel Online Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sandisalbiah
cinta datang krn terbiasa bersama... tp jika perlakuan Barra ke Jihan tetap ketus dan kasar, kecil kemungkinan utk Jihan jatuh hati ke Barra... dan faktanya Barra juga gak sebaik seperti di cerita yg teman Jihan baca.. krn disini Barra menikahi Luka juga krn ada imbalannya kan..?
2023-12-11
0
Red Velvet
Ini yg sulit nih nanti, takutnya Luna malah jatuh cinta lagi😣
2023-03-30
0
Rahma
jihan waw
2022-05-30
0