Lina tidak bisa makan, seharian itu dia terus berada di depan kamar Novita sembari cemas memikirkan cara untuk mengeluarkan Tuan mudanya dari kamar itu.
Entah sudah berapa kali dia bolak balik di depan pintu sampai akhirnya matanya berbinar ketika melihat Hans berjalan ke arahnya.
"Tuan," katanya dengan cemas menatap kearah Hans.
Hans tidak mengatakan apapun karena pria itu hanya berjalan dengan wajah datar lalu mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu kamar.
Ruangan itu gelap gulita Jadi mereka tidak bisa melihat apapun di dalam sana karena ruangan Itu tampak besar dan cahaya yang masuk dari arah pintu tidak mampu menerangi seluruh ruangan.
Namun, mereka bisa mendengar deru nafas dari seorang pria yang tergeletak entah dimana.
"Aden," Lina langsung menerobos masuk dan mengandalkan pendengarannya mendekati sumber suara.
"Den,," brak!! Lina tersandung kaki Hendrik hingga perempuan itu jatuh ke lantai.
"Aden,, Tuan Muda,," tangan Lina bergetar hebat ketika dia menyentuh seorang pria dengan suhu tubuh yang sangat tinggi.
"Ada apa dengannya?" Tanya Hans yang masih enggan memasuki kamar itu, baginya tempat itu sangat menjijikan untuk ia injak.
"Tuan,, Aden pingsan,, tubuhnya sangat panas!" Ucap Lina dengan semas.
"Pergi telepon dokter." Kata Hans dengan santai lalu pria itu berbalik dengan tenang meninggalkan tempat itu dan menaiki mobilnya untuk meninggalkan rumah.
Urusan pekerjaannya masih jauh lebih penting daripada harus mengurusi anak berandal yang tidak tahu diri itu.
Lina memegang gagang telepon rumah dengan kepanikannya menatap ke arah mobil yang sedang melaju meninggalkan pekarangan rumah.
'Tuan Besar benar-benar tega, putranya sedang sekarat seperti itu dan dia malah memilih pergi. Kasian Aden,,' pikir Lina sembari menunggu teleponnya terhubung.
"Halo," tiba-tiba suara seorang pria dari seberang telepon.
"Halo Dok,, ini dari kediaman Gonedra, Tolong segera kemari." Katanya.
"Baik," jawab dokter pribadi keluarga Gonedra lalu panggilan itu segera diakhiri.
Segera Lina memanggil beberapa pria dari arah depan lalu membopong Hendrik kembali ke kamarnya.
Menggunakan tiga selimut, menyelimuti pria yang terlihat kedinginan padahal tubuh suhu tubuhnya sangatlah tinggi.
"Bertahanlah sebentar Den,, dokter sedang dalam perjalanan." Kata Lina dengan cemas mengamati wajah pucat pasi Hendrik.
Kalau dia sampai gagal menjaga Hendrik, maka rasa bersalahnya akan berkali-kali lipat dan sebaiknya dia memilih pergi menyusul Nyonya-nya daripada terus bertebal muka tetap hidup di dunia.
Akhirnya setelah menunggu beberapa menit sang dokter yang ditelepon telah tiba, pria itu dengan cepat memeriksa Hendrik dan memasang infus beserta oksigen.
"Bagaimana bisa kalian membiarkannya seperti ini?" Tanya sang dokter yang merasa prihatin dengan keadaan pria itu.
"Bagaimana keadaannya Dok? Apa yang harus saya lakukan?" Lina bertanya dengan cemas.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan! Kita hanya bisa menunggu keadaannya menjadi stabil." Kata dokter itu sembari mengeluarkan spoit untuk memberikan suntikan pada Hendrik.
Setelah memberikan seluruh penanganan pada Hendrik, dokter itu bernafas dengan lega memandangi pria yang mulai tenang.
"Apakah traumanya semakin parah? Sebenarnya apa yang terjadi belakangan ini? Mengapa tubuhnya penuh dengan luka luka yang tidak terurus?" Tanya Sang dokter pada Lina.
"Itu,, Dok, Tolong beritahu saja saya apa yang bisa saya lakukan supaya Tuan muda saya cepat pulih." Kata Lina yang jelas tidak bisa menceritakan apapun pada dokter itu.
Sang dokter menghela nafas dengan kasar "Kondisinya ini sangat parah, saya sarankan segera bawa dia ke rumah sakit, itupun kalau kalian masih mau melihatnya hidup.' kata Sang dokter lalu pria itu mengambil tasnya dan meninggalkan kediaman Gonedra.
Setelah dokter itu pergi Lina langsung mengambil telepon rumah dan menghubungi Hans.
"Jika tidak ada hal penting jangan menelponku!" Langsung dari pria dari seberang telepon yang terdengar sangat marah.
"Maaf Tuan, tapi dokter mengatakan kalau kondisi Aden sangat memprihatinkan dan perlu dibawa ke rumah sakit." kata Lina dengan bibir gemetaran sebab dia terlalu takut menghadapi Tuan besarnya.
Keheningan terjadi selama beberapa detik sebelum terdengar suara seorang pria "Biarkan saja dia di kamarnya."
"Tapi tuan--"
Tut Tut Tut.
Wajah Lina memucat, bagaimana bisa seorang ayah memperlakukan anaknya seperti itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Massurya
terlalu berbelit belit
pusing bacanya thor...
2022-05-01
0
Yeni Putra
ikut terharu toor ..orang tua bgmna itu bgs lah kalo Hendrik dendam SM ayahnya sy dukung
2022-04-25
1
💮Aroe🌸
enaknya di rrreeennnndos tu hans. di uleeg sama cabe😑
2022-04-09
4