Hendrik menghentikan langkahnya ketika mereka tiba di sebuah mobil limosin yang terparkir tak jauh dari area kampus.
Dilihatnya Alana membuka pintu mobil Limousine itu dan hendak naik ke mobil.
"Tuan Putri! Tas,," Hendrik berlari menghampiri Alana.
"Naiklah," kata Alana mengagetkan Hendrik.
"Tapi Tuan Putri, pakaian saya kotor dan mobil ini sangat mahal. Saya tidak mung-"
"Jangan membantah!" Bentak Alana ketika dia sudah muak berbicara dengan Hendrik lalu perempuan itu segera menutup pintu mobil.
Melihat Alana yang keras kepala Hendrik akhirnya membuka pintu mobil di bagian depan dan duduk di sana sembari memeluk erat tas milik Alana.
'Kemana kami akan pergi? Akan sangat bagus kalau Alana membawaku ke rumahnya, dengan begitu pria tua akan semakin marah padaku karena aku bermain-main dengan musuhnya!' Hendrik sangat berharap.
Kalau ia bisa membuat ayahnya sangat marah maka dia akan semakin puas melihat ayahnya semakin tersiksa menghadapi putranya satu-satunya yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan sesuai dengan harapan Hendrik, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah yang mewah dengan gaya klasik.
Hendrik segera turun dari mobil mengikuti Alana yang kini berjalan memasuki rumah mewah itu.
"Nona Muda," beberapa pelayan menyambut Alana dengan sangat sopan.
Namun begitu mereka melihat Hendrik, satu persatu dari antara mereka memegang hidung mereka karena bau menyengat dari tubuh Hendrik sebab kotoran yang menempel pada pakaian Hendrik.
"Pergi bersihkan tubuhmu dan temui aku!" Perintah Alana pada Hendrik lalu perempuan itu pergi bersama beberapa pelayan pribadinya.
"Sialahkan ikuti saya." Seorang pelayan memandu Hendrik ke sebuah paviliun di samping rumah.
"Anda boleh menggunakan semua barang yang ada di paviliun ini." Kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan Hendrik sendirian.
Hendrik menghela nafas dan memasuki paviliun, ia melihat beberapa pakaian telah diletakkan di atas sebuah meja.
Hendrik mengambil pakaian itu dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Hendri keluar dari pavilium dan menemukan pelayan yang tadi mengantarnya sudah menunggunya di sana.
"Sialahkan ikuti saya." Ucap pelayan itu.
Sembari berjalan bersama ke arah rumah, pelayan itu kemudian bertanya "Siapa nama Anda?"
"Hendrik." Jawab Hendrik.
"Ahh, Apakah Anda teman Nona muda kami?"
"Tidak, saya kacungnya." Jawab Hendrik membuat raut wajah pelayan yang tadinya bersikap sopan kini langsung terangkat dengan angkuh.
"Sudah kuduga, pasti lah kau bukan temannya, nona muda kami tidak pernah berteman dengan orang sepertimu." Ucap pelayan itu.
"Memangnya aku orang seperti apa?" Tanya Hendrik pada pelayan itu tanpa merasa tersinggung dengan sikap pelayan yang sangat sombong padanya.
"Apa lagi, dari penampilanmu aku bisa tahu kalau kau berasal dari keluarga miskin. Ck,, ck,, bahkan setelah menggunakan pakaian yang disiapkan kau masih terlihat norak." Kata pelayan itu diiringi decakan lidahnya yang menandakan bahwa dia merasa kesal karena telah ditugaskan untuk melayani Hendrik.
Hendrik hanya tersenyum 'Aku harap pria tua itu mendengar kata-kata pelayan ini, dia pasti akan marah tujuh keliling saat mengetahui pelayan musuh bebuyutannya sedang menghina calon pewaris nya!' pikir Hendrik penuh harap.
Akhirnya mereka memasuki rumah Dan Pelayan itu mengantar Hendrik ke arah ruang makan.
Di sana sudah duduk Romi dan Alana yang sedang menikmati makan malam mereka.
Hendrik berdiri dengan canggung, dia tak tahu harus berbuat apa tapi yang jelas dia juga merasa lapar melihat makanan diatas meja.
"Ayah, dia kacung baruku di sekolah." Duduklah dan makan." Perintah Alana pada Hendrik.
"Baik Tuan Putri, tapi di mana saya harus duduk?" Tanya Hendrik yang kebingungan Di mana tempat dia akan duduk.
"Di belakang sana." Ucap Alana menunjuk ke arah belakang.
"Baik, terima kasih Tuan putri." Ucap Hendrik segera berjalan ke arah belakang untuk duduk di sana.
'Bagus bagus,,,, ini lebih baik dari yang kuharapkan!!! Kuharap beberapa pelayan di sini memiliki mulut ember seember-embernya...!!!!' Hendrik merasa snagat senang.
Namun ketika dia hendak duduk, tiba-tiba saja Romi tiba-tiba menghentikannya.
"Bagaimana bisa kau duduk di sana? Kemarilah dan duduk di sini bersama kami." Ucap Romi mengagetkan Alana dan Hendrik.
'Bukankah dia musuh besar Ayah? Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui latar belakang ku dan membiarkanku berkeliaran di rumahnya, terlebih berdekatan dengan putrinya?' Hendrik bertanya-tanya dalam hatinya.
Orang sebesar Romi tidak mungkin bertindak gegabah seperti itu!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Sutardi Sutardi
msh nyimak
2022-08-22
0
Yeni Putra
lnjt nyimak dl
2022-04-25
1
siwi robingah
kayanya Romi sama ayahnya Hendrik dulunya berteman
2022-04-20
2