Pada pukul 10 malam Hendrik kembali ke kamarnya dengan tubuh penuh luka luka dan pakaiannya yang robek sana-sini.
Pria itu langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat sembari menahan perih pada robekan robekan kecil dan besar di sekujur tubuhnya.
Ini sudah menjadi kebiasaannya, ketika ayahnya melihatnya terlalu lemah ayahnya akan menyuruh pengawalnya untuk menyiksanya dengan harapan supaya dia belajar melindungi diri agar tidak ditindas.
Tapi semakin ayahnya melakukannya Hendrik semakin membiarkannya dan semakin membuat dirinya terlihat lemah dihadapan semua orang termasuk dihadapan para bawahan ayahnya.
Hal ini ia lakukan demi membalaskan dendam ibunya yang sudah meninggal karena ayahnya.
Biarkan pria itu terus kesal dan marah!
Setelah mandi, Hendrik keluar dari kamar mandi dan mendapati seorang perempuan paruh baya yang merawatnya adalah kecil duduk di sana sembari tersenyum ke arahnya.
"Kemarilah Den, biar saya obati luka Aden." Ucap Lina.
"Tidak usah Bi, saya mau istirahat." Ucap Hendrik segera memakai pakaiannya lalu melemparkan diri ke atas ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Lina berdiri menatap pemuda yang yang terlihat meringkuk di bawah selimut lalu keluar dari kamar itu dengan perasaan sedih menyelimuti hatinya.
'Maafkan saya Nyonya, Saya tidak bisa menggantikan Nyonya untuk merawat Aden.' ucap Lina dalam hati.
Baru saja Lina akan menuruni tangga untuk kembali ke ruang tidurnya ketika dia melihat Hans keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada.
"Bagaimana berandal itu?!" Tanya Hans pada Lina.
"Maaf Tuan, Aden tidak mau diobati, Aden juga tidak mau makan malam." Jawab Lina membuat Hans kembali menghela nafas dan kasar lalu pria itu berjalan ke kamar Hendrik.
Brak..!!!
Pintu kamar Hendrik terbanting dengan keras lalu Hans segera masuk dan menyibak selimut yang menutupi Hendrik.
"Beraninya kau bersikap lemah seperti ini!" Teriak Hans pada putranya tanpa disahuti oleh Hendrik.
"Bangun!" Kembali teriak Hans ketika dia merasa sangat marah, tapi seperti sebelum-sebelumnya Hendrik tidak akan pernah berbicara dengannya.
Sudah 15 tahun dan pria itu belum pernah berbicara sepatah katapun pada ayahnya semenjak ibunya meninggal.
"Katakan sesuatu atau kau akan mendapat hukuman cambuk?!" Teriak Hans kini dengan urat-uratnya yang sudah muncul di permukaan lehernya karena perasaan marahnya pada putranya.
Tetapi seperti dugaannya, putranya tidak bergeming pria itu hanya tertidur sembari memeluk lututnya seperti seorang pria yang tak berdaya.
Hal itu membuat Hans sangat marah lalu pria itu keluar dari kamar mendapatkan cambuk.
Plak plak plak...
Suara cambuk dari kamar menggema di sepanjang koridor kamar membuat Lina yang berdiri di ujung koridor kini gemetaran di tempatnya.
Cukup lama Lina menunggu hingga akhirnya Hans keluar dari sana sembari menenteng cambuk yang penuh dengan darah.
"Obati dia." Perintah Hans.
Lina segera masuk ke dalam kamar Hendrik dan mendapati pria itu terbaring di atas ranjang sembari memeluk lututnya.
Sprei putih yang awalnya membungkus ranjang dengan rapi kini acak-acakan dan dipenuhi bercak darah serta bolong di sana-sini.
"Ya ampun Aden,," Lina mendekati Hendrik.
Akhirnya malam itu di lalui dengan air mata seorang perempuan yang berusaha bersikap menggantikan Ibu dari seorang pria laki-laki yang sudah kehilangan ibunya sejak kecil.
Malam itu Lina menghabiskan waktunya sampai subuh untuk merawat satu-persatu luka yang memenuhi sekujur tubuh Hendri.
Pada pagi hari Lina bangun dan cepat-cepat menyiapkan bubur tawar untuk Hendrik ketika dia terkejut melihat Hendrik telah memakai pakaian kuliahnya dan menuruni tangga untuk meninggalkan rumah.
"Aden,, Aden mau kemana?" Tanya Lina dengan panik.
"Ke kampus Bi, aku pergi dulu." Ucap Hendrik dengan wajah pucat sembari berlalu meninggalkan Bibi Lina yang berusaha mencegah Hendrik namun tidak berhasil.
Ia harus ke kampus untuk diolok-olok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
Tak habis pikir orang tua apa itu Hans?."
2024-10-02
0
Wirda Lubis
sabar Hendrik semoga kamu kuat
2023-07-24
0
Adiwaluyo
percuma kalau balas dendam dengan diem,, ga ada gunanya.. malah kasihan ibunya yang sudah meninggal... harus sebagai laki-laki harus kuat dan tegar bukannya lemah dan cengen
2023-01-22
0