Keesokan harinya Hendrik bangun dan mendapati pakaian yang akan ia gunakan hari itu telah disiapkan oleh pelayan jadi dia segera membersihkan diri dan menggunakan pakaian itu.
Hendrik berdiri di depan cermin memandangi seorang pemuda yang menggunakan kemeja putih dan celana hitam panjang.
'Alana ini, dia sebenarnya memiliki selera yang bagaimana? Jelas-jelas ini adalah pakaian pelayan!' Gerutu Hendrik memandangi dirinya lalu menggunakan kacamatanya.
Lengkap sudah, sekarang Dia terlihat seperti pelayan yang culun!
Namun, Hendrik tidak terlalu memikirkannya, pria itu segera keluar dan mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah ruangan.
"Makan sarapan mu, sebentar lagi nona Alana akan memberimu tugas." Kata pelayan itu dengan ketus meninggalkan Hendrik yang kini duduk di kursi dengan sepotong roti yang di isi selai di depannya.
'Di rumah ini hanya Tuan Romi yang bersikap baik padaku. Apa sebenarnya yang direncanakan pria itu?' Hendrik berpikir-pikir sembari memakan sarapannya.
Setelah sarapannya habis, seorang pelayan kembali menemui Hendrik lalu mengantar Hendrik ke sebuah tempat.
"Pergi antar ini ke dalam. Jangan melakukan kesalahan apapun atau Nona Alana akan memarahimu!" Kata pelayan itu menyerahkan sebuah baki berisi cemilan.
"Baik," jawab Hendrik mengambil bagi itu lalu dia memasuki ruangan yang dimaksud oleh pelayan.
Baru saja dia melihat orang-orang yang ada di sana, Hendrik langsung menghentikan langkahnya.
"Oh,, si culun itu, Bukankah dia Hendrik anak Tuan Hans?" Seorang pria tiba-tiba berbicara sembari menatap tajam kearah Hendrik.
"Tuan Hans? Siapa?" Alana bertanya dengan bingung.
Dia benar-benar tidak mengenal Hendrik, dia hanya tahu bahwa ayahnya menyuruhnya untuk melindunginya.
Dan meskipun ia menyetujui permintaan ayahnya, namun dia tidak akan melindungi pria itu dengan cara memperlakukannya secara istimewa.
Setidaknya dia harus mengambil keuntungan dari Hendrik dengan menjadikan pria itu sebagai kacung!
"Dia,, hei,, kemari!" Ucap Tian.
Dengan langkah yang pelan Hendrik mendekati kedua orang itu lalu meletakkan cemilannya di meja.
"Sialahkan di nikmati," ucap Hendrik.
"Hei,, jangan berpura-pura, Kau adalah Hendrik Putra tunggal dari tuan Hans bukan?" Tanya Tian dengan tatapan tajamnya melihat Hendrik.
Dia tidak mungkin salah, pria culun di hadapannya ini adalah pria yang terkenal pintar saat masih berumur 5 tahun namun berubah menjadi orang bodoh semenjak kematian ibunya.
"Ya, saya Hendrik." Jawab Hendrik.
"Ck,, ck,, Apakah sudah diusir oleh ayahmu hingga berakhir menjadi pelayan di sini?" Ucap Tian.
Hendrik hanya tertunduk lemah, dia tidak mengatakan apapun, dia sudah biasa menghadapi hal seperti ini namun kadang-kadang dia juga merasa kaget saat bertemu dengan orang-orang Yang selalu merendahkan nya.
"Dia bukan pelayan, dia kacungku!" Ucap Alana dengan suara judesnya.
"Kacung? Bukan kacung sama saja dengan pelayan?" Tian berkata sembari memperlihatkan wajah jijiknya terhadap Hendrik.
"Beda! Kacung ku memiliki sedikit derajat yang lebih tinggi daripada seorang pelayan. Lagipula, yang bisa menyuruhnya itu hanya aku, orang lain tidak punya hak!" Ucap Alana mengagetkan Tian.
"Tapi--"
"Hei kacung! Duduk di sana!" Kata Alana menunjuk sebuah kursi yang ada di pojok ruangan.
"Baik Tuan Putri," jawab Hendrik dengan patuh lalu pria itu duduk di kursi yang ditunjuk oleh Alana.
"Hei,, Sejak kapan kau berubah? Kau berusaha memberinya muka di depanku?" Tanya Tian tak percaya.
"Kau bilang dia anak dari Tuan Hans? Pria culun yang selalu kau ceritakan itu?" Tanya Alana mengalihkan pembicaraan.
Tian menghela nafas, "Ya,, kau tahu ayahmu memiliki seorang saingan bisnis yang sangat hebat. Dia adalah Tuan Hans, dan kacungmu itu adalah putra satu-satunya dari tuan Hans." Ucap Tian mengagetkan Alana.
Perempuan itu melihat kearah Hendrik dengan tatapan kasihan sekaligus tak percaya.
'Pantas saja Ayah menyuruhku untuk melindunginya, sepertinya Ayah memiliki rencana lain terhadap pewaris tunggal dari Tuan Hans. Atau mungkin ayah merasa kasihan karena Hendrik harus menderita dibawah tekanan ayahnya?' pikir Alana mengingat kembali bagaimana pria itu muncul di depan gerbang dan ditindas oleh Victor dan teman-temannya.
Alana juga bisa memperkirakan luka-luka dari tubuh Hendrik adalah luka yang didapatkan pria itu di rumahnya. Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa ternyata Hans berasal dari keluarga terpandang dan merupakan satu-satunya pewaris dari saingan bisnis ayahnya.
"Kelak ketika kau menggantikan posisi ayahmu kau mungkin akan berhadapan dengannya, tapi karena dia terlalu bodoh aku yakin masa depan keluarga Gonedra sangat suram." Ucap Tian dengan perasaan iba memandang pewaris keluarga Genedra kini berubah menjadi kacung keluarga Xionir.
Bisa-bisanya pewaris dipermalukan seperti ini!
"Jadi begitu,,," Alana mengangguk mengerti. Sekarang dia tahu maksud ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut
2023-07-25
0
botak
tua bngke bodoh udah tau g bisa punya ank lg..bukannya di rawat malah di siksa lhir batin .. oi kpn kmu pinter lg dek .kaburlaahh
2022-10-16
0
Sutardi Sutardi
lanjut
2022-08-22
0