Akhirnya Hendrik tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah Romi.
Pria itu duduk di depan Alana tepat di samping Romi.
"Jadi kau temannya putriku, siapa namamu?" Tanya Romi dengan suara khas seorang ayah.
Suara Romi seperti embun segar yang menyentuh permukaan hati Hendrik, itu pertama kalinya dia mendengar seseorang berkata dengan sangat baik padanya setelah kematian ibunya.
Namun segera Hendrik menguasai dirinya dan menjawab "Nama saya--"
"Kacung! Namanya kacung!" Sela Alana dengan wajah juteknya.
"Alana,," Romi memperingatkan putrinya supaya putrinya menjaga sikap.
"Ayah!" Alana berkata dengan kesal, ayahnya menyuruhnya untuk melindungi pria culun itu, dan sekarang ayahnya malah membela pria culun itu ketimbang dirinya. Padahal mereka sudah sepakat kalau Alana akan melakukannya dengan caranya sendiri.
Apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya?
"Baiklah,, ayo lanjutkan saja makannya." Akhirnya Romi tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan putrinya.
Putrinya belum tahu apapun tentang hubungan perbisnisan jadi dia tidak akan melibatkan putrinya lebih jauh.
Setelah perdebatan kecil itu Hendrik makan dengan canggung tetapi diam-diam dia menilai 2 orang yang berada di hadapannya.
'Tuan Romi adalah musuh besar ayah dan dia juga pasti sudah tahu identitasku namun tetap berpura-pura di depan putrinya. Kalau begitu Alana ini benar-benar tidak tahu tentang ku. Tapi Tuan Romi, mengapa dia bersikap biasa saja atau dia sengaja?' Hendrik berpikir dalam hati sembari menikmati makan malamnya yang terasa hambar.
Setelah makan malam, seperti biasa Alana akan menghabiskan waktunya di taman belakang.
Lampu taman menyala dengan terang menyinari seorang perempuan yang sedang duduk di dalam rumah kaca sembari membaca sebuah buku.
"Air," kata Alana mengangkat tangan kanannya lalu dia menerima segelas air dari seorang pria yang duduk di lantai.
Setelah menghabiskan beberapa tegukan Alana mengembalikan air itu ke pria yang duduk di lantai lalu kembali fokus pada bukunya.
Hendrik yang duduk sembari melipat kaki tak berani menatap Alana, dia hanya tertunduk seperti seorang bawahan yang berdiam diri dengan patuh.
Dari lantai 2 taman itu 2 orang pria sedang memperhatikan Alana dan Hendrik.
"Tuan, saya sudah mengambil banyak gambar. Apakah gambar ini akan kita gunakan?" Asisten Romi bertanya.
"Simpan dulu, masih ada hari esok untuk mengambil gambar lainnya." Perintah Romi lalu pria itu meninggalkan emper.
Akhirnya pada pukul 11 malam Alana menutup bukunya yang telah selesai ia baca. Perempuan itu merenggangkan punggungnya lalu melihat Hendrik yang sedang menahan kantuknya.
"Hei kacung! Mengapa kau masih di dini?" Tanya Alana mengagetkan Hendrik.
"Ahh, Tuan Putri, saya mana berani meninggalkan Tuan Putri Kalau tuan putri tidak menyuruh saya pergi?" Ucap Handrik berusaha menggerakkan kakinya yang kram karena sedari tadi diduduki.
"Jadi kau menyalahkanku?!" Bentak Alana merasa kesal.
"Tidak, saya hanya berkata sembarang. Tapi kalau Tuan Putri menyuruh saya untuk pulang sekarang maka saya ak--"
"Gila ya?! Kau itu lebih lemah dari perempuan. Jadi kalau kau pulang pukul 10 malam begini para preman akan menculikmu!" Kesal Alana.
"Lalu Tuan putri mau saya bagaimana?" Tanya Hendrik.
"Menginaplah!" Kata Alana dengan ketus lalu perempuan itu segera berdiri meninggalkan Hendrik sendirian.
Hendrik memandangi kepergian Alana sampai seorang pelayan datang memanggilnya dan mengantar nya ke villa samping rumah.
'Alana adalah Putri satu-satunya Tuan Romi, kalau begitu dia seharusnya menjadi pewaris, tapi mengapa Tuan Romi membiarkannya berdekatan dengan ku? Mungkinkah karena semua orang mengenaliku sebagai pria culun dengan IQ yang rendah?' Hendrik berusaha mencari tahu maksud dan tujuan Romi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Sutardi Sutardi
iya kali ya
2022-08-22
0
la beneamata
tanya lesti aja,kok selemah2nya pria pasti dinovel paling parah,kenapa lesti???
2022-05-03
0
Yeni Putra
sabar ya hendrik
2022-04-25
1