"Hei culun,, kemari!" Seorang pria bernama Victor berteriak pada Hendrik yang baru saja memasuki gerbang kampus.
Hendrik langsung berlari ke arah Victor dan berdiri di depan Victor sembari tertunduk.
"Sepatuku kotor." Ucap Victor menggoyangkan kaki kanannya.
"Aku akan membersihkannya." Ucap Hendrik segera berlutut di depan Victor lalu mengeluarkan sapu tangannya dan dengan hati-hati membersihkan sepatu Victor.
"Sudah selesai." Ucap Hendrik setelah sepatu Victor terlihat mengkilap setelah ia mengelapnya dengan bersih.
"Bagus,, sekarang ikut kita." Ucap Victor merangkul Hendrik lalu menyeretnya memasuki kampus.
Mereka segera pergi ke belakang kampus, lebih tepatnya di gedung lama yang sudah jarang di gunakan.
Di sana tercium bau asap rokok yang menyengat, puntung rokok bertebaran di mana-mana namun diabaikan oleh mereka yang terus berjalan ke ujung bangunan.
"Duduk di situ." Perintah Victor pada Hendrik.
"Baik." Jawab Hendrik segera duduk di atas rumput yang terlihat basah oleh embun yang tertampung dari semalam.
"Mana setoranmu hari ini?" Ucap Victor menatap Hendrik.
Hendrik segera membuka tasnya dan mengeluarkan tumpukan uang ratusan ribu lalu menyerahkannya pada Victor dan teman-temannya.
"Wahh, banyak sekali," Victor dan kawan-kawannya membagi rakus uang ratusan ribu itu dan memasukkannya ke saku mereka masing-masing.
"Itu uang jajanku untuk 2 hari, jadi besok aku tidak punya uang lagi." Ucap Hendrik tak berani menatap Victor dan teman-temannya yang sedang membakar tembakau.
"Tak masalah, besok kau libur." Ucap Victor tanpa berkedip.
"Benarkah? Terima kasih." Kata Hendrik tersenyum.
"Begitu saja berterima kasih, sekarang cepat pergi dari sini!" Salah satu teman Victor mengusir Hendrik.
Hendrik segera berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu dengan celana yang basah karena emun yang ia duduki di atas rumput.
"Ha ha ha.... Dia mengompol!" Teriakan Victor dan teman-temannya membuat Hendrik merasa sangat malu lalu terus berlari meninggalkan gedung Tua.
Ketika keluar dari gedung Tua Hendrik menyeka pantatnya dan menyadari bahwa celananya memang sangat basah tapi terlambat untuk bersembunyi karena banyak mahasiswa lain sudah melihat kearah Hendrik.
"Hei si culun...! Apa di rumahmu tidak ada toilet?!"
"Si culun ini benar-benar jorok! Kenapa kau kencing di dalam celana? Kenapa tidak kencing ke dalam mulut mu saja?!"
Ha ha ha....
"Aku lihat dari hari ke hari kacamata si culun ini semakin besar saja, mungkin besok kacamatanya akan lebih besar dari wajahnya!"
Ha ha ha....
Ha ha ha....
Ha ha ha....
Seluruh mahasiswa menertawakan Hendrik yang berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Hendrik berbelok ke arah toilet dan mengunci dirinya sendiri di dalam salah satu bilik toilet sembari mengeluarkan tisu dari tasnya.
Ia hendak menyeka celananya yang basah ketika dia meremas tisu itu dan kembali melemparkannya ke dalam tasnya.
'Tidak, aku tidak boleh terlihat baik di depan mereka semua!' kata Hendrik menguatkan tekad nya lalu dia memakai tasnya kembali dan keluar dari toilet.
Ia berjalan menyusuri koridor kampus dengan celana yang basah dan diolok-olok oleh seluruh mahasiswa yang melihatnya.
"Tukang ngompol."
"Sudah kuliah tapi masih ngompol, dasar bodoh!"
"Dia sangat bau!"
"Hidungku rasanya akan meledak!"
Hendrik tidak pernah menghiraukan mereka, dia hanya berjalan tertunduk seolah tidak mendengar mereka dan membiarkan semua orang membicarakannya sebagai si culun yang payah.
"Dasar culun!!!"
"Culun bodoh ngompol celana!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
Bpk bos Mafia anaknya Culun ...
2024-10-02
0
Wirda Lubis
lanjut
2023-07-24
0
Adiwaluyo
waduhh
2023-01-22
0