Hendrik tiba di kampus, ia memasuki gerbang kampus dan seperti pagi-pagi sebelumnya ia disambut oleh Victor dan kawanannya yang sudah menunggunya untuk meminta uang jajan.
"Wahh, si culun kita terluka lagi. Habis berkelahi dengan siapa?" Salah satu teman Victor merangkul Hendrik.
Hendrik hanya diam saja berdiri di tempatnya dan membiarkan beberapa temannya yang lain menekan luka pada tubuhnya.
"Kalau ditanya itu menjawab kau dapat kita seperti ini dari mana?" Tanya sala seorang pria yang berperut buncit.
"Ayahku." Jawab Hendrik dengan suara pelan.
"Wah,, ayahmu keras juga sampai seperti ini? Ck, ck, tapi aku lebih salut karena kau bisa menahannya Jadi kau adalah orang yang cukup kuat." Komentar yang alin.
"Ahh, sudah.. Kenapa kita jadi membahas si culun ini? Ayo, mana setoranmu hari ini?" Tanya Victor sembari merangkul Hendrik dan menarik pria itu ke area pagar supaya menjauh dari banyaknya mahasiswa yang lalu lalang.
"Kak Victor, kemarin aku sudah bilang kalau yang kemarin itu adalah uang jajan ku selama 2 hari. Jadi hari ini--"
"Apa katamu?! Cari mati denganku?!" Victor menjadi sangat marah lalu dia memberi perintah kepada teman-temannya supaya mereka menyeret Hendrik ke markas mereka di belakang gedung tua.
Setelah tiba di markas, teman-teman Victor langsung menggeledah Hendrik dan mencari apapun yang bisa mereka ambil dari tubuh Hendrik. Namun seberapa keras mereka mencari mereka tidak menemukan apapun. Pria itu datang hanya menggunakan pakaian dan tas saja, bahkan isi tasnya hanya sebuah pulpen dan selembar kertas.
"Sial!!" Sebuah tendangan dari Victor mendarat di perut Hendrik hingga pria itu jatuh ke tanah.
"Kenapa kau tidak membawa uang hari ini?" Satu persatu teman Victor mengatakan kekesalan mereka sembari memukuli Hendrik sampai pria itu kini tergeletak tak berdaya di bawah sebuah batang pohon.
"Aihh,, sekarang kita tidak punya uang untuk membeli narkoba!" Victor menggerutu dengan kesal lalu dia berjalan ke arah Hendrik untuk kembali melampiaskan amarahnya.
Baru saja dia akan menendang pria itu ketika seorang perempuan tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
"Aku punya uang," seorang perempuan dengan rambut berwarna coklat sebahu berdiri sambil memegang beberapa uang ratusan ribu di tangannya.
Sekejap, Victor dan teman-temannya langsung menoleh pada perempuan itu Dan mata mereka Langsung terfokus pada uang yang menumpuk di tangan sang perempuan.
"Aku akan memberikan uang ini pada kalian kalau kalian membiarkan pria itu menjadi milikku. Bagaimana?" Tanya Alana sembari tersenyum ke arah Victor dan kawan-kawannya.
Langsung saja Victor dan kawan-kawannya menyambut ucapan Alana dengan tawa mereka yang keras.
"Kau pikir uang beberapa ratus ribu ditanganmu mampu membeli kacung ku? Ck,, Dasar perempuan,, serahkan saja uangmu itu atau kau mungkin berakhir menjadi seperti dia!" Teriak Victor pada Alana.
"Bagaimana ya? Tapi sayangnya aku juga tertarik pada pria yang manis itu jadi karena kalian tidak mau memberikannya secara baik-baik maka aku harus melakukan ini," Alana menyimpan uang di tangannya lalu berlari ke arah Victor dan memukul satu-persatu pria itu.
Tangan ditarik dipelintir ke belakang lalu tendang bokongnya hingga tersungkur ke tanah.
Tari kerah bajunya lalu gunakan tangan yang lain untuk memberi pukulan ke bagian rahang lalu gunakan lututmu menyiku perutnya.
Hanya dalam beberapa menit semua pria itu tumbang di hadapan Alana membuat perempuan itu tersenyum menyeringai.
"Lain kali kalau aku minta sesuatu dengan baik-baik sebaiknya langsung saja serahkan!" Kesal Alana pada Victor dan kawan-kawannya lalu perempuan itu berbalik menatap Hendrik yang kini memperbaiki pakaiannya.
"Ck,, ck,, Dasar lemah! Ikuti aku!" Kata Alana melemparkan tas nya pada Hendrik lalu perempuan itu berbalik meninggalkan meninggalkan gedung Tua diikuti Hendrik yang masih berusaha memperbaiki pakaiannya.
Berjalan menyusuri area kampus dilihat oleh orang-orang, Hendrik tampak tertunduk sembari menghela nafas beberapa kali.
"Astaga,, itu mahasiswa baru dari luar negeri, dia langsung mendapat seorang kacung."
"Si culun yang menyedihkan, sekarang levelnya semakin turun,,, di tindas oleh perempuan!"
"Hei, lihat si culun itu, celananya robek sampai memperlihatkan **********!" Semua orang menertawakan Hendrik yang berjalan berusaha memperbaiki celananya yang telah dirobek oleh Victor dan teman-temannya.
Memang itu memalukan, dia harus mengikuti seorang perempuan dan harus membiarkan orang-orang menghinanya tetapi dia juga merasa sangat senang saat membayangkan raut wajah ayahnya ketika mendengar apa yang terjadi hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut
2023-07-24
0
Adiwaluyo
bangkit dong Hendrik jangan lemah
2023-01-22
0
Budo
ntahlahh...
yg stress mc-nya atau authornya.
semoga yg baca msh pd waras.
2023-01-22
0