“Aku melihat jika Dokter Song dan Perawat itu terlihat sangat akrab, bahkan mereka banyak menghabiskan waktu berdua saja di kamar Mama,” cerita Olivia.
Eryk hanya menaikan satu alisnya, mensinkronkan cerota Olivia dengan pengalaman yang dia alami selama ini dengan Flavia. Di setiap kali mereka dekat, bahkan tidak sekalipun Flavia berinisiatif mendekati dan menggodanya.
“Lalu?” tanya Eryk sambil mengembalikan pandangannya kepada berkas-berkas pekerjaannya.
“Menurutmu apa ada sesuatu diantara mereka?” tanya Olivia lagi.
“Itu masalah pribadi mereka,” jawab Eryk acuh tak acuh.
“Tapi bagaimana jika mereka berlaku tidak senonoh di depan Mama!” ujar Olivia memprovokasi Eryk.
“Jika kau datang hanya untuk mengatakan hal buruk tentang orang lain, aku tidak ada waktu untuk mendengarkan gosipmu,” jawab Eryk dengan tenang namun langsung menusuk di telinga dan hati Olivia.
Jika bukan karena malam itu tetua Lin mengkonfirmasi bahwa malam itu adalah malam pertama Olivia maka Eryk sama sekali tidak berkenan untuk menjalin hubungan dengan Olivia Gu.
“Jika sudah selesai dengan gosipmu, kau bisa pergi!” ujar Eryk.
Olivia mengepalkan tangannya erat-erat, karena tidak berhasil memprovokasi Eryk. Maka dia pun memutuskan untuk pergi bertemu dengan teman-temannya.
Setelah Olivia pergi, Eryk meletakan pena dan berkas yang sedang dia baca. Dia berdiri dengan tidak tenang, perkataan Olivia sekaan masih menggema di telinganya.
“Berlama-lama di kamar,” gumamnya sembari mengusap kasar wajahnya.
Hati Eryk tidak tenang, lalu dengan impulsifnya dia bergegas pulang, Eryk melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Dia segera masuk ke dalam kamar Nyonya Lin.
Flavia dan Dokter Song menoleh, mereka berdua sedang beridri di dekat jendela tinggi besar itu, sinar matahari terbenam yang menyinari tubuh mereka keduanya memberi kesan seperti pasangan dalam adegan-adegan drama romantis.
Eryk menaikan satu alisnya, lalu mengendurkan dasinya dengan satu tangan. Flavia berjalan menghampirinya, “Tuan,” sapa Flavia.
Eryk berpura-pura tenang meski matanya telah menangkap siluet yang membuat matanya seakan menjadi perih. Terdiam sebentar lalu dia berkata, “Apa kalian sering berdiskusi seperti ini?”
“Emm …” jawab Flavia sedikit limbung.
“Kami sedang mencari cara, agar Nyonya Lin dapat merespon pengobatan dengan lebih cepat,” jawab dokter Song.
“Apa kau sudah menikah?” tanya Eryk.
“Apa ?” jawan bingung Dokter Song.
“Iya apa kau sudah menikah?” tanya ulang Eryk.
“Belum Tuan,” jawab Dokter Song sambil menggelengkan kepalanya.
‘Belum menikah’ pikir Eryk.
Sambil memandangi keduanya, Eryk pun berdiri lalu meningalkan mereka berdua. Eryk bergegas ke ruang kerjanya lalu menghubungi nomor asisten He.
“Aku ingin kamarku ditambah satu ruangan untuk tempat perawatan Nyonya!” perintahnya.
Dalam benak Eryk menjadikan ruang perawatan mamanya dan kamaranya menjadi satu, maka akan lebih mudah mengawasi mereka berdua.
“Baik Tuan,” ujar asisten He.
Di Bar 1989, Olivia Gu memesan minuman berakohol tanpa mempertimbangkan kehamilannya. Sebenarnya dia tidak menginginakan bayi yang sedang dia kandung ini. Hanya karena bayi ini adalah tiket emas yang dia miliki untuk masuk ke keluarga Lin, maka dia pun mau mempertahankan bayi ini.
“Hei kau sedang hamil lho,” ujar Lin Fei Wei mengingatkan.
“Aku tahu, hanya sedikit saja,” jawab sembaranganya.
“Bagaimana apa kau sudah bisa memikat kakak sepupuku itu?” tanya Lin Fei Wei.
“Meskipun aku tidak bisa menaklukannya, bayi yang aku kandung ini pasti akan bisa menaklukannya,” jawab Olivia.
Lin Fei Wei pun tertawa, lalu dia mengeluarkan sebuah katalog, “Kakak ipar …” dia memanggil Olivia dengan sebutan itu untuk menyenangkan hati Olivia.
“Ada sebuah tas yang aku inginkan, koleksi terbaru,” ujar Fei Wei.
Waktu itu, Olivia menyuap Fei Wei agar bersedia membantunya, tapi malah sekarang gadis itu jadi sering memerasnya. Dengan memasang senyuman terpaksa dia pun berkata, “Pilihlah apa yang kau mau beli.”
“kakak ipar memang terbaik,” puji Fei Wei.
Begitu pulang, Olivia terkejut melihat Eryk sudah ada di rumah. Selama dia tinggal di sini, Eryk selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam.
“Kau sudah pulang?” tanya heran Olivia.
Eryk menjawab hanya dengan mengangguk, Eryk mengernyitkan alisnya lalu berkata , “Apa kau baru saja meminum alkohol?”
Wajah Olivia memucat, dia tidak menyangka jika Eryk sudah pulang. Jadi dia pikir meminum sedikit akan tidak apa-apa. Dengan suara gemetaran dia pun menyangkal.
“Ah ini .. tadi temanku sedikit menumpahkan alkohol,” jawabnya sembarang.
“Dengar , jika sampai terjadi sesuatu pada bayi ini, maka kau tahu konsekuensinya apa,” ancam
Olivia segera mengangguk dan berkata, “ Aku paham,” jawabnya.
Keesokan harinya sudah terlihat pekerja berseragam akan mulai bekerja merenovasi kamar Eryk.
“Paman Fang, ada apa ini?” tanya Flavia.
“Tuan akan merenovasi kamarnya, agar bisa memindahkan nyonya menjadi satu kamar dengan Tuan,” jawab Paman Fang.
“Apa!?” tanya Flavia sekaligus terkejut.
“T-tapi mengapa tiba-toba menjadi seperti itu?” tanya Flavia bingung.
Paman Fang juga tidak paham, dia hanya bisa menaikan bahunya untuk memberi tanda jika dirinya tidak tahu apa-apa soal ini. Olivia juga sama bingungnya dengan yang lainnya.
Setelah mengetahui jika Eryk akan memindahkan kamar perawatan Nyonya Lin ke kamarnya, maka hati Olvia seperti baru saja tertimpa batu.
‘Apakah ini karena perkataanku yang kemarin’ pikir Olivia.
Teiba-tiba saja dia menyesal karena memprovokasi Eryk . Sementara itu, Flavia merasa khawatir jika nanti identitasnya diketahui oleh Eryk ketika nanti dia sedang mengobati Nyonya Lin.
Flavia menunggu Eryk pulang, sampai-sampai tertidur di sofa ruang tamu. Ketika Eryk berjalan ingin ke kamarnya, dia melihat flavia yang terpulas nyenyak di sofa.
Eryk melangkah masuk ke ruang tamu, lalu bersimpuh di sisi sofa. Dia memandangi contur wajah Flavia. Merasa dibalik kacamata tebalnya itu seperti ada jejak kecantikan yang unik.
Flavia merasa ada yang menatapi lalu membuka matanya, dan tatapan mereka pun bertemu beradu. Eryk segera saja berdiri dan berdehem, lalu berkata, “Megapa tidur di sini?”
“Menunggu Tuan,” jawab Flavia.
Hati Eryk hampir-hampir saja keluar dari tempatnya ketika mendengar Flavia mengatakan kalimat itu, “Kenapa menungguku?” tanya Eryk berpura-pura tetap tenang.
“Ada hal yang ingin aku tanyakan,” jawab Flavia.
“Apa?” tanya Eryk dengan penuh rasa ingin tahu.
“Mengapa kamar Nyonya harus pindah menjadi satu dengan Tuan?” tanya Flavia menuntut jawaban.
Hati Eryk sedikit menciut ketika Flavia bertanya dengan nada tegas. Dia pun terbatuk-batuk untuk menutupi rasa canggungnya, lalu menjawab, “Itu semua untuk memudahkan aku memeriksa Mama.”
“Hanya karena itu?” tanya menyelidik Flavia lagi.
“Iya hanya karena alasan itu saja,” jawab Eryk dengan tetap masih menyangkal.
Pada saat ini Olivia masuk, lalu melangkah dan ingin merangkul lengan Eryk. Namun, siapa sangka malah di hempaskan oleh Eryk sampai terpental ke sofa.
Flavia langsung saja menarik lengan Eryk untuk menahannya, “Tuan, jangan,” ujar Flavia.
Ketika tangan Flavia merangkul lengan Eryk, malah tidak dihempaskan. Eryk terlihat tidak menolaknya. Olivia melihatnya dengan hati yang tersulut kemarahan.
Flavia sengaja ingin sedikit memprovokasi Olivia dengan memperlihatkan adegan itu dengan lebih lama lagi.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
DUKUNG NOVEL ini dengan :
- Vote
-Like
-Komen
- Tap favorit yang tanda hati ya
- Poin, hadiah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
aphrodite
tinggal pasang Cctv aja ribet amat..pantaulah lewat cctv
2024-11-24
0
aphrodite
panasin terus sampe darting😂😂😂
2024-11-24
0
Mak sulis
mungkin Flavia punya sesuatu aura positif yg diwariskan leluhur sehingga saat bersentuhan, trauma Eryk tidak bekerja, lain kalo dg wanita lain termasuk Olivia, dan Eryk pastinya menyadari itu
2024-10-24
0