Flavia mengambil ponselnnya, menekan nomor ponsel assiten He, "Sepertinya aku akan sedikit merepotkan."
"Katakan saja Nona," jawab Asisten He.
"Ada yang sedang mengganggu hatiku," ujar Flavia.
"Sebutkan saja namanya!" ujar assiten He.
"Jia Lin," jawab Flavia.
"Nona mau kami melakukan apa?" tanya asisten He.
Flavia terdiam sejenak, berpikir sambil mengusap lembut perutnya, "Aku tidak ingin melihat dia merawat Nyonya Lin lagi."
Flavia menoleh kearah Nyonya Lin yang sepanjang hari hanya bisa terbaring. Dalam hati merasa sangat kasihan atas takdir Nyonya kaya raya ini.
"Tidak perlu kasar!" ujar Flavia lagi.
Kediaman Lin, nampak terlihat sangat sibuk. Malam nanti adalah malam pertunangan antara Olivia dan Eryk Lin. Tapi, Eryk bukannya mengambil cuti malah menerima jadwal mengotopsi mayat.
Jika yang ada di kediaman Lin ikut bersibuk karena acara pesta pertunangan, maka Flavia memiliki kesibukan sendiri.
Flavia memilih memasak sendiri menu-menu yang telah dia susun untuk Nyonya Lin.
Di Grand Ball Room, Olivia nampak cemas karena belum melihat Eryk datang, "Ma, bagaimana ini?"
"Hiish ... tenanglah dia pasti akan datang," ujar Nyonya Gu yakin.
"Lihatlah para tetua Lin telah datang, jadi tidak perlu khawatir," ujar Nyonya Gu lagi.
Baru saja dibicarakan, Eryk pun tiba. Masih memakai jubah putihnya, dan ada sedikit darah tertinggal menodai jubah putihnya itu.
"Astaga, mengapa masih saja kerja. Lihatlah kau datang dengan membawa noda darah," ujar Nyonya Gu.
"Cepat bersihkan dirimu dan ganti bajumu!" ujar Nyonya Gu lagi.
Eryk pun mengambil jas tuxedo yang telah disediakan lalu masuk ke toilet. Dengan hati yang dipenuhi rasa malas, dia mulai membasuh tubuhnya dengan air, lalu setelahnya dia memakai setelan tuxedo yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Melihatnya Olivia tersenyum puas, malam ini akan jadi malam pertunangan yang tidak akan dia lupakan.
Olivia melingkarkan tangannya di lengan Eryk, pintu grand ball room terbuka dan mereka berdua pun berjalan masuk dengan elegan dan anggun. Sementara di rumah, Flavia sibuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh Nyonya Lin.
Paman Lin juga ikut hadir di acara pertunangan ini,dia pun berkata "Jika saja papa dan mamamu bisa ada di sini."
"Paman terima kasih karena sudah menjaga kami selama ini," ujar Eryk.
Paman Lin dan ayah Eryk adalah saudara kembar. Mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama meski beda kelas. Nyonya Lin adalah teman satu sekolah mereka.
Paman Lin memiliki karakter yang serius dan tempramen yang dingin, sementara Papa Eryk memiliki karakter urakan. Tapi, anak yang pandai.
Mereka bertiga adalah kawan baik, dan Nyonya Lin jatuh cinta pada Tuan muda kedua Lin.
Ketika itu, pemilihan ahli waris ditentukan oleh para tetua. Kedua bayi kembar itu diberikan mainan berupa uang dan laptop. Yang memilih uang, maka itu artinya dia akan menjadi ahli waris keluarga. Dan, ternyata tuan muda kedua Lin yang mengambil uang lebih dulu.
Meski Paman Lin adalah tuan muda pertama, tapi tidak menjadi ahli waris.
Di Grand Ball Room acara pertunangan itu berjalan dengan lancar, Eryk merasa lelah. Baru saja duduk, Bibi Lin mendekatinya.
"Sudah waktunya," ujar Bibi Lin.
"Saatnya kalian berdua berdansa," ujarnya lagi.
Eryk memijit-mijit pelipisnya, lalu bangkit berdiri, "Tidak perlu berdansa," ujarnya dingin lalu malah meninggalkan Grand Ball Room itu.
"Hei! K-kau ..." panggil Bibi Lin kepada Eryk yang tetap berjalan terus mengabaikan panggilannya.
Eryk merasa tidak bisa menyentuh Olivia, jika bersentuhan maka dia akan mencuci tanganya berkali-kali.
Sampai di kediaman Lin, rumah terasa nampak begitu sepi. Eryk melangkah ke kamar Nyonya Lin. Langkahnya terhenti ketika melihat Flavia keluar dari kamar dengan membawa baskom dan handuk.
"T-tuan ..." sapa Flavia terkejut.
Berpikir 'Mengapa dia ada di rumah, bukankah ini malam pertunangannya'
Hati Eryk merasa terhibur hanya dengan melihat Flavia berdiri di sana, dia pun melangkah mendekat, lalu tersenyum dan berkata dengan cangung, "Bagaimana keadaan Nyonya?"
"Stabil, aku baru saja mengelap tubuhnya," jawab Flavia.
Eryk terdiam sesaat lalu berkata lagi, "Apa kau tidak pernah melepas kacamatamu, dan juga mengurai rambutmu?"
"Apa!?" Jawab Flavia terkejut dengan pertanyaan Eryk.
"Ah maksudku, itu pasti akan cantik," jawab Eryk tersipu malu.
"A-aku akan mengecek keadaan mamaku," ujar Eryk lalu segera masuk ke kamar Nyonya Lin, untuk menghilangkan rasa canggungnya. Apa yang ada di hati Eryk dan Flavia bertolak belakang.
Jika Eryk merasa canggung malu, maka Flavia merasa dan berpikir 'Apa dia mencurigai penyamaranku'
'Lain kali harus lebih berhati-hati lagi di depannya' ujar Flavia dalam hati.
Keesokan paginya, Flavia mendapatkan kabar jika Paman Lin akan di pindahtugaskan ke rumah sakit milik negara, di daerah lain. Yang pasti daerah yang jauh dari kediaman Lin.
"Bagus," ujar Flavia dengan senyuman menyeringainya.
Jika Flavia tidak berpesan jangan bertindak kasar, mungkin saat ini Paman Lin sudah terbaring di rumah sakit, atau bahkan di kamar mayat. Menyinggung Flavia sama saja menyinggung Klan Naga Hitam.
Pagi-pagi sekali sudah terdengar keributan di ruang tengah, Olivia hari ini pindah tinggal di kediaman Lin. Ini adalah pengaturan dari para tetua Lin.
Menimbang jika Olivia sedang mengandung penerus keluarga Lin, maka harus dijaga dengan baik. Sementara Eryk menerimanya karena demi bayi yang ada di dalam kandungan Olivia.
Dengan wajah arogant, baru saja tiba tapi Olivia sudah ingin ada beberapa barang di kediaman Lin di ganti.
Paman Fang, langsung saja mengerjakan permintaan Olivia. Sementara itu Flavia dengan santainya melewati Olivia sambil mendorong kursi roda Nyonya Lin.
Di bawah perawatan Flavia, saat ini Nyonya Lin sudah bisa menikmati lagi cahaya sinar matahari.
Olivia melihat Nyonya Lin, lalu menyapanya, "Ma, aku akan tinggal di sini. Sebentar lagi aku akan memberikan Mama seorang cucu, apakah Mama senang?" tanya lembut Olivia.
Tanpa disangka, Nyonya Lin menolehkan sedikit kepalanya ke samping. Olivia terkejut melihatnya, 'bukankah dia ini wanita cacat, berani-beraninya menolakku' pikir Olivia.
"Nona, permisi. Kami akan pergi ke taman untuk berjemur sinar matahari," ujar Flavia lalu meneruskan mendorong kursi roda.
"Hissh ... dasar wanita jelek," hina Olvia pada Flavia.
Hari ini Eryk tadi jalan pagi-pagi sekali, selain ada jadwal otopsi hari ini juga jadwal Eryk sebagai CEO sangatlah padat.
Sampai malam hari pun, Eryk belum pulang dan melewatkan makan malam. Bahkan membiarkan Olivia makan malam sendiri.
Di Kediaman Lin, bukan hanya Eryk saja yang tinggal. Namun juga para tetua dan keluarganya. Yang membedakan hanyalah untuk rumah utama hanya di tempati oleh Eryk dan Nyonya Lin. Sementara yang lain punya rumah sendiri-sendiri masih di satu tanah yang sama.
Eryk tiba di rumah menjelang tengah malam, begitu masuk ke kamarnya dia sangat terkejut melihat Olivia sedang duduk di ranjang besar miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
aphrodite
kenapa gak disuruh cek kandungan..bisa aja dia bohong..atau kalo memang hamil bisa di ketahui usia kandungannya sesuai tidak dg kejadiannya
2024-11-24
0
aphrodite
dari dulu harusnya sudah curiga..eh malah di lanjut sampe tunangan tanpa menyelidiki..tak pintar
2024-11-24
0
It's me💓💓
iklan ohh iklan
2025-02-12
0