Empat jam pun berlalu, Selama menunggu selain meminum Teh herbal. Eryk juga memakan biskuit buatan koki di rumah. Manajer dan pelayan masuk ke dalam kamar suite .
Makanan pun di tata satu persatu di atas meja makan besar yang ada di kamar itu.
Eryk segara saja keluar, kedua matanya berbinar melihat aneka jenis bentuk makanan yang mempesoan mata dan menggoda perutnya. Dia mulai menyesap air putih berbumbu, satu sesapan langsung saja membuat wajahnya teresenyum tampan.
“Ini enak,” pujinya.
Eryk pun mulai mengambil jenis lauk pauk lain, lalu datanglah Emperor Chicken. Dia tidak sabar untuk mencobanya, “Memasukan satu kedalam mulut dan mengunyahnya lalu dia berkata, “Ini adalah ayam terenak yang pernah aku makan.”
“Bisakah aku bertemu dengan kokinya?” tanya Eryk Lin.
“Maafkan saya Tuan, tapi kokinya baru saja ijin pulang lebih awal, karena ada keluarganya yang sakit,” jawab manajer itu.
“Ah begitu,” jawab Eryk dengan sedikit kecewa.
Eryk meninggalkan hotel Emperor dengan rasa hati puas senang. Namun, ketika kembali ke kediaman keluarga Lin hatinya terasa masam lagi. Karena melihat Olivia Gu sedang bersama para tetua Lin.
Olivia membawakan hadiah-hadiah mewah mahal untuk para tetuan Lin, dia berpikir jika sudah menjadi istri dari Eryk maka semua pemborosan itu akan terganti.
“Eryk kemarilah,” panggil salah satu Tetua.
Dengan Sopan Eryk berjalan ke ruang keluarga itu, “Paman ,” sapanya kepada Diwei Lin.
“lihatlah, betapa baiknya olivia. Dia memberikan aku ginseng berusia puluhan tahun,” puji Paman Di kepada calon menantu keluarga Lin.
Keluarga Lin dan Keluarga Gu, sudah mulai melakukan pertemuan untuk membahas tentang segala hal pertunangan dan perencanaan pernikahan yang akan datang.
Meski dua keluarga telah bertemu. Namun, Eryk Lin masih enggan bertemu dan mengikuti pertemuan itu.
“Terima kasih Nona Gu,” ujar Eryk.
“Hei! Mengapa kau begitu formal. Panggil saja dengan namaku, Olivia,” ujarnya.
Eryk hanya memberikan wajah dingin datar, lalu berkata, “Aku Lelah, aku permisi lebih dulu.”
Olivia serasa kehilangan wajah ketika Eryk bersikap datar seperti itu, tapi dia tidak begitu mempedulikannya karena semua tetua Lin sudah menyetujui pernikahan dirinya dengan Tuan muda Lin.
Hari terasa berlalu dengan cepat, Eryk Lin malah lebih menyibukan diri dengan pekerjaannya sampai larut malam. Di mansion Mo, ketika selesai makan malam flavia pergi ke perpustakaan untuk bicara serius denga asisten He.
Melihat Flavia masih menjaga jarak dan sangat sungkan kepadanya ini sedikit membuat asisten Hs khawatir, “Nona Silahkan duduk,” ujarnya,
Flavia pun duduk, “Ada apa?” tanyanya.
“Ini tentang Tuan Mo,” jawab asisten He.
“Kenapa dengan Tuan Mo, apa dia sakit?’ tanya Flavia dengan nada khawatir.
“Nona aku akan menceritakan sedikit tentang Tuan Mo dan kisah sedihnya,” ujar assiten He.
Flavia mendengarkan dengan baik cerita itu, terdiam sambil menahan air matnaya. Lalu asisten He berkata lagi, “Tuan Mo benar-benar menganggap kau sebagai cucu perempuannya, jadi jangan takut dan salah paham.”
Wajah Flavia memerah, merasa asisten He tahu dengan apa yang ada di benaknya selama ini , dia pun berkata, “Aku mohon maaf karena sudah merepotkan, jika begitu aku akan menganggap Tuan Mo seperti kakek sendiri.”
Mendengarnya terulas senyuman di wajah datar asisten He, “Jika begitu Nona, silahkan beristirahat dengan baik di sini, dan jangan sungkan untuk mengatur mansion ini sesuai keinginan Nona.”
Dulu juga cucu kesayangan Tuan Mo yang mengatur segala keperluan mansion, dan tuan Mo tidak akan marah jika sekarang Flavia yang akan mengambil alih untuk mengurus keperluan mansion ini.
Keesokan paginya, seperti biasa Flavia pegi bekerja tapi kali ini, akan ada supir yang mengantarnya, “Kakek …” panggil flavia.
Panggilan yang telah lama tidak didengar oleh Tuan Mo itu, seketika saja membuat dia menangis, ‘Ya, kau sekarang adalah cucuku, cucu perempuan kesayanganku,” ujar Tuan Mo sembari mengusap puncak kepala Flavia dengan lembut.
Tuan mo mengantar Flavia sampai depan pintu dan memandang mobil yang membawa Flavia pergi dari pandangannya, asisten He sangat senang melihat jika tuannya ini semakin sehat ketikak Flavia datang di mansion mereka.
“Sebentar, berhenti dulu!” perintah Flavia karena ingin membeli sesuatu di toko bunga.
Flavia membeli satu bouquet bunga lily putih, bunga ini melambangkan simpatik, mulia, suci, murni, persahabatan, dan pengabdian, “Terima kasih,” ujarnya kepada kasir.
Flavia tersenyum manis sambil membawa bunga lily putih itu, Di sisi lain, olivia menjatuhkan bunga yang sedang dia pegang., “H-hantu …”
Nyonya Gu Yun Yan merasa heran melihat putrinya sedang terkejut seperti itu, “Ada apa?”
“H-hantu … Flavia, di sana dia masih hidup,” ujar Olivia.
Nyonya Gu Yun Yan langsung menutup mulut Olivia dan menariknya, “Tutup mulutmu!” hardik marahnya.
“Apa kau sudah gila, berteriak seperti tadi?” hardik marah Nyonya Gu sembari berbisik.
“Tapi Ma, itu benar-benar mirip dengan Flavia,” ujar Olivia dengan tetap yakin.
“A-aku tadi melihatnya dia menaiki sebuah mobi lmewah sambil membawa bunga Lily,” jelas Olivia lagi.
“Kau ini bodoh atau apa?” ujar Nyonya Gu.
“Tidak mungkin Flavia naik mobil mewah seperti yang kau bilang tadi,” ujar kesal Nyonya Gu kepada putrinya itu.
“Tutup mulutmu, dan diam,” hardiknya lagi.
Nyonya Gu menarik Olivia keluar dari toko bunga itu.
Sesampainya di hotel Emperor, Flavia berpesan agar bunga lily putih yang dia beli tadi agar diberikan kepada Tuan Mo. Itu adalah bentuk rasa terima kasih dan penghormatan Flavia kepada Tuan Mo.
Di Kediaman keluarga Gu, Olivia masih gemetaran. Khawatir jika permainan mereka terbongkar.
Nyonya Gu yang melihat sedari tadi Olivia berjalan ke sana kemari seperti orang linglung, lalu dia memarahi Olivia lagi, "Kau ini bisa diam tidak?"
"Ma, wanita itu benar-benar mirip dengan Flavia," ujarnya lagi bertambah panik.
Nyonya Gu menarik Olivia dan melemparkannya ke sofa, "Jika itu dia maka saat ini seharusnya dia sudah mendatangi kita bukan?" Jelas Nyonya Gu.
"Tapi Ma ..." ujar Olvia masih dengan terbata.
"Sudah tidak usah ungkit hal ini lagi, anggap saja dia sudah mati," ujar Nyonya Gu.
"Apa kau paham?" tanyanya sekali lagi menegaskan.
Olivia menganggukan kepalanya meski hatinya masih sangat khawatir, "Saat ini kita berkonsentrasi pada pertunangan dan pernikahanmu adalah hal yang lebih penting," ujar Nyonya Gu lagi.
"Ya Ma," jawab Olivia.
Di grup Lin, nampak asisten He sedamg sibuk menerangkan perincian pesta pertungana yang akan di lakukan oleh Eryk dan Olivia. Namun, nampaknya tuannya itu tidak mendengarkan sama sekali. Raganya bersama asisten He, tapi, nampaknya jiwanya sedang terbang melayang ke tempat lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Mak sulis
sebentar lagi Flavia bakalan bener menghantui kamu Olivia..meskipun bukan hantu..kita tunggu aksi bales dendam cucu kakek Ho
2024-10-21
1
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Suka sama ceritana
2024-07-19
0
Ney Maniez
gk ad getaran sm c Olivia
2024-05-15
0