Eryk berdehem lalu mencium kening Nyonya Lin, dan segera masuk ke dalam mobil dengan wajah masam. Di dalam mobil dia memijit-mijit pelipisnya sambil berpikir ‘Ada magnet apa di dalam diri Flavia seakan terus menerus menarik dirnya untuk selalu mendekat kepadanya’
Flavia nampak bingung melihat sikap Eryk, ‘Ada apa dengannya, mengapa dia nampak marah?’ pikirnya.
‘Ah sudahlah tak mau pikir lagi’ ujarnya dalam hati.
“Nyonya, saatnya kita kembali ke rumah,” ajak Flavia seraya mendorong kursi roda menuju mobil yang terpakir.
Di kediaman Lin, nampak Olivia datang sambil membawa setelan jas tuxedo untuk acara pertunanganya dengan Eryk. Melihat Eryk tidak ada inisiatif untuk mengambil karena itulah dia membawakannya ke kediaman Lin ini.
Olivia melihat Nyonya Lin yang baru saja masuk dengan kursi rodanya. Segera saja dia berbasa-basi manis, “Ma.” Panggilnya.
“Ma, aku membawakan setelan jas Eryk untuk acara pertunangan kami. Coba Mama lihat, bagus tidak?” ujar Olivia sambil membuka tas jas yang ada di tangannya.
Flavia memperhatikan Olivia dengan menaikan satu alisnya, ini pertama kalinya mereka bertemu setelah kejadian yang menimpa dirinya.
Olivia melirik kearah Flavia, lalu menatapinya sinis seakan wanita buruk rupa diharamkan untuk melihat rupa dirinya yang cantik itu, “Permisi Nona, aku akan membawa Nyonya ke kamarnya,” ujarnya sambil berlalu acuh tak acuh.
“Hei! Pelayan,” panggil Olivia dengan berteriak.
“Sudah berapa lama kau bekerja di sini?” tanya Olivia.
“Dua minggu.” Jawab Flavia dengan tenang.
Olivia mengitari Flavia, menelisiknya dari setiap sudut, “Mengapa kau ini jelek sekali,” ujar sarkasanya.
Dalam hati Olivia merasa lega, karena dengan penampilannya yang buruk rupa itu, meski wanita yang dengan berkaca mata tebal ini dekat dengan Nyonya Lin, dia berkeyakinan jika Eryk tidak akan pernah meliriknya.
“Apa ada yang mau Nona tanyakan lagi?” ujar Flavia.
“Tidak, tidak, sana pergi!” ujar Olivia.
Flavia dengan tenangnya segera mendorong kursi roda Nyonya Lin kembali ke kamarnya. Begitu sampai dan memindahkan Nyonya Lin ke ranjangnya, dia segera saja mengambil surat yang tadi di berikan oleh pria asing berbaju hitam bertopi hitam.
Flavia membaca lalu mengernyitkan alisnya, “Jamur beracun,” ujarnya.
Racun ini langsung menyerang hati dan ginjal dan membuat orang yang menelan racun ini koma. Tak mungkin sembuh, kematian akan mendatangi jika racun ini ada dalam tubuh. Racun ini tak berasa dan tau berbau, membuatnya menjadi 'senjata ideal' untuk membunuh seseorang.
“Pantas saja Nyonya pernah mengalami koma,” ujar Flavia.
“Bahkan racun ini juga merusak pita suara Nyonya” gumam pelannya lagi.
Nyonya Lin tersadar dari koma juga karena atas perawatan dari Eryk. Namun karena racun dari jamur ini diolah dengan baik, sehingga sulit di deteksi maka keluarga Lin yang lain menganggap jika sakit Nyonya Lin adalah sakit normal biasa.
Di akhir surat, Austin meninggalkan teka-teki untuk Flavia pecahkan, sedari dulu ini adalah cara Austin mendidik Flavia. Cara yang sama yang dia lakukan kepada Andrew Lin, putra angkatnya yang sekarang menjadi Raja di Kerajaan Funan.
Teka teki kali ini adalah tentang Yin dan Yang. Sejarah China kuno memiliki banyak kisah legenda, keajaiban dan berbagai misteri yang telah memberikan pengaruh kuat bagi peradaban
manusia sampai di masa sekarang ini.
Salah satunya adalah sebuah symbol luar biasa yang telah menjadi simbol utama dan telah dikenal di seluruh dunia, simbol para penganut ajaran Taoisme, dikenal dengan nama Yin dan Yang . Atau biasa disebut dengan konsep keseimbangan.
“Jika kau membaca dengan seksama, maka kau akan menemukan jawabannya,” isi di dalam surat yang Austin Long berikan kepada flavia.
Flavia membaca isi pesan itu berulang-ulang, “Yin dan Yang,” bacanya berkali-kali.
Gurunya itu hanya menuliskan dua kata ini untuk petunjuk obat bagi Nyonya Lin,”Oh ya Tuhan,” ujar Flavia sambil menepuk keningnya.
Austin sedang mengajari Flavia prinsip-prinsip Yin Yang, ini merupakan bagian penting dari Huangdi Neijing, buku medis pertama China ditulis sekitar 2000 tahun yang lalu.
“Energi Yin Yang. Yin adalah enegi dingin, sedangkan Yang adalah energi panas. Tubuh yang sehat berarti Yin dan Yang selalu dalam keseimbangan,” gumam Flavia sambil berjalan ke sana kemari, berpikir keras apa maksud dari gurunya itu.
Jika Flavia sedang memikirkan teka-teki, maka Olivia sedang sibuk merapihkan diri, menebalkan make up nya, menunggu Eryk kembali pulang. Dan sibuk meminta Paman fang untuk memasak makanan kesukaannya dan juga kesukaan Eryk.
Eryk pun akhirnya tiba pulang, Olivia menyambutnya seperti seorang istri yang sedang menyambut seorang suami, “Lelah tidak, hari ini aku meminta koki untuk memasak makanan kesukaanmu,” ujar Olivia dengan nada ingin di puji.
Eryk pun berjalan ke ruang makan dan memang melihat banyak aneka jenis makanan tersaji. Dia menaikan satu alisnya ketika melihat siluet Flavia, “Panggil perawat itu ke sini!” ujarnya kepada Paman fang.
“Baik Tuan,” ujar Paman Fang.
Flavia yang baru saja menaiki sepedanya, menoleh karena Paman Fang memanggilnya, “Tuan meminta kau untuk datang ke ruang makan.”
“ke ruang makan?” tanya ulang Flavia.
“Iya, sudah cepat, jangan membuat Tuan marah lagi,” nasehat Paman Fang.
Flavia pun meletakan sepedanya lalu bergegas ke ruang makan, “Tuan,” ujarnya.
“Duduk!” perintah Eryk.
Flavia mengernyitkan alisnya, ‘Ini maksudnya apa?’
“Apa kau tuli?” tanya Eryk lagi dengan nada tidak sabar.
“Ah iya, Tuan,” jawab Flavia sambil duduk di kursi.
Olivia merasa kesal setengah mati, karena ada wanita buruk rupa yang merusak kencan romantis yang sudah dia angankan sedari tadi. Dia pun memberanikan diri untuk berbicara kepada Eryk, “Apakah dia akan makan dengan kita?”
“Dia juga bagian dari kediaman Lin, dia adalah perawat pribadi Nyonya,” jawab Eryk.
“Ah jika begitu Nona, selamat makan,” ujar manis Olivia berbalut benci.
“Kau coba ini, enak sekali,” ujar Olivia sambil mencapitkan lauk ke mangkuk nasi Eryk.
Eryk menerimanya dengan tersenyum, lalu melirik kearah Flavia yang malah terlihat asyik sendiri dengan mangkuk nasinya. Lalu dengan gerakan yang kentara dia balik mencapitkan lauk untuk Olivia seraya berkata, “Kau juga cicipi yang ini.”
‘Hish … untuk apa memanggilku, jika hanya ingin menjadikan aku nyamuk’ pikir Flavia sambil memasukan lauk daging ke dalam mulutnya.
Eryk mengeratkan rahangnya, melihat jika Flavia tetap tidak merespon. Lalu dia meletakan mangkuk nasi dan sumpitnya, dia berdiri dan meninggalkan ruang makan. Flavia memandangi Eryk dan Olivia yang berusaha mengejar.
“Dasar pasangan aneh,” gumam pelan Flavia.
Tanpa adanya orang lain, flavia langsung saja makan dengan lahapnya, semenjak hamil dia jadi mudah merasa lapar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
aphrodite
betul mending lanjut makan...ngapain ngurusin 2 mahluk drama gak jelas
2024-11-24
0
Samsul Ono
misterinya keren
2025-01-27
0
Ermawati
keren austin ada di mana2
2024-10-26
0