Keesokan paginya, keluarga Lin datang mengecek ke kamar hotel. Mereka memandangi Olivia Gu, lalu memintanya berdiri untuk melihat apakah ada jejak noda merah atau tidak.
Begitu melihat ada noda merah di sprei putih itu, orang dari keluarga Lin itu pun menyampaikan kabar berita itu. Di Mansion Lin, nampak semua keluarga tengah menunggu kedatangan Eryk.
Begitu dia sampai di ruang makan, semua mata memandang kepadanya. Lalu Tetua Lin berkata “Segera urus pernikahan dengan Putri dari keluarga Gu!” perintahnya.
Malam itu, Di kamar itu cahaya terlihat remang di dominasi gelap. Namun, tidak mengaburkan lekuk tubuh Flavia yang begitu menggoda. Karena itulah Eryk merasa seperti tengah ditarik oleh magnet yang tidak dia bisa tolak daya tariknya, meski tidak melihat wajah Flavia dengan jelas, karena temaran cahaya dikamar itu telah diatur untuk mengaburkan wajah jelas Flavia.
Merasa telah melakukan, maka Eryk pun menerima konsekuensinya. Menikah dengan Olivia Gu. Dia meninggalkan semua orang tanpa berkata, yang memberi isyarat jika dirinya menyetujui tentang pengaturan dari para tetua Lin. Sementara itu di Mansion Mo, Nampak Flavia masih terbaring lemas, sambil membuka matanya dengan perlahan.
Flavia menangis tanpa suara, dari sudut matanya terlihat butiran air bening yang terjatuh. Masih mengingat betul dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Dia memaksakan diri untuk bangun lalu berjalan ke sana kemari. Merasa asing dengan tempat ini, kamar ini. Ketika di keluarga Gu bahkan kamarnya tidak seindah ini. Terdengar suara pintu terbuka, Flavia menoleh.
“Nona, saatnya sarapan pagi,” ujar kepala pelayan sembari meletakan nampan berisi sarapan di atas nakas.
“A-aku di mana … Siapa kau …? Tanya Flavia.
“Nona tenanglah, makan saja dulu … nanti aku akan membawa Nona bertemu dengan tuan," jawab Kepala pelayan itu.
“Tuan …” gumam pelan Flavia.
Berpikir jika tuan yang di maksud adalah yang menguasainya tadi malam, maka Flavia semakin gusar. Begitu Kepala pelayan keluar, dia mencoba membuka pintu kamarnya. Namun, terkunci dari luar.
“Sial,” gumam Flavia.
Kamar yang Flavia tinggali sekarang sangat luas dan bernuansa hitam putih, dia melihat kearah jendela tinggi lalu mencoba membukanya, “Tidak dikunci,” gumamnya sedikit melega.
Merasa tidak ingin dipecundangi lagi seperti tadi malam, Flavia menyusun rencana untuk melarikan diri dari Mansion Mo. Meski merasa tubuhnya masih lemah. Namun, nyawanya diatas segalanya.
Flavia meminum seteguk jus jeruk yang ada di atas nakasnya, “Untuk menambah tenaga," ujarnya.
Selesai tegukan terakhir, Flavia langsung saja mencopot sprei putih besar yang ada di ranjangnya itu. Dia mengikat ujung sprei itu dengan ikat simpul yang kuat, lalu mengikatnya ke pilar balkon di kamar itu.
Flavia turun dengan cepat ke bawah, “Huffh …”
Dia melihat ke sekeliling, ini begitu luas kearah mana dia harus pergi, “Ok ke sana saja,” ujarnya sembari mengambil beberapa langkah cepat. Namun, langkah larinya terhenti ketika melihat ada beberapa pria berjas hitam.
Flavia menggigit bibirnya merasa panik, mencoba berlari kearah lain. Namun, lagi-lagi dia mendapati ada beberapa pria tegap di sisi itu, “Apa-apaan ini,” gumamnya dengan panik.
“Nona,“ sapa salah satu dari mereka dengan sopan.
“Kalian siapa?” tanya Flavia lagi.
“Kami akan membawa Nona bertemu dengan Tuan kami, silahkan ikuti kami,” jawab salah satu dari mereka lagi.
Flavia menatapi mereka dengan curiga. Namun, pada akhirnya dia pergi mengikuti langkah para pria tinggi tegap itu. Mereka membawanya ke sebuah ruangan kerja. Ruangan itu nampak besar dan elegan meski bernuansa arsitektur kerajaan kuno tiongkok.
Banyak terlihat ukiran-ukiran naga berwarna hitam yang terdapat di pilar-pilar yang ada di ruangan itu. Flavia berjalan dengan sungkan, merasa ini semua terasa aneh. Hatinya semakin berdegup kencang memikirkan tentang semua hal yang menimpanya ini.
Flavia merasa lelah dan sedikit pusing, dia pun duduk di salah satu kursi kayu yang ada di ruangan itu, kursi itu pun memiliki ukiran naga hitam di pegangan tangan kursinya. Seorang pria berjas rapi masuk, lalu diikuti dengan seorang pria tua yang memakai pakaian tradisional Tang Suit .
Setelan Tang adalah sejenis jaket bergaya China dengan kancing bagian depan. Dengan kerah Mandarin atau kerah pita dan ada kancing katak (kenop yang berbentuk dari tali yang diikat rumit).
“Pendekar,” gumam pelan Flavia yang melihat Tuan Mo masuk.
Tuan Mo berdiri di depan Flavia dengan tatapan sedikit marah, karena tadi gadis yang sedang menatapinya ini baru saja membahayakan nyawa sendiri dengan terjun dari atas balkon hanya dengan menggunakan sprei saja. Assisten sekaligus pengawal utama Tuan Mo berkata, “Nona saat ini kau sedang berada di Mansion Mo.”
Tuan Mo duduk dengan tenang dan aura kegagahannya tetap masih bisa terlihat jelas di wajahnya meski sudah menua. Asisten Ye menjelaskan tentang kejadian waktu mereka menemukan flavia di pinggir jalan.
“T-tuan … apakah itu betul?” tanya Flavia sambil gemetar.
“Nona apa kau memiliki musuh?” tanya Tuan Mo.
Flavia menggelengkan kepalanya, dalam sepanjang hidupnya ini dia selalu berusaha bersikap baik kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang membencinya sekalipun, seperti contohnya kepada keluaga Gu.
Meski mereka tekah menjahatinya selama ini, dia pun tetap menganggap jika mereka masihlah keluarganya, Flavia pun berkata, “ini semua karena kebodohanku saja, lain kali tidak akan begini lagi,” ujarnya sambil tertawa getir.
“Apa kau memiliki tempat tujuan?” tanya Tuan Mo.
Flavia menggelengkan kepalanya, lalu Tuan Mo bilang jika Flavia bisa tinggal di Mansion Mo ini. Merasa tidak ingin jadi benalu yang hanya menumpang hidup maka flavia pun memberikan pengajuannya, “Aku bersedia tinggal di siini, hanya saja jika Tuan membiarkan aku bekerja untuk Tuan.
Tuan Mo tersentak dan tersenyum senang, lagi-lagi dia teringat dengan cucu perempuannya, pernah mengatakan hal yang sama, “Katakan Nona, apa yang bisa kau lakukan untuk kami?”
“Aku bisa memasak, aku akan memasakan makanan sehat untuk kalian. Aku juga mengerti pengobatan modern dan juga tradisional, meracik obat dan akupuntur” jelasnya.
Ketika di kediaman keluarga Gu, perpustakaan di sana sudah seperti rumah ternyaman bagi Flavia. Semua jenis buku di lahapnya. Semua dibaca, dipahami, dan di praktekan.
“Aku juga hobi bermain games,” tambahnya lagi sambil tertawa,
“Jika begitu kau resmi bekerja kepadaku.”
Flavia hanya tercengang mendengar perkataan Tuan Mo dan menatapi kepergiannya. Dia menoleh kepada asisten He, lalu bertanya kepadanya “Aku akan bekerja sebagai apa?”
“Untuk saat ini sebaiknya Nona beristirahat saja dulu,” ujar sopan asisten He.
Kepala pelayan masuk dan mengantarkan Flavia kembali ke kamar. Namun kali ini Tuan Mo telah memerintahkan agar menempatkannya di kamar yang ada di lantai satu. Khawatir jika Flavia akan bermain lompat terjun seperti tadi.
Di rungan lain, Asisten He menemui Tuan Mo ingin bertanya kira-kira akan menempatkan Nona Flavia bekerja sebagai apa. Karena ini benar-benar di luar perkiraannya, jika tuannya ini malah akan mengadopsi seorang gadis untuk benar-benar dijadikan cucu perempuannya.
“Tempatkan dia di salah satu hotel kita. Lihat kemampuan memasaknya seperti apa,” jawab Tuan Mo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
aphrodite
sepintar itu tapi bersikap acuh pada kejahatan keluarga Gu..ayolah balas dendam sama s Eryk juga
2024-11-24
0
aphrodite
kutunggu pembalasan dendammu Flavia
2024-11-24
0
mbah ibu
mampir disini gaes
2024-09-28
0