"Karena kau adalah penjaga Nyonya Lin, maka akan lebih baik jika tinggal berdekatan," jelas asisten He.
"Jika begitu, besok aku akan pindah ke sana," jawab Flavia.
Merasa sedang mual, Flavia tidak ingin berdebat. Sesampainya di Mansion Mo, dia langsung saja merebahkan diri di ranjang besarnya.
Flavia menghela nafas sambil bergumam, "Kita tadi baru saja bertemu dengan nenek," ujarnya sambil mengusap-usap lembut perutnya.
Flavia bangkit dari ranjang, lalu pergi ke meja rias dan mulai menghapus riasannya, dan juga melepaskan gigi palsunya, yang membuatnya terlihat memiliki gigi sedikit maju ke depan.
Setelahnya Flavia pergi mandi, dan langsung beristirahat. Keesokannya, pagi-pagi sekali dia mulai mengemasi, membawa beberapa bajunya.
Tuan Mo mengetahui dari asisten He, jika Flavia akan tinggal di kediaman keluarga Lin. Sebelum Flavia pergi, Tuan Mo memanggilnya ke ruang perpustakaan.
"Ini bawa bersamamu," ujar Tuan Mo seraya memberikan sebuah batu giok.
Flavia mengambilnya dan berkata, "Terima kasih atas hadiahnya," ujarnya dengan sambil tersenyum.
"Jika ada sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan sendiri maka cukup gantungkan itu di bagian selatan kuil surga," jelas Tuan Mo.
Meski merasa bingung, Flavia pun tetap patuh , "Baik Kek."
Flavia tiba di kediaman Lin, masih sama melewati jalur pintu pelayan, "Paman Fang, kamarku di mana?"
"Antarkan Nona Flavia ke kamarnya!" perintah Paman Fang kepada pelayan.
Pelayan itu membawa Flavia ke kamar yang posisinya bersebelahan dengan Nyonya Lin.
"Terima kasih," ujar Flavia kepada pelayan itu.
Pelayan itu tidak menjawab, dia pergi dengan tatapan sinisnya, Flavia melihat dirinya di cermin, lalu memaklumi. Saat ini dirinya terlihat sangat jelek. Kaca mata tebal, gigi yang terlihat maju, baju longgar,cardigan berwarna abu-abu. Benar-benar membuat dirinya tampak tua dan jelek.
Setelah merapihkan barang-barangnya, Flavia pun segera pergi ke kamar Nyonya Lin, "T-tuan Lin," sapa Flavia sedikit terkejut ketika melihat Eryk di depan pintu kamar Nyonya Lin.
"Emm …" jawab Eryk mengangguk lalu melihat Flavia dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
Flavia merasa canggung, dia mulai mengancingkan cardigannya untuk menutupi kemeja putihnya. Eryk menaikan satu alisnya dan segera membuka pintu kamar Nyonya Lin.
"Ma," panggil Eryk sambil menciumi tangan Nyonya Lin.
Flavia berdiri, memperhatikan sambil mengusap-usap lembut perutnya, ayah si bayi begitu dekat. Tapi dia enggan untuk mengatakan. Bagi Flavia bayi yang saat ini dikandung hanya miliknya. Dan lagipula dia masuk ke keluarga Lin bukan untuk mengambil Eryk, tapi ingin membuat perhitungan dengan Keluarga Gu. Dan sebagai permulaan akan bagus jika dia menyusup, akan lebih cepat nengetahui segala hal tentang tindak tanduk Olivia Dan Gu Yun Yan.
Pelayan datang lalu meletakan makan pagi untuk Nyonya Lin. Flavia pun bersiap untuk menyuapi makan pagi itu. Dia berjalan kearah nakas, tapi malah kakinya tersandung sendiri karena sangat gugup, ini pertama kalinya Flavia melihat dengan jelas rupa Eryk Lin.
"Hati-hati," ujar Eryk sembari menangkap tubuh Flavia.
Sesaat kedua mata mereka saling bertatapan. Sementara pelayan yang tadi mengantarkan makanan merasa terkejut, karena Tuannya yang seorang Mysophobia itu mau memeluk gadis yang sangat jelek.
Flavia langsung saja mendorong tubuh Eryk, "Maafkan saya Tuan."
"Uhuk, uhuk …" Eryk pun mengangguk merasa salah tingkah, lalu dia pun bergegas meninggalkan kamar Nyonya Lin dan segera pergi ke Lin Grup.
Di dalam mobil, Eryk mentertawai dirinya sendiri karena tadi ketika memeluk perawat baru Mamanya itu, dia merasakan seperti sedang memeluk wanita di malam itu.
'Hah, aku pasti sudah benaran gila' ujarnya mengatai diri sendiri.
Dikamar Nyonya Lin, Sementara itu Flavia mulai mensortir obat-obatan mana yang harus dibuang dan mana yang boleh diminum.
"Obat sebanyak ini, bertahun-tahun di minum, apa tidak kasihan dengan ginjal Nyonya," Gerutu Flavia.
Nyonya Lin hanya bisa menggerak-gerakan kedua bola matanya, lalu Flavia berkata lagi, "Tenanglah Nyonya ada aku di sini, kita akan pakai cara lain untuk menyembuhkan Nyonya," janji Flavia.
"Ayo! saatnya kita menikmati sinar matahari pagi," ujar ramah Flavia.
Baru saja keluar kamar, sudah bertemu dengan Paman Lin, "Mau dibawa kemana?"
"Ah … ini … kami ingin berjalan di taman," jawab Flavia.
"Siapa yang mengijinkan!" tanyanya dengan nada marah.
"Tuan, berdiam diri di kamar seharian, pasti akan sangat membosankan. Jadi aku berinisiatif membawanya menikmati sinar matahari pagi;" jelasnya.
"Masuk …!" perintah Paman Lin.
"Apa!" jawab Flavia.
"Aku adalah dokternya, dan aku tahu apa yang terbaik untuknya," ujar Paman Lin.
'Jadi orang ini adalah orang yang memberikan Nyonya obat sampai sebanyak itu' pikir Flavia.
Flavia pun membawa Nyonya Lin kembali masuk ke kamarnya. Paman Lin memeriksa keadaan kakak iparnya itu. Lalu terakhir dia menyuntiknya.
Flavia berusaha mengintip. Namun, Paman Lin menutupi dengan tubuhnya, sehingga pandangannya tertutup.
Selesai di periksa Paman Lin, langsung saja Nyonya Lin merasa mengantuk dan akhirnya terpulas.
Flavia merasa ada yang aneh, tapi sayang dia tidak dapat melihat obat apa yang disuntikan kepada Nyonya Lin.
"Ah iya jarum emas dari guru," gumamnya dan segera mengambil kotak hitam yang berisi jarum emas akupuntur.
Jarum ini diberikan oleh Guru Flavia. Seorang master hebat dalam hal pengobatan tradisional maupun modern. Waktu itu mereka bertemu di desa yang sedang terkena wabah mengerikan.
Pada waktu itu master jenius itu sedang pergi menyelidik bersama asistennya, dan menemukan gadis kecil itu yang sedang merawat ibunya sendirian, dengan memakai dedaunan obat yang dia cari di hutan di dekat rumahnya.
Master jenius itu terperanjat kagum, karena gadis kecil yang hanya baru berusia empat tahun itu berhasil membuat ibunya tetap sadar, meski terjangkit wabah aneh yang melanda satu desa.
Meski tidak tertolong pada akhirnya, Master jenius itu pun mengangkat Flavia menjadi muridnya, lalu mencari tahu tentang keluarga Flavia, dan pada akhirnya datanglah Tuan Gu menjemput Flavia.
Flavia mengeluarkan jarum itu, lalu berkata, "Nyonya ini tidak akan terasa sakit," ujarnya.
Setelah beberapa menit, Flavia mencabut jarum itu dan melihat jarum itu berubah warna menjadi hitam.
"Racun," ujar Flavia.
Jarum yang diberikan guru Flavia, adalah jenis jarum emas khusus yang bisa mendeteksi racun yang tidak bisa di deteksi bahkan oleh pengecekan darah sekalipun.
"Nyonya kau dalam bahaya," ujar Flavia.
Flavia memfoto jarum itu, lalu mengirimkan kepada gurunya itu melalui Email. Meski memiliki guru yang hebat. Namun Flavia tidak mengadu tentang kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Termasuk saat ini, baginya perlindungan Tuan Mo sudah lebih dari cukup.
"Menurut Guru ini racun apa?" tanya Flavia melalui Email kepada Austin Long, karena Flavia tidak memiliki akses penelitian ke Sebuah Lab.
Sambil menunggu jawaban dari Tuan Long, Flavia segera membuatkan sup penetralisir racun yang pernah diajarkan oleh gurunya itu.
Flavia segera saja pergi untuk membeli bahan-bahan obat yang dibutuhkan, "Paman Fang, Nyonya sedang tertidur, aku pergi sebentar," ujarnya sambil berlalu tanpa mendengarkan perkataan Paman Fang, yang mengatakan jika Tuan Muda Lin hari ini akan pulang lebih awal karena ini adalah hari ulang tahun Nyonys Lin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
aphrodite
murid Austin Long??
aku lagi baca tapi belum beres malah nyantol kesini 😁
2024-11-24
0
mbah ibu
kayaknta paman Lin bukan orang baik
2024-10-24
0
Mak sulis
sepertinya paman Fang musuh dalam selimut keluarga Lin
2024-10-22
0