Dalam perjalanan ke toko obat tradisional, Austin mengirimkan pesan agar dia membawa jarum itu ke tempat temannya. Flavia mengayuh sepedanya dengan cepat. Pergi ke alamat yang Austin berikan.
Itu adalah alamat temannya yang bekerja di klinik biasa, namun anggota peneliti lab rahasia, “Tuan Austin long memintaku memberikan ini kepadamu.”
“Ah iya, aku akan memberi kabar secepatnya,” ujar rekan kerja Austin Long itu.
“Terima kasih Tuan,” ujar Flavia lalu bergegas pergi ke toko obat tradisional.
“Paman Su, pena dan kertas!” pinta flavia.
Dengan cepat dia menuliskan bahan-bahan yang dia butuhkan, “Aku membutuhkan ini,” ujarnya.
Tuan Su membacanya, lalu menjawab , “Ada satu bahan yang aku tidak punya.”
“Berikan saja yang Paman punya!” pinta Flavia.
“Paman, selain di sini, kira-kira dimana lagi aku harus mencarinya?” tanya Flavia.
Paman Su, memberikan paket obat yang tadi Flavia pesan, lalu menuliskan sebuah alamat. Mereka memiliki ini, hanya saja tempatnya agak jauh dari sini.”
“Tidak apa,” ujar flavia.
“Eh mengapa kau berdandan jelek sekali?” tanya Paman Su.
“Aku sedang bermain peran,” jawabnya sembarang sambil tertawa.
Flavia langsung saja mengayuh sepedanya ke alamat yang Paman Su tadi tulis. Flavia sampai di sana menjelang siang, “Tuan …” sapanya sambil tersengal-sengal.
“Aku membutuhkan bahan ini,” ujarnya sambil memberikan kertas tadi.
“Bahan yang aku lingkari,” ujarnya lagi.
Aptoker berkacamata itu pun segera menggesar tangga, lemari-lemari di toko ini tinggi sekali, jadi jika ingin mengambilnya pun memerlukan bantuang tangga untuk meraihnya. Apoteker itu mengeluarkan sebuah guci dari dalam laci. Terlihat guci itu sangat rapat tertutup.
Dia membuka tutup guci itu, lalu mengambil beberapa helai daun kering itu, dan memasukannya ke dalam kotak kecil berwarna hitam. “Ini hanya bertahan tiga jam jika sudah keluar dari guci khusus ini,” jelasnya.
“Apa? Tiga jam,” ujar Flavia panik.
Tadi saja dia sudah mengayuh selama dua jam menuju ke toko ini, “Waktu berjalan,” ujar Apoteker itu mengingatkan.
Flavia segera mengambil kotak itu dan memasukannya ke dalam tas slempangnya. Sementara itu Eryk pulang lebih awal. Melihat ke kamar Nyonya Lin, dan tidak mendapati Flavia, hati Eryk sedikit marah. Dia pun mencari Paman Fang.
“Di mana perawat itu?” tanya Eryk.
“Sedang ada keperluan, dan pergi sedari pagi tadi?” jawab Paman Fang dengan sedikit gemetar.
“Sedari pagi?” tanya Eryk.
“Berikan aku nomor ponselnya!” pinta Eryk.
Paman Fang memberikan nomor ponsel Flavia, Eryk langsung saja menghubunginya ingin langsung menegurnya. Hati Eryk bertambah kesal karena panggilan darinya tidak terjawab. Sementara itu, Flavia masih mengayuh sepedanya dengan kencang sampai-sampai tidak bisa mengerem ketika ada kucing yang berjalan di depannya, Flavia membanting setir sepedanya kearah kanan, dan terjtuh di atas trotoar. Penjual buah yang ada di dekat trotoar langsung saja membantu Flavia berdiri.
“Apa baik-baik saja?” tanya penjual buah tersebut.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Terima kasih Tuan,” ujar Falvia.
Melihat detik jam semakin berkurang, maka Flavia denga cepat mengambil sepeda dan mengayuhnya lagi. Sesampainya di kediaman Lin, dia langsung meletakan sepedanya dengan sembarangan. Dan langsung pergi ke dapur.
Dia mulai membuat ramuan herbal yang Austin long ajarkan waktu itu. Paman Fang melihatnya dan mengatakan jika tuan Lin memanggil dirinya agar datang ke ruang kerja Tuan muda Lin.
“Iya Paman nanti aku ke sana,” jawab Flavia.
Paman Fang pun kembali bersibuk menyiapkan mie panjang umur untuk ulang tahun Nyonya Lin. Flavia menghitung menit-menit yang akan segera berakhir. Satu gelas ramuan pun selesai dibuat, Flavia pun segera menuju ke kamar Nyonya Lin.
Melihat Nyonya Lin yang masih terpulas, dia pun segera mengambil sedotan yang ada di atas nakas, lalu mulai menyuapi dengan sedotan itu. Sedikit menghisapnya lalu di tahan dan di pindahkan ke mulut Nyonya Lin.
“Nyonya kau harus menelan ini!” pinta Flavia dengan lembut.
Di ruang kerja, Eryk semakin kesal karena Flavia tidak kunjung datang, ‘Apa-apaan ini, apa dia mau di pecat,’ ujar Eryk dalam hati.
Flavia tersenyum lega karena behasil membuat Nyonya Lin meminum ramuan itu. Tiba-tiba senyumannya menghilang, ketika teringat dengan Eryk, “Astaga,” ujarnya.
Flavia segera pergi dari kamar itu dan menuju ke ruang kerja, “Tuan,” panggil flavia sembari mengetuk pintu ruang kerja itu.
“Masuk!” jawab Eryk dengan nada marah.
‘Oh ya Tuhan, nampaknya dia marah’ pikir flavia.
“T-tuan …” panggil Flavia lagi.
“Apa kau tahu sudah berapa kesalahan yang kau buat hari ini?” tanya Eryk dengan nada dingin.
“I-iya Tuan …” Flavia mengaku salah.
Mendengar jika Flavia tidak membela diri dan tidak memberikan alasan penjelasan tentang apa yang baru saja dia lakukan di luar, maka Eryk pun semakin marah, “Apa telingamu itu tuli, mengapa aku hubungin berkali-kali tapi kau tidak menjawabnya.”
“Ah maafkan aku Tuan, itu karena ponselku dalam mode senyap,” jawab Flavia.
Eryk baru menyadari jika di lutut dan siku Flavia nampak terluka berdarah, “Itu kenapa?” tanyanya sambil menunjuk ke lutut Flavia.
“Ah ini … ini … tadi hanya sedikit terjatuh,” jawab sembarang Flavia.
“Di mana?’ tanya Eryk lagi.
“Emm ini … ini … tadi terjatuh waktu mencari hadiah untuk Nyonya Lin,” jawab Flavia sembarang lagi.
“jadi kau keluar dari pagi hanya untuk membelikan hadiah untuk Nyonya. Dan, sampai terluka?” tanya Ethan menyelidik.
“Ya Tuan,” jawab Manis Flavia.
Eryk bersedekap lalu berkata, “Kemarilah!”
Flavia malah terpaku diam, “Ayo! Kesini!” perintah Eryk lag.
“Apa lukamu itu tidak ingin kau obati?” tanya Eryk seraya mengambil kotak P3k yang ada di ruang kerjanya.
Flavia pun mendekati Eryk, dan dengan sigap dia membersihkan luka-luka di lutut dan di sikut Flavia, “Ini mengapa tidak hati-hati,” ujarnya.
“Jika caramu seperti ini, aku tidak yakin kau bisa menjaga Nyonya Lin dengan baik,” ujar Eryk lagi sembari tetap mengobati luka Flavia.
“Apa tuan akan memecat aku?” tanya Flavia.
“Menurutmu?” jawab Eryk.
“Tuan aku mohon jangan pecat aku!” pinta Flavia. .
“Yakinkan aku!” ujar Eryk.
“Tuan tidak akan mendapatkan pengganti yang bagus seperti aku,” jawab Flavia.
“Mengapa berpikir begitu?” tanya Eryk sembari memplester kain kasa di siku Flavia, lalu meletakan kotak obat itu di atas meja kerjanya.
“Karena aku melakukannya dengan senang hati. Sementara yang lain mungkin karena bayaran tinggi,” jawab Yakin flavia.
Eryk terdiam sesaat, dan berpikir jika melihat dari tingkah laku Flavia memang gadis buruk rupa yang baru saja dia obati ini terlihat lebih manusiawi ketika merawat mamanya itu.
“Mana hadiahnya?” tanya Eryk.
“Apa?” tanya Flavia.
“Hadiah yang baru saja kau belikan untuk nyonya,” jawab Eryk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Mak sulis
waduhh pake tanya hadiah lagi
2024-10-22
0
Mak sulis
ternyata Eryk perhatian juga terhadap perawat mamanya..andai tau dia tau Flavia adalah ibu dari anaknya, kayaknya bakal jadi orang yg posesip deh
2024-10-22
0
Dia Amalia
uda diminum sm ibu mu hadiahnya blg gt via☺️☺️
2024-06-23
2