Bab 17

“Alice, ingat kau tidak boleh main jauh-jauh, dengarkan apa kata Nenek Sri, Kakek Paul, Aunty Sandra, dan…”

“Uncle Jared,” potong Alice sambil memutar bolamatanya lalu membuang napas berat, “Mamah sudah mengatakan itu sebanyak ini,” lanjutnya sambil membuat lingkaran besar dengan kedua tangan mungilnya di depan Anna yang hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Oh, sayang, ini pertama kalinya aku pergi meninggalkanmu.”

Anna berkata dengan wajah sedih sambil mengelus rambut hitam putrinya yang tersenyum menatapnya.

“Apa Mamah takut karena pergi tanpa aku?” Tanya Alice sambil menatap Anna dengan mata bulatnya yang bening.

Anna mengangguk, “Iya, Mamah takut.”

“Mamah pergi bersama Daddy, jadi Mamah jangan takut tidur sendirian, aku akan meminta Daddy agar menemanimu tidur.”

“Tidak!” Seru Anna dengan cepat setelah mendengar perkataan putrinya, “Jangan katakan itu pada Daddy ok?”

“Kenapa? Bukannya Mamah takut tidur sendiri?” Tanya Alice bingung.

“Tentu saja tidak,” ucap Anna yang malah membuat Alice menatapnya dengan pandangan tak percaya.

“Tapi, Mamah, selalu saja memelukku dan bilang kalau Mamah takut.”

Anna membuka mulutnya untuk menjelaskan tapi sepertinya akan sia-sia, karena memang akhir-akhir ini ia selalu tidur sambil memeluk Alice dan mengatakan kalau dia takut… takut dengan alasan lain tidak seperti yang putrinya pikirkan.

“Pokoknya, kau tidak boleh mengatakan tentang ini kepada Daddy, paham?”

Alice terdiam beberapa saat sambil menatap Ibunya sebelum akhirnya mengangguk, “Baiklah.”

“Anak pintar,” ujar Anna sambil mencubit pipi tembemnya lembut.

“Kita ke luar sekarang, yang lain sudah menunggu dari tadi,” ucap Anna dengan sebelah tangan menggandeng tangan Alice dan sebelah lagi menjinjing tas berisi pakaiannya, mereka akhirnya keluar dari kamar. Terlihat Dr. Lee dan yang lainnya tengah menunggu mereka di ruang tamu rumah Paul dimana Anna tinggal selama ini.

“Daddy!” Seru Alice sambil berlari kearah pria berhidung mancung itu yang langsung mengangkatnya dalam pelukan.

“Kau bertambah berat,” ucap Dr. Lee sambil mencium pipi Alice yang tersenyum bangga, tapi tiba-tiba mata bulatnya membelalak ketika dia mengingat sesuatu. Tanpa membuang waktu ia langsung membisikan sesuatu di telinga Dr. Lee yang terlihat terdiam beberapa saat kemudian ia mengangkat alisnya.

“Daddy, janji?” Tanya Alice sambil menatap pria yang terlihat serba salah itu dengan penuh harap.

Dr. Lee berdehem untuk meredakan tenggorokannya kemudian dia tersenyum sambil mengangguk sebagai jawabanya yang membuat gadis kecil itu memeluknnya kembali.

“Baiklah, kami harus pergi sekarang, kami harus sampai ke Paris sebelum malam,” lanjutnya sambil menurunkan Alice dan menatap Anna yang sudah siap dengan tas bepergiannya.

Anna mengangguk lalu menatap keluarga barunya yang selama ini selalu mendukungnya, mereka kini tersenyum memberi semangat untuknya. Hari ini Anna ditemani oleh Dr. Lee akan pergi ke Paris untuk menemui Billy seperti yang disarankan pengacara mereka dan berharap semua akan baik-baik saja seperti yang diharapkan semua orang.

“Hati-hati! Kami akan selalu mendoakanmu,” ucap Sri sambil memeluk Anna yang balas memeluknya.

“Kalau terjadi sesuatu hubungi aku secepatnya, aku memiliki banyak teman di sana yang akan membantu kalian,” ujar Sandra yang mendapat anggukan dari Anna.

“Maafkan aku tak bisa pergi bersama denganmu, aku terlanjur ada janji,” ucap Jared dengan menyesal.

“Tidak apa-apa, Jared, aku akan baik-baik saja… apa kau lupa siapa aku?” ujar Anna sambil tersenyum.

Anna memang seorang perempuan yang tegar tapi bagaimanapun ia tetaplah seorang perempuan yang wajib untuk dilindungi dan memerlukan dukungan seseorang disampingnya. Karena itulah Jared meminta Dr. Lee untuk menemani Anna ke Paris. Dan akhirnya Anna berjongkok untuk memeluk Alice yang kini terlihat sedih karena mau ditinggal ibunya untuk beberapa hari.

“Mamah harus mengajakku untuk melihat menara Eifel nanti.”

“Mamah janji lain kali kita akan pergi ke sana bersama-sama,” ucap Anna sambil tersenyum lalu mencium pipi putrinya.

“Jangan lupa makan, jangan main jauh-jauh, jangan merepotkan Kakek dan Nenek...”

“Mamah!” Seru Alice sambil menatap ibunya tajam, “Mamah sudah mengatakan itu beeerulang-ulang… aku sudah hafal semuanya,” potong Alice sambil memutar bola matanya membuat semua orang tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang.”

Anna berkata sambil berdiri lalu mengangguk menatap keluarga barunya yang selalu berada disamping dan mendukungnya selama ini. Tuhan masih berbaik hati dengan memberikan mereka untuknya, dan sekarang Tuhan mengirim seorang pelindung lagi untuknya. Mereka sama-sama berasal dari Asia dan berada jauh dari keluarga, itulah yang membuat mereka dekat dan saling bergantung satu sama lain selama ini.

Perjalanan dari Ribeauville yang berada di wilayah Alsace Perancis,memerlukan waktu jarak tempuh 5-6 jam menuju Paris dengan menggunakan kendararaan pribadi, mereka bisa saja menggunakan kereta api, tapi Dr. Lee lebih memilih untuk menggunakan mobilnya menuju sana. Dengan harapan memberikan Anna waktu lebih lama untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan pertarungannya dengan Billy, ayah biologis dari putrinya. Setelah perjalanan melelahkan itu kini Anna menganga di tengah lobi hotel mewah bintang 5 yang terletak di pusat kota mode itu dan tak jauh dari menara Eifel yang terkenal.

“Sepertinya kita salah masuk hotel, ayo kita pergi sekarang” ucap Anna sambil menatap Dr. Lee dengan wajah serius, lalu berbalik untuk keluar dari sana.

“Kita tidak salah,” ujar Dr. Lee sambil menarik Anna untuk kembali masuk ke dalam lobi hotel dengan tema Eropa yang kental.

Anna sempat dibuat kagum dengan interior yang berada di lobi hotel itu. Lukisan dari pelukis terkenal dunia terlihat menghiasi dindingnya. Pilar-pilar raksasa dari marmer yang mengkilat terlihat berdiri kokoh menyangga atap dimana lampu kristas mewah bergantungan memberi penerangan. Para karyawan terlihat sangat sopan dan rapi dengan seragam merah marunnya, Anna yakin mereka adalah karyawan lulusan terbaik dari akademi perhotelan seluruh dunia. Para pengunjung yang datang terlihat mewah dengan pakaian, tas dan sepatu dari para designer ternama dengan harga selangit. Anna hanya bisa menelan ludahnya kasar ketika dia menatap pakaian yang ia kenakan.

Ia sengaja mengenakan pakaian terbaiknya yang ia bawa ketika datang dari Indonesia 6 tahun lalu, pakaian yang trend pada masanya tapi kini terlihat sangat ketinggalan zaman. Dulu ia pernah merasakan ketika tubuhnya hanya mengenakan pakaian terbaik dari para designer ternama, begitu pula dengan tas dan sepatunya, tapi itu dulu ketika ia masih putri dari seorang pengusaha ternama. Sekarang ia hanya seorang pemilik toko kecil di salah satu desa yang berada bermil-mil jauhnya dari sini, dan yang jelas dia adalah seorang ibu dari seorang putri yang harus ia lindungi.

“Dokter, apa kau yakin kita menginap di sini?” Bisik Anna yang berjalan disamping Dr. Lee yang berjalan dengan percaya diri.

Pria tampan dengan kulit pucat itu terlihat luar biasa dengan mengenakan celana jeans, kaos turtle neck merah marun dan coat panjang coklat. Ia terlihat seperti seorang model yang tengah berjalan di catwalk.

“Iya, tentu saja,” jawab Dr. Lee sambil tersenyum miring dan kembali berjalan mendekati tempat resepsionis, dimana terlihat empat orang tengah berjaga dengan rambut yang terisir rapi dan senyum ramah menghiasi wajah mereka.

“Kita tidak akan sanggup untuk membayar biaya menginapnya,” lanjut Anna masih berbisik, tangannya menarik lengan Dr. Lee membuat pria itu berhenti berjalan dan kini menatapnya. Pria itu bisa melihat kekhawatiran di dalam mata hitam Anna membuatnya tersenyum menenangkan.

“Kita hanya akan menghabiskan bekal kita selama tiga hari hanya untuk menginap semalam di sini, sebaiknya kita mencari penginapan lain saja yang jauh lebih murah” lanjut Anna masih dengan wajah serius, dan kembali berbalik sambil menarik tangan dr. Lee untuk keluar dari sana yang terlihat menahan tawanya.

“Anna, tenang saja temanku bekerja di sini dan dia memberikanku voucher menginap… gratis,” ucapnya sambil menghentikan lalu memutar tubuh perempuan bermata hitam itu hingga menghadap padanya.

Anna terdiam beberapa saat, sampai akhirnya matanya berbinar dengan senyum mengembang di bibirnya ketika menyadari apa yang dikatakan pria yang masih memandangnya sambil menaikan sebelah alisnya, “Apa kau serius?”

Dr. Lee mengangguk yakin, “Aku sangat serius.”

“Gratis?”

“Gratis.”

Senyum Anna terlihat semakin lebar, “Baiklah, kalau begitu kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Ayo!” Serunya sambil menarik tangan Dr. Lee dengan tak sabar menuju resepsionis.

***

Anna baru selesai mandi dan tengah beristirahat di balkon kamar hotelnya sambil menikmati pemandangan menara Eifel yang terlihat megah dan romantis. Enam tahun lalu ketika pertama kali datang ke Paris dengan sebuah mimpi dan harapan untuk memulai masa depan dengan mengatas namakan cinta. Tapi harus berujung dengan hancurnya mimpi-mimpi indah itu dan harapannya terhempas tak tersisa. Harus merasakan hamil di negeri orang tanpa sanak saudara sempat membuatnya sangat terpuruk sampai akhirnya putri kecilnya lahir kedunia, membangkitkan kembali semangat hidup dan mulai kembali merajut masa depan untuk kebahagian mereka berdua. Tapi kini seseorang hendak mengambil satu-satunya alasannya untuk tetap hidup dan berjuang, satu-satunya harta miliknya yang paling berharga. Tidak… ia tidak akan tinggal diam dan menerimanya begitu saja, ia akan memperjuangkannya dengan seluruh jiwa raga.

Suara ketukan pintu menyadarkan lamunannya, dengan bergegas ia menuju pintu dan membukanya yang langsung memerlihatkan sosok Dr. Lee yang tampan dengan sweater putihnya.

“Apa kau sudah siap?” tanyanya yang dijawab Anna dengan anggukan.

“Kita mau kemana?” Tanya Anna sambil berjalan disamping pria yang terlihat seperti vampire dengan kulit putih pucat dan mata tajamnya.

“Untuk, pertempuranmu besok, kita perlu persiapan terlebih dahulu,” ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam lift.

“Persiapan?” Tanyanya dengan ragu.

“Iya… persiapan.”

“Tenang saja, aku sudah memersiapkan apa yang harus aku ucapkan kepada mereka besok… aku sudah menghapalnya sampai diluar kepala,” ujar Anna dengan yakin yang membuat Dr. Lee menatapnya sesaat lalu mengangguk.

“Bagus! Tapi kita perlu persiapan yang lain,” ucapnya sambil menatap Anna yang juga tengah menatapnya terlihat berpikir.

“Persiapan yang lain? Apa itu?” Tanya Anna membuat Dr. Lee tersenyum penuh misteri lalu keluar dari lift diikuti oleh Anna yang mengekor dibelakangnya terlihat bingung.

****

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

make over dirimu Anna.. penampilan mu..

2024-12-30

0

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

diantara kegundahan anna,tuhan kirimkan malaikat penjaga untuknya😍

2024-02-05

0

Dwi Sasi

Dwi Sasi

Shopping...
😍😍

2022-11-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!