Sudah sebulan sejak Dr. Lee tinggal di rumah putih ia telah membuka tempat praktek dokternya yang terlihat sederhana, hanya sebuah ranjang pasien, meja dan kursi untuk memeriksa pasien dan peralatan dasar medis untuk operasi kecil bahkan ia hanya menggunakan gordin sebagai penyekat antara ruang periksa dan ruang tunggu pasien mengingat ruang lantai satu hanya berupa ruangan luas tanpa sekat apapun.
Walau sederhana tapi Dr. Lee merasa puas dengan ruangan prakteknya dengan hanya baru satu dua orang pasien yang datang, berbeda ketika dia masih praktek di Rumah Sakit Busan dimana setiap hari ia akan disibukan dengan pasien dan berada di ruang opearasi selama berjam-jam. Jujur saja ia kadang merindukan suasana sibuk seperti itu karena dengan begitu pikirannya akan teralihkan dari sosok perempuan bermata bulat yang telah mencuri hatinya.
Dr. Lee tersentak kembali dari lamunannya ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya dengan terburu-buru, terdengar suara Anna berteriak memanggil dirinya. Ia membuka pintu dan seketika membelalakan mata ketika melihat beberapa orang tengah mengangkat seorang pria berumur akhir empatpuluhan yang meraung kesakitan dengan sebuah kayu tertancap di paha kanannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Dr. Lee sambil meminta mereka membaringkan pasien itu di atas tempat tidur dan mulai memeriksa kondisi pasien.
“Pete, sedang membetulkan atap gudang ketika dia terjatuh.” Anna berkata sambil membawa gunting dan mulai menggunting celana pete hingga terbuka sampai bagian luka sedangkan Dr. Lee terlihat sedang memeriksa alat vital lainnya setelah mengetahui kalau ia terjatuh dari ketinggian, untuk memeriksa apa ada luka dalam apa tidak.
Dr. Lee baru akan memeriksa lukanya ketika dilihat Anna dengan sigap membersihkan sekeliling yang terluka dengan alkohol tanpa merasa takut atau risih dengan darah, setelah itu Anna langsung mencari cairan antiseptik lalu melumuri sekeliling luka dengan kayu yang masih menancap menggunakan cairan itu, membuat Dr. Lee mengerutkan keningnya.
“Aku tak tahu berapa yang harus aku siapkan untuk anastesi (bius) lokalnya.” Anna berkata sambil menatap Dr. Lee yang terlihat terkejut melihat kesigapan Anna dalam memersiapkan itu semua.
“Dr. Lee.. berapa yang harus aku siapkan?” Anna kembali bertanya yang membuat Dr. Lee tersadar dari keterkejutannya dan ia akhirnya menyebutkan apa yang harus disiapkan perempuan itu yang langsung membuka lemari obat dan memersiapkan obat anastesi yang tadi di sebutkan pria yang kini tengah bersiap-siap mengenakan sarung tangan.
Dr. Lee menyuntikan anastesi yang diberikan Anna, dan mulai melakukan tindakan untuk mencabut kayu itu dari kaki Pete yang kini sudah mulai tak meraung kesakitan seperti tadi lagi. Perlu sedikit waktu untuk menyelesaikan tindakan itu, keluarga Pete menunggu proses itu di ruang tunggu yang masih belum begitu rapi dengan harap-harap cemas, sedangkan Anna bertindak sebagai asisten Dr. Lee di dalam sana.
Dan setelah hampir sejam kaki Pete kini telah dijahit dan ditutup perban, dengan ucapan terimakasih dia dan keluarganya-pun pulang menyisakan Dr. Lee dan Anna yang terlihat sedang merapikan peralatan dan ruangan praktek itu.
“Apa sebelumnya kau pernah melakukan tindakan seperti tadi?” Dr. Lee bertanya sambil memasukan peralatan yang telah disterilkan kedalam tempatnya.
“Belum... dokter yang bertugas di sini sebelummu tidak akan membiarkan aku untuk membantunya,” jawab Anna sambil merapikan ranjang pasien.
“Tapi dari mana kau mempelajari itu semua?” Dr. Lee kini berdiri sambil bersandar ke meja kerjanya dan memerhatikan Anna yang kini tengah merapikan obat-obatan.
“Bukankah itu hanya kemampuan dasar saja,” jawab Anna berusaha mengelak dari pertanyaan Dr. Lee yang hanya mengangkat alisnya santai.
“Tapi tidak dengan obat-obatan anastesi,dan aku tadi menyebutkan beberpa istilah medis untuk peralatan yang aku minta padamu dan kau tak kesulitan dengan itu semua... itu bukan kemampuan dasar.”
Anna memandang Dr. Lee yang masih menatapnya dengan pandangan penuh selidik, dan dia bisa melihat kalau perempuan dihadapannya terlihat gugup. Anna mengambil napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan itu.
“Apa kau akan melaporkanku?” tanyanya dengan takut membuat Dr. Lee mengangkat alisnya karena tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan sekarang ini.
“Kenapa aku harus melaporkanmu?”
“Karena aku membantumu padahal aku tak punya ijin... Dr. Lee percayalah aku tak akan melakukannya lagi, jadi aku mohon jangan laporkan aku,” ujar Anna dengan sorot mata memohon yang membuat Dr. Lee harus menahan senyumnya. Ternyata walaupun sudah memiliki anak berusia lima tahun, perempuan dihadapannya tetaplah seorang perempuan muda yang sangat polos.
“Sebaiknya kau jelaskan padaku darimana kau mempelajari itu semua dan kita lihat nanti apa aku akan melaporkanmu atau tidak,” ucap Dr. Lee menggoda Anna yang kini terlihat membuang napas berat.
"Aku sempat kuliah kedokteran ketika masih di Indonesia dulu sampai semester 3, tapi aku tak melanjutkan kuliahku...”
Dr. Lee bisa melihat Anna terlihat berat untuk menceritakan alasan ia tak melanjutkan kuliahnya, tapi ia bisa menebak alasan di balik itu dan itu berhubungan dengan Alice.
“Jadi kau kuliah sampai semester 3 dan itu kurang lebih 6 tahun lalu,” ujar Dr. Lee membuat Anna terlihat lega karena pria itu tak membahas itu lebih lanjut, “Dan kau sudah berani untuk mmersiapkan obat anastesi... Anna, bagaiaman kalau tadi itu salah? Bagaimana kalau yang kau ambil tadi bukan obat anastesi malah obat lainnya? Sekarang aku mengerti kenapa dokter sebelumku tak mengijinkanmu membantunya... itu sangat bahaya.”
Anna terdiam mendengar ucapan Dr. Lee yang memang benar, jujur saja ia tadi terlalu bersemangat untuk menyelamatkan Pete hingga tak berpikir ke sana.
“Aku tahu itu, dan jujur saja aku tadi sedikit takut salah ketika memersiapkan anastesi tapi aku liat kau memerhatikanku jadi aku berpikir kalau aku melakukan kesalahan kau akan segera mengoreksiku, dan sebelumnya aku telah bertanya padamu,” ucap Anna membuat Dr. Lee menatapnya tanpa ekspresi dan itu membuat Anna semakin gugup.
“Anna... terlepas dari ada atau tidaknya yang mengawasi, masalah kedokteran itu bukan hal yang bisa dianggap enteng, bahkan dokter yang telah prakter bertahun-tuhan dengan segala gelar yang menempel padanya bisa melakukan kesalahan dan akhirnya itu bisa berakibat fatal kepada pasien, apa kau paham?”
Anna mengangguk mengerti kesalahannya, dari kecil dia bercita-cita menjadi dokter dan sangat bahagia karena akhirnya bisa masuk ke fakultas kedokteran salah satu universitas bergengsi di Indonesia, tapi semua cita-citanya hancur hanya karena kesalahan semalam yang menghancurkan masa depannya.
“Baiklah, aku tak akan melaporkanmu untuk saat ini, karena kau telah mengerjakan tugasmu dengan sangat baik.”
Anna mengangkat wajahnya menatap wajah Dr. Lee yang sedang menatapnya sambil tersenyum, dia tak mengira akan mendapat pujian seperti itu dari pria dihadapannya itu.
“Benarkah?”
“Ia kau telah melakukan semuanya dengan baik.” Pujian tulus dari Dr. Lee itu sukses membuat senyum mengembang dari bibir perempuan yang ternyata memiliki lesung pipit itu.
“Jadi apa aku boleh membantumu lagi?” tanya Anna membuat Dr. Lee tak percaya perempuan itu masih berani mengajukan pertanyaan itu setelah ia baru saja menjelaskan tentang bahaya dari tindakannya itu. Kini ia tahu dari siapa Alice mewarisi kekeras kepalaannya.
“Anna!” Seru Dr. Lee persis seperti Anna ketika dia menegur Alice.
“Baiklah-baiklah aku tak akan melakukannya lagi,” ucap Anna sambil berjalan keluar ruang praktek. Selama ini Anna bekerja pada Dr. Lee dua hari sekali untuk membersihkan rumah putih itu jadi ia sudah terbiasa dan mengetahui letak barang-barang di rumah itu termasuk kamar tidur dokter tampan itu karena Anna harus menganti seprai dan membersihkannya.
Seperti saat ini Anna langsung naik ke atas untuk membereskan lantai 2 meninggalkan Dr. Lee yang baru akan menutup pintu ketika ia melihat seorang pria tengah berdiri di sana sambil menatapnya dengan matanya yang tajam membuat Dr. Lee mematung untuk beberapa saat. Dia adalah teman baiknya ketika masih sekolah dulu, dan juga pria yang sangat dicintai oleh perempuan yang ia cintai, seorang pelukis jenius yang dimiliki oleh Korea. Erik Kim, kini telah berdiri di depan pintu rumahnya di Ribeauville.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
sakura🇵🇸
ah...tenyata ana sama menggemaskannya dengan alice😍
2024-02-05
0
Dwi Sasi
Ahh... Bang erik datang
Pasti lg patah hati
2022-11-22
0
Gaedies Anaek Seymathawayank
kak alana.. kok cerita yg ad ayumi nya nggak ad kok udah di hapus.. emang ini cerita dh 2 thn lalu,,aq bru nemu sekarang😭😭😭
2022-07-15
0