Bab 2

Pagi hari bagi Anna selalu diisi dengan kesibukan menyiapkan putri kecilnya untuk sekolah, dia harus memandikannya lalu mendandaninya, tapi Alice seperti halnya anak berumur lima tahun lainnya, dia tak pernah mau diam membuat Anna harus mengeluarkan tenaga ekstra ketika memakaikan baju, belum lagi ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Alice yang mulai penasaran tentang apapun, seperti saat ini ia tengah merengek untuk ikut dengan Paul ke kebun anggur.

“Ayolah, Mah, hanya hari ini... boleh aku ikut Kakek Paul? Aku janji tak akan makan anggur banyak-banyak.. boleh? Please...” tanya Alice dengan hanya menggunakan kaos dalam dan celana dalam saja membuatnya semakin menggemaskan dengan perut gendutnya.

“Kau harus pergi sekolah, Baby,” jawab Anna sambil berusaha memakaikannya kaos tangan panjang berwarna ungu muda dengan gambar elmo di bagian depan.

“Tapi hari ini aku demam,” ucap gadis mungil itu dengan wajah memelas dan berpura-pura batuk.

“Oh jadi kau demam?” tanya Anna yang langsung dapat anggukan semangat dari putrinya.

“Baiklah kalau begitu, Mamah akan meminta Nenek Sri untuk membuatkan ramuan ajaibnya untukmu.” Anna baru akan berpura-pura memanggil wanita yang Alice anggap nenek itu ketika sebuah tangan kecil menutup mulutnya.

“Aku sudah tidak demam,” ujar Alice sambil menatap Anna dengan serius, membuat perempuan cantik itu harus menahan tawanya.

“Jadi apa kau sekarang mau pergi sekolah?”

“Aku lebih baik sekolah daripada harus minum ramuan Nenek Sri,” ucap Alice sambil menggelengkan kepala, “Ramuanya sangat buruk,” lanjutnya sambil bergidik.

Anna hanya bisa tersenyum ketika melihat tingkah laku putri kesayangannya itu, ia kini tengah memakaikan celana pendek selutut berwarna putih kemudian menyisir rambut putrinya dan menguncirnya menjadi dua.

“Sekarang kau sudah cantik seperti biasanya... pakai sepatumu dan pergilah sarapan bersama Kakek dan Nenek, sekarang giliran Mamah untuk berganti pakaian,” ujar Anna yang langsung dituruti Alice tanpa banyak komentar.

Anna membuka lemari pakaiannya dan kemudian membuang napas berat ketika melihat koleksi pakaiannya yang tak seberapa, dan akhirnya Anna memutuskan untuk memakai dress selutut berwarna kuning dengan bunga-bunga kecil dipadu padankan dengan cardigan panjang berwarna putih, yang ia beli di festival tahun lalu. Anna jarang sekali membeli pakaian untuk dirinya sendiri ia lebih memilih untuk membeli pakaian Alice seandainya memiliki uang lebih, mungkin inilah salah satu sifat keibuan yang tanpa disadari ia miliki dengan sendirinya.

“Selamat pagi, sayang,” sapa Mamah Sri sambil tersenyum lembut menyambutnya di meja makan. Mereka terbiasa berbica menggunakan bahasa Indonesia ketika sedang berada di rumah hanya untuk mengurangi rasa rindu kepada tanah kelahiran mereka berdua.

Mamah Sri sudah lebih dari lima belas tahun pindah ke Ribeauville sejak ia menikah dengan Paul, tapi sayang mereka tak dikarunia seorang anak hingga akhirnya Anna datang melengkapi pernikahan mereka dan mereka bersikeras meminta Anna untuk memanggilnya dengan sebutan Mamah dan Papah, dan ia bersyukur karena dipertemukan dengan pasangan yang terlihat saling mencintai dan baik hati seperti mereka walaupun hidup dalam keadaan pas-pasan.

“Selamat pagi,” jawab Anna sambil mengecup pipi kedua orangtua angkatnya, “Kami harus pergi sekarang, Jared baru saja menghubungiku kalau barang-barang sang penyewa akan datang pagi ini, dia meminta bantuanku untuk mengawasinya sebelum orangnya datang.”

“Anna... kau harus sarapan dulu!” Seru Paul setelah meilhat Anna menggandeng Alice sambil berjalan dengan cepat keluar tanpa menyentuh sarapannya dan hanya meminum segelas susu.

“Aku akan sarapan di toko,” ujar Anna dengan sedikit berteriak karena saat ini ia sudah berada di luar dan mulai berjalan menuju halte bis untuk menuju kota.

Setengah jam kemudian mereka telah sampai di kota, Anna mengantarkan Alice ke sekolahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia pergi ke rumah putih milik Jared. Ia tengah berjalan melintasi penginapan “Ribeauville Palace” ketika seseorang memanggil namanya, Anna membalikan badan untuk melihat siapa yang memanggilnya dan di sanalah perempuan dengan rambut pirang hasil karya satu-satunya salon yang ada di kota itu tengah berdiri menghadapnya dengan senyum angkuh menghiasi bibirnya.

“Apa kau memanggilku?” tanya Anna sambil menatap Deobora, yang hari ini mengenakan celana kulit hitam ketat dan blus putih berpotongan leher rendah, sebuah kalung emas berbentuk rantai yang sangat besar menghiasi lehernya dan mantel bulu macan yang sangat tebal melengkapi penampilannya hari ini. Dan mantelnya yang mencolok sukses membuat Anna berpikir macan jenis apa yang memiliki bulu selebat itu?

“Anna, sayang, apa kau tahu apa yang putri kecilmu lakukan kepada Chrisku yang manis?” tanyanya memulai sesi percakapan membuat Anna mengangguk dan diam-diam membuang napas berat.

“Iya, aku minta maaf soal itu,” ucap Anna dengan tulus sambil berusaha menahan emosinya, saat ini terlalu pagi untuk diisi dengan pertengkaran dan yang pasti dia sedang terburu-buru.

“Anna, apa kau tak pernah mengajarkan putrimu untuk tidak bersikap kasar?”

Ok, amarah Anna mulai tersulut tapi dia akan menghitung sampai tiga, kalau dia sampai menghinanya sebanyak tiga kali maka dia tak bisa menjamin apa yang akan dia lakukan.

“Oh, dear, aku tahu kalau kau pasti kesulitan membesarkan anak nakal itu seorang diri tanpa suami, tapi kau tetap harus mengajarinya sopan santun.”

Dua. Anna menghitung dalam hati, dia kini mulai menatap perempuan di hadarannya dengan sorot mata tajam.

“Chris, adalah putraku yang sangat berharga dan anak paling manis yang ada di sini, dia menangis seharian kemarin karena tubuhnya kotor oleh lumpur,” ucapnya sambil meringis jijik ketika mengucapkan kata lumpur, “Anna, sayang, putra kecilku tak melakukan kesalahan apa-apa dia hanya mengatakan kalau Alice tidak memiliki seorang ayah, tapi itu benarkan? Dia berkata jujur, tapi putrimu malah memukulnya sampai terjatuh ke dalam lumpur...”

“Tiga!” geram Anna sambil memejamkan matanya kuat-kuat sebelum menatap Deobora dengan mata nyalang membuat perempuan itu terbelalak kaget melihat perubahan sikap perempuan dihadapnnya.

“Dengar! Satu... yang harus diajarkan sopan santun itu anakmu, Chris karena hanya berani melawan anak perempuan yang baru berumur lima tahun,” geram Anna sambil berjalan perlahan mendekati lawannya yang belum sembuh dari keterkejutannya, “Dua... Alice mempunyai seorang ayah. Apa kau tidak pernah belajar Biologi? Apa menurutmu anak bisa lahir hanya dari seorang perempuan saja?” Deobora mengelengkan kepala dengan sorot mata takut, membuat Anna kembali melangkahkan kaki semakin mendekatinya, “Dan tiga... Alice sama berharganya untukku, seperti Chris bagimu, jadi jangan berani-berani menghinanya atau bukan cuma putramu yang akan mandi lumpur tapi kalian berdua akan mandi lumpur bersama. Apa – kau – pa – ham?” lanjut Anna dengan suara menggeram tepat di depan wajah Deobora yang sudah pucat pasi, perempuan itu hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban, membuat Anna menatapnya puas.

“Bagus, sekarang bilang kepada putramu jangan pernah mengganggu putriku kalau tidak aku yang akan melemparkan kalian berdua ke dalam kubangan lumpur. Selamat tinggal!” ujar Anna sebelum pergi meninggalkan Deobora yang menganga tak percaya kalau dia dikalahkan oleh perempuan yang lebih muda daripada dirinya.

Dengan masih menahan emosi Anna pergi ke rumah bercat putih, sepanjang jalan ia terlihat mendumel tapi ia akan tersenyum ketika para tentangga menyapanya. kota kecil seperti Ribeauville membuat semua orang saling mengenal satu sama lain itulah sebabnya ia merasa nyaman berada di kota kecil itu, terlepas dari orang-orang seperti Deobora yang selalu iseng untuk ikut campur dengan kehidupan pribadi orang lain.

Anna semakin mempercepat jalannya ketika melihat sebuah mobil box berwarna biru telah terparkir di depan rumah bercat putih itu. Dan sepanjang pagi sampai dengan waktu makan siang hari itu Anna habiskan untuk merapikan barang-barang calon penghuni rumah yang ternyata seorang dokter, ia begitu antusias ketika melihat beberapa alat medis diturunkan dari dalam mobil box mengingatkannya kembali kepada cita-citanya dulu.

Ia tersenyum bahagia ketika mengetahui sang penghuni baru adalah seorang dokter, mengingat dokter di kota itu baru saja pindah sehingga membuat warga di sana harus pergi ke kota tetangga untuk berobat. Anna baru saja selesai menyusun dus-dus di pinggir ruangan agar terlihat rapi ketika ia mendengar suara Alice memanggilnya, Anna membalikkan badan sambil tersenyum lebar untuk menyambut malaikat kecilnya tapi seketika ia hanya berdiri mematung menatap pemandangan di hadapannya.

Di hadapannya tengah berdiri seorang pria dengan badan tinggi menjulang, kulitnya putih bersih, hidung mancungnya terlihat tajam, rambutnya tersisir rapi, dia terlihat sangat tampan dengan mengenakan celana jeans, kaos tutleneck berwarna putih dan sebuah coat hitam selutut. Tapi yang membuat Anna kaget adalah karena tangannya terlihat menggendong Alice dengan sangat lembut.

Anna melihat pria itu tersenyum sambil menatap putrinya yang membuat jantungnya berdetak kencang ketika melihat senyum itu, beberapa saat ia seperti tersihir oleh ketampanan pria di hadapannya sebelum akhirnya ia melihat pria itu menurunkan Alice yang langsung berlari ke arahnya.

“Mamah, lihat, aku membawa Daddy untuk kita,” ucapnya dengan penuh semangat membuat Anna menganga tak percaya, ia mantap pria itu dan Alice secara bergantian terlihat bingung.

“Dad-dy?" ujarnya tak percaya yang langsung mendapat anggukan semangat dari putrinya.

*****

Terpopuler

Comments

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

😅 sepertinya itu jamu khas jawa ya

2024-02-04

0

sherly

sherly

lucunya si Alice...

2023-08-23

0

Dwi Sasi

Dwi Sasi

Adek bikin gemes 😍😍😍

2022-11-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!