Bab 11

Toko Anna hari itu lumayan ramai oleh wisatawan yang datang membuat perempuan itu sibuk seharian, sepertinya ia harus mendengarkan saran Jared untuk mencari seorang pegawai yang membantunya. Ribeauville, salah satu desa wisata di Perancis selalu didatangi ribuan wisatawan dari dalam maupun manca negara apalagi pada saat festival tahunan yang selalu diadakan setahun empat kali.

Letak Ribeauville yang berada di bawah kaki gunung Vosges dan berada di Alsatian Viney Route (rute perkebunanan Alsace) menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan yang menginginkan wisata ala pedesaan dengan udara segar dan pemandangan alam yang indah, dan tentu saja desa itu memiliki dua buah kastil megah yang terletak di atas bukit serta dindin kuno yang membentengi sebagian kota, membuat siapapun yang datang seperti sedang berada di kota kuno pada zaman-zaman kerjaan Eropa.

“Apa ini kunjungan pertamamu ke sini?” tanya Anna dengan ramah kepada seorang perempuan yang kini menyerahkan belanjaannya dan merupakan pembeli terakhirnya.

“Iya, aku dan suamiku baru saja datang dan kami akan mengajak putra kami untuk mengunjungi kastil,” jawab perempuan itu membuat Anna kembali tersenyum.

“Apa dia putrimu?” perempuan itu bertanya sambil menatap Alice yang sedang menggambar di atas meja kasir sebelah Anna.

“Iya, dia putriku.”

“Dia sangat cantik,” ucap perempuan itu sambil menatap Alice, “Siapa namamu, Nak?” tanya perempuan itu membuat Alice menatapnya lalu menatap Anna yang mengangguk sambil tersenyum sebelum anak kecil itu kembali menatap perempuan di hadapannya.

“Alice.”

“Alice... nama yang cantik untuk gadis kecil yang sangat cantik,” ucapan perempuan itu membuat Alice tersenyum cerah.

“Nichole.. namaku, Nichole,” perempuan itu mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan yang disambut Anna dengan ramah.

“Berapa umurnya?” ia kembali bertanya sambil menatap Alice dan Anna bisa melihat rasa sedih dan kerinduan di mata perempuan itu.

“Lima tahun,” jawab Anna sambil mengelus rambut Alice yang telah kembali menggambar dengan krayon-nya.

“Putriku juga akan berumur lima tahun besok... seandainya ia masih hidup.”

“Aku ikut menyesal,” ucap Anna membuat Nichole tersenyum menatapnya.

“Putriku meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan, tapi aku masih selalu merindukannya... dan putrimu mengingatkanku kembali kepadanya.” Nichole berkata sambil menatap Alice dengan sorot keibuannya yang membuat Anna merasa menyesal untuknya, sebagai seorang ibu tentu saja ia sangat mengerti bagaimana perasaan perempuan yang baru saja ia kenal itu. Karena bagi seorang ibu, anak mereka adalah nyawa dan hidupnya.

“Mom, apa kau sudah selesai?” Suara seorang anak laki-laki membuat Anna dan juga Nichole menatap kearah pintu dimana seorang anak laki-laki berambut coklat sedang berjalan kearah mereka.

“Oh maafkan Mommy, sayang, apa kalian menunggu lama?” tanyannya sambil menatap anak laki-laki yang terlihat tampan itu.

“Tidak, Dad akan menyusul kita nanti, dia sedang memarkirkan mobil dulu,” jawab anak laki-laki itu yang mendapat anggukan dari ibunya.

“Ini putraku Luke,” ucap Nichole mengenalkan putranya yang disambut Anna dengan ramah juga.

“Kau sangat tampan,” ucap Anna membuat pipi Luke memerah.

“Baiklah, Anna, senang berkenalan denganmu, kau sangat ramah membuatku merasa nyaman... apa kau tak keberatan kalau aku datang lagi kemari untuk berbincang denganmu kalau aku merasa bosan di hotel?”

“Tentu saja, Nichole, aku akan sengan hati menemanimu,” ucap Anna sambil tersenyum.

“Sampai nanti, Alice.”

Alice hanya menatapnya sekilas untuk melambaikan tangan lalu kembali berkutat dengan krayonnya.

“Dia tidak bisa diganggu kalau sedang menggambar,” ucap Anna membuat Nichole mengangguk sambil tersenyum mengerti.

“Sayang, aku baru saja akan keluar untuk menemuimu,” ujar Nichole dengan senyum mengembang ketika seorang pria berumur akhir tiga puluhan masuk kedalam toko Anna.

Pria itu tersenyum, mata coklatnya menatap istrinya dengan lembut membuat wajah tampannya terlihat lebih tampan.

“Aku memang berencana untuk menyusulmu ke sini, ada sesuatu yang harus aku beli,” ujar pria itu sambil menatap sekeliling toko, lalu matanya menangkap sosok perempuan yang terlihat memucat menatapnya.

Pria itu berjalan semakin mendekat, alis matanya berkerut terlihat berpikir dan seketika matanya membelalak ketika mengenali sosok perempuan di belakang meja kasir yang tubuhnya mulai gemetar itu.

“Anna, ini suamiku, Billy,” ucap Nichole masih dengan ramah mengenalkan Anna kepada pria yang telah membuat hidupnya hancur enam tahun lalu.

“Sayang, ini Anna, dia pemilik toko ini... dia sangat ramah dan baik, kami sekarang sudah berteman,” lanjut perempuan itu tanpa menyadari atmosfir ketegangan di dalam toko.

“Anna...”

Suara pria itu masih sama seperti enam tahun lalu ketika ia jatuh cinta setengah mati kepadanya, perlahan dengan memberanikan diri ia menatap mata coklat itu, mata yang dulu selalu menatapnya dengan penuh cinta. Dia masih sama, tak ada yang berubah, masih sama tampannya, tidak.. sekarang ia malah terlihat lebih tampan karena terlihat lebih dewasa dan mapan.

“Kalian saling mengenal?” tanya Nichole terlihat bingung melihat keduanya yang hanya terdiam saling pandang.

“Iya... kami saling kenal ketika aku ditugaskan di Indonesia dulu, dia teman rekan kerjaku,” ucap Billy mencoba menjelaskan tentang hubungan dirinya dengan Anna yang kini mengepalkan tangannya kuat-kuat di belakang meja kasir.

Teman dari rekannya? Ternyata hanya itu arti dirinya bagi pria itu, emosi mengisi dadanya dan matanya kini menatap Billy dengan berapi-api, seandainya istri dan putranya tidak ada di sini saat ini, Anna bersumpah ia ingin sekali mengeluarkan semua amarah yang telah ia tahan selama enam tahun ini.

“Bukankah itu sangat bagus? Kalian sudah saling mengenal, bagaimana kalau kita makan malam bersama dan kalian bisa saling bercerita tentang masa lalu,” ujar Nichole dengan senyum cerah.

“Ide bagus, sayang... Anna, kami mengundangmu makan malam, apa kau bisa?” tanya Billy dengan santai.

Anna sudah tak bisa lagi menahan emosinya, bagaimana bisa pria itu bersikap seolah tidak ada apa-apa diantara mereka? Pria itu menikmati hidupnya dengan bahagia, sedangkan Anna harus kehilangan keluarga dan masa depannya karena masa lalu mereka. Tangannya dikepal semakin kuat dan ia baru saja akan mengeluarkan amarahnya ketika sebuah tangan mungil menarik pakaianya.

“Mamah, aku sudah selesai.”

Suara milik Alice kembali menyadarkan dirinya, ia menatap putrinya yang menatapnya sambil memerlihatkan gambar dirinya, Anna dan juga Dr. Lee sedang berada di depan kastil yang tengah tersenyum bahagia.

Seketika aura dingin merambati tubuh Anna, bukan lagi amarah yang menguasi tubuhnya tapi rasa takut ketika dia menyadari kalau putrinya berada di sana dan pria itu telah melihatnya. Bagaimana kalau ia menyadari kalau Alice adalah putrinya? Bagaimana kalau ia akan mengambil putrinya itu dari dirinya? Dengan tubuh gemetar Anna mengambil gambar yang diperlihatkan Alice kepadanya.

“Baguskan? Ini Aku, Mamah dan Daddy,” ucap Alice sambil menunjuk gambar itu.

“Kau sangat pintar menggambar, Alice,” puji Nichole yang membuat Alice tersenyum lebar.

“Aku seperti Uncle Erik, dia sangat pandai menggambar,” ucap Alice dengan bangga.

“Benarkah?” Nichole kembali bertanya yang dijawab Alice dengan anggukan, “Apa Ayah dan Ibumu tidak pandai gambar?” Nichole bertanya sambil tersenyum.

“Tidak, gambar Mamah sangat jelek dan Daddy... dia lebih jelek lagi, tapi Daddy pandai mengobati orang, dia seorang dokter,” ujar Alice dengan bangga membuat Nichole tersenyum lebar.

“Dia seorang dokter?”

“Iya, tapi sekarang Daddy sedang di Paris bersama Uncle Erik, hari ini Daddy bilang kalau dia akan pulang, benarkan Mamah?” tanya Alice sambil menatap Anna yang semakin memucat.

“Iya... hari ini Daddy pulang," jawab Anna dengan gemetar.

“Dia putrimu?” tanya Billy sambil menatap Alice yang mata bulatnya kini menatapnya.

“Iya, dia putriku,” jawab Anna sambil menarik Alice kedalam pelukannya.

“Dia berumur lima tahun, sama dengan Liza,” ucap Nichole sambil menatap Alice, begitu juga dengan Billy yang kini mengerutkan alisnya terlihat berpikir beberapa saat dan sejurus kemudian dia menatap Anna dengan mata terbelalak membuat perempuan itu terlihat semakin gugup dengan tubuh gemetar dan memeluk Alice dengan kencang.

“DADDY!!!” Seru Alice ketika melihat sosok Dr. Lee masuk ke dalam toko, ia berlari menyambut pria berhidung mancung itu yang langsung mengangkatnya lalu memeluknya.

“Aku sangat merindukanmu,” ucap Alice sambil mencium pipi Dr. Lee membuat pria itu tersenyum lebar.

“Aku juga sangat merindukanmu,” balas Dr. Lee sambil mencium pipi tembem Alice yang terkikik geli karena bulu-bulu yang baru tumbuh di rahangnya.

“Apa kau tak merindukanku?” tanya Anna tiba-tiba sambil memeluk tubuh Dr. Lee yang terlihat kaget, Anna bahkan mencium pipinya sambil berbisik, “Aku mohon, berpura-puralah menjadi suamiku untuk saat ini.”

Dr. Lee bisa merasakan tubuh perempuan dalam pelukkannya itu kini bergetar, ia melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Anna yang pucat pasi, matanya memancarkan sorot rasa takut, dan itu membuat Dr. Lee menatap sepasang suami istri yang kini menatap mereka. Ia kembali menatap Anna sambil tersenyum lembut.

“Tentu saja aku juga merindukanmu,” ujar Dr. Lee sambil menarik kembali tubuh Anna ke dalam rangkulanya.

“Apa dia suamimu?” Nichole bertanya membuat Anna mengangguk.

“Iya... ini suamiku,” ucap Anna dengan gugup, “Sayang, ini Nichole, dia sedang berlibur di sini, dan ini suaminya.. Billy,” ucap Anna mengenalkan mereka.

‘”Steven Lee,” ucap Dr. Lee mengenalkan dirinya sambil menjabat tangan keduanya.

“Bagus, jadi kau harus mengajak suamimu untuk makan malam nanti Anna,” ujar Nichole sambil tersenyum.

“Makan malam?” tanya Dr. Lee sambil menatap Anna yang hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.

“Ini suatu kebetulan yang sangat menyenangkan, ternyata suamiku dan istrimu saling mengenal ketika di Indonesia dulu, jadi aku mengundangnya untuk makan malam supaya mereka bisa saling bercerita tentang masa lalu, dan aku ingin mengetahui seperti apa suamiku ketika di sana dulu,” ucap Nichole sambil tersenyum.

Dr. Lee kini menatap pria di hadapannya yang terlihat sedang memerhatikan Alice yang berada di dalam pelukanya, mata tajamnya menatap pria bermata coklat yang sama dengan milik Alice dengan penuh selidik, kecurigaannya muncul ketika melihat pria itu yang terus memerhatikan Alice tanpa berkedip, dan akhirnya kini ia menyadari alasan di balik sikap perempuan berambut hitam itu. Ia kini menatap Anna yang juga menatapnya dengan sorot mata kalut.

*****

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Billy si pria berengsek yg menghancurkan hidup Anna, walau itu tdk sepenuhnya kesalahan nya krn Anna juga sangat salah disini...

2024-12-30

0

🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka

🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka

ayahnya alice nihh

2024-10-09

0

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

dr.lee sangat pintar🥺 tolong lindungi alice,jangan sampai mereka mengambilnya

2024-02-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!