“Kau, bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Dr. Lee sambil menatap pria dihadapnnya dengan pandangan tak percaya.
“Jason, memberitahuku kalau kau menyewa sebuah rumah di sini,” jawab Erik Kim yang hari ini terlihat tampan seperti biasanya sambil berjalan memasuki rumah putih.
Ia menatap sekeliling lalu duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu pasien, “Tempat yang nyaman,” ujarnya sambil bertumpang kaki dengan santai tanpa menghiraukan sang tuan rumah yang masih berdiri menatapnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dr. Lee sambil menutup pintu lalu duduk di samping pria yang merupakan teman baiknya dulu dan juga pria yang dicintai Ayumi, perempuan yang dia cintai.
“Dan apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang melarikan diri?” tanya Erik santai sambil menatap Dr. Lee yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaan itu, “Apa aku harus ikut melarikan diri dan bersembunyi di sini bersamamu?” lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah depan, mata tajamnya terlihat menerawang.
Beberapa saat mereka hanya terdiam larut dalam lamunan masing-masing, Dr. Lee sangat mengetahui kenapa pria disampingnya yang kini terlihat kurus itu ingin melarikan diri dan bersembunyi lebih dari siapapun, dan mereka memiliki alasan yang sama untuk melarikan diri yaitu seorang perempuan bernama Ayumi Maheswara.
“Bagaiman keadaannya?” tanya Dr. Lee memecah keheningan yang membuat Erik membuang napas berat, dia tahu siapa yang ditanyakan oleh dokter itu. Mereka pernah saling membenci karena mencintai perempuan yang sama, tapi bagaimanapun dulu mereka adalah teman baik yang selalu ada untuk satu sama lain.
“Baik... dia telah keluar dari Rumah Sakit dan sekarang tinggal bersama dengan Prof Choi untuk sementara waktu,” jawab Erik tanpa mengalihkan pandangannya.
Mereka kembali terdiam beberapa saat sampai akhirnya Dr. Lee kembali bertanya, “Apa dia sudah mengetahuinya?”
Erik mengangguk, “Dia sudah mengetahuinya,” ucap Erik sambil membuang napas berat, “Dia mendengar ketika kita membicarakannya waktu itu.”
Dr. Lee menatap Erik tak percaya karena saat itu mereka semua berhati-hati agar Ayumi tidak mengetahui kebenaran tentang hubungan antara Erik dan Ayumi, tapi rahasia itu memang tak bisa ditutupi selamanya.
“Seharusnya kau berada disampingnya saat ini, dan menjadi tempatnya bersandar, bukannya berada di tempat ini... sendiri.. jauh dari orang yang kau cintai.”
Dr. Lee terdiam mendengar penuturan Erik sebelum akhirnya ia berkata, “Aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal,bukan cuma aku tapi juga keluargaku... apa menurutmu aku masih bisa menatap matanya tanpa rasa bersalah? Tidak aku tak akan sanggup setiap melihat matanya menatap mataku dengan perasaan terluka.”
“Tapi kau mencintainya! Dan aku... aku bisa tenang seandainya pria yang bersamanya adalah kau... karena aku tahu bagaimana kau sangat mencintainya.”
Dr. Lee bisa melihat sedikir emosi dan rasa sedih dari mata temannya itu, dan ia juga merasakan hal yang sama, dia sangat marah kepada dirinya sendiri karena telah meyakiti perempuan yang dia cintai.
“Adikku hampir saja membunuhnya!” Seru Dr. Lee dengan emosi, “Dan aku...aku telah membohonginya... kau tahu sendiri bagaimana dia terluka atas apa yang telah aku lakukan.”
“Itu adikmu dan kau melakukan itu karena adikmu... tapi setidaknya kau bisa bersama dengannya kalau kau mau, tidak menyerah dengan begitu cepat dan meninggalkannya sendiri. Sedangkan aku... aku tak akan bisa bersamanya walaupun aku sangat ingin, kau tak tahu bagaimana aku sangat iri padamu saat ini, aku harap aku jadi kau jadi aku bisa bersamanya tanpa memedulikan yang lainnya walau terkesan egois, aku tak peduli! Tapi kau yang memiliki kesempatan untuk bersamanya malah bersembunyi disini, terkubur dalam rasa bersalah seorang diri.”
Dr. Lee terdiam mendengarkan ucapan Erik yang sarat akan emosi, tapi kali ini ia tak akan membantah karena temannya itu pastilah sangat terluka ketika dia mengetahui kalau perempuan yang ia cintai dengan segenap jiwa dan telah melewati segala cobaan untuk bersamanya adalah adiknya sendiri.
“Kau tahu, tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah,” ujar Dr. Lee memecah keheningan sambil berjalan menuju jendela dan menatap ke kejauhan dimana kebun anggur menghampar luas, “Aku sengaja menyewa rumah ini karena aku tahu dia akan menyukai pemandanganya,” ucap Dr. Lee membuat Erik menatapnya dan dia bisa melihat kerinduan dari pria berkulit pucat itu.
“Setiap sore aku akan duduk di jendela atas dan melihat matahari terbenam, seperti yang selalu dia lakukan setiap hari di atap Rumah Sakit, dan aku selalu menantikannya... aku akan berlari ke atas hanya untuk melihatnya bermandikan cahaya senja.” Dr. Lee tersenyum mengingat setiap sore yang selalu dia lewati dengan hanya menatap gadis bermata bulat itu dari kejauhan.
“Dan sore itu aku tak sengaja mendengar pentengkaran kalian berdua. Aku bersumpah, kalau hari itu aku sangat marah padamu karena telah menyakiti dua orang perempuan yang ku sayangi... adikku dan juga Ayumi. Kau meninggalkan Ayumi dengan mudahnya lalu bertunangan dengan adikku walaupun tanpa cinta hanya karena sebuah kesalah pahaman. Saat itu aku ingin sekali memukulmu tapi aku melihat mata bulatnya yang menatapmu walaupun terluka tapi dia menatapmu dengan penuh kerinduan... saat itulah aku tahu kalau dia sangat mencintaimu.”
Erik mengingat hari itu, hari pertama ia bertemu kembali dengan Ayumi setelah meinggalkannya dalam penantian.
“Dalam keadaan marah itulah aku bertekad untuk memisahkan kalian berdua dan membuatnya jatuh cinta kepadaku.”
“Dan kau telah berhasil!” Seru Erik membuat Dr. Lee menatapnya, “Kau telah membuat Ayumi mencintaimu.”
Dr. Lee terdiam beberapa saat sambil menatap Erik kemudian ia tersenyum sambil menggeleng, “Tidak... dia mungkin menyukaiku dan berusaha untuk mencintaiku tapi dia tidak mencintaiku, yang dia cintai adalah kau.”
Erik terlihat putus asa mendengar itu semua, ia telah melewati banyak rintangan dalam hubungannnya dengan Ayumi dan dikala semua hampir berakhir dengan indah, sebuah kenyataan baru yang tak bisa dipungkiri terpampang jelas di hadapan mereka, sebuah jurang yang tak mungkin bisa untuk dilewati, mereka kini benar-benar harus berpisah dan tak mungkin lagi untuk bersatu.
Dalam kegalauanya ia tak bisa meninggalkan gadis yang ia cintai begitu saja terlepas dari hubungan darah diantara mereka. Erik memiliki tugas lebih dari siapapun untuk kebahagian Ayumi walaupun dia tak mungkin memilikinya tapi ia harus memastikan kalau gadis itu akan melawati sisa hidupnya dengan pria yang mencintainya, dan itu adalah Lee Soo Hyuk.
Karena ia sangat mengetahui seberapa besar pria bermata tajam itu mencintai Ayumi, dan ia sangat mengenal bagaima pria itu sesungguhnya. Ia sangat mengetahui kalau pria itu sebenarnya adalah seorang yang baik dan rela melakukan apapun untuk orang yang ia cintai termasuk menentang keluarganya sendiri. Dan penilaiannya benar, terbukti dengan rumah putih ini yang ia siapkan untuk mereka berdua.
“Aku akan memberinya waktu sendiri untuk memikirkan semuanya dengan baik-baik. Keluarga kita sudah banyak melukainya, biarkan dia sedikit bernapas tanpa kita di sampingnya. Tapi... aku akan selalu menunggunya... di sini.” Dr. Lee berkata sambil melamun tapi kemudian dia tersenyum sambil berjalan dan duduk di samping Erik yang terlihat membuang napas berat.
“Kalau kau mau bersembunyi dan melarikan diri di sini, kau harus menyewa rumah sendiri, aku tak mau tinggal serumah berdua laki-laki,” ucap Dr. Lee sambil menggeleng dan bergidik ngeri membuat Erik menatapnya sambil tersenyum.
“Yaah! Dulu kita tidur, bahkan mandi bareng bertiga dengan Jason,” ujar Erik sambil tertawa membuat Erik kembali meringis.
“Jangan ingatkan aku tentang itu,” ucap Dr. Lee sambil menggelengkan kepala membuat Erik tertawa sebelum ia kembali berkata, “Aku sangat merindukan saat-saat kita dulu.. saat masalah terberat kita hanyalah menghadapi ujian sekolah.”
Dr. Lee menggauk menyetujui ucapan itu, “Tapi kita bahkan tak pernah belajar ketika ujian dulu.” Perkataannya Dr. Lee itu kembali membuat mereka tertawa mengingat bagaimana mereka bertiga Jason hanya menghabiskan waktu mereka dengan bermain dan bersenang-senang.
“Kenapa Jason tak ikut ke sini?” tanya Dr. Lee mengingat sahabatnya satu lagi yang sekarang bekerja di Paris sebagai seorang chef di salah satu hotel di sana.
“Oh percayalah dia sangat ingin ikut ke sini, tapi hotel tempatnya bekerja sedang ada acara besar jadi dia sedang sibuk.”
Dr. Lee mengangguk mengerti tentang hal itu. Jujur saja, sudah lama ia merindukan sahabat-shabatnya tapi mereka semua terpisah jarak dan waktu belum lagi masalah yang terjadi antara dirinya dan Erik beberapa waktu lalu, tapi untung saja semua telah berakhir dan mereka bisa kembali seperti dulu lagi, yaitu sebagai sahabat dekat.
“Jadi kau akan menunggunya?” ucap Erik memecah keheningan kembali kepada pembicaraan awal mereka.
“Iya, aku akan menunggunya... menunggu dia untuk kembali membuka hatinya padaku... tapi di lubuk hatiku terdalam aku berdoa sebuah keajaiban untuk kalian berdua, karena aku tahu yang bisa membuat dia bahagia seutuhnya adalah kau.”
Erik terdiam lalu tersenyum menatap sahabatnya yang juga tersenyum dengan tulus kepadanya. Pintu rumah putih tiba-tiba terbuka dan memerlihatkan seorang anak kecil dengan pakaian kotor oleh lumpur, rambut panjang yang terurai terlihat berantakan, bibir bawahnya sudah maju dan bergetar menahan tangis, mata bulatnya berkaca-kaca menatap Dr. Lee yang terkejut melihat kondisinya seperti itu.
“Alice apa yang terjadi?” satu pertanyaan dari Dr. Lee itu sukses membuat tangis Alice pecah.
“DADDYYYY!!!” serunya sambil menangis dan berlari berhambur memeluk pria yang langsung mengangkatnya ke dalam pangkuan tak memedulikan bajunya yang ikut kotor oleh lumpur.
Erik mengangkat alisnya tak mengerti kenapa anak itu memanggil temannya dengan sebutan Daddy. Dr. Lee berbisik ia akan menjelaskannya nanti setelah melihat tatapan bingung pria yang duduk di sampingnya itu.
“Alice!”
Belum pulih keterkejutan Erik karena Alice, sekarang ia kembali dikejutkan oleh seorang perempuan muda cantik yang berlari turun dari tangga lantai dua menghampiri mereka.
“Apa yang terjadi? Apa kau terluka?” tanya Anna sambil berjongkok di depan Dr. Lee yang sedang memangku Alice yang kini menatapnya dengan mata bulatnya yang basah.
“Aku... jatuh dari sepeda,” jawab Alice diantara isak tangisnya.
“Mana yang luka?” Anna memeriksa tubuh Alice yang terdapat lecet-lecet di kaki dan tangannya.
“Sayang, sebaiknya kau mandi dulu nanti kita obati luka-lukamu oke?” ujar Dr. Lee sambil tersenyum memberi semangat.
“Tapi nanti lukanya sakit kalau aku mandi.”
Dr. Lee kembali tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu, “Tidak, itu tidak akan sakit.”
“Benarkah?” yang di jawab anggukan pria bermata tajam itu.
“Alice, ayo sebaiknya kita pulang dan bersihkan dulu badanmu sebelum Daddy mengobati lukamu,” ujar Anna sambil menggendong Alice yang sudah cukup berat, “Ya Tuhan, bajumu sekarang jadi ikut kotor,” lanjutnya setelah melihat kemeja biru dan celana hitam yang dikenakan sang dokter jadi kotor oleh lumpur.
Dr. Lee menatap bajunya lalu dia tersenyum, “Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan,” ucap Dr. Lee sambil menatap Anna yang masih menatapnya.
“Sebaiknya kau ganti bajumu sekarang, dan rendam itu di dalam ember supaya aku tak susah mencucinya nanti,” ucap Anna sambil menatap serius Dr. Lee yang menganga tak percaya kalau itulah yang akan dikatakan perempuan berambut hitam tebal itu.
“Kau mengkhawatirkan bajuku karena takut mencucinya susah?” tanya Dr. Lee yang mendapat anggukan dari perempuan dihadapannya yang bersiap-siap untuk pergi.
“Percayalah lumpur yang sudah kering sangat susah dibersihkan,” jawab Anna sambil mengangguk serius, “Dr. Lee, ganti bajumu sekarang... aku akan kembali lagi kesini setelah memandikan Alice,” lanjutnya sambil berjalan menuju luar, tapi dia kembali menatapnya ketika sudah berdiri di luar pintu, dan melihat dokter itu masih duduk tak bergerak, “Sekarang!”
“Baiklah, aku ganti sekarang dan akan merendamnya di ember, sekarang kau bisa pulang dan mandikan Alice... apa kau puas?”
Anna tersenyum puas mendengar ucapan dokter tampan itu dan ia pun pergi dari sana dengan tenang meninggalkan Dr. Lee yang masih menganga tak percaya kalau pekerjanya itu lebih galak daripada dirinya.
“Jangan berpikiran macam-macam... aku akan menjelaskannya nanti. Aku harus ganti dulu sebelum dia kembali,” ucap Dr. Lee sambil pergi naik ke lantai dua meninggalkan Erik yang hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Beberapa menit kemudian Dr. Lee turun kembali dan sudah berganti pakaian dengan celana jeans yang sobek di bagian lututnya dan hanya mengenaka sweater merah marun berleher tinggi.
“Jadi siapa mereka?” tanya Erik yang kini tengah bersandar santai pada binkai jendela.
Dr. Lee mngambil napas panjang lalu menjelaskan tentang pertemuannya dengan Alice dan kenapa anak itu memanggilnya Daddy, Erik hanya terdiam mendengarkannya.
“Setiap aku melihat Alice, aku teringat Ayumi... mereka memiliki mata bulat yang sama, dan nasib yang hampir sama. Ayumi tidak mengenal ibunya, sedangkan Alice tidak mengenal siapa Ayahnya. Ayumi lebih beruntung karena memilki Ayah yang luar biasa yang selalu ada disampingnya, sedangkan Alice hanya memiliki seorang ibu yang masih sangat muda yang bahkan dirinya-pun masih memerlukan perlindungan dari orang lain.”
“Jadi karena itu kau memutuskan membiarkan gadis kecil itu menganggapmu sebagai ayahnya?”
Dr. Lee mengangguk, “Alice, anak yang pintar dan Anna telah menjelaskan padanya kalau aku sebenarnya bukan Ayahnya, dan dia bisa menerima itu... yang dibutuhkan anak kecil itu saat ini hanya perasaan nyaman dari seseorang yang bisa dia panggil Ayah. Seperti tadi, kau lihat sendiri bagaimana dia berusaha menahan tangisnya di jalan dan langsung menangis ketika melihatku. Dia memerlukan seseorang tempatnya bersandar ketika dia ingin menangis. Ayumi memiliki kau, aku, Kevin dan dua orang Ayah tiri yang luar biasa yang selalu ada disaat dia memerlukan seseorang untuk melindunginya, sedangkan Alice? Dia hanya memiliki bahu rapuh ibunya, walaupun dia memiliki sebuah keluarga yang menganggapnya sebagai keluarga sendiri, tapi itu berbeda.”
“Jadi kau tidak tahu siapa Ayah kandung anak itu?”
“Tidak... aku tak akan bertanya kecuali dia menceritakannya sendiri.”
Erik mengangguk setuju,”Dia masih sangat muda untuk memiliki anak sebesar itu.”
“Iya, tapi percayalah dia sangat mandiri dan kuat walaupun kadang aku suka melihat kesedihan, rasa lelah dan kerinduan di dalam sorot matanya ketika ia bercerita tentang kampung halamannya. dan kau pasti tak akan percaya kalau dia berasal dari Indonesia, seperti Ayumi.”
Erik mengangkat alisnya tak percaya, “Benarkah?”
Dr. Lee mengangguk membenarkan dan dia baru akan membuka mulutnya ketika pintu rumahnya kembali terbuka yang langsung memerlihatkan Anna dan Alice yang kini berjalan seperti robot.
“Alice tidak mau menekuk lutut dan sikunya karena ada lecet di sana,” ucap Anna berusaha menjelaskan kenapa putri kecilnya itu berjalan seperti robot yang membuat kedua pria di hadapannya tersenyum.
“Baiklah, sekarang kita obati luka-lukamu itu,” ucap Dr. Lee sambil mengangkat Alice dan mendudukkannya di atas kursi di samping Erik yang tersenyum melihat gadis kecil yang sangat menggemaskan, sedangkan Dr. Lee pergi mengambil anti septik dan salep untuk mengobati luka lecet Alice yang kini tengah menatap Erik dengan mata bulatnya.
“Sir, apa kau teman Daddy?”
Erik mengangguk sebagai jawaban, dia kini memerhatikan Alice dan temannya itu benar gadis kecil itu memiliki mata bulat seperti Ayumi dan bahkan nasib yang hampir sama, sekarang dia mengerti kenapa Lee Soo Hyuk menyayangi anak kecil itu.
“Jadi, dokter nakal itu adalah Ayahmu?” tanya Erik yang mendapat anggukan dari Alice.
“Hanya Ayah, bukan Ayah kandung,” jawaban polos Alice itu membuat Erik kembali tersenyum, “Daddy tidak nakal... Daddy sangat baik, padahal aku sangat ingin Daddy nakal.”
Perkataan itu membuat Erik mengangkat alisnya tak mengerti, “Kenapa kau ingin Ayahmu nakal?”
“Sir, apa kau mau kopi? Atau minuman lain?” tanya Anna berusaha mengalihkan pembicaraan mereka dari hal nakal itu.
“Alice, kita obati lukamu sekarang ok?” ujar Dr. Lee sambil berjalan cepat lalu berjongkok di hadapan Alice untuk menghentikan apapun penjelasan polos gadis kecil itu.
“Aku akan membuat kopi.” Anna kembali berkata sambil berjalan cepat naik ke lantai dua.
“Kenapa...”
“Jangan tanya,” ucap Dr. Lee sambil menatap Erik tajam yang ditanggapi pria itu dengan mengangkat bahunya santai.
“Daddy...”
“Hmm.” Dr. Lee menjawab sambil mengobati lecet pada kaki dan tangan Alice yang sebenarnya tidak begitu parah.
“Teman Daddy sangan tampan,” ucap Alice sambil tersenyum membuat Dr. Lee menatapnya tak percaya dan Erik tersenyum miring mendengarnya.
“Yaah!! Kau sudah mengambil dua orang perempuan yang aku sayangi.”
Erik kembali mengangkat bahunya sambil tersenyum mendengar protes dari Dr. Lee.
“Alice, dia tidak setampan itu... perhatikan baik-baik apa menurutmu dia lebih tampan dariku?” tanya Dr. Lee sambil menatap Alice yang kini menatap keduanya bergantian, lalu dia mengangguk yang membuat Dr. Lee membuang napas berat sambil menggeleng berbeda dengan Erik yang tertawa bahagia.
“Dia, lebih tampan dari Daddy,” ucap Alice dengan sangat yakin, “Daddy, apa teman Dadyy nakal?”
Dr. Lee menatap Alice dengan mulut menganga tak percaya.
“Tidak.. dia saaangat baik, lebih baik daripadaku, percayalah,” ucap Dr. Lee membuat Alice membuang napas berat sambil cemberut.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Qin one
ternyata masih nyambung sama Ayumi-Erik
untung gw baca Ayumi -Erik duluan,jadi paham alurnya
2025-02-03
0
arniya
rumit.....
2025-02-28
0
sakura🇵🇸
ya ampuuun alice😍😍😍 kau benar2 menggemaskan...
2024-02-05
0