Bab 12

“Sayang, apa kau lupa kalau malam ini kita akan malam bersama Jared dan Sandra?” tanya Dr. Lee sambil menatap Anna yang terlihat bingung untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia mengerti kalau itu hanya alasanya saja.

“Ya Tuhan, kau benar, aku hampir saja lupa... Maafkan kami tapi malam ini saudara kami mengadakan makan malam keluarga,” ucap Anna yang dapat anggukan dari Dr. Lee.

“Sayang sekali... baiklah, kalau begitu mungkin lain kali kita bisa makan bersama, kami akan berada di sini selama tiga hari.”

“Iya, lain kali.”

“Baiklah kalau begitu, Sayang, sebaiknya kita pergi sekarang, Luke sudah tidak sabar untuk melihat kastil,” ajak Billy sambil membawa plastik belanjaan Nichole dan merangkul istrinya.

“Baiklah, sampai jumpa Alice,” ucap Nichole sambil mengelus rambut gadis kecil itu yang tersenyum malu.

Mereka bertiga akhirnya keluar dari toko itu menyisakan Dr. Lee dan Anna yang langsung menurunkan Alice dengan tubuh masih gemetar hebat. Dr. Lee mengunci pintu toko dan memasang tanda kalau toko itu tutup, lalu dia menyuruh Alice ke atas dengan memberikannya coklat yang dia beli di Paris, yang tentu saja disambut gadis kecil itu dengan senang hati.

Anna berjalan bulak-balik dengan tubuh gemetar, matanya berkaca-kaca menyiratkan rasa takut, giginya yang gemerutuk menggigiti ujung kuku jarinya.

“Bagiamana kalau dia mengambil Alice dariku?” tanyanya sambil menatap Dr. Lee dengan wajah cemas, “Aku harus membawa Alice pergi dari sini... kami harus bersembunyi!” lanjutnya dengan tubuh bergetar hebat.

“Anna... kau harus tenang dulu.”

“Tenang! Kau bilang tenang! Bagaimana bisa aku tenang ketika ******** itu telah melihat kami? Apa kau tak lihat bagaimana dia menatap Alice?” geram Anna berupa bisikan sambil menatap Dr. Lee dengan mata nyalang.

“Dia belum mengetahuinya,” ucap Dr. Lee berusaha menenangkan Anna yang terlihat sangat stress.

“Tidak!” jawab Anna sambil menggelengkan kepala, “Dia telah curiga ketika mengetahui umurnya.”

Dr. Lee terlihat terkejut ketika mendengar kalau pria itu mengetahui umur Alice, “Bagaimana dia mengetahui tentang umur Alice?”

“Aku tak tahu kalau perempuan itu istrinya, aku memberitahunya... ya Tahun bagaimana ini? Aku lebih baik mati kalau dia berani mengambil Alice dariku,” ujar Anna sambil kembali mengigiti kuku-kuku jarinya.

“Anna... tidak akan ada yang mengambil Alice darimu,” ucap Dr. Lee sambil menatap Anna menyakinkan membuat perempuan itu sedikit tenang.

“Kau memiliki, Aku, Jared dan juga orangtua angkatmu yang akan melindungi kalian berdua... kau tidak sendiri, Anna,” lanjut Dr. Lee membuat Anna terdiam dan menyunggingkan sedikit senyum lemah.

Perempuan berambut hitam itu kini terdiam, tapi masih terlihat kecemasan di mata dan wajahnya. Ia duduk di atas kursi kasir, kakinya kanannya bergerak-gerak tak mau diam dan kembali mengigiti kuku jari tangannya.

Dr. Lee yang melihat itu kini berjongkok lalu menggenggam tangan Anna membuatnya berhenti menggigiti kuku jarinya, “Anna,” ucap Dr. Lee sambil menatapnya lembut, “Semua akan baik-baik saja, aku tak akan membiarkan siapapun mengambil Alice darimu... aku janji.”

Anna hanya terdiam sambil menatap Dr. Lee beberapa saat sampai akhirnya dia berkata, “Apa kau tahu, ketika aku hamil dulu kalau aku tak merasakan mual sedikitpun, seolah-olah bayi dalam kandunganku tahu kalau ibunya sedang kesusahan dan dia tak ingin menyusahkanku,” Anna mulai bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Ketika baru lahir, Alice sangat kecil dia hanya 2kg dan harus tinggal di inkubator selama sebulan karena lahir secara prematur. Setiap melihatnya aku akan menangis dan berdoa kepada Tuhan supaya memberi kesempatan putriku untuk hidup dan melihat dunia ini.” Anna mengusap air matanya menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih dalam genggaman pria yang terdiam mendengar ceritanya.

“Dan Tuhan mendengarkan doaku, dia tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan menyenangkan... dia adalah duniaku, aku akan mati kalau kehilangan putri kecilku,” lanjut Anna sambil menatap dr. Lee dengan suara tercekat.

“Anna, tidak ada yang akan mengambil Alice darimu, aku berjanji... aku akan melakukan apapun untuk melindungi kalian berdua,” ucap Dr. Lee dengan sungguh-sungguh membuat Anna sedikit tersenyum.

“Terimakasih... aku... aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ya Tuhan, andai kau tahu betapa takutnya aku tadi ketika melihatnya berdiri di sana sambil menatapku dan Alice,” ucap Anna sambil membuang napas berat.

“Aku tahu... tapi kau sangat hebat tadi, kau masih bisa menguasai emosimu.. kau hebat Anna,” puji Dr. Lee sambil tersenyum tulus membuat perempuan itu menatapnya lalu tersenyum.

“Dan kau tak tahu betapa bahagianya aku ketika melihatmu tadi... terimakasih karena datang pada saat yang tepat.”

“Seorang jagoan memang selalu datang pada saat-saat yang tepat,” ucap Dr. Lee memuji dirinya sendiri membuat Anna mendengus tertawa melupakan sesaat kejadian tadi yang membuatnya hidupnya terasa jungkir balik. Tapi sekarang ia merasa tenang karena ada seseorang yang berada di sampingnya yang bisa diandalkan... ia tak sendiri.

Keesokan harinya Anna tak membawa Alice ke toko, dia terlalu takut kalau mereka akan bertemu kembali dengan keluarga Billy dan ternyata itu benar. Anna tengah membereskan tokonya ketika pria itu memasuki toko. Jantung Anna berdetak kencang ketika melihat sosok yang berdiri menatapnya, rasa amarah kembali merambati tubuhnya, matanya nyalang menatap pria yang sempat ia cintai itu.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Billy berusaha bersikap tenang.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” jawab Anna sambil menaruh makanan ringan dengan kasar ke atas rak-rak yang tersusun rapi di tokonya berusaha tak memedulikan kehadiran pria yang mengisi masa lalunya itu.

“Aku tak tahu kalau kau sekarang tinggal di sini.”

“Iya tentu saja kau tak tahu, kau pergi dan menghilang begitu saja enam tahun lalu.”

“Aku bisa menjelaskannya,” ujar Billy sambil berjalan berusahan mendekati Anna yang langsung menyuruhnya diam dengan mengangkat kedua tangannya.

“Tidak ada yang perlu kau jelaskan!” Seru Anna dengan mata nyalan, “Aku sekarang sudah berubah. Bukan lagi gadis 18 tahun yang naif dan polos yang akan terbujuk rayuanmu begitu saja... tidak... aku tak ingin mendengar apapun darimu! Jadi sebaiknya kau pergi dari sini sebelum istri dan anakmu mengetahui tentang hubungan kita di masa lalu.”

Billy diam mematung menatap Anna yang terlihat sangat emosi, dada perempuan itu naik turun dengan mata nyalang menatapnya. Beberapa saat mereka hanya saling mentap tanpa suara, melihat amarah yang masih menyala di mata Anna membuat Billy mengangguk lalu membalikkan badannya, tapi baru selangkah dia kembali terdiam.

“Apa dia putriku?”

Rasa dingin merambati tubuh Anna dari ujung kaki sampai ujung kepala, ketakutannya menjadi kenyataan, pria itu menyadari tentang Alice. Untuk sesaat jantungnya terasa berhenti, tubuhnya gemetar.

“A..apa yang kau bicarakan?” tanya Anna dengan suara gemetar.

Billy membalikan badannya menghadap Anna yang masih berdiri tak bergerak ditempatnya tadi.

“Alice... dia putriku-kan?” Billy kembali bertanya sambil menatap Anna yang kini menatapnya dengan sorot mata takut untuk beberapa saat, tapi kemudian berubah kembali menyorotkan rasa amarah.

“Putrimu... bagaimana bisa dia putrimu? Dia adalah putriku!” geram Anna dengan amarah yang membuncah, “Aku yang melahirkannya dan aku yang telah membasarkannya!” lanjutnya sambil memukul dadanya sendiri.

Billy terlihat terkejut melihat reaksi Anna, dia membuang napas berat sebelum berkata, “Jadi, dia benar putriku.”

“Bukan... dia bukan putrimu... dia... putriku. Dan dia memiliki seorang ayah yang menyayanginya.”

“Tapi dia darah dagingku, dan aku berhak mengetahuinya!” Seru Billy membuat Anna membelalakan mata dan amarah yang tadi sempat dia tahan kini dan sudah terkubur selama 6 tahun kini menyeruak kepermukaan. Ia tak akan lagi menutup-nutupi lagi semuanya.

“Hak... kau berbicara tentang hak!” Teriak Anna sambil berjalan maju dengan mata menusuk menatap pria dihadapannya.

“Dimana kau selama 6 tahun ini sehingga kau dengan gampangnya menuntut hakmu? Dimana kau saat keluargaku mengusirku karena tahu aku sedang mengandung? Dimana kau ketika aku terpuruk karena cita-cita dan masa depanku hancur karena dosa yang kita lakukan? Dimana kau ketika aku terombang-ambing di negara orang tanpa satupun kerabat dalam kondisi hamil? Dimana kau ketika aku meregang nyawa saat melahirkan? Dimana kau ketika bayi mungil itu harus berada di RS selama berbulan-bulan? Dimana kau selama ini!”

Anna berteriak tepat dihadapan wajah Billy yang diam mematung, cuping hidungnya kembang kempis karena marah, dadanya naik turun, napasnya terengah-engah, mata hitamnya menatap tajam dengan berapi-api.

“Kau tak memberitahu tentang... kehamilanmu, bagaimana aku bisa tahu?” ujar Billy berusaha memberi alasan.

Anna membuang napas berat sambil menutup mata ketika mendengar ucapan pria yang sempat ia cintai.

“Apa kau tahu kenapa aku berada di kota ini jauh dari keluargaku?” tanya Anna sambil kembali menatap Billy tajam, “Aku... dengan rasa percaya diri tinggi bahkan berani menentang keputusan ayahku datang ke Paris untuk menemuimu dan memberitahu kalau aku sedang hamil, tapi apa yang ku lihat ketika sampai di sana? Aku melihatmu bersama anak dan juga istrimu. Anak dan istri yang tak pernah kau katakan padaku sebelumnya!” serunya membuat Billy memucat.

“Apa kalau pada saat itu aku mendatangi kalian dan mengatakan kalau aku sedang hamil anakmu, kau akan melompat gembira dan meninggalkan keluargamu demiku?”

Billy terlihat terkejut mendengarkan pertanyaan Anna, membuat perempuan itu tersenyum sinis karena tahu apa yang ada dipikiran pria itu.

“Tidak... kau akan mengatakan kalau kau tidak mengenalku di depan istrimu dan menganggapku hanya orang gila, bahkan kau diam-diam akan menemuiku dan menyuruhku menggugurkan kandunganku, iyakan?” tanya Anna yang kembali membuat Billy pucat pasi.

Mereka terdiam beberapa saat, Anna terlihat mengatur napasnya untuk meredakan emosi. Ada sedikit perasaan lega setelah mengeluarkan emosi yang ditahannya selama ini.

“Jadi jangan berbicara tentang hak kalau kau tidak menunaikan kewajibanmu... sekarang sebaiknya kau bawa keluargamu pergi dari sini, jangan menggangguku dan putriku. Karena selama ini kami masih bisa hidup dengan baik tanpa dirimu,” ucap Anna membuat Billy terlihat lemas seolah belum bisa menerima kenyataan kalau dia memiliki seorang putri yang selama ini tak ia ketahui.

Tapi akhirnya ia menyerah karena yang dikatakan Anna memang benar semua, seandainya ia mengetahui tentang itu enam tahun lalu maka ia hanya akan memintanya untuk aborsi karena ia tak mungkin menyakiti istri dan putranya yang sangat ia cintai.

“Aku... aku minta maaf untuk segala.”

“Tidak, aku mohon jangan katakan apapun... aku hanya memintamu untuk meninggalkan kami dan anggap saja kalau kami orang asing... aku mohon, aku hanya meminta itu darimu.”

Billy kembali terdiam sambil menatap Anna yang terlihat bersungguh-sungguh dengan perkataannya, membuat pria itu akhirnya mengangguk setuju.

“Baiklah, aku akan pergi... sekali lagi aku minta maaf,” ujar Billy sambil membalikkan badan tapi tubuhnya tiba-tiba membeku ketika melihat seorang perempuan berambut sebahu tengah menatap mereka berdua dengan mata berkaca-kaca, dan di belakangnya terlihat seorang pria bermata tajam yang menatapnya bak seokor elang.

****

Terpopuler

Comments

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

cepat atau lambat keburukan akan mendapatkan balasannya...
sini anna...peluk 🥺🥺🥺

2024-02-05

0

Dwi Sasi

Dwi Sasi

Sekali pengecut
Selamanya pengecut

2022-11-22

0

Erni Fitriana

Erni Fitriana

O'O....panik gak mas billy....paniklahhhh...masa enggak?????😡😡😡😡

2022-06-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!