“Apa itu benar?”
Nichole bertanya sambil berjalan dengan perlahan mendekati keduanya dengan mata tajam menusuk menatap Anna.
“Sayang, aku akan menjelaskannya padamu, sebaiknya kita pergi dari sini,” ucap Billy sambil memegang tangan istrinya berusaha menghentikan langkap perempuan yang masih menatap Anna dengan sorot mata marah dan terluka.
“Kau, berselingkuh dengan suamiku?” tanyanya dengan suara dingin sambil menghempaskan tangan suaminya dan kini semakin mendekati Anna yang masih terdiam, melihat itu Dr. Lee dengan cepat berdiri di samping Anna lalu menariknya mundur, berusaha menyembunyikan tubuh mungil itu di balik tubuh tingginya.
“Dan anak itu adalah hasil perselingkuhan kalian? Jawab aku!” teriak Nichole dengan napas terengak-enagah menatap Anna yang terlihat terkejut melihat reaksi perempuan yang kemarin dia nilai sangat ramah dan baik.
“Aku akan menjelaskannya, kita pergi sekarang!” Billy menarik Nichole yang kembali memberontak.
“Lepaskan!” teriaknya sambil menghempaskan tangan Billy untuk kedua kalianya, “Sayang, aku tahu kau tak akan mengkhianatiku, aku percaya padamu,” ujar perempuan dengan rambut sebahu itu sambil menatap suaminya dengan sorot mata amarah ysngtertahan.
“Kau!” lanjutnya sambil menunjuk Anna yang wajahnya pucat pasi, “Pasti kau yang telah merayu suamiku, dasar perempuan jal**g!”
Nichole kembali berteriak dengan penuh amarah membuat Anna sedikit terlonjak mendengar teriakannya itu.
“Kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan kau tak mengenal siapa aku jadi, kau tak berhak untuk menghakimiku.”
“Diam!” Nichole kembali berteriak mengejutkan semua orang karena emosinya yang meledak-ledak.
“Kau... aku kasihan kepadamu karena memiliki istri seorang perempuan penggoda.” perempuan itu menatap Dr. Lee sambil mencibir.
“Dia bukan seorang perempuan penggoda... saat itu dia hanyalah seorang gadis muda yang polos dan naif terperangkap rayuan pria hidung belang yang tak bertanggung jawab,” ucap Dr. Lee sambil menatap Billy yang kini menatapnya karena terkejut dengan jawaban pria berhidung mancung itu.
“Kau berani-beraninya mengatakan suamiku pria hidung belang!”
“Dan kau berani-beraninya menghina istriku dan membuat keributan di tempat ini? Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku menghubungi polisi,” ujar Dr. Lee dengan wajah dingin dan mata tajam menatap keduanya.
“Ayo kita pergi dari sini,” ujar Billy sambil kembali menarik tangan istrinya yang masih terlihat emosi, dia berteriak mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan kepada Anna dan Dr. Lee yang hanya melihat mereka dengan pandangan dingin.
Anna langsung berjongkok setelah kepergian pasangan suami istri itu, kakinya terasa lupuh tak bisa menopang tubuh ringkinya yang seperti tak memiliki tenaga. Dia kini terduduk dilantai toko, melihat itu Dr. Lee dengan cepat mengunci pintu toko dan memasang tanda bertuliskan tutup yang terpasang di kaca pintu menghadap luar.
Dia kembali lagi kesamping Anna yang kini duduk berselonjor dengan tubuh bersandar pada meja kasir, wajah pucatnya menghadap atas dengan mata terpejam, jantungnya masih berpacu dengan cepat karena kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.
Dr. Lee duduk di samping Anna, kakinya ikut diselonjorkan seperti yang Anna lakukan, matanya menatap perempuan disampignnya sesaat sebelum kemudian menatap ke depan, beberapa saat mereak hanya terdiam seperti itu. Sampai akhirnya mata hitamn Anna menatapnya dengan sorot mata terluka membuatnya balik menatapnya dengan lembut, beberapa saat mereka hanya saling pandang.
“Boleh aku meminjam bahumu sebentar?” pinta Anna dengan suara lemah.
Tanpa dikomando Dr. Lee langsung merangkulnya, kepala Anna bersandar di bahu pria yang selalu berada disampingnya selama beberapa bulan terakhir ini.
“Kau hebat, Anna. Kau telah melakukannya dengan sangat baik,” ucap Dr. Lee sambil mengelus rambut Anna, membuat perempuan itu menyurukan kepalanya kedalam dada bidang pria itu dan mulai menumpahkan segala penat yang mengganjal selama ini.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Dr. Lee ketika ia mulai merasakan tubuh perempuan dalam pelukannya mulai bergetar, dan akhirnya isak tangis yang menyayat hati-pun mulai terdengar.
Hati pria itu ikut tersayat ketika mendengar isakkan tertahan dari bibir perempuan hebat yang telah berjuang seorang diri untuk menebus segala dosa di masa lalu. Ia tahu, saat ini bukan nasihat sok bijaksana yang diinginkan oleh Anna. Saat ini perempuan itu hanya menginginkan tempat bersandar untuk meringankan sedikit beban yang selama ini dipikulnya seorang diri. Dan itulah yang akan ia lakukan saat ini, menjadi tempatnya bersandar dalam keheningan.
***
Anna berjalan menyusuri pinggiran kebun anggur, rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai tertiup angin, tubuhnya dibalut dres selutut berwarna biru muda lengkap dengan kardigan putih tipisnya, membuat wajah pucatnya semakin terlihat pucat.
Ia terus berjalan tanpa arah tujuan sampai akhirnya ia sampai di pinggir sungai yang membelah kota itu, ia duduk di atas rumput pinggir sungai, tangannya memeluk lutut yang ia tekuk, matanya menatap aliran air jernih di hadapannya.
Anna membuang napas berat dengan mata masih menghadap sungai, sesekali ia akan melihat kapal-kapal kecil yang membawa para wisatawan berkeliling melintas. Di kanannya terdapat jembatan yang menghubungkan kedua sisi kota.
Entah berapa lama Anna duduk di sana dengan pikiran melayang kepada hari kemarin yang bak mimpi buruk di siang hari. Seringkali ia memikirkan apa yang akan terjadi kalau mereka bertemu, dia bahkan telah memikirkan apa yang akan ia katakan.
Tapi semuanya hilang begitu saja ketika orang itu berdiri dihadapannya, emosi, amarah, kecewa dan rasa takut menyeruak kepermukaan, mengalahkan segala logika yang telah tersusun rapi selama 6 tahun.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Suara berat seseorang mengagetkannya, ia menatap kesamping dimana pria berkulit pucat berdiri menjulang menghadapnya, berbalutkan celana jeans hitam, kaos tartel neck hitam dan coat hitam membuatnya terlihat seperti vampire di cerita-cerita fiksi.
“Tidak ada,” jawab Anna sambil kembali menatap ke depan.
Dr. Lee ikut duduk disamping Anna, kaki panjangnya di selonjorkan bertumpang kaki dengan kaki kiri di bawah, tangannya dijadikan tumpuan tubuhnya, matanya ikut menatap ke depan dimana sebuah kapal tengah melintas. Matanya memejam ketika dirasa semilir angin mengelus wajah tampannya, hidung mancungnya menghirup udara segar itu untuk kembali ia hembuskan sebelum akhirnya ia menatap perempuan disampingnya.
“Apa kau baik-baik saja? Aku melihat mereka meninggalkan kota ini semalam,” ia memberanikan diri untuk bertanya, membuat Anna menatapnya sesaat kemuadian membuang napas berat.
“Tidak, aku tidak baik-baik saja... tapi aku harus tampak baik-baik saja di depan Alice dan yang lainnya,” jawab Anna lirih.
“Kau belum memberitahu orangtua angkat dan juga Jered tentang apa yang terjadi kemarin?"
Anna menggelengkan kepala, “Aku tak ingin membuat mereka khawatir... selama ini aku selalu menyusahkan dan menjadi beban mereka.”
Dr. Lee menatap Anna beberapa saat sebelum kembali menatap ke depan, mereka kembali dalam keheningan dan akhirnya pria bekulit pucat itu kembali memecah keheningan.
“Kenapa kau tak menjelaskan kepada istrinya kalau ******** itu tak memberitahumu kalau dia telah berkeluarga?”
Anna terdiam beberapa saat kemudian membuang napas berat, “Itu hanya akan membuat amarahnya semakin menjadi dan menganggap hanya alasanku saja,” ucap Anna sambil menatap langit biru yang cerah dimana arak-arakan awan putih menghiasinya, membuat perasaannya sedikit damai.
“Kau tahu,” kembali menatap Dr. Lee yang masih menatapnya dengan lembut, “Setiap kasus seperti ini, perempuanlah yang akan dirugikan,” ucap Anna sambil kembali menatap sungai di hadapannya.
“Selain akan kehilangan kegadisannya, perempuanlah yang akan disalahkan seperti kemarin... orang-orang akan menghakiminya dengan sebutan perebut suami orang, perusak rumah tangga, perempuan penggoda dan banyak lagi sebutan yang akan melekat pada dirinya,” ucap Anna sambil menumpukan dagunya di atas lutut dengan mata menerawang menatap kedepan.
“Belum lagi kalau sampai hamil seperti aku, banyak yang akan mengambil jalan singkat yaitu melakukan aborsi, kalaupun sampai melahirkan, bayi tak berdosa itu akan berakhir di tempat pembuangan layaknya sampah atau kalau ibu mereka masih memiliki hati nurani maka mereka akan berakhir di panti asuhan. Tapi kita tidak boleh menghakimi mereka seenaknya, karena kita tak tahu perasaan bersalah yang akan menggerogoti jiwanya sampai akhir.” Anna membuang napas berat mengingat ironi yang harus dilalui kaum hawa.
“Selain itu, mereka juga telah kehilangan masa depan bahkan mungkin keluarganya seperti aku. Maka beruntunglah mereka ketika memiliki keluarga yang akan mengerti dan menerima mereka dengan tangan terbuka. Kami tak butuh penghakiman karena percayalah kami akan menjalani hukuman itu seumur hidup kami, yang kami butuhkan adalah sebuah rangkulan dan kata sederhana seperti, ‘tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, kami selalu di sini untukmu,’ walaupun kami tahu semua tidak akan lagi sama.”
Anna merekatkan cardigannya sambil membuang napas berat, walaupun matahari bersinar cerah, tapi jiwanya terasa dingin. Melihat itu Dr. Lee membuka coatnya lalu menyampirkannya ditubuh perempuan yang kini tersenyum lemah kepada.
“Berbeda dengan pria... pria tidak memiliki jejak yang terlihat ketika melakukan dosa itu, selain rasa bersalah, mungkin? Pria tidak akan hamil seperti halnya perempuan, dia tak akan merasakan kesakitan ketika melahirkan, keluarga dan orang-orang disekitarnya tidak akan mengetahui ada perubahan pada dirinya. Dia masih bisa melanjutkan masa depannya tanpa beban apapun.”
“Tapi banyak pula pria yang akan bertanggung jawab dengan menikahi perempuan itu,” ucap Dr. Lee membuat Anna mengangguk setuju.
“Kau benar, dan perempuan itu wajib bersyukur kalau itu sampai terjadi. Tapi tetap saja, gelar sebagai anak haram akan menempel pada anak mereka. Bukan hanya itu keluarga merekapun akan dipergunjingkan karena memiliki putri diluar nikah.”
Dr. Lee bisa melihat setiap kata yang terucap dari mulut gadis itu sarat akan rasa sakit dan penderitaan. Anna seorang perempuan muda yang tangguh dan bertanggung jawab. Ia lebih memilih untuk kehilangan cita-citanya sebagai seorang dokter daripada harus melakukan dosa besar lainnya seperti yang diperintahkan ayahnya.
Tapi ia tak pernah menyesali keputusan yang ia ambil dengan mengorbankan segala kemewahan duniawi dan kini hidup dalam kesederhanaan di negri orang. Perlahan tapi dengan penuh keyakinan dia mulai merajut kembali masa depannya dengan putri kecilnya berada dalam urutan teratas prioritasnya.
Ia tak pernah menangisi nasibnya, ia menjadikan kesalahan dimasa lalu sebagai pelajaran yang sangat berharga untuknya. Bahkan ketika kejadian kemarin Dr. Lee masih bisa mengingat bagaimana perempuan itu menahan isak tangisnya dan itu membuatnya merasakan rasa sakit yang sama di hatinya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka
wkwkkwkw. ...ga kebalik tuh... kamu Nicole yg perlu dikasihani punya suami ga bertanggung jawab dan selingkuh🤪🤦♂️
2024-10-09
2
🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka
Waahhhh...terlalu bucin atau bodoh
malah nyalahin Ana dan suaminya dianggap setiaa🤦♂️
2024-10-09
1
🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka
Hei...knapa jadi annayg kamu salahin..harusnya suami kamu itu yg kmu salahin krn selingkuh.. Anna ga tau apa2
2024-10-09
1