Bab 4

Perut Anna mulai terasa perih, dia baru menyadari kalau dari pagi dia baru meminum segelas susu, dia telah melewatkan sarapan dan makan siangnya. Dia kembali melirik pria dengan hidung mancung itu yang terlihat tengah serius memindahkan buku-bukunya dari dalam dus ke atas rak kayu. Anna membuang napas berat tak berani meminta ijin untuk istirahat dulu, ia pun kembali mebongkar dus lainnya.

“Mamah.” Suara Alice membuatnya mengalihkan pandangan ke arah pintu dimana putrinya baru saja masuk dengan wajah lesu, “Aku lapar,” ujarnya singkat membuat Anna langsung berdiri dan menghamprinya.

“Ya Tuhan, maafkan Mamah lupa kalau kamu belum makan siang,” ucapnya dengan wajah menyesal, “Dr. Lee, maafkan saya, apa boleh saya meminta ijin sebentar untuk membelikan Alice makan siang?” tanya Anna sambil menatap pria yang kini mengangkat alisnya karena mendengar panggilan dari Anna.

“Daddy, apa kau sudah makan siang?”

“Belum, apa kau mau makan siang bersamaku?” Tanyanya dengan senyum lembut menatap Alice yang langsung mengangguk-anggukan kepala singkat, “Kalau begitu ayo kita pergi sekarang,” lanjutnya sambil mengangkat Alice lalu menggendongnya meninggalkan Anna yang terdiam mematung melihat pemandangan itu.

“Mamah, ayo cepat!” Seru Alice ketika melihat mamahnya masih berdiri di dalam rumah.

Anna merasa semua orang memerhatikan mereka bertiga sepanjang perjalanan menuju restoron yang ada di pinggir kanal, seperti yang ia kira Cloe telah membuktikan kemampuannya dalam menyebarkan berita. Sepanjang jalan ia menundukan kepala berusaha tak menghiraukan tatapan penasaran dari warga kota kecil itu, tapi berbeda dengan pria yang terlihat sedang bercanda dengan Alice bahkan Anna bisa mendengat tawa bahagia dari putri kecilnya itu ketika perutnya dikelitiki, membuatnya ikut tersenyum dan ada rasa hangat di dalam hatinya melihat pemandangan itu.

Mereka kini duduk di kursi yang berada di luar restoran dengan cat berwarna biru dengan pemandangan kanal yang tenang dan romantis. Alice terlihat menikmati roti baguette renyah yang ia celupkan ke dalam Soupe a l’oignon, sup kaldu sapi dengan parutan keju diatasnya hingga terlihat seperti soup cream yang menggugah selera. Sesekali Anna akan melap sisa sup atau remah roti di mulut putri kecilnya menggunakan tisu dan itu tak lepas dari pengamatan pria dihadapan mereka. Anna sesungguhnya gadis yang sangat cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sedikit bergelombang yang hari ini ia kuncir kuda, dia memiliki senyum yang indah walaupun ia hanya mengenakan dress sederhana yang warnanya sudah memudar dan cardigan putih yang sudah menipis.

“Bagaiman kau tahu kalau aku seorang dokter?” tanya Dr. Lee sambil memakan pasta yang ia pesan.

“Aku melihat papan namamu ketika membereskan barang-barang tadi,” jawab Anna sambil kembali melap mulut putrinya.

“Jadi Daddy dokter?” tanya Alice dengan penasara yang dijawab pria itu dengan anggukan kepala sambil tersenyum, “Wow, itu keren,” lanjutnya dengan mata berbinar.

Anna menatap Alice beberapa saat sebelum akhirnya ia menatap pria itu sambil berkata, “Maafkan saya, nanti saya akan mencoba menjelaskan padanya kalau anda bukan...” Ia tak melanjutkan ucapannya karena ia yakin Dr. Lee pasti sudah mengerti apa maksudnya tanpa harus ia ucapkan.

Dr. Lee menatap Alice yang masih semangat menghabiskan supnya, anak itu begitu menggemaskan, anak perempuan tercantik yang pernah ia lihat selama ini, kulitnya putih dengan pipi berwarna merah muda, rambutnya hitam seperti ibunya tapi ia memiliki mata bulat yang mengingatkannya kepada Ayumi. Tuhan sepertinya mengirim anak itu untuk ia lindungi dan jaga seperti ia melindungi kekasihnya dulu, walaupun akhirnya kekasihnya terluka olehnya. Tapi, tidak... kali ini ia tak akan melakukan kesalahan yang sama, kali ini ia akan melindungi gadis kecil yang baru saja ia temui itu dengan sungguh-sungguh.

“Tidak perlu, dia terlalu kecil untuk memahami hal seperti itu... untuk saat ini biarkanlah.”

Anna tak percaya dengan apa yang didengarnya dari pria asing yang baru saja mereka temui hari ini, “Tidak, bagaimanapun ia harus menerima kenyataan itu. Aku tak ingin memberinya mimpi yang hanya akan membuatnya terluka dan kecewa dikemudian hari.”

Dr. Lee terdiam menatap Anna yang terlihat serius dengan ucapannya, sorot matanya memancarkan rasa luka yang mendalam dan itu membuatnya mengangguk menerima keputusan yang telah diambil karena bagaimanapun Anna adalah ibunya, dan dia hanya orang asing yang baru mereka temui beberapa jam yang lalu.

“Berapa umurnya?” tanya Dr. Lee memecah keheningan diantara mereka.

“Lima tahun,” jawab Anna singkat.

Dr. Lee mengangguk, lima tahun. Gadis kecil itu sudah berumur lima tahun dan Anna masih sangat muda untuk memiliki anak berumur lima tahun. Ia menebak umur perempuan itu baru awal dua puluhan, dan sepertinya sedikit di bawah umur Ayumi. Ketika gadis seumurannya masih berada di bangku kuliah atau mungkin sedang bersenang-senang dengan teman-temannya di cafe atau mall, Anna harus bekerja banting tulang dan membesarkan Alice seorang diri. ******** seperti apa yang telah menghancurkan kehidupan seorang gadis polos dan meninggalkannya dengan seorang anak? Entah kenapa rasa amarah perlahan mengisi hatinya ketika memikirkan itu.

Ia kembali mengingat Ayumi yang terluka ketika mengetahui ibu kandungnya telah meninggalkannya, tapi setidaknya ia masih memiliki Ayah, Rama, Kevin, Erik dan juga dirinya yang sangat mencintainya dan selalu ada untuknya. Tapi Anna? Apa dia seberuntung itu? Ia tidak tahu tapi yang pasti selama dirinya tinggal di kota kecil itu ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Anna dan Alice. Ia akan menganggap ini sebagai penebusan dosa karena telah menyakiti Ayumi.

“Apa kau sudah selesai makannya?” suara Anna yang bertanya kepada putri kecilnya membuat Dr. Lee kembali dari lamunannya.

“Sudah,” jawab Alice setelah menghabiskan setengah gelas air putih.

“Baby, ada yang mau Mamah katakan padamu.”

Alice membalikkan badannya hingga menghadap ibunya, Dr. Lee melihat itu dengan serius ia ingin mengetahui penjelasan seperti apa yang akan Anna berikan kepada putrinya.

“Apa kau masih ingat apa yang Mamah ceritakan soal Daddy?” tanya Anna dengan lembut dan pelan membuat putrinya mengangguk.

“Kalau Daddy tidak bisa tinggal dengan kita,” ucap Alice sambil menatap Anna yang mengangguk membenarkan, “Tapi Daddy bilang kalau sekarang dia akan tinggal di sini,” lanjutnya sambil menatap pria yang ia panggil Daddy sebelum kemabli menatap ibunya.

“Mamah pernah bilang kalau Alice memiliki Daddy dan dia tinggal di tempat jauh jadi tak bisa bersama dengan kita karena dia memiliki keluarga lain, apa kau ingat?” Alice menganggukkan kepala membuat Anna menghirup napas panjang untuk mempersiapka apa yang akan ia katankan, “Dan, Daddy sekarang masih dengan keluarganya di tempat yang jauh... sayang, dia bukan Daddy Alice,” ucap Anna dengan menyesal membuat putrinya menatap Dr. Lee dan ibunya bergantian.

“Tapi... tapi dia tahu namaku.. A-lice dan dia bilang iya ketika Chris bertanya apa dia ayahku?”

Anna menatap putrinya dengan lembut dan menyesal ketika melihat mata bulat itu mulai berkaca-kaca, “Sayang, maafkan Mamah... Dr. Lee hanya menolongmu supaya tak diganggu oleh Chris dan temannya.”

Alice kini menatap Dr. Lee dengan serius sebelum bertanya, “Apa itu benar kalau Daddy hanya menolongku dari Chris dan temannya?” tanya Alice sambil menatap Dr. Lee dengan wajah cemberut, membuat pria dihadapannya hanya bisa mengangguk sebagai jawaban dan itu membuat Alice terlihat begitu sedih, “Jadi kau bukan Ayahku.”

Dr. Lee manatap Alice dengan lembut dan hatinya ikut bergetar ketika mendengar suara gadis kecil itu bergetar menahan tangis. Dengan lembut pria itu menggenggam tangan mungil Alice, bibirnya tersenyum hangat, matanya yang tajam menatap mata bulat dengan sorot mata penuh kasih sayang.

“Sayang, seandainya kamu adalah putriku maka aku akan menjadi ayah yang paling beruntung dimuka bumi ini karena memiliki putri secantik dan sepintarmu. Tapi Mamahmu benar... aku bukan ayah kandungmu,” ucapnya dengan pelan membuat Alice hanya menatapnya dengan mengedip-ngedipkan matanya.

“Kau bukan Ayah kandungku?” tanyanya yang dijawab Dr. Lee dengan anggukan, “Tapi, apa kau mau jadi Ayahku? Maksudku bukan Ayah kandung, hanya Ayah,” lanjutnya membuat dokter tampan itu menatap Anna yang juga menatapnya lalu mereka berdua menatap Alice yang masih menunggu jawaban.

“Tentu saja, aku mau jadi Ayahmu,” ucapan Dr. Lee itu sukses membuat mata Alice kembali terlihat ceria.

“Mamah, kau dengar itu?” tanya Alice sambil menatap ibunya dengan senyum mengembang, “Dia mau jadi Ayahku, jadi mulai hari ini dia adalah Ayahku... benarkan Daddy?” Dr. Lee mengangguk walaupun masih terlihat bingung, “Mamah tak perlu khawatir lagi, aku telah memilih Daddy yang tampan untuk kita, dan dia seorang dokter bukan pemabuk,” lanjutnya sambil tersenyum bahagia membuat Dr. Lee mendengus tertawa sedangkan Anna hanya bisa menganga tak percaya.

*****

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

menjadikan Alice pelarianmu dr Ayumi dan memberikan ank kecil polos itu harapan palsu.. apa itu tdk terlalu kejam dr. Lee..?

2024-12-30

0

Renesme

Renesme

Ternyata sekuel Ayumi, cerita dokter vampir nih 🤩

2024-08-16

0

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

sedih banget diposisi alice dan juga anna 🥺

2024-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!