Bab 5

“Sandra, berhentilah tertawa!” seru Anna sambil menatap Sandra, istri Jared dan juga orang yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu malah tertawa dengan bahagianya ketika ia menceritakan tentang kejadian kemarin.

“Jadi, Alice tetap memanggilnya Daddy, tanpa memedulikan penjelasanmu?” tanya perempuan berambut coklat gelap itu diantara tawanya.

“Iya,” jawab Anna sambil menyandarkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di teras dan membuang napas berat.

Saat ini mereka tengah berada di rumah keluarga Jared di perkebunan anggur, sebenarnya Anna dan kedua orangtua angkatnya-pun tingga di sana, hanya Jared dan istrinya tinggal di rumah utama sedangkan mereka tinggal di rumah pegawai yang berada tak jauh dari rumah utama.

“Seharusnya aku berada di sana dan melihatnya langsung,” ujar Sandra masih dengan senyum mengembang, “Tapi ku dengar kalau pria itu sangat tampan. Apa itu benar?” lanjut Sandra sambil menatap Anna penasaran.

Anna mendengus tertawa mendengar itu, “Kau tahu darimana?”

“Cloe.” Anna kembali tersenyum, seharusnya dia tahu kalau wanita penjual bunga itu bisa sangat kreatif ketika menyebarkan berita, “Dia menelponku dan mengatakan kalau Alice menceritakan soal Daddy-nya dan melihat kalian bertiga pergi makan siang bersama. Dia bilang kalau pria itu tinggi dan sangat tampan.”

“Cloe menganggap semua pria tampan, Sandra. Dan hei... bagaimana bisa kalian bergosip tentangku di telepon!”

“Kami tidak menggosipkanmu, Anna, kami hanya berbagi informasi tentang pria tampan itu,” ucap Sandra yang membuat mereka berdua tertawa, “Jadi katakan padaku, apa dia setampan itu?”

Anna tersenyum, matanya menatap kedepan dimana Alice terlihat sedang bermain bola bersama Sean di halaman depan, hari ini Anna sengaja menutup tokonya karena merasa lelah akibat membantu Dr. Lee membereskan barang pindahannya sampai malam.

“Well, dia tinggi.” Anna tersenyum sambil kembali menatap Sandra yang ikut tersenyum, mata biru istri Jared itu terlihat antusias mendengar cerita Anna, “Hidungnya mancung.” Anna mulai menerawang kembali mengingat sosok Dr. Stevan Lee yang dipanggil Daddy oleh putrinya, “Kulitnya sangat putih, bibirnya merah, dan suaranya...” Anna kembali menatap Sandra dengan mata berbinar, “Suaranya sangat berat dan...” Anna tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan suara pria itu yang terdengar begitu menggoda di telinganya.

“Jadi dia sangat tampan dan seksi,” bisik Sandra sambil tersenyum menggoda Anna.

“Aku tak bilang kalau dia tampan dan seksi,” ucap Anna sambil membelalakan mata menatap Sandra yang tengah tersenyum menggodanya.

Sandra baru akan membuka mulutnya ketika sebuah mobil sedan berwarna silver memasuki pekarangan mereka kemudian berhenti tak jauh dari rumah utama. Seketika mereka saling pandang dengan senyum mengembang di bibir masing-masing ketika melihat pria yang jadi objek pembicaraan mereka dari tadi keluar dari mobil itu.

“Daddy... Daddy!” Seru Alice sambil berlari kearah Dr. Lee yang langsung tersenyum melihat gadis mungil itu, tanpa ragu dia langsung mengangkatnya lalu mencium pipinya yang bersemu merah.

“Daddy datang untuk menemuiku?” tanyanya dengan mata bulatnya yang berbinar, membuat pria itu kembali tersenyum.

“Sebenarnya aku ke sini untuk menemui Mr. Curtis, tapi aku senang karena bisa bertemu denganmu,” ucap Dr. Lee sambil tersenyum menatap Alice yang rambutnya panjangnya terurai dengan topi bergambar Barbie yang dia pakai terbalik.

“Maksud Daddy, Uncle Jared?”

“Iya, apa kau tahu dimana sekarang dia berada?”

“Uncle Jared sedang berada di kebun anggur, tapi Aunty Sandra ada di sana,” ucap Alice sambil menunjuk ke arah teras dimana Anna dan Sandra tengah memerhatikan mereka berdua. Dr. Lee mengangguk sambil tersenyum menatap kedua perempuan itu yang di balas anggukan dan senyuman dari keduanya.

“Sayang, kau bermain dulu dengan temanmu, aku akan menyapa Ibu dan auntymu dulu, ok?”

Alice mengangguk dengan semangat yang langsung berlari ke arah Sean setelah Dr. Lee menurunkannya. Dokter tampan itu kini berjalan ke arah sebuah rumah pertanian khas Eropa, berbeda dengan rumah-rumah di kota Ribeauville yang di cat dengan aneka warna, rumah ini memiliki warna tanah liat alami yang terlihat sangat menyatu dengan alam sekitar, halaman berumputnya sangat luas yang dibeberapa tempat ditumbuhi beberapa pohon besar yang membuatnya teduh.

“Selamat siang,” sapa Dr. Lee sambil tersenyum sopan membuat kedua perempuan itu ikut tersenyum.

“Dr. Lee, aku tak tahu kau akan datang ke sini,” ucap Anna sambil tersenyum.

“Ada yang harus aku bicarakan dengan Mr. Curtis, apa dia ada di rumah?”

“Dia akan segera pulang, sebaiknya kau tunggu dia di dalam,” Sandra menjawab pertanyaan itu dengan senyum mengembang. Sandra adalah perempuan mungil yang cantik dengan rambut coklat sebahu terlihat sangat kontras dengan mata birunya yang terlihat terang.

“Dr. Lee ini, Sandra Curtis, istri Jared Curtis... Sandra, ini Dr. Steven Lee, orang yang akan tinggal di rumah putih,” Anna mengenalkan mereka berdua yang saling berjabat tangan.

“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Dr. Lee, Alice banyak bercerita tentangmu,” ucap Sandra sambil tersenyum ramah dan mengajak pria bertubuh tinggi itu untuk masuk tapi Dr. Lee menolaknya dan lebih memilih untuk duduk di teras sambil melihat Alice yang tengah bermain dengan Sean, sedangkan Anna pamit masuk kedalam untuk membantu ibunya menyiapkan makan siang.

“Dr. Lee, apa kau sudah menikah?” tanya Sandra yang membuat pria itu mengalihkan pandangan kearahnya.

“Tidak... aku belum menikah.”

Sandra mengangguk sambil tersenyum lalu kembali menatap ke depan di mana Alice tengah berlari-lari mengejar bola bersama Sean.

“Aku dengar Alice memanggilmu, Daddy... apa itu tidak masalah untukmu?”

Dr. Lee mengangkat alisnya kemudian tersenyum sambil menggeleng, “Tidak, itu tidak akan jadi masalah untukku... dia anak yang cantik juga pinter, aku tak keberatan memiliki putri seperti dia.”

Sandra kembali mengangguk sambil tersenyum, sebelum akhirnya dia kembali bertanya, “Apa kau berencana tinggal lama di sini? Jared mengatakan kau menyewa rumah itu untuk setahun, apa itu benar?”

Dr. Lee terdiam terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu, “Iya, aku hanya menyewa rumah itu untuk setahun, tapi aku belum tahu untuk berapa lama aku akan tinggal di sini.”

Sandra mengangguk mengerti, tangannya mengelus-elus perutnya yang sudah terlihat membesar, mereka terdiam beberapa saat membuat suasan diantara mereka terasa canggung.

“Berapa bulan usia kandungannya?” tanya Dr. Lee berusaha memecahkan kecanggungan diantara mereka.

“Delapan bulan, dan itu membuatku sudah semakin susah untuk bergerak,” jawab Sandra terlihat mengeluh tapi Dr. Lee bisa melihat kebahagian yang terpancar dari matanya.

“Kau dan suamimu pasti sangat tak sabar menunggu kelahirannya.”

Sandra tersenyum lebar sambil mengangguk, “Kau benar, bahkan Jared dan Sean begitu bersemangat mempersiapkan kamar bayi.” Dr. Lee ikut tersenyum mendengar perkataan perempuan dihadapannya itu.

“Aku sangat beruntung karena memiliki suami yang selalu ada disampingku selama kehamilan ini, dia selalu mengelus punggungku atau memijat kakiku ketika aku merasa lelah, dia selalu mengingatkan untuk minum susu dan juga vitamin, dia bahkan rela pergi membeli makanan kesukaanku demi melihatku makan, dan dengan sabar berada disampingku disaat aku muntah-muntah di pagi hari.”

Dr. Lee ikut tersenyum mendengar perkataan Sandra, dia bisa melihat kalau mereka adalah sepasang suami istri yang saling mencintai. Seandainya Ayumi mengandung anaknya, ia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Jared kepada istrinya. Karena itulah cinta, tapi semua itu hanya khayalan baginya saja tak untuk jadi nyata.

“Tapi Anna kurang beruntung, karena dia harus melewati masa-masa sulit itu sendirian.” Dr. Lee terlihat kaget mendengar perkataan Sandra yang terlihat sedih, “Anna, dia masih sangat muda ketika mengandung Alice, disaat seharusnya ia merasakan indahnya masa remaja ia sudah merasakan pahitnya kehidupan.”

Sandra terlihat menerawang kembali mengingat Anna yang baru berusia 18 tahun datang bersama Paul dalam keadaan terguncang dan juga tengah mengandung, jauh dari keluarga dan saudara yang mendukung dan memberinya kasih sayang. Yang ada disampingnya saat itu hanya orang-orang asing yang baru ia temui dan itu membuatnya semakin tertekan.

“Tapi dia bukan gadis cengeng yang akan menyerah begitu saja, dia berhasil melawati semuanya dengan sangat baik... kita bisa melihatnya dari keberhasilannya membesarkan Alice seorang diri yang tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar dan menyenangkan, semua orang akan jatuh cinta pada gadis mungil itu,” ucap Sandra sambil tersenyum menatap Alice yang terdengar tertawa bahagia bersama Sean.

“Bagi Anna, Alice adalah sumber kebahagian dan kehidupannya... jadi Dr. Lee, aku mohon jangan membuat anak itu sedih dengan memberinya harapan terlalu tinggi dan membuatnya berpikir kalau kau tak akan meninggalkannya sedangkan suatu hari nanti dia akan mengetahui kalau kau pun akan pergi meninggalkannya dan Anna seperti ayah kandungnya.”

Dr. Lee terlihat tertegun mendengar ucapan Sandra, dia tak berpikir sampai sana yang dia pikirkan hanya saat ini. Anna secara tersirat telah mengatakan hal yang sama kemarin tapi dia dengan mudahnya menyetujui gadis berumur lima tahun itu ketika memintanya menjadi ayah gadis kecil itu, seharusnya ia berpikir panjang sebelum menjawab permintaanya.

“Alice, selalu merindukan sosok seorang Ayah dan entah kenapa dia melihatnya darimu, sedangkan selama ini ada beberapa pria yang berusaha mendekatinya untuk mendekati Anna tapi anak itu selalu memberi jarak bahkan penolakan secara terang-terangan. Tapi denganmu berbeda, aku bisa melihat senyum bahagianya tadi ketika berlari kearahmu sambil memanggilmu Daddy, dan aku hampir saja menangis ketika melihat bagaimana kau menatap dan menggendongnya. Aku tak meragukan kasih sayangmu untuknya, Dr. Lee, dan untuk itu aku mengucapkan terimakasih.”

Sandra tersenyum dengan tulus sebelum ia melanjutkan ucapannya, “Aku tak akan melarangmu untuk menyayangi Alice, hanya saja seperti aku bilang tadi jangan biarkan anak itu bermimpi terlalu tinggi kalau kau akan tinggal di sampingnya untuk selamanya, dia masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya dan terlalu kecil untuk kembali terluka karena ditinggalkan sosok seorang ayah.”

Dr. Lee terlihat terdiam beberapa saat kemudian mengangguk mengerti yang mendapat senyuman dari Sandra.

“Sepertinya aku tahu kenapa Alice memilihmu menjadi Ayahnya.”

Dr. Lee mengangkat alisnya terlihat bingung dengan perubahan percakapan mereka yang tiba-tiba karena kini Sandra terlihat kembali santai tak seserius tadi, “Apa itu?” tanyanya penasaran.

“Kau tahu kalau anak-anak bisa melihat ke dalam jiwa seseorang?” tanya Sandra yang membuat Dr. Lee tersenyum sambil menggeleng.

“Oh percayalah kalau itu memang benar, “ ucap Sandra sambil tertawa ketika melihat wajah pria tak percaya dihadapannya, “Anak-anak bisa mengetahui apa orang itu tulus menyayanginya atau tidak, bahkan anak-anak bisa mengetahui apa orang itu baik apa tidak... dan Alice bisa melihat ketulusan dari dirimu, dia juga tahu kalau kau adalah orang baik.”

Dr. Lee kembali tertegun mendengar ucapan Sandra, sebelum akhirnya dia berkata, “Aku bukan orang baik, percayalah.” Dia telah menyakiti perempuan yang sangat ia cintai, jadi bagaimana bisa ia disebut orang baik? Dr. Lee berkata dalam hati.

Sandra memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum, “Aku percaya kepada Alice, dia tak akan mengakui orang asing yang baru ditemuinya sebagai ayahnya kalau orang itu bukan orang baik,” ucap Sandra sambil tersenyum lebar.

Mereka kini mengalihkan pandangan ke arah pekarangan dimana sebuah mobil pick up putih baru saja datang dan berhenti disamping mobil Dr. Lee. Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar dengan kulit kecoklatan yang menandakan kalau pria itu adalah seorang pekerja keras yang bekerja di bawah terik matahari keluar dari mobil itu, senyumnya mengembang ramah ketika menatap mereka berdua, rambutnya sedikit gondrong hingga hampir menyentuh bahu.

“Apa kau sudah menunggu lama? Maafkan aku sedikit terlambat, ada yang harus aku selesaikan dulu di pabrik,” ujar Jared sambil menyalami Dr. Lee dan tersenyum ramah.

“Baiklah karena suamiku sekarang sudah datang, sebaiknya sekarang aku menyusul Anna ke dapur... Dr. Lee anda harus ikut makan siang bersama kami... aku tak menerima penolakan, apalagi dari ayahnya Alice,” ucap Sandra syang membuat pria itu tersenyum lalu menyetujui undangan makan siang itu.

Dr. Lee dan Jared masuk ke dalam ruang kerja Jared dan membicarakan tentang sewa rumah putih yang belum sempat mereka selesaikan, sampai akhirnya Sandra datang dan mengatakan kalau makan siang telah siap, dan di sinilah mereka saat ini berada di depan meja makan keluarga Curtis yang telah diatasnya dihidangkan berbagai macam hidangan istimewa layaknya sebuah pesta penyambutan tamu agung, rupanya bukan hanya Dr. Lee yang terkejut melihat itu ternyata sang tuan rumah-pun dibuat menganga melihat makan yang tumpah ruah itu.

“Mamah Sri, bilang kalau dia memasak ini semua untuk calon menantunya,” bisik Sandra kepada suaminya setelah melihat pria itu hanya mematung di depan meja makan. Mendengar itu Jared harus menahan tawanya sambil menggelengkan kepala.

“Kalian duduklah, kenapa hanya berdiri seperti itu?” suara perempuan yang baru saja keluar dari arah dapur membuat semuanya langsung duduk di kursi masing-masing. Perempuan paruh baya dengan rambut hitam yang digulung keatas dan apron yang masih menempel menutupi rok bunga-bunga merahnya, ia kini meletakan sebuah mangkuk besar salad sayuran di atas meja.

“Sepertinya siang ini kita akan makan besar,” ucap Jared sambil tersenyum menatap perempuan yang ia anggap sebagai pengganti ibunya yang telah tiada itu.

“Tentu saja, Nak, bukankah kita kedatangan tamu istimewa hari ini,” ujar Mamah Sri sambil menatap Dr. Lee dengan senyum lebar, “Jadi, kau adalah Ayahnya Alice? Malaikat kecil itu tak berhenti-hentinya bercerita tentangmu semalaman, dan aku senang akhirnya kita bertemu.”

Dr. Lee berdiri untuk menyambut uluran perempuan ramah yang Jared kenalkan sebagai neneknya Alice itu. Ia baru akan kembali duduk ketika terdengar celotehan Alice dan Sean yang langsung membuatnya tersenyum sambil menatap ke arah pintu masuk dimana Alice dan Sean baru saja masuk di susul oleh Anna di belakang mereka yang hari ini mengenakan celana pendek dan kaos layaknya anak muda, yang membuatnya terlihat seperti kakak tertua Alice daripada sebagai ibunya.

“Kalian cepatlah duduk, mereka sudah menunggu daritadi,” ujar Mamah Sri yang membuat ketiganya langsung duduk, Alice langsung memilih duduk di samping Dr. Lee dan Anna mau tak mau duduk disebelahnya, Sandra dan Sean duduk di hadapan mereka dan Jared duduk di kursi kepala keluarga seperti biasanya.

“Mamah, kau tidak ikut makan bersama kami?” tanya Anna setelah melihat ibu angkatnya itu hanya berdiri.

“Tidak, aku harus mengantarkan makan siang untuk Papahmu dan aku akan makan siang bersamanya... kalian makanlah yang banyak,” ucapnya sambil tersenyum, “Dan, Nak, aku telah menyiapkan makanan untuk kau bawa pulang nanti... Anna, pastikan dia membawanya, ok?” lanjutnya sambil menatap Dr. Lee yang terlihat kaget mendapat keramah tamahan seperti itu dari orang yang baru ditemuinya.

“Kau tak usah kaget melihat ibuku, dia memang seperti itu... dia akan menganggap semua orang sebagai anaknya, apalagi orang seperti kita yang jauh dari keluarga maka dia akan berperan sebagai induk ayam yang melindungi anak-anaknya,” ujar Anna menjelaskan tentang sikap ibu angkatnya yang sangat ramah dan membuat Dr. Lee tersenyum menatapnya, sebelum akhirnya mereka pun larut dalam makanan siang, sesekali mereka akan menimpali celetukan Alice dan Sean yang terlihat antusias karena makan siang kali ini sangat banyak.

“Daddy apa kau tahu, kata Sean, di dalam perut Aunty, ada bayi... adiknya Sean.” Alice berkata dengan mulut penuh makanan yang membuat Dr. Lee menatap kearahnya.

“Aku tahu,” jawab Dr. Lee sambil tersenyum melihat Alice yang sangat menggemaskan.

“Dan sebentar lagi, adikku akan lahir,” ucap Sean dengan semangat.

“Benarkah?” tanya Alice dengan mata berbinar yang dijawab Sean dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan sup. Alice terdiam beberapa saat dia hanya mengaduk-aduk supnya tak memakannya sampai akhirnya ia menatap Dr. Lee dengan serius.

“Daddy... aku ingin adik bayi!”

Seketika Dr. Lee terbatuk-batuk karena tersedak makanan mendengar permintaan gadis kecil yang memanggilnya Daddy itu, Anna, Sandra dan Jared hampir menyemburkan makanan mereka, “Adik bayi seperti punya Sean, bolehkan Daddy?” lanjut Alice sambil mengedip-ngedipkan matanya tak menghiraukan reaksi dari orang-orang dewasa disekitarnya.

“Alice!” seru Anna setelah dia bisa menguasai diri membuat Alice menatapnya.

“Aunty Sandra bilang di dalam tubuhnya ada adik bayi karena Uncle Jared nakal padanya,” ucap Alice sambil menatap ibunya yang menganga tak percaya, gadis kecil itu kini kembali menatap Dr. Lee yang maih belum pulih dari keterkejutannya, “Daddy, tak bisakah Daddy nakal pada Mamah Anna, supaya aku bisa mempunyai adik bayi?”

Dr. Lee membelalakan matanya tak percaya mendengar pertanyaan Alice, dia mengalihkan pandangannya ke arah Anna yang langsung menatap Sandra yang sudah tertawa terbahak-bahak dengan pandangan galak, begitu juga dengan Jared yang sudah tak bisa menahan tawanya lagi, sedangakan Sean dan Alice terlihat bingung melihat reaksi orang dewasa di sekitar mereka.

*****

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

bukan salah Alice tp Sandra yg telah meracuni otak polosnya... bukankah ank kecil itu pengingat yg handal..?

2024-12-30

0

🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka

🔴 Kⁱᵃⁿᵈ⏤͟͟͞Rą 🈂️irka

astagaaa 🤣🤣🤣🤣🤣

2024-10-02

1

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

🤣🤣🤣 berhadapan dengan anak kecil semua dianggap serius...giliran serius dianggap bercanda

2024-02-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!