Preman yang tangannya patah merasa ketakutan ketika melihat kedua temannya terkapar, dia buru-buru pergi meninggalkan tempat itu sebelum Zero melakukan hal yang sama terhadapnya.
"Tunggu!" hardik Zero.
Preman itu berhenti tanpa berani menoleh ke belakang, dia berharap Zero membiarkan dirinya pergi.
"Kamu harus ingat! Jangan coba mengambil keuntungan lagi dari mereka. Jika suatu hari aku melihatmu masih melakukan hal itu, jangan salahkan, jika aku akan menghabisi kalian. Sampaikan hal ini kepada kedua temanmu, jika mereka sadar nanti. Sekarang kamu boleh pergi dan ini biaya untuk mengobati tanganmu." ancam Zero sambil memberikan uangnya yang telah dia ambil kembali dari preman yang telah merampas tasnya tadi.
Setelah mengatakan hal itu, Zero segera merogoh kantong preman yang terkapar, mengambil uang setoran dan membagikannya kembali kepada para pengemis, pengamen serta pedagang asongan yang tadi dimintai setoran oleh ketiga preman tersebut.
Sementara preman yang tangannya patah menggunakan kesempatan itu untuk pergi, berlari terbirit-birit, takut jika Zero berubah pikiran.
Orang-orang bersorak, mengelukan Zero dan mengucapkan terimakasih serta membantu memasukkan kembali barang hasil mulung yang berserakan ke dalam karung.
Zero juga mengucapkan terimakasih, lalu dia mengambil karung, tas dan pakaian yang telah dibuang oleh preman tadi dan pergi meninggalkan tempat itu sebelum pihak keamanan datang.
Zero berjalan kembali ke tempat di mana Bang Togar tadi bekerja, tapi sebelumnya dia singgah ke sebuah warung nasi. Zero membeli dua bungkus nasi ramas dengan lauk ikan bakar, rencananya satu bungkus akan dia berikan kepada Bang Togar.
Sesampainya Zero di tempat yang telah dijanjikan oleh Bang Togar, ternyata Zero melihat dari seberang jalan, Bang Togar belum menyelesaikan pekerjaannya.
Peluh meleleh di dahi Bang Togar, membuat Zero merasa iba, kenapa Bang Togar memilih melakukan pekerjaan berat seperti itu dengan Bos yang kurang pengertian.
Zero melihat dan mendengar, Bang Togar kena damprat lagi oleh bosnya. Bos bang Togar mengatakan pekerjaannya kurang beres dan tidak selesai tepat waktu.
"Kasihan Bang Togar, jika dia masih dengan pekerjaannya yang lama, Bos tersebut pasti sudah ditindak dan mungkin tidak akan berani walau hanya sekedar menengadahkan wajahnya untuk menatap Bang Togar," monolog Zero.
Zero pun menunggu Bang Togar menyelesaikan tugasnya sambil duduk di emperan sebuah toko. Melihat Bang Togar yang sudah menyeberang jalan, Zero pun melambaikan tangannya sambil berteriak, "Bang aku di sini!"
Togar yang mendengar suara teriakan dari Zero segera menoleh, lalu menuju ke arah di mana Zero sedang duduk.
"Sudah dari tadi nungguin Abang, Dek?"
"Nggak kok Bang, aku juga baru saja sampai. Ini bang!" ucap Zero sambil memberikan sebungkus nasi yang tadi di belinya.
"Abang jadi Menyusahkanmu Dek, tadi istri Abang mau membawakan bontot, tapi karena belum pasti dapat pekerjaan, jadi Abang tolak. Besok baru Abang bawa bontot agar bisa berhemat."
"Bang...apa pekerjaan tadi itu, tidak terlalu berat, aku lihat Abang sendirian saja mengangkat gula bersak-sak, belum lagi sikap Bos Abang sangat tidak bersahabat."
"Nggak apa-apa Dek, ketimbang Abang bekerja dengan Bang Beni, mungkin di sini Abang lebih mendapatkan keberkahan sekaligus menggugurkan kesalahan-kesalahan Abang di masa lalu. Abang jadi tahu bagaimana rasanya di bentak dan kurang di hargai orang. Abang ikhlas kok Dek. Mudah-mudahan lama kelamaan Bos Abang nantinya bisa bersikap lebih baik."
"Aamiin, ayo Bang kita makan dulu, ini minum Abang."
"Makasih ya Dek."
Merekapun makan dengan lahap, hingga tidak bersisa sedikitpun, setelah itu Zero pun pamit kepada Bang Togar untuk mengerjakan ibadah.
Bang Togar yang memang berbeda aqidah dengan Zero, hanya menunggu di luar hingga Zero selesai.
Mereka sejenak mengobrol sebelum Togar kembali bekerja. "Bang, aku penasaran lho, bagaimana kabar Bang Beni serta kawan-kawannya sekarang. Apa dia masih malakin orang juga?"
"Abang dengar, mereka masuk rumah sakit setelah kemaren kamu pukuli Dek. Tapi Abang belum berani menjenguknya, pasti Bang Beni sangat marah terhadap Abang."
"Soalnya tadi di jalan perbatasan, aku sempat berkelahi Bang dengan tiga orang preman yang sedang mengutip setoran kepada pengemis dan pengamen dan pedagang asongan. Aku marah karena melihat mereka meminta secara paksa. Aku pikir mereka salah satu dari anggota Bang Beni juga."
"Bukan Dek, mereka punya Bos sendiri, bahkan Bos mereka lebih kejam dari Bang Beni. Sebenarnya kami mengutip setoran juga bukan untuk kepentingan pribadi kami sendiri, melainkan harus setor lagi kepada seseorang di atas Bang Beni. Namun kami tidak ada yang tahu siapa dan bagaimana rupa orang misterius itu termasuk Bang Beni. Dia tidak pernah menampakkan wajah tapi kaki tangannya ada dimana-mana siap menjalankan perintahnya."
"Kenapa tidak ada yang berani melawan atau bertindak Bang? kompak gitu, tidak usah menjalankan perintah darinya?"
"Ancamannya kematian Dek, siapa juga yang berani, semua kepingin hidup tenang dan aman bersama keluarga. Dulu ada yang pernah coba melawan, tapi pagi hari di temukan sudah tidak bernyawa beserta seluruh keluarganya," ucap Bang Togar sembari celingukan seperti maling yang takut ketahuan.
Bang Togar takut jika ada yang mendengar percakapan mereka, lalu diapun berkata, "Sudah dulu ya Dek, Abang harus kembali bekerja, Abang tidak mau kena pecat karena susah cari pekerjaan halal sekarang," ucap Bang Togar seraya berdiri menepuk pundak Zero dan berlalu pergi meninggalkannya.
Zero terdiam, begitu besar dan kuat ternyata jaringan di balik pengutipan setoran. Zero merasa penasaran, dia ingin mengetahui lebih dalam lagi, siapa sih orang misterius dan kuat di balik ini semua.
Kemudian Zero bangkit, sambil berkata, "Kerja dulu dah, ntar pelan-pelan aku akan mencari tahu lagi," ucapnya sambil berdiri memanggul kembali karungnya sambil terus berjalan menyusuri tempat-tempat sampah yang ada di sana.
Saat jam menunjukkan pukul tiga sore, Zero bersiap pulang tapi sebelumnya dia akan singgah dulu ke rumah Ahmad untuk melihat kondisi ibunya Ahmad.
Zero terus berjalan, sampai dia menemukan angkot yang menuju ke arah rumah Ahmad. Dalam perjalanan Zero terus berpikir bagaimana cara menuntaskan masalah pengutipan setoran yang meresahkan semua orang.
Dia juga memikirkan nasib Ahmad dan Bang Togar, karena keselamatan keduanya bisa juga terancam. Mereka berdua pasti akan di cari oleh Bang Beni beserta antek-anteknya.
Zero sudah tiba di gang menuju rumah Ahmad, kemudian dia berjalan menyusuri gang tersebut sambil mengambil botol minuman yang tergeletak di jalan.
Saat Zero sedang mengais botol yang ada di parit, dia mendengar suara seseorang menyapa, "Dek...ayo ikut Bapak ke rumah! Bapak memiliki banyak barang yang sudah tidak terpakai."
Zero pun menoleh ke asal suara, dia melihat seorang pria tua sedang tersenyum ke arahnya.
"Alhamdulillah, terimakasih Pak atas tawarannya. Memangnya rumah Bapak di mana?"
"Tidak jauh kok Nak, masih di sekitar sini, ayolah ikut Bapak," ucap pria tua itu seraya berjalan ke arah rumahnya.
Kemudian Zero mengikuti langkah pria tua itu hingga berhenti di sebuah rumah besar berpagar besi dengan ukiran yang sangat indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Mulatua azman Ritonga
🤣🤣🤣🤣 pahlawan kesiangan Thor , ga mutu ceritamu ,,,
2023-11-02
1
Dian Dian
terlalu lmbat Thor,,,jd kurang seru critax
2023-04-07
0
Dian Dian
terlalu lmbat Thor,,,jd kurang seru critax
2023-04-07
0