"Kita sudah sampai Kak, itu gang menuju rumahku," ucap Ahmad saat turun dari angkot.
"Lantas, di mana rumah dokter yang akan kita datangi Mad?"
"Itu Kak! lima ruko dari sini."
Zero dan Ahmad langsung menuju ke rumah dokter yang di maksud oleh Ahmad, yang akan mereka mintai tolong datang ke rumah untuk mengobati ibu dan adiknya Ahmad.
Setelah meminta tolong ke Sang Dokter dan beliau setuju, mereka bertiga bergegas menuju rumah Ahmad. Zero memperhatikan jam di ponsel jadulnya, hanya tinggal 30 menit waktu untuk menghabiskan dana hadiahnya agar tidak mendapatkan hukuman.
Ketika mereka sampai, ternyata Ibu sedang merangkak ke arah pintu, beliau cemas memikirkan Ahmad yang belum juga kembali. Ibu berencana ingin menanyakan dan meminta tolong kepada tetangga, untuk mencari Ahmad.
"Alhamdulillah, ucap Ibu saat melihat Ahmad kembali dengan selamat."
"Ibu sempat khawatir Mad, kenapa sudah sore kamu belum juga kembali. Syukur deh, kamu sudah sampai rumah. Tapi kenapa pipi dan lututmu bisa terluka dan itu siapa Mad? Kenapa juga ada Pak Dokter?" tanya Ibu beruntun karena penasaran.
Sebentar Bu, nanti Ahmad jelaskan. Ayo Dok, Kak Zero...silahkan masuk, kenalkan ini Ibu dan itu yang lagi duduk di pojok ruangan adalah adikku, saat ini dia sedang demam.
Zero dan Pak Dokter pun masuk lalu duduk di tikar pandan usang yang di gelar oleh Ahmad. Zero prihatin melihat kondisi rumah Ahmad yang hanya berlantai tanah, berdinding tepas yang di tempelin koran-koran bekas serta beratapkan anyaman daun rumbia yang sudah mulai lapuk.
Dengan menghela napas berat, Zero berpikir, ternyata kehidupan Ahmad lebih memprihatinkan dari kehidupannya.
Bukan hanya mendapatkan cobaan cacat tubuh, tapi juga kondisi ekonomi dan kesehatan keluarga yang mengenaskan hingga mengharuskan Ahmad untuk menjadi tulang punggung keluarga di usianya yang sekecil ini.
Hal ini membuat Zero bertekad, jika suatu saat rezekinya terus membaik, dia ingin merangkul teman-teman yang membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Dalam ketermenungannya, Zero di kejutkan oleh suara adiknya Ahmad yang menyodorkan nampan berisi dua gelas air mineral.
"Kak, Pak Dokter...silahkan diminum! Hanya ini yang bisa kami suguhkan," ucap adik Ahmad dengan malu.
"Terimakasih Dek, ini sudah lebih dari cukup. Kebetulan, aku juga sedang haus. Aku minum ya Dek, Mad?" ucap Zero sambil meneguk air minum suguhan adik Ahmad.
Setelah meneguk minumannya, Zero pun bertanya kepada Pak Dokter, "Bagaimana Dok, kira-kira berapa lama ya, kaki ibunya Ahmad bisa di sembuhkan?"
"Sebentar ya Dek, ini saya bersihkan dulu lukanya yang telah infeksi, baru setelah itu saya akan memberikan obat minum juga obat olesnya agar lukanya mengering. Memang sih, penanganannya cukup terlambat hingga lukanya hampir membusuk, tapi saya akan coba, mudah-mudahan tidak perlu di rujuk untuk perawatan ke rumah sakit," ucap Dokter yang berusaha menjelaskan kondisi kaki ibu Ahmad sebenarnya.
"Tolong ya Dok, jangan sampai saya di rawat di rumah sakit. Maklum Dok, selama saya sakit, kami bergantung hidup kepada Ahmad. Jadi darimana Ahmad bisa mendapatkan uang yang banyak untuk perawatan saya dan juga biaya hidup kami. Aku tidak mau menyusahkan Ahmad lagi Dok," ucap Ibu sedih.
"Saya usahakan ya Bu, kita lihat tiga hari ke depan setelah Ibu konsumsi obat ini, jika nanti lukanya mengering berarti ibu tidak perlu di rawat di rumah sakit, tapi jika semakin memburuk, mau tidak mau harus ke rumah sakit, takutnya infeksinya terus menjalar dan kaki ibu bakal diamputasi."
"Astaghfirullah Dok, jangan sampai. Beban Ahmad sudah berat, bagaimana jika sampai kaki saya diamputasi, seumur hidup bakal menyusahkan anak, lebih baik aku mati jika begitu Dok!"
"Jangan ngomong gitu Bu, Ibu tidak pernah menyusahkan Ahmad, ini hanya cobaan untukku. Sebagai anak laki-laki, aku harus belajar memikul tanggungjawab," ucap Ahmad sambil mendekati ibunya, untuk memberikan semangat.
"Iya Bu, apa yang dikatakan oleh Ahmad memang benar. Kita lihat saja Ahmad, walaupun dengan kondisinya yang seperti itu tapi dia tetap semangat berdagang, dia ingin membuat hidupnya berarti bagi orang-orang yang disayanginya. Ibu harus optimis untuk sembuh demi mereka," ucap Zero sambil menunjuk ke arah Ahmad dan adiknya.
"Insya Allah, kita berdo'a. Mudah-mudahan Ibu cepat sembuh," ucap Pak Dokter yang sudah selesai mengobati luka di kaki ibu.
Ahmad pun meminta tolong kepada adik untuk mengambilkan sebaskom air dan juga serbet, agar dokter bisa membersihkan tangannya setelah mengobati luka di kaki ibu.
Setelah dokter membasuh tangannya lalu kini giliran memeriksa adik, ternyata adik hanya demam biasa karena flu.
"Oh ya Dok, tolong sekalian bersihkan lukanya Ahmad ya Dok?" ucap Zero.
"Memangnya Ahmad kenapa Nak, kok bisa sampai terluka begitu?" tanya ibu kepada Zero.
"Tadi Ahmad jatuh Bu, saat berlari menghindari laju angkot yang hampir menyerempetnya. Jadi, pipi dan lututnya luka, karena tergores aspal," jawab Zero yang berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya agar Ibu Ahmad tidak khawatir.
Ahmad tersenyum simpul, dia berterimakasih karena Zero tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya.
Dokter sudah selesai dengan tugasnya, lalu beliau pamit pulang. Sebelum beliau beranjak, Zero menanyakan berapa biaya yang musti mereka bayar.
Karena melihat kondisi keluarga Ahmad, Pak Dokter pun merasa iba, lalu beliau berkata, "Dua ratus ribu Dek, untuk biaya obat saja."
"Terimakasih Dok," ucap Ahmad dan Zero berbarengan. Mereka tidak menyangka jika dokter memberikan tarip yang murah untuk biaya perobatan tiga orang.
Ibu memperhatikan Ahmad, walaupun biayanya cukup murah, tapi yang pasti beliau tahu, Ahmad tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu.
Ahmad tahu jika ibunya resah, lalu dia mendekat dan berkata, "Ibu jangan khawatir, Kak Zero bersedia membantu biaya perobatan kita Bu."
Zero tersenyum mendengar ucapan Ahmad, kemudian dia membuka tasnya, menarik dua lembar uang dari ikatan dan memberikan kepada Dokter sembari kembali berterimakasih.
Pak Dokter pun pamit, lalu setelah Dokter pergi, Zero mengeluarkan sisa uang hadiah senilai Rp. 1.800.000,- dari dalam tasnya dan memberikan kepada Ibu untuk biaya kebutuhan mereka selama ibu sakit.
"Bu, terimalah ini, untuk biaya pengobatan selanjutnya dan juga untuk kebutuhan yang lain."
Ibu dan Ahmad sangat terkejut, melihat Zero memberikan uang ratusan yang begitu banyak, selama ini mereka belum pernah memegang uang sebanyak itu.
"Banyak sekali Nak? kami sudah sangat berterimakasih, Nak Zero telah membayar biaya perobatan tadi, jadi Ibu tidak bisa menerima uang ini lagi. Sebaiknya simpan saja untuk kebutuhan Nak Zero."
"Iya Kak...kakak sudah terlalu baik kepada kami jadi kami tidak ingin menyusahkan Kakak lagi. Oh ya Buk, inilah Kakak yang pernah Ahmad ceritakan ke Ibu, yang telah memberi uang hingga Ahmad bisa pulang membeli nasi untuk kita makan."
"Oh...ternyata kamu orang yang baik itu Nak, sekali lagi ibu ucapkan terimakasih."
"Sama-sama Bu, kita hidup harus saling tolong menolong. Saat ini Zero menolong keluarga Ibu, ada masanya pasti suatu saat, Zero juga membutuhkan pertolongan orang lain. Oh ya Buk, uang ini harus Ibu terima, alhamdulillah rezeki Zero sedang lumayan jadi ingin berbagi kepada Ahmad dan Ibu."
Ibu menangis, beliau menjunjung uang pemberian dari Zero sambil berkata, "Terimakasih Nak, Ibu do'a kan semoga rezekimu lancar terus dan suatu saat kamu jadi orang sukses."
"Aamiin..." ucap Zero, Ahmad dan juga adik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Alladien Kazama
Mantabbbb 👍👍👍
2024-06-30
0
PHOENIX UNGU
selalu bersyukur Alhamdulillah saling bantu
2023-11-17
1
PHOENIX UNGU
kk Thor ,Ahmad tangannya dua dua buntung apa cuma sebelah
2023-11-17
0