'Aku harus segera menyusul emak, kasihan Mang Adi jika kelamaan di sana, beliau-kan masih bisa mencari penumpang lagi,' batin Zero.
Zero pun berlari ke belakang rumah, mengambil karung mulung yang biasa dia gunakan. Zero selalu menyimpan karungnya itu di dalam kandang ayam yang sudah tidak di gunakan lagi oleh emak sejak beliau sakit.
"Aman," ucap Zero ketika melihat karungnya tidak terendam air.
Kemudian dia menyandang karungnya menyusuri jalan menuju klinik di kampung sebelah. Zero tidak menyia-nyiakan kesempatan, setiap melihat barang bekas yang laku di jual, dia selalu mengambilnya dan segera memasukkannya ke dalam karung.
Terkadang Zero juga tidak segan, turun ke dalam parit untuk sekedar mengambil botol minuman cup yang terapung di dalam air.
"Hai Zero!" sapa Dede, salah satu teman mulungnya.
"Hai De, wah...sudah dapat banyak ya De?"
"Iya Ro, soalnya tadi malam ada yang pesta di kampung sebelah, jadi selepas subuh, aku langsung kesana. Banyak sekali botol cup minuman berserakan, dan kata pemilik rumah aku boleh mengambilnya."
"Sepertinya kamu kuwalahan De, untuk membawanya pulang? sini sebagian biar aku yang bawakan."
"Apa tidak merepotkan Ro?"
"Nggak kok De," ucap Zero sambil membawakan karung Dede.
Saat tiba di rumah Dede, dia melihat begitu ramai tetangga berkumpul di sana, "De... kenapa ramai sekali di rumahmu?"
"Iya Ro, akupun tidak tahu ada apa."
Dede segera meletakkan karungnya, dia menerobos masuk di sela kerumunan para tetangga. Dede terkejut melihat ibunya sedang menangis mendekap seseorang.
"Ada apa Bu?" tanya Dede.
"Ayah kamu pingsan De, setelah muntah darah," jawab emak Dede sembari terisak.
Zero pun yang tidak kalah penasaran ikut menerobos masuk, tubuhnya yang kerdil, memudahkan dirinya sampai ke dalam.
"De...kenapa ayahmu?"
"Ayahku pingsan Ro, tadi beliau muntah darah."
"Kenapa tidak di bawa ke klinik De?"
Dede dan ibunya terdiam, mereka sebenarnya ingin membawa ayah Dede ke klinik tapi tidak punya uang, sedangkan hasil mulungnya hari ini belum dia jual.
Zero paham dengan Dede yang tidak menjawab pertanyaannya, lalu dia merogoh kantong, memberikan dua lembar uang ratusan ke tangan Dede, "Pergilah De, bawa ayahmu berobat, ini ada sedikit uang, mudah-mudahan berguna dan bisa membantu kalian. Aku permisi dulu ya De, emak sudah terlalu lama menungguku."
"Terimakasih Ro, semoga Allah balas kebaikanmu. " ucap Dede.
Ibu Dede pun mengucapkan terimakasih kepada Zero.
Zero kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke klinik, saat dia melihat seorang wanita membuang pecahan ember ke tempat sampah, Zero segera mendekatinya sambil berkata, "Tante ini boleh aku ambil?"
"Oh silahkan Dek!" itu di dalam juga masih ada lho, jika adek mau sebentar Tante ambilkan."
"Terimakasih Tante, aku mau. Aku tunggu di sini ya Tan?"
Wanita itupun mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Alhamdulillah, rezeki ku Engkau ganti ya Allah."
Wanita paruh baya itupun keluar dengan membawa seterika dan radio bekas yang tidak pernah dipakainya lagi. "Ini dek, buat kamu saja! jika masih bisa di pakai ya syukur, jika tidak loakkan saja ya."
"Terimakasih Tante, semoga rezeki Tante lancar dan keluarga Tante mendapatkan keberkahan."
"Aamiin... terimakasih ya Dek atas do'anya."
Setelah memasukkan barang-barang itu ke dalam karung, Zero pun pamit. Dia kembali berjalan dan Zero terkejut saat melihat becak menghalangi jalan. "Lho, itu kan Mang Adi sama emak? kenapa mereka tidak ke klinik? Ada apa ya dengan becak Mang Adi?" monolog Zero
Zero pun berlari ke arah mereka, "Ada apa dengan becaknya Mang?"
"Maaf Ro, Mamang belum mengantar ibumu, itu coba lihat, "becak Mamang mogok, mana Mamang nggak bawa duit dan baru emak penumpang Mamang."
"Coba pinjam kuncinya Mang, barangkali Zero bisa bantu."
Zero segera mencoba menghidupkan betor, tapi tidak bisa, lalu dia meminta obeng kepada Mang Adi dan mengotak-atik bagian mesinnya, ternyata ada kabel yang terlepas.
Kembali Zero menstarter, eh... akhirnya betor itupun bisa hidup. "Alhamdulillah," ucap Mang Adi.
Jika tidak bisa hidup, Mang Adi tidak tahu lagi harus bagaimana, jangankan untuk biaya kebengkel, untuk membeli kebutuhan makan siang saja, sang istri dan kedua anaknya saat ini sedang menunggunya pulang membawa uang barulah bisa belanja.
Memang selama corona, ekonomi masyarakat sangatlah parah, hampir semua lapisan masyarakat terkena dampaknya. Baik dampak kesehatan maupun dampak ekonomi.
Mang Adi yang melihat betornya bisa hidup kembali merasa senang, dia bakalan bisa mendapatkan sisa upah dari Zero.
"Terimakasih Ro, kamu hebat juga ya! ternyata kamu punya bakat mekanik, "ucap Mang Adi.
"Karena biasa kotak-katik saja kok Mang," ucap Zero.
"Ya sudah Mang, lanjut antarkan emak ya! kasihan jika emak harus berjalan. Aku jalan saja sambil mulung, 'kan lumayan buat tambahan."
"Baik Zero, ayo buk kita lanjutkan ke klinik."
Emak pun kembali masuk ke dalam Betor, lalu beliau berkata, "Zero...emak duluan ya! kamu jangan lupa langsung susul emak.
"Sip Mak, Zero anak emak ini pasti cepat sampai ke klinik."
"Ayo Zero!" ucap Mang Adi.
"Hati-hati ya Mang, takutnya ntar belum sampai klinik mogok lagi."
Saat Zero hendak beranjak dan melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba ponsel jadulnya berdenting.
[Ting!]
[[SELAMAT !!! Pemilik berhasil menyelesaikan sebagian misi, saldo berhasil ditambahkan ke rekening senilai Rp.1.000.000,- sisa saldo Rp.1.065.000,- (Cek saldo rekening pemilik) + mendapatkan tambahan Poin 1 untuk setiap level (Silahkan cek level)]]
Ponsel jadul itupun kembali ke mode gelap, hal ini membuat Zero takut dan bingung, kenapa dia tidak mendapatkan dana tunai seperti yang sistem janjikan. Bagaimana dia akan membayar Mang Adi dan juga biaya pengobatan ibu, sementara uang tunai yang baru tadi dia ambil dari bank hanya bersisa Rp.100.000,-
Kembali Zero berpikir apakah dia harus balik lagi ke bank untuk mengambil uang, tapi sangatlah repot dan emak serta Mang Adi pasti kelamaan menunggunya.
Zero membolak-balikkan ponsel jadulnya, dia berpikir mungkin ponselnya itu yang sedang rusak hingga sistem tidak bekerja secara maksimal.
Saat dia asyik mengotak-atik, Zero terkejut, ponsel itu kembali menyala dan bersuara,
[Ting!]
[[Maaf atas ketidak nyamanan Pemilik, ada gangguan jaringan terhadap sistem, tunggu sesaat lagi, sistem sedang kembali mengakses data]]
Ponsel jadul itupun kembali mati, tapi hanya sepuluh detik, benda pipih itupun kembali bercahaya dan bersuara,
[Ting!]
[[SELAMAT !!! Dana tunai telah diberikan sistem Rp.500.000,- ditambah bonus atas misi tersembunyi karena telah melakukan kebaikan ganda, sistem kembali menambahkan dana Rp.300.000,- Jumlah dana tunai Rp.800.000,- (Silahkan Cek karung pemilik). Lanjut selesaikan misi habiskan dana dalam waktu kurang dari 3 jam ]]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Pierany Prahasiwie
disesuaikan sama sistemnya..MC nya gembel..sistemnya pun gembel..hadeeehh
2024-05-29
2
Udin
cerita system' ...mememang enak kalo di baca
....bagi yang punya sistem orang yang paling beruntung....semangat Thor.....ups,,,
2023-11-29
0
rams chanel
bagus banget ceritanya
2023-10-23
2