Malam ini Zero membersihkan alat-alat elektronik bekasnya dari mulai seterika, radio, kipas angin, dan rice cooker.
Setelah bersih, Zero mulai membukanya satu persatu. Dengan bermodal, obeng, tespen, solder dan beberapa alat lainnya dia pun selesai memperbaiki seterika dan kipas angin.
Berhubung hari sudah malam, Zero pun memutuskan beristirahat dan akan melanjutkan pekerjaannya besok malam, setelah membantu Seto belajar.
Malam ini, Zero tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia masih kepikiran dengan nasib Seto, sambil membolak balikkan ponsel jadulnya dia berharap besok sistem bisa memberikan misi yang hasilnya dapat dia gunakan untuk membantu Seto dan keluarganya.
'Jika aku minta misi khusus ke sistem, di kabulkan atau tidak ya? Kasihan Seto. Anak sekecil itu sudah harus menghabiskan waktunya untuk mencari uang. Biasanya anak seusianya asyik bermain dan belajar, seperti aku dulu,' batin Zero.
Lelah raga dan pikirannya membuat Zero pun tertidur, hingga suara panggilan dari masjid membangunkannya. Zero pun mandi, melaksanakan ibadah lalu membantu emak di dapur.
Walaupun kondisi emak sudah mulai membaik, tapi Zero tidak mau emak mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa membuat beliau kelelahan dan sakit lagi.
Zero mencuci pakaian, mencuci piring, sementara emak menyiapkan sarapan dan menyapu rumah. Setelah menyelesaikan tugas mereka, Zero dan emak pun sarapan bersama.
"Mak, apakah Mang Kardi sudah memberi keputusan kapan bisa mengganti atap rumah kita?" tanya Zero.
"Hari minggu katanya Ro! sebab beliau masih ada pekerjaan yang musti disiapkan di kampung sebelah."
"Oh, ya sudah. Nanti hari minggu biar Zero libur mulung untuk membantu Mang Kardi."
Kemudian Zero melanjutkan ucapannya, "Pagi ini Zero mau ke Bank ya Mak, ada kartu yang harus di urus, tapi dari sana Zero langsung berangkat mulung ke pasar. Zero usahakan sebelum maghrib sudah sampai rumah karena sehabis maghrib ada anak yang tinggal di rumah kontrakan dekat jembatan akan datang kesini untuk belajar."
"Apa kamu tidak lelah Ro, sudah seharian mulung malam masih lanjut kegiatan lagi?"
"Lelah badan nggak seberapa Mak dibandingkan dengan lelah hati dan pikiran karena tidak berdaya, tidak bisa membantu mereka yang membutuhkan bantuan."
"Tambah lagi makannya Ro?"
"Nggak Mak, Zero bawa untuk bekal saja, biar nanti siang tidak repot mencari warung nasi."
"Baiklah, sebentar Emak bungkuskan dulu ya bekalnya," ucap Emak sambil ke dapur mengambil kertas nasi dan plastik.
Sementara Zero menyiapkan pakaian ganti dan memasukkan ke dalam tas seperti biasanya. Setelah emak selesai membungkuskan bekal, dan Zero memasukkan ke dalam tas, lalu diapun pamit.
"Zero berangkat Mak, do'ain Zero ya Mak, agar hari ini mendapatkan rezeki yang banyak hingga bisa menabung dan membantu orang lain yang membutuhkan."
"Insya Allah do'a emak selalu menyertai disetiap langkahmu Nak!"
Zero pun mencium tangan emaknya, sembari mengucap basmallah diapun melangkahkan kaki kanan keluar dari rumah menuju ke halaman belakang untuk mengambil karungnya lalu berangkat ke Bank.
Karena hari masih pukul tujuh pagi dan bank juga belum buka, Zero sempatkan untuk mulung dulu sambil menuju ke Bank.
Zero bersiul sambil bernyanyi kecil seperti biasanya, dia mengawali hari selalu dengan riang gembira, tidak ada beban hidup yang membuatnya tampak murung, selain memikirkan emaknya jika sedang sakit.
Saat dia sedang mengais sampah di halaman ruko dekat Bank, tiba-tiba ponsel jadulnya berdenting.
[Ting!]
Mendengar hal itu, Zero langsung menepuk jidatnya sambil berkata, "Aduh! kenapa aku sampai lupa ya, tadi pagi rencananya-kan, aku mau meminta ke sistem untuk misi khusus. Apa pula lah misi hari ini? sebentar ya sistem, ini lagi nanggung, alhamdulillah di sini banyak plastik bekas," monolog Zero.
Setelah selesai, Zero langsung mengambil ponsel jadulnya dari dalam tas, karena dia terlambat melihatnya kembali ponsel tersebut berdenting, berkedip dan bersuara.
[[Ting!]]
[[Misi hari ini : 🌟 Selamatkan anak cacat dari pemalak/preman.
Hadiah : 🌟 Penambahan saldo senilai Rp.5.000.000,- + penambahan poin masing-masing 1 poin untuk setiap level kecerdasan, kekuatan, kecekatan dan kecepatan.
Dana : 🌟 Uang tunai Rp.2.000.000,- (Wajib di habiskan dalam waktu 1 jam)
Hukuman : 🌟 Jika misi penyelamatan gagal, maka saldo akan berkurang 3 × lipat dari jumlah dana + setiap level akan berkurang dua poin.
🌟 Jika dana tidak dihabiskan dalam waktu yang di tentukan, maka pemilik akan kehilangan misi untuk dua hari kedepan + harus pulang ke rumah dengan cara berlari cepat]]
CATATAN :
🌟 Apabila menolak misi, level akan kembali 0 dan sistem kekayaan akan menghilang selama satu bulan kedepan serta saldo rekening pemilik 0
Ponsel itupun kembali ke mode gelap, setelah memberikan penjelasan tentang misi dan konsekuensi jika gagal ataupun jika misi tidak dilaksanakan sama sekali.
Mungkin sistem saat ini sedang memberikan waktu untuk Zero berpikir. Satu menit kemudian, terdengarlah suara dentingan kembali.
\[Ting!\]
\[\[🌟 Laksanakan misi : Ya/Tidak\]\]
Zero terpaku, dia sedang dalam pilihan sulit, ibarat makan buah simalakama, dimakan mati emak nggak dimakan mati bapak.
Jika Zero menerima misi ini, dia bingung bagaimana mau melawan preman jika dirinya tidak memiliki kemampuan dan kekuatan apapun, pasti dia bakalan kalah bahkan mungkin terluka atau tewas.
Namun, jika dia menolak, kasihan bocah cacat itu dan Zero bakal tidak bisa melakukan kebaikan selama sebulan serta saldo rekeningnya bakal kandas.
"Aduh sistem? Kenapa kamu buat aku pusing dengan tugas berat dan pilihan yang sangat sulit?"
Kamu sih Zero pakai lupa minta misi khusus untuk menolong Seto jadi deh dapat tugas berat," monolog Seto sambil memukul keningnya sendiri.
Kembali ponsel pintar jadul Zero berdenting,
\[\[Ting!\]\]
\[\[Jangan terlalu lama berpikir, silahkan putuskan segera : Ya/Tidak\]\]
"Ya sudah dah, aku setuju saja, jika aku mati juga demi berbuat baik, pasti Allah menyediakan surga untuk ku. Tapi tolong ya sistem? jika aku mati kabarkan ke emak ku, agar jangan bersedih dan harus tetap semangat menjalani hidup biar aku di surga bisa tersenyum melihat beliau," ucap Zero kepada ponselnya.
Setelah itu, Zero pun berkata, "Ya, aku terima misi hari ini! Bismillah...semoga aku dilindungi Allah," ucap Zero untuk memberi semangat dirinya sendiri.
Zero masih bingung, di mana dan siapa anak cacat yang harus diselamatkannya itu, tapi akhirnya dia putuskan ke Bank dulu untuk mengurus kartu ATM, sebab Bank pasti baru saja buka.
Dia mengangkat karungnya, lalu berjalan menuju Bank yang jaraknya hanya tinggal dua ratus meter dari tempatnya sekarang.
Akhirnya Zero sampai, dia meletakkan karung mulungnya di sudut halaman, tempat parkir kenderaan. Syukur saja antrian masih sepi, lalu dia menemui Mas security untuk menanyakan tentang cara mengurus kartu ATM. Mas security pun meminta Zero agar ke bagian pelayanan nasabah.
Zero mengikuti saran Mas security, lalu dia mendapatkan pelayanan di sana hingga kartu ATM selesai diproses dan diberikan kepada Zero.
Bagian pelayanan lalu memerintahkan kepada Zero untuk mengetesnya langsung ke mesin ATM dengan memberikan nomor PIN standart lalu Zero harus mengubahnya sendiri dengan nomor PIN sesuai yang Zero inginkan dan tentunya mudah diingat.
🌟 Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya sobat, follow akun author, Pavorit, vote, like, coment maupun rate bintang limanya. Terimakasih atas semua dukungannya semoga berkah dan bermanfaat bagi author maupun sahabat semua.
Selamat malam, selamat beristirahat.
SEE YOU ♥️♥️♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Qimukk - Episaodetrackhir
kpn kayanya klo gini mah
2024-08-12
0
isnaini naini
ayo lnjut....
2023-11-10
0
Nurul Hikmah
mantap
2023-11-09
0