"Kenapa kamu terdiam, siapa tadi namamu Dek? Kakak lupa karena kalian tadi begitu ramai," tanya Zero.
"Seto Prima Kak."
"Jadi kamu tidak sekolah?"
"Iya Kak, waktu itu ayah masuk sel karena dijebak temannya, jadi ibu harus memulung untuk menafkahi aku dan kedua adikku yang masih kecil sedangkan saat itu kami juga tidak memiliki tempat tinggal, karena rumah kami disita Bank."
Sejenak Seto terdiam, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Karena tidak tega melihat Ibu, aku memutuskan tidak mau mendaftar ke sekolah demi membantu Ibu, menjaga adik-adik sampai beliau kembali dari mulung. Tengah hari Ibuku pulang untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, barulah aku yang menggantikannya memulung sampai sore, hingga sekarang Kak."
"Jadi saat itu kalian tinggal di mana?"
"Di samping jembatan Kak, saat itu Ibu dibantu temannya mengumpulkan kayu, kain spanduk dan juga kardus bekas untuk membuat gubuk kecil agar kami bisa bernaung dari panas dan hujan, sampai Ibu bisa mengontrak sebuah rumah yang layak untuk kami tinggal."
"Sekarang? Apa kalian masih juga tinggal di sana?"
"Alhamdulillah, setelah aku membantu mulung, kami jadi bisa ngontrak rumah dan adik-adik bisa sekolah. Biarlah aku saja yang bodoh Kak, asal jangan adik-adikku ikutan bodoh."
"Jadi, kamu juga belum pandai membaca?"
Seto menggelengkan kepala, hingga membuat Zero semakin prihatin. Ternyata di luar sana masih banyak anak-anak yang kurang beruntung, dia harus bersyukur berkat perjuangan emak, dirinya tidak kepanasan dan kehujanan serta bisa sekolah. Nah kini giliran dirinya membalas perjuangan emak di saat beliau mulai rapuh, tidak sanggup untuk bekerja.
"Kamu mau Kakak ajari membaca, berhitung dan mengaji?"
"Mau Kak!" jawab Seto dengan bersemangat. Dia memang kepingin seperti anak-anak lainnya, mengecap pendidikan karena Seto tidak ingin selamanya menjadi anak yang buta huruf dan bodoh.
"Datanglah selepas maghrib kesini, mulai besok kita akan belajar. Di jam tersebut, tentunya tidak akan menggangu aktivitas kita yang lain. Kamu berani-kan datang kesini malam hari?"
"Insya Allah berani Kak, hidup keras di daerah jembatan, menempah kami anak-anak ibu, harus kuat dan pemberani demi bertahan hidup."
"Oh ya Dek, kita sudah siap memilah, sebentar ya? Kakak simpan dulu barang elektronik bekas ini ke dalam rumah, baru nanti temani Kakak menjual sisanya ke tempat Pak Rembo."
"Kenapa tidak sekalian di jual Kak? bukannya itu juga tidak bisa dipakai?"
"Ini nanti nilai jualnya bisa lebih tinggi Dek, setelah Kakak kotak-katik."
"Wah...Kak Zero memang hebat, Seto selama ini sering dapat barang seperti itu tapi Seto langsung jual gabung bersama yang lain. Seto tidak pernah pisahkan barang-barang seperti Kakak."
"Nah mulai besok coba Seto pilah hasil mulung Seto dan Ibu seperti yang Kakak lakukan, nanti Seto pasti akan merasakan perbedaannya, penghasilan kita pasti lebih besar dengan cara seperti ini. Kalau Seto belum bisa memperbaikinya sendiri, bawalah ke sini, biar Kakak bantu."
"Terimakasih Kak, beruntung Seto bisa kenal Kakak."
Zero pun segera menyimpan barang elektronik itu ke dalam rumah, lalu dia mengunci rumah dan mengajak Seto untuk membantu membawa barang-barang bekas yang akan di jualnya.
"Ayo Dek kita berangkat, kamu tolong bawakan karung yang berisi botol plastik saja ya! Sementara ini yang berat biar Kakak yang memikul."
Seto pun mengangguk, lalu mereka berjalan ke arah tempat penampungan. Sepanjang perjalanan Zero terus mengobrol dengan Seto, dia senang Seto anaknya supel hingga sebentar saja mereka bisa akrab layaknya kakak beradik.
Merekapun tiba di tempat Pak Rembo, Pak Rembo lalu menyapa Zero, "Banyak nampaknya hasil mulung Zero kali ini?"
"Alhamdulillah Pak, masih diberi rezeki lebih. Ayo Dek letakkan di sana biar di timbang oleh Pak Rembo."
"Lho Seto membantu kamu Zero?"
"Iya Pak, tadi kebetulan Seto main ke rumah jadi aku minta tolong dia untuk membantu," ucap Zero.
Setelah menimbang barang dan menghitung berapa jumlah uang yang harus Pak Rembo bayar, beliau pun segera mengambil uang dari lacinya lalu menyerahkannya kepada Zero.
Tidak lupa beliau memberikan tips kepada Seto untuk jajan karena memang Seto rajin seperti Zero, sering membantu Pak Rembo.
"Terimakasih Pak," ucap keduanya berbarengan.
Zero pun pamit pulang, karena takut emak nanti mencarinya sepulang pengajian. Seto juga pamit kepada Zero untuk langsung pulang, besok malam dia akan datang ke rumah Zero untuk belajar.
"Tunggu Dek! Ini... ambillah, untuk beli buku, pencil dan penghapus, besok kamu membutuhkan itu untuk perlengkapan belajar. Kalau buku iqra' tidak perlu beli, di rumah Kakak ada. Milik Kakak dulu masih bagus dan lengkap."
"Terimakasih Kak, aku ada uang. Setiap di beri uang jajan oleh Pak Rembo, selalu aku tabung Kak jadi masih ada buat kebutuhan mendadak."
"Sudah... terimalah! Toh kamu tadi membantu Kakak."
"Baiklah Kak, terimakasih ya Kak? Seto pamit."
Zero pun mengangguk, dia melihat Seto adalah cerminan dirinya, bersemangat, rajin dan juga tidak kenal lelah.
Setelah melihat Seto hilang dari pandangan, Zero juga meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan dia berpikir bagaimana cara menolong Seto agar bisa bersekolah, karena anak seumuran dirinya lebih baik di didik di lembaga sekolah.
Sementara saat ini Zero masih membutuhkan dana untuk membayar uang ujian dan kelulusannya yang harus terkumpul dua hari lagi, serta harus mengumpulkan uang untuk membayar upah tukang yang akan memasang seng atap rumahnya.
Namun Zero bertekad jika nanti dia ada rezeki berlebih, akan segera mendaftarkan Seto ke Sekolah Dasar dan membiayai semua kebutuhan sekolahnya, agar tidak menyusahkan ibunya.
Zero tiba di rumah bersamaan dengan emak yang juga baru sampai.
"Darimana Zero?" tanya Emak.
"Oh...dari tempat Pak Rembo Mak, tadi habis menjual hasil mulung yang sudah Zero pilah.
Rencananya malam ini Zero akan memperbaiki barang-barang elektronik bekasnya Mak, agar besok bisa di jual dan mendapatkan tambahan uang."
"Kira-kira dua hari lagi bisa terkumpul Nak, uang sekolahmu? jika masih kurang jual saja ini, cincin emak. Memang ini emak siapkan di saat kita terdesak, nanti jika ada rezeki pasti bisa kita beli lagi buat tabungan."
Kemudian emak berkata lagi, "Demi pendidikanmu, Emak akan lakukan apapun, bahkan kembali mulung. Emak mau kamu nanti jadi orang sukses Ro! hingga bisa membangun keluarga dan membahagiakan anak dan istrimu kelak serta membantu orang-orang yang membutuhkan. Jangan cuma seperti Emak, yang bodoh, tidak mengecap pendidikan, dan bisanya hanya memberikan kehidupan yang seperti ini untukmu."
"Emak jangan bilang gitu, Zero bahagia kok Mak, walau hidup kita seperti ini. Mak sayang terhadap Zero, itu sudah lebih dari cukup. Zero nggak pernah menyesal telah menjadi anak Emak.
🌟Jangan lupa dukungannya ya sobat, follow akun author, pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya, agar author semakin semangat berkarya.🙏😉
Dan terutama tetaplah berdoa semoga kita selalu di berikan kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan. Aamiin...
SEE YOU ♥️♥️♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
isnaini naini
semangt zero
2023-11-10
2
Nurul Hikmah
ending nya berkesan /Smile/
2023-11-09
1
putra
19 like ❤
2022-12-16
1