"Aku permisi dulu ya Mad, ini untuk jajan dan ini untukmu Dek," pamit Zero sambil menyelipkan uang ke kantong mereka masing-masing senilai seratus ribu rupiah.
Zero hanya mengambil hikmah dari kejadian tadi siang. Dia diabaikan oleh pelayan toko ponsel, mungkin inilah hikmahnya, uang ditangannya masih untuk keperluan yang lain.
"Kak Zero apaan nih! kenapa masih memberi kami uang jajan, padahal yang Kak Zero berikan sudah terlampau banyak."
"Nggak apa-apa, itu rezeki buat kalian. Oh ya Mad, besok kamu jangan jualan dulu ya! Kakak takut preman itu akan menyakitimu lagi. Nanti Kakak akan pikirkan, apa yang bisa kamu lakukan agar punya penghasilan tanpa harus jualan di sana dan berurusan dengan mereka."
"Iya Kak, aku juga masih takut dan juga kepikiran sama Bang Togar Kak! Apa mereka tidak akan menyiksanya? Bang Togar kan telah membangkang terhadap Bang Beni. Jangan-jangan mereka juga akan menyakiti keluarganya."
"Ya sudah, besok Kakak akan coba cari Bang Togar, mudah-mudahan dia tidak kenapa-kenapa. Kakak jalan dulu ya...jaga Ibu biar cepat sembuh. Besok kalau ada waktu kakak usahakan singgah, untuk melihat kondisi ibu."
"Hati-hati ya Bang, kapan-kapan aku juga kepingin main ke rumah Abang."
"Iya Mad, datanglah, Abang tinggal di perkampungan pemulung, kamu tanya saja di sana nama Zero, mereka pasti akan tunjukkan arah ke rumah kami. Nanti akan Abang kenalkan kamu dengan Emak, Emak pasti senang."
"Iya Bang, insya Allah setelah Ibu membaik, aku janji akan kesana bersama adik.
Setelah pamit dengan semua, Zero pergi meninggalkan rumah Ahmad. Walaupun hari ini dia hanya sedikit mendapatkan hasil mulung, tapi Zero bahagia bisa menyelesaikan misi dan menolong keluarga Ahmad.
Zero pun naik angkot, tapi sebelum pulang ke rumah dia akan singgah ke pasar dulu untuk membelikan tas, baju serta perlengkapan sekolah lainnya buat Seto, sekaligus mengecek saldo rekeningnya melalui mesin ATM.
Nanti malam saat Seto datang untuk belajar, Zero berencana memberinya kejutan dan besok pagi dia akan datang ke rumah kontrakan Seto, di dekat jembatan untuk meminta izin kepada Ibunya.
Zero ingin mendaftarkan Seto ke sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Walau permintaan misi khusus, belum Zero coba mohonkan ke sistem tapi setidaknya dengan jumlah saldonya sekarang, Zero bisa terus berbuat kebaikan untuk orang lain.
Sisa uang ditangan Zero yang tadinya untuk membeli ponsel kini tinggal Rp.280.000, dia takut kurang makanya akan pergi ke mesin ATM dulu.
Setelah berjalan beberapa saat, sampailah Zero ke halaman sebuah Bank yang ada mesin ATM nya. Zero langsung masuk karena kebetulan sedang tidak ada yang mengantri di sana.
Zero mengikuti perintah demi perintah yang muncul di mesin ATM sampai akhirnya muncullah di layar jumlah saldo rekeningnya. Zero mengucek matanya, dia senang, selama ini dirinya belum pernah memiliki uang sebanyak itu. Di sana tertera sejumlah Rp.5.565.000,-
"Alhamdulillah, kuambil saja Rp.1.000.000,- sekalian untuk biaya mendaftarkan Seto ke sekolah besok," monolog Zero.
Dia pun kembali menyentuh mesin ATM, sesuai perintah, lalu keluarlah sejumlah uang sesuai nominal yang dia inginkan, kini saldo uang Zero yang tersisa di rekeningnya adalah sejumlah Rp.4.565.000,-
Setelah menyimpan uang beserta kartu ATM nya ke dalam tas, Zero pun meninggalkan tempat itu, dia menuju pertokoan yang menjual perlengkapan sekolah.
Mbak, aku ingin membeli perlengkapan sekolah, Buku tulis 1 lusin, pensil 1 lusin, penggaris 1 pcs, penghapus 3 pcs, rautan 3 pcs, tas 1, topi 2, ikat pinggang 2, kaos kaki 3 pasang dan juga baju seragam sekolah dan pramuka untuk anak sekolah dasar, kira-kira umur 9 tahun, tapi tubuhnya lumayan besar dan tinggi seperti umur 11 tahun.
"Oh... silahkan masuk Mas, sebentar saya carikan dulu ya! Seragamnya mau lengan pendek atau panjang ya Mas dan berapa pasang?"
"Lengan pendek dan celana pendek ya Mbak, masing-masing dua pasang."
"Baik Mas, silahkan duduk, sebentar saya siapkan pesanan Mas," ucap pelayan toko dengan ramah.
Ternyata tidak semua orang menyepelekan orang lewat penampilan, seperti di toko ini, pelanggan banyak tapi mereka melayani semua yang datang dengan ramah termasuk Zero.
Setelah menunggu beberapa saat sambil menikmati air mineral cup yang disuguhkan oleh pelayan toko, pesanan Zero pun telah selesai disiapkan sesuai permintaan.
"Ini Mas, semua telah lengkap sesuai pesanan, coba Mas cek dulu, apa masih ada yang kurang atau tidak, sambil saya buatkan bonnya ya Mas," ucap pelayan toko lagi.
"Iya Mbak, silahkan."
Zero memeriksa satu persatu barang pesananannya lalu dia berkata, "Oh ya Mbak ternyata sepatunya belum aku pesan, tolong ya Mbak, dua pasang, tapi aku tidak tahu ukuran berapa, kira-kira aja dulu Mbak. Jika tidak cocok besok boleh aku tukar kan Mbak."
"Boleh Mas, atau bawa saja si adek besok kesini."
"Ini ya Mas, totalannya setelah di tambah sepatu, berjumlah Rp.820.000,- sebentar saya ambilkan sepatunya."
Pelayan toko kembali mencarikan sepatu warna hitam sesuai perkiraan saja untuk anak umur 11 tahun lalu menyerahkan kepada Zero.
"Terimakasih ya Mbak ini uangnya!" ucap Zero sambil menerima sepatu diapun menyerahkan uang senilai Rp.850.000,-
Mbak pelayan pun menerima dan menghitung jumlahnya lalu berkata, "Kembaliannya Rp.30.000,-
ya Mas."
Ketika pelayan toko tersebut hendak berbalik mengambil uang kembalian di laci meja kasir, Zero pun berkata, "Kembaliannya buat Mbak saja," ucap Zero.
"Tapi Mas!" ucap pelayan toko tertahan.
"Nggak apa-apa Mbak, terimakasih telah membantuku, menyiapkan semua pesanan dan melayani pembeli dengan ramah." ucap Zero lagi.
"Itu memang kewajiban Saya lho Mas! memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Terimakasih ya Mas, semoga rezeki Mas kedepannya semakin lancar."
"Aamiin...saya permisi ya Mbak."
Pelayan toko itupun mengangguk, dia senang mendapatkan pelanggan baik seperti Zero. Zero pun segera bergegas, tapi dia harus kembali ke mesin ATM untuk mengambil uang lagi.
Sebab uang di tangannya kini hanya tersisa Rp.430.000, belum terpakai lagi untuk ongkos pulang dan membelikan Ibu makanan serta beras dan keperluan untuk mencuci pakaian besok pagi.
Zero tidak mengira jika kebutuhan untuk sekolah ternyata mahal, selama ini dia tahunya hanya tinggal pakai, karena emak yang selalu membelikannya.
Kemudian Zero bermonolog, "Bagaimana emak-emak nggak cepat tua, lah ternyata biaya untuk mengurus keperluan sekolah satu anak saja cukup besar apalagi yang punya anak lima, pusing dah aku mikirnya," ucap Zero sambil menepuk keningnya sendiri.
Zero kembali mengambil uang Rp.1.000.000,- untuk sekalian berjaga-jaga mana tahu ada keperluan yang mendesak, jadi sisa saldo dalam rekeningnya kini tinggal Rp.3.565.000,-
Setelah menyimpan uangnya dengan aman, Zero segera meninggalkan tempat itu dengan menenteng beberapa paper bag dan juga karungnya.
🌟 Jangan lupa dukungannya ya sobat, follow akun author pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. 🙏😉
🌟 Terimakasih atas semua dukungan dan krisannya ya, semoga bermanfaat dan berkah. Aamiin....
SEE YOU ♥️♥️♥️
Sengaja Up menjelang pagi, karena nanti author akan pergi takziah, ada keluarga yang meninggal. Mudah-mudahan masih bisa nambah Up lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Anday Edeng
crtnya bertele"
2024-03-12
0
PHOENIX UNGU
selagi punya uang habiskan🥲
2023-11-17
0
Nurul Hikmah
keren
2023-11-10
0