"Jangan pikir kamu telah membuat pingsan kedua anak buah ku, lalu dengan mudah bisa mengalahkan ku hah! Kamu kerdil kenapa sok jadi pahlawan," ucap Beni dengan wajah merah padam.
"Tidak usah banyak omong, kalau berani ayo maju!" ucap Zero yang merasa percaya diri dengan kekuatannya.
Beni langsung menerjang Zero, Zero pun berkelit, kemudian dengan sangat mudah Zero meraih tangan Beni dan membekuknya. Sejenak Beni meringis kesakitan, lalu dengan lihai dia berhasil lepas dari bekukan Zero.
Kemudian Beni menendang, Zero yang telat mengelak kakinya terjengkang dan dia jatuh terguling. Beni tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia menginjak tangan Zero ketika dia berusaha bangkit. Zero tidak bisa bergerak, dia takut tangannya patah karena injakan kaki Beni begitu kuat.
Beni senang dan tertawa lalu dia meraih rambut Zero menjambak dan menarik kuat hingga ada rambut yang terlepas. Zero mengerang kesakitan tapi dia tidak mau menyerah.
Ahmad yang melihat Zero terjepit dan kalah menjerit dan menangis sambil berkata, " lepaskan Kak Zero...dia tidak bersalah, hukum saja aku," ucap Ahmad sambil menangis.
Ahmad hendak berlari menolong Zero tapi Togar menarik tubuhnya, "Jangan! kamu tetap disini, jangan mendekat berbahaya.
"Tapi Bang, tolong Kak Zero, aku tidak mau terjadi hal buruk terhadapnya."
"Kamu tenang saja, sepertinya temanmu memiliki kekuatan hebat yang bisa melawan Beni. Coba lihat itu, dia sanggup bangkit dan lepas dari injakan Bosku."
Ahmad pun tersenyum, saat melihat Zero bangkit, kini gilirannya menarik kaki Beni dan diapun terjengkang jatuh. Zero tidak menyia-nyiakan kesempatan, lalu dia menendang Beni hingga Beni mengerang kesakitan.
Belum sempat Beni berdiri, Zero membekuk kedua lengan Beni ke arah belakang hingga mau tidak mau dia sekarang dalam posisi berlutut.
Beni berusaha melepaskan diri tetap tidak bisa, tapi dasar Beni licik, dengan mengatakan dirinya mengaku kalah dan salah, Zero akhirnya melepaskan Beni.
Saat Zero berbalik hendak menemui Ahmad, Beni menerjangnya dari belakang, untung saja Ahmad berteriak dan Zero pun masih dalam kondisi bersiap.
Akhirnya Beni sendiri yang terjerembab, dia jatuh, Zero tidak membiarkan begitu saja. Zero hendak menendang kaki tapi ternyata perut Beni yang kena tendang karena Beni yang mencoba bergeser.
Beni pun terkapar pingsan, melihat Zero menang, Ahmad bersorak lalu berlari ke arah Zero.
"Hore... Kak Zero menang. Hore... Kak Zero hebat. Terimakasih Kak sudah datang kesini, darimana Kakak tahu aku di sini?"
"Awalnya dari petunjuk sendalmu, kamu sengaja -kan menjatuhkannya?" tanya Zero.
"Iya Kak, aku memang berharap Kakak datang menyelamatkan ku, aku sempat berteriak Kak, tapi akhirnya mereka membekap mulutku dengan kain."
Sejenak Ahmad terdiam, dia baru sadar jika Togar masih ada di sana. Lalu Ahmad mendekati Togar dan berkata, "Terimakasih Bang, Abang baik, tidak seperti mereka. Sekali lagi terimakasih Bang sudah ngobatin lukaku," ucap Ahmad sambil tersenyum.
"Saat kamu tadi disiksa mereka, Abang teringat putra Abang yang seumuran denganmu. Abang minta maaf ya...karena tadi ikut menyakitimu Dek."
"Nggak apa-apa Bang, Abang tadi kan hanya menjalankan perintah. Oh ya Bang, kenalkan itu Kak Zero, temanku."
Zero pun mengulurkan tangan kepada Togar, lalu berkata, "Terimakasih Bang, karena telah melindungi Ahmad."
"Saya minta maaf Dek Zero karena telah ikut menyakiti Ahmad, saya permisi ya Dek, ini uang kamu Abang kembalikan, cepat belilah obat untuk ibumu, beliau pasti khawatir menunggumu yang tidak juga kunjung kembali."
Memang tadi Togar sempat mengutip uang Ahmad dari tangan kedua temannya, saat Beni sedang berhadapan dengan Zero.
Kemudian Togar berkata lagi kepada Zero, "Dek...saya duluan ya, mudah-mudahan nanti kita bisa bertemu lagi sebagai teman."
"Iya Bang, aku senang bisa bertemu Abang."
Togar pun pergi meninggalkan tempat itu, sejak hari ini dia memutuskan tidak akan mengikuti Beni lagi. Togar berniat mencari pekerjaan halal untuk menghidupi keluarganya.
Zero kemudian menghampiri Ahmad yang sedang memperhatikan Togar hingga hilang dari pandangan matanya, "Ayo kita keluar dari sini! Ibumu pasti sedari tadi menunggu," ajak Zero.
"Terimakasih Kak," ucap Ahmad sembari tersenyum. Dia ingin menjabat tangan Zero tapi jelas tidak bisa, lalu Ahmad menghambur ke dada Zero sambil menangis dan berkata, "Aku beruntung bertemu Kakak, Kak Zero selalu menjadi malaikat penolongku."
Zero memeluk Ahmad, lalu dia mengelap air matanya dan melihat luka di pipi dan lutut Ahmad sembari berkata, "Ayo kita ke dokter Dek, lukamu harus di bersihkan dan diobati, masih banyak pasir yang menempel di lukamu walaupun tadi bang Togar sudah membersihkannya."
"Tapi Kak?"
"Sudah jangan pikirkan biayanya, yang penting kamu, ibu dan adikmu harus berobat agar sembuh. Tunggu sebentar di sini ya Dek, Kakak mau ambil karung mulung yang tadi Kakak simpan di balik semak-semak."
Setelah mengatakan hal itu, Zero pun berlari ke arah semak-semak, di mana dia menyimpan karung dan tasnya, saat Zero menyandang tas bututnya, terasa ponsel jadulnya bergetar, lalu Zero mengeluarkannya dari dalam tas dan ponsel itupun bercahaya serta berdenting.
[Ting!]
[[Selamat!!! Pemilik berhasil menyelesaikan Misi utama hari ini, Sistem telah menambahkan saldo senilai Rp.5.000.000,- ke dalam rekening, sisa saldo Anda sekarang sebesar Rp.5.560.000,- (Silahkan cek saldo rekening Bank Anda) dan sistem telah menambahkan masing-masing 1 poin ke dalam level yang telah di janjikan oleh Sistem]]
Kemudian, ponsel itupun kembali ke mode gelap, Zero menunggu beberapa saat untuk mendapatkan info berikutnya karena sesuai janji ada hadiah besar yang harus dihabiskannya.
[Ting!]
[[Selamat!!! hadiah senilai Rp.2.000.000,- telah dikirim sistem (Silahkan cek karung pemilik) lanjut habiskan hadiah dalam waktu 1 jam]]
"Terimakasih sistem, sekarang aku harus segera memanfaatkan hadiah ini untuk menolong keluarga Ahmad," monolog Zero.
Ahmad yang menunggu Zero merasa gelisah, kenapa Zero belum juga kelihatan keluar dari semak-semak mengambil karungnya. Lalu dia berjalan mendekat sambil berteriak, "Kak... Kak Zero, ayo kita pulang! Kakak baik-baik saja-kan?"
Mendengar teriakan Ahmad, Zero pun menyahut, "Iya Dek, sebentar. Karung Kakak tersangkut di semak-semak."
Zero pun segera membuka karungnya, dia melihat segepok uang lembaran seratus ribuan baru dan terikat, lalu segera memasukkannya ke dalam tas sebelum Ahmad atau orang lain melihatnya.
Dengan tergesa-gesa Zero pun berjalan menemui Ahmad, "Ayo Dek, sebaiknya kita panggil dokter saja ke rumah kamu, jangan dulu membeli obat, nanti pasti dokter akan memberikan obat juga-kan."
"Iya Kak, maaf Kak menyusahkan Kakak lagi."
"Enggak Kok, oh ya rumah kamu jauh atau nggak dari sini?"
"Sekitar 25 menit perjalanan dari sini Kak."
"Adakah Dokter praktek dekat rumah kamu Mad?"
"Ada Kak, sebelum masuk gang rumah kami."
"Syukurlah, ayo kita segera berangkat. Naik angkot saja biar lebih cepat sampai, kasihan Ibu soalnya."
"Iya Kak, ayo dari sana kita naik angkotnya."
Kemudian Zero dan Ahmad berjalan keluar dari lingkungan gudang tua itu, sementara Beni dan kedua anak buahnya masih terkapar tidak sadarkan diri.
🌟 Cukup untuk hari ini ya sobat, jangan lupa ya dukungannya. Terimakasih 🙏😉
SEE YOU ♥️♥️♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Minus Muhadi
BODOHNYA MC APA THORNYA SIH...KLU MAU MENUMPAS PARA PREMAN YA JGN TANGGUNG2...YA BUAT PREMAN SAMPE CACAT SELAMANYA...TOLOL DAN BODOH
2024-08-13
0
Ms je
luuuuuuaaaaarrr biiiiaaaassaaaaa......
semangat terus ya thooorr... 😄😄😄
2023-11-03
2
Mulatua azman Ritonga
Thor beni di biarin aja ???? wah kamu Thor jadi novel ustad ya " kasihan orang lemah yg lain tetap di palak besok2 ' Sayang kamu tahu " 1" tapi ga Tagu " 3 "" 😂😂😂😂
2023-11-02
2