Seperti janjinya pagi ini Zero telah bersiap pergi ke rumah Seto untuk menemui Ibu Seto. Seto berjalan dengan semangat, dia tetap membawa karungnya agar tidak repot jika sewaktu-waktu sistem memberinya misi hari ini.
Rencana Zero setelah mendaftarkan Seto ke sekolah, dia akan kembali mulung di pasar sembari menjenguk ibunya Ahmad dan melihat perkembangan tentang preman Beni serta anggotanya.
Zero juga ingin mencari tahu nasib Bang Togar sejak dia sadar dan tidak mau bergabung lagi dengan komplotan preman Beni, apa Bang Togar baik-baik saja atau kah mendapatkan tekanan dari mantan bosnya itu.
Kini Zero sudah sampai di jembatan tempat Seto dulu tinggal, dia berdiri sejenak, memperhatikan sekitar yang ternyata masih banyak tuna wisma yang tinggal di sana.
Mereka semua membutuhkan perhatian dan bantuan pemerintah untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Zero menarik napas dalam, sambil terus memperhatikan, ternyata miris benar nasib orang-orang yang ada di sekitarnya.
Dalam ketermenungannya, Zero di kejutkan oleh getaran ponsel jadulnya yang ada di dalam tas, lalu diapun mengeluarkannya. Terlihat di sana Cahaya dan kerlipan yang berulang-ulang dan terdengar suara dentingan yang menandakan sistem aktif dan mungkin misi baru akan segera diinformasikan.
[Ting!]
[[Misi hari ini : 🌟 Membongkar kejahatan terselubung dan membebaskan orang yang tidak bersalah (waktu penyelesaian belum ditentukan dan sewaktu-waktu bisa berubah)
Hadiah : 🌟 Penambahan saldo 10 M (misi besar dan berat) + penambahan masing-masing 3 poin untuk level kecerdasan, kekuatan, Kecekatan/kecepatan.
Dana : 🌟 Uang tunai 1M (wajib dihabiskan satu hari setelah misi selesai)
Hukuman : 🌟 Jika misi gagal, saldo rekening dan poin 0
🌟 Pemilik akan dipenjara selama 5 tahun
🌟 Dan jika dana tidak dihabiskan sesuai waktunya maka saldo berkurang senilai dana dan masing-masing poin berkurang 2 poin.
CATATAN :
🌟 Apabila menolak misi, sistem akan menghilang dan berpindah Tuan.
Ponsel jadul itupun kembali ke mode gelap untuk beberapa detik, lalu hidup dan berdenting kembali.
[Ting!]
[[Silahkan update sistem untuk setiap pelaksanaan misi besar dan berat]]
"Wah...misi kali ini sangat berat! Apa aku sanggup ya mengerjakannya? Jika aku menolak, maka aku akan kembali ke titik nol, titik Zero yang dulu. Zero yang hanya pemulung biasa, terbatas langkah untuk melakukan kebaikan dan hanya pokus untuk bangkit dari keterpurukan hidupku sendiri. Serta berat untuk membahagiakan Emak, mewujudkan mimpi Emak untuk berangkat haji," monolog Zero.
"Didikan Emak dan kehidupan yang keras telah mengajarkan aku untuk menjadi anak yang kuat, maka, Aku...Zero! anak laki-laki Emak, tidak boleh menyerah, tidak akan mundur, maju terus demi kebaikan orang banyak," monolog Zero lagi.
"Baiklah sistem!!! Bukan aku takut kehilanganmu, tapi karena aku takut tidak bisa berbuat baik untuk orang lain dan takut tidak bisa membahagiakan Emakku. Aku terima tantanganmu!" ucap Zero sambil meng-update kembali sistem yang ada di ponsel jadul temuannya itu.
[Ting!]
[[Update sistem sedang berlangsung....]]
Sejenak ponsel jadul itupun mati, Zero menunggu beberapa saat sambil memperhatikan keadaan sekitarnya dari atas jembatan tersebut. Zero menarik nafas dalam lagi, membuangnya perlahan lalu berkata dalam batinnya,
'Mak...mudah-mudahan anakmu ini bisa merangkul mereka yang ekonominya saat ini sedang terpuruk. Jika aku berhasil menuntaskan misi ini, uang 10 M yang akan masuk ke rekeningku bisa untuk membuka usaha. Mempekerjakan mereka, hingga sama-sama bisa mendapatkan bagi hasil demi kehidupan yang lebih layak. Do'akan anakmu ini ya Mak! agar bisa berguna bagi orang banyak.'
Zero yang masih bergelut dengan angan-angannya, kembali dikejutkan oleh getaran dan suara dentingan ponsel jadul itu, hingga lamunannya pun buyar.
[Ting!]
[[Update sistem selesai, silahkan lanjutkan misi : Ya/Tidak]]
Dengan tegas dan mantap Zero pun menjawab, "Ya! Aku siap melanjutkan misi."
[Ting!]
[[Selamat bekerja!!! Tetap jaga kesehatan, jernihkan pikiran untuk menyelesaikan misi]]
"Oke, sistem. Terimakasih telah mengingatkanku," ucap Zero sambil berjalan meninggalkan tempat itu dan meneruskan perjalanan ke rumah Seto.
Seto dan ibunya sudah menunggu kedatangan Zero sambil berbincang, sementara adiknya sudah berangkat ke sekolah.
Ibu memberi nasehat agar Seto bersungguh-sungguh belajar, hingga suatu saat bisa berhasil meraih cita-cita seperti yang diidamkannya dan yang pasti akan membuat ayah dan ibunya bangga.
"Oh... ya Bu, kapan aku boleh menjenguk ayah lagi? Aku rindu ayah, Bu? Aku ingin memberitahu kabar baik ini langsung kepada ayah. Biar ayah sabar menungguku menjadi seorang pengacara untuk membela dan membebaskannya dari hukuman penjara seumur hidup yang bukan merupakan kesalahannya," ucap Seto dengan linangan air mata yang hampir jatuh dari kelopak matanya.
Kemudian Seto melanjutkan ucapannya, "Aku ingin orang-orang yang menjebak ayah, mendapatkan ganjaran setimpal Bu! jangan mereka enak-enakan menikmati hidup, sementara ayahku di sana menderita," ucap Seto lagi dengan berapi-api dan tersirat rasa sakit hingga membuat dirinya ingin membalas perbuatan orang-orang yang menyakiti keluarganya.
Ibu yang mendengar perkataan Seto pun ikut sedih, karena saat ini, dengan kondisi ekonomi mereka yang seperti ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membebaskan suaminya, walaupun hanya sekedar untuk membayar jasa pengacara.
Tapi Ibu tidak ingin menyurutkan semangat Seto, untuk mewujudkan harapannya, lalu beliau berkata, "Iya Nak, bersungguh-sungguhlah! Ibu doakan suatu saat kamu pasti menjadi pengacara terkenal yang akan menolong Ayah maupun orang lain yang membutuhkan bantuanmu."
"Aamiin..." ucap Seto dan Zero secara bersamaan, karena saat ini Zero sudah sampai dan tengah berdiri di depan pintu rumah Seto.
"Oh...Nak Zero sudah datang?" ucap Ibu yang kaget mendengar suara seseorang ikut mengaminkan doanya.
"Kak Zero! Silahkan masuk Kak," pinta Seto yang senang melihat kedatangan Zero.
"Assalamualaikum Bu," Ucap Zero sambil melangkah masuk.
Ibu dan Seto pun membalas salam dari Zero, lalu mereka mempersilakan Zero untuk duduk. Seto buru-buru kebelakang untuk mengambilkan air minum buat Zero.
Kemudian Zero membuka percakapan, "Begini Bu, maksud kedatangan Zero kesini, ingin minta izin kepada Ibu untuk mendaftarkan Seto di Sekolah Dasar dekat sini, agar dia bisa mengecap pendidikan, jika Ibu tidak keberatan."
"Terimakasih Nak, Ibu sih tidak keberatan, bahkan sangat senang, Nak Zero mau membantu kami. Namun yang Ibu takutkan, malah kami akan menyusahkan Nak Zero."
"Oh...sama sekali tidak menyusahkan Bu, Zero hanya ingin Seto bisa sekolah seperti anak-anak yang lain, dia memiliki semangat dan kemampuan, jadi sayang jika kepintarannya itu tidak kita dukung Bu."
"Iya Nak, tapi mau bagaimana, mungkin Seto sudah cerita semua tentang kondisi kami dan tentang ayahnya, Ibu tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Seto dan adiknya. Itu yang membuat Seto mengalah tidak sekolah dan memilih membantu Ibu mencari uang dengan memulung."
"Zero paham tentang hal ini Bu, makanya sekarang Zero ada sedikit rezeki dan ingin membantu keluarga Ibu. Jadi Ibu jangan khawatir lagi, tentang seluruh biaya sekolah dan keperluan Seto yang lainnya biar Zero yang menanggung Bu."
"Alhamdulillah...terimakasih Nak, semoga kebaikan selalu menyertai kehidupanmu dan keluarga," doa ibu Seto.
"Kehidupan kita semua Bu, Zero ingin kita semua hidup layak dan bahagia."
Saat Zero mengakhiri ucapannya, Seto pun muncul dengan membawa segelas air minum, lalu dia mempersilakan Zero untuk meminumnya.
"Silakan di minum Kak, Kakak pasti haus karena telah berjalan jauh!"
"Terimakasih Dek, Zero minum ya Bu?"
Setelah Zero minum, lalu dia berkata, "Oh ya Dek, bagaimana seragam dan sepatunya? Apakah muat dan tidak kekecilan?"
"Seragamnya Pas di badan Kak, tapi sepatunya rada kekecilan, takutnya sebentar lagi tidak bisa dipakai," terang Seto.
"Oh...gitu ya, ya sudah, bawa kemari Dek, nanti Kakak rencana mau mulung ke arah pasar jadi bisa sekalian singgah ke toko untuk menukarkannya."
"Iya Kak, sebentar ya Kak, biar Seto ambil di kamar."
Seto pun masuk ke kamarnya, mengambil dua pasang sepatu yang kekecilan, lalu memberikan kepada Zero beserta tali plastik yang sudah dia ukurkan sesuai dengan ukuran kakinya.
"Ini Kak," ucap Seto.
"Ini tali panjangnya sesuai ukuran kakimu Dek?" tanya Seto.
"Iya Kak, agar pelayanan toko gampang mencari ukuran sepatu yang sesuai dengan kakiku Kak. Jadi nggak akan kekecilan maupun kebesaran," ucap Seto.
"Bagus jika begitu, ayo sekarang kita berangkat dulu ke sekolah untuk mendaftarkan dirimu, baru dari sana, Kakak langsung berangkat mulung. Kamu berani 'kan nanti pulang sendiri?"
"Berani Kak, 'kan dekat, masih jauh lagi perjalanan ke rumah Kakak."
"Kalau begitu, mari kita berangkat. Oh ya Bu data keluarga ada Bu? KTP dan KK? Pasti nanti copyannya di minta pihak sekolah."
"Ada Nak, semua sudah ada di dalam tas Seto."
"Syukurlah, mudah-mudahan nanti di permudah pendaftarannya, kami berangkat dulu ya Bu?" ucap Zero di susul Seto.
Ibu pun mengangguk lalu berkata, "Hati-hati kalian di jalan ya Nak!"
Zero dan Seto pun berangkat menuju Sekolah Dasar yang jaraknya tidak jauh dari rumah Seto, lalu Zero menemui tata usaha sekolah untuk menanyakan tentang tatacara dan syarat pendaftaran yang harus dipenuhi untuk murid baru seperti Seto.
Setelah urusan pendaftaran selesai, Zero dan Seto pun langsung pamit dan berjanji besok pagi Seto akan datang untuk mulai belajar di sana.
🌟 Jangan lupa ya sobat dukungannya, follow akun author, favorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya, biar tambah semangat dan ide pun muncul😉☺️ Terimakasih 🙏♥️
SEE YOU ♥️♥️♥️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
PHOENIX UNGU
tetap belajar walaupun goblok 🥴
2023-11-17
0
Singgih Sunaryo
kesian amat klo dipenjara
2023-11-05
1
putra
12 like ❤
2022-12-16
0