Beberapa jenderal lainnya menyadari jumlah mereka berkurang, teriakan demi teriakan terdengar menggelegar di baris-berbaris pasukan berperang. Mungkin satu setengah hari telah berlalu dengan bercucuran darah, beberapa prajurit tumbang dan kehabisan tenaga. Tak sedikit dari mereka yang tewas mengenaskan.
Darah, perang dan kekacauan yang mengerikan menyelimuti semuanya. Belas kasih serta kemanusiaan seakan terhapus di tanah itu. Saling membunuh adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Teriakan berat yang amat marah muncul, tombak dengan ujung mata tajam bergerak miring menembus leher prajurit. Laki-laki dengan zirah perang lengkap berjalan mengentak. Tak pelak lagi, bahkan hanya melihat caranya berjalan laki-laki itu sedang menahan jengkel setengah mati.
Dia melihat mayat dari musuh bebuyutannya yang telah terkapar tanpa kepala. Jenderal-1 amat mengenali orang tersebut bahkan hanya dari embusan napasnya. Dia yang selalu membenci musuhnya itu kini mulai merasakan kasihan.
Jenderal-18 tewas di tangan musuh yang dianggap seperti rekannya sendiri.
"Aku sudah mengatakan bahwa orang-orang dari tempat mereka tak lebih busuk dari binatang! Cih, seharusnya aku tidak melepasmu hari itu!"
Tombak panjang menembus tubuh yang tak bernyawa itu, Jenderal-1 masih tak dapat menenangkan diri sama sekali. "Kau lihat apa yang terjadi sekarang?! Bahkan seorang yang suci pun bisa lebih iblis dari pada orang biasa. Bayangkan jika seorang manusia yang menguasai teknik mengendalikan roh sepertinya?"
Tapi kekhawatirannya sejenak berubah, "Tapi tentu saja orang itu bukanlah tandingan seorang pengendali roh setingkatnya. Bahkan untuk membunuh ku sendiri, aku yakin pemimpin Empat Unit Pengintai tidak mampu melakukannya."
"Benarkah?"
Lalu Jenderal-1 terdiam tanpa melihat sumber suara di belakangnya. Dia tersenyum miring, jari telunjuknya yang memegang tombak sedikit bergetar.
"Tidak salah lagi ... Aura terkutuk ini, sangat pekat dan kelam ... Sebenarnya berapa banyak manusia yang telah menjadi tumbalmu untuk mendapatkan kekuatan sebesar ini?" Jenderal-1 tak bisa menghadapi Xin Chen seperti saat berada di pusat militer Kekaisaran Qing. Di mana dia dapat menendang tubuh orang di depannya tanpa rasa takut. Untuk sekarang ini, berteriak saja rasanya tenggorokannya tercekat.
Bukan tanpa alasan. Apa yang dikatakannya barusan tentu memiliki alasan. Yakni aura hitam di sekitar Xin Chen yang semakin tak terkontrol, mempengaruhi secara langsung jiwanya. Sejauh ini Jenderal-1 belum melihat kekuatan sebenarnya musuhnya. Dia sama sekali tak mau meremehkan Xin Chen dikarenakan satu hal; Roh Dewa Perang. Hanya orang-orang dengan kekuatan hebat yang mampu membangkitkannya.
Meski semua dugaan dan ketakutan menguasai dirinya, Jenderal-1 tetap terlihat tenang. Wajahnya yang ditutupi pelindung kepala semakin waspada saat melihat Xin Chen tak memunculkan tanda-tanda pergerakan
"Kau mengincar ku, atas alasan apa? Aku yakin orang sepertimu akan memilih menghabisi orang-orang seperti Lima Terkuat yang sekarang sedang membantai prajurit Kekaisaranmu."
Xin Chen menggerakkan tangannya pelan, "Kau sungguh ingin tahu alasannya?"
Tak sepatah kata pun berhasil keluar dari mulut Jenderal-1. Dia mencoba mempelajari raut wajah musuhnya. Matanya tetap tertutup seperti biasanya. Mau berpikir setengah hari pun, Jenderal-1 hanya bisa mengambil satu kesimpulan. Xin Chen ingin bertarung dengannya untuk membalaskan dendam atas perbuatannya di markas militer. Hal itu tentu adalah kejadian yang memalukan apalagi bagi pemimpin sebuah kelompok besar seperti Xin Chen.
Setidaknya itu yang dipikirkan Jenderal-1.
"Tak kusangka kau orang yang pendendam."
"Kau tidak salah." Ucapnya sebelum akhirnya melanjutkan. "Tapi aku tidak membunuhmu dengan alasan seperti di pikiranmu."
Sebelum melihat kekuatan besar yang mulai menyelimuti sekitar Xin Chen, Jenderal-1 lebih dulu menatap kedua mata Xin Chen yang akhirnya terbuka lebar.
Jenderal-1 bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana orang yang berbicara sekedarnya dan mana yang berbicara dengan penuh makna ganda di dalamnya. Xin Chen adalah salah satu orang dengan karakteristik mengerikan. Matanya penuh dengan siasat. Tak terbayangkan pada saat-saat begini, perhatiannya justru tertuju pada isi di dalam otak Xin Chen sementara dirinya kini berada dalam situasi gawat.
Beberapa prajurit yang berada di sekitar mulai panik, tekanan udara menurun drastis disertai perubahan suhu yang mengerikan. Di detik itu, daun bahkan tak ikut bergerak saat angin bertiup. Semua orang menatap sekeliling cepat sambil bertanya-tanya.
"A-apa ini?!"
"Sial ... Inikah kekuatan dari sang Pengendali Roh?"
"Kitab itu-?! Tidak salah lagi! Itu kitab yang sebelumnya dimiliki Zhang Ziyi! Kitab yang memakan ratusan ribu jiwa--"
Sebelum menyelesaikan kalimat tersebut, bola mata hitam milik prajurit tadi menghilang dan hanya menyisakan mata putih keruh. Jika seandainya jiwa manusia ibarat api yang menyala, maka kekuatan roh adalah angin yang membunuhnya.
Tubuh-tubuh mereka menggigil ngeri.
"Apakah dia pemimpin kalian?"
Xin Chen bertanya tanpa satu pun berani menjawabnya.
"Dia kah orang yang kalian segani? Kalian takuti dan memiliki kesan yang paling kuat sebagai seorang pemimpin di Distrik kalian?"
Jenderal-1 pias. Dia akhirnya mengerti maksud Xin Chen setelah beberapa menit.
Perang moral. Perang yang dimainkan Xin Chen untuk membunuh jumlah orang yang berada jauh di atas mereka. Dengan menghancurkan semangat berperang, musuh akan jauh lebih lemah. Dia sengaja melakukan itu, dan dari awal semua orang tahu Xin Chen mengincar Li Baixuan lebih dulu meski belum dapat mengalahkannya.
Tapi saat Xin Chen berhasil memotong sebelah tangan Li Baixuan dan disaksikan beberapa orang, tentunya mereka berpikir bahwa Xin Chen mungkin saja dapat membunuh pemimpin mereka.
"Licik ... Licik sekali."
Tak ada kata lain yang bisa disampaikannya selain itu, kalimat tersebut terus terulang-ulang tanpa sebab. Beberapa detik Jenderal-1 baru menyadari bahwa pikirannya mulai terpengaruh oleh kekuatan Xin Chen.
Tak disangka pula, di saat itu muncul lima puluh roh merah dan berterbangan ke segala arah. Roh itu adalah roh milik orang-orang terhebat dari Empat Unit Pengintai yang pernah Xin Chen kalahkan.
Orang-orang yang berada dalam kendali Xin Chen akan kehilangan bola mata hitam mereka. Lalu roh-roh merah datang merasuk ke alam bawah sadar mereka. Kekuatan yang roh tersebut miliki setara dengan kekuatan jenderal perang.
"Cih, hanya itu yang bisa kau lakukan?!" Jenderal-1 melawan rasa takut yang mulai menyergapi prajurit-prajuritnya.
"Itu adalah hal biasa! Perlihatkan semuanya padaku, itu bukan apa-apa dibandingkan ratusan ribu prajurit kami!"
Jenderal-1 berniat menggerakkan senjatanya tapi apa yang dilakukannya hanya mematung diam. Sekarang, sekujur tubuhnya bahkan sudah berada penuh di bawah kendali Xin Chen.
Orang-orang yang telah dimasuki roh merah mulai bertarung dengan gila, satu per satu nyawa melayang tiap detiknya. Beberapa musuh mundur ketakutan, ada yang meringkuk sambil berteriak keras mengiba pertolongan. Semua orang hanya mampu menyelamatkan diri mereka sendiri. Xin Chen tahu akan kelemahan orang-orang Kekaisaran Qing karena Jun Xiaorong yang mengatakannya sendiri. Kekaisaran Qing pernah berada situasi krisis yang disebabkan oleh pengguna roh, mereka sering menyebutnya malapetaka dan meludah setiap kali menyebutkan nama-nama orang yang menggunakan kekuatan jahat itu.
Kehadiran pengguna roh di zaman yang sama sekali telah berbeda mengejutkan mereka. Sebab semua kitab dan petunjuk telah dibakar habis-habisan oleh Kaisar demi memusnahkan calon pengguna roh di Kekaisaran Qing. Memang masih terdapat beberapa yang mampu mengendalikannya, tapi Kaisar Yin diam-diam membunuh mereka. Dan jika dia tak sanggup, maka dia akan mengirimkannya ke tempat lain. Seperti kasus Zhang Ziyi yang diperintahkan pergi ke Kekaisaran Shang dan membantai puluhan desa hanya dalam satu malam.
"Akan aku tunjukkan padamu."
Kekuatan merah itu pastinya berasal dari kekuatan Roh Dewa Perang. Jenderal-1 hanya bisa memperhatikannya sambil membelalak.
"Kitab Pengendali Roh - Tahap Kedua."
Di belakang Xin Chen, muncul iblis wanita yang tubuhnya hampir sama besarnya seperti siluman. Kukunya tajam, matanya lentik dengan rambut panjang. Di tangannya terdapat sebuah seruling indah. Iblis-atau lebih terlihat seperti setan itu menatap Jenderal-1 dengan sumringah.
"-Setan Peniup Suling."
Detik berikutnya tidak ada yang tahu jika Jenderal-1 akan mengembuskan napas terakhirnya. Sedetik sebelum wanita roh itu muncul di belakangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Reader 💯
Tadi lawannya Li Baishuang ... tiba2 ganti lawan jendral 1, aing binun ato kurang fokus yah ,🤔😅
2023-01-28
0
Dina⏤͟͟͞R
waaahh gila keren nih😎
2022-12-22
0
Alan Bumi
puas
2022-12-02
0