Nan Ran jatuh begitu saja di tanah saat hentakan petir yang amat besar datang. Dia sempat berpikir nyawanya langsung terenggut oleh serangan tersebut tapi nyatanya tidak. Justru kekuatan Zhaohuo menghilang.
Detik itu Nan Ran tak begitu sadar, pikirannya kosong hingga Lao Zi datang segera membawanya ke tempat yang aman. Dia bahkan tak merasakan rasa sakit apa pun selain terdiam. Bagi Nan Ran, dia telah mati sejak tadi. Hanya saja mungkin mayatnya akan menunggu sedikit lebih lama untuk dikubur. Dia benar-benar kehilangan sesuatu yang amat berharga baginya.
Lao Zi tersentak hebat ketika pertarungan di atas langit turun menghantam tanah. Li Baixuan berdiri tegap dengan sebelah tangan mencengkram sesuatu yang baru saja ditimpanya. Tidak ada yang bisa mengikuti pertarungan yang melebihi kecepatan kilat itu. Tak sedikit dari mereka yang berhenti bertarung demi melihat apa yang terjadi.
Untuk pertama kali bagi Prajurit Kekaisaran Qing, mereka melihat Li Baixuan bertarung bersungguh-sungguh melawan musuh. Tidak main-main, hantamannya barusan telah membuat lubang yang cukup dalam sampai seratus meter ke bawah tanah. Tangan kekar laki-laki itu mengepal, dia nyaris saja menangkap Xin Chen yang kembali menyatu dengan udara. Sulit melacak keberadaannya. Dan ditambah lagi, terdapat berbagai kekuatan misterius yang tampaknya masih pemuda itu simpan darinya.
"Tunjukkan padaku semua yang kau punya!"
Teriakan Li Baixuan seakan-akan merobek kekacauan di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya tak melihat siapa lawan bicara laki-laki itu, tapi mereka tahu kalimat itu ditujukan pada Pimpinan Empat Unit Pengintai.
Garis-garis tajam di wajah Li Baixuan semakin terlihat, raut wajahnya makin mengerikan karena tidak ada tanda-tanda kehadiran musuhnya. Dengan cekatan laki-laki itu memutar senjatanya, berniat mencari Xin Chen dengan merasakan hawa kehadirannya.
Tidak semua orang dapat merasakan hawa kehadiran seorang pengguna roh, kalaupun bisa mereka hanya bisa mengendusnya dari kekuatan yang sedang dikeluarkan orang tersebut dan hal itu sangat sulit untuk dilakukan bahkan untuk Li Baixuan sendiri.
Dia tidak merasakan hawa kehadiran Xin Chen sama sekali setelah sebelumnya berhasil melacaknya. Juga saat itu Xin Chen sedang mengeluarkan kekuatan dalam jumlah yang sangat besar sehingga lebih mudah melacaknya.
Ketika baru saja memulai pencarian, Li Baixuan dibuat terkejut oleh sesosok iblis dengan penampakan yang amat mengerikan. Tubuh iblis itu jauh lebih besar darinya. Dan ditambah lagi hanya dengan berdiri di sana, Li Baixuan dapat mendengar suara-suara berisik dari iblis tersebut. Tepatnya suara dari kekuatan yang keluar begitu cepat dari tanduk di kepalanya.
"Kau mangsa yang sangat menarik. Kebetulan orang itu tak keberatan jika aku yang mengambil jiwamu."
*
Jenderal-18 mulai kehilangan keseimbangan. Sejauh ini dia telah mengalahkan begitu banyak musuh tapi seolah-olah tak ada habisnya, mereka terus berdatangan. Satu per satu sehingga sekujur tubuh laki-laki itu kini bermandikan darah. Tak bisa dielak lagi, perang ini mungkin akan memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.
Jubahnya yang besar koyak, Jenderal-18 nyaris jatuh tapi dia dengan cepat menopang bobot tubuhnya menggunakan pedang. Laki-laki itu berusaha mengangkat wajah, mendapati sesosok pemuda yang tidak asing di depannya sedang berdiri membelakangi dirinya. Jenderal-18 nyaris diam tanpa suara selama beberapa detik hingga akhirnya dia tersadar.
"Kau-?!"
Sosok itu tidak menoleh sama sekali tapi Jenderal-18 yakin benar dia itu siapa. Sambil mencengkram kembali pedangnya dia berjalan, Jenderal-18 tahu dia tidak bisa bertarung seimbang dengan orang itu karena keadaannya saat ini bisa dibilang parah. Tapi mengalahkannya adalah persoalan harga dirinya.
"Kau mengkhianati sumpahmu!"
Sosok itu bergeming dan perlahan berbalik badan sehingga Jenderal-18 dapat melihat wajahnya yang begitu putih, seperti tidak ada setitik darah pun mengalir di dalamnya.
"Pantang bagiku mengkhianati sumpahku."
"Lalu?" Jenderal-18 mengingat dengan jelas saat Xin Chen bersumpah di hadapannya. Kesetiaannya pada Kekaisaran seharga dengan nyawanya sendiri. Tapi jika kembali menalar semua itu, Jenderal-18 akhirnya terdiam lama.
"Jangan-jangan kekaisaran yang kau katakan hari itu adalah Kekaisaran Shang?"
"Benar."
"Tapi kau telah bersumpah-"
"Lagi pula aku mengajukan syarat. Sumpah itu hanya berlaku saat kau percaya padaku."
"Apa?" Tenggorokannya tercekat, tanpa sadar Jenderal-18 mengepalkan tangan kirinya. Dia mulai menebak arah pembicaraan Xin Chen akan ke mana dan khawatir jika benar itu yang keluar dari mulutnya.
"Kau mengirimkan banyak mata-mata untuk mengawasiku setelah hari itu."
Tepat sasaran. Jenderal-18 mulai menegakkan kakinya kembali. Pembicaraan ini hanya akan berakhir pada satu titik. Pertarungan antara siapa di antara mereka yang akan mati. Jenderal-18 tidak akan punya muka lagi untuk menghadap Kaisar jika kebodohannya terungkap. Mempercayai musuh terbesar Kekaisaran Qing saat ini, Pemimpin Empat Unit Pengintai. Sang Bencana dan Marabahaya Kekaisaran Qing yang terlahir kembali. Sang pengguna roh.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah saling berhadap-hadapan sambil memegang senjata.
"Ambil nyawaku jika kau sanggup. Aku lebih baik mati memalukan di tangan musuhku sendiri daripada dihukum mati oleh Kaisar Yin."
Di Kekaisaran Qing, hukuman yang akan diterima Jenderal-18 tentu akan lebih pedih. Dikuliti tanpa sepengetahuan keluarga lalu mayatnya dibiarkan membusuk di terik matahari. Namanya tak akan dikenang sebagai seorang prajurit besar yang memimpin satu distrik melainkan pengkhianat yang kotor yang tak pantas hidup. Bisa dipastikan anak cucunya akan mengalami kemalangan tak ada habisnya. Jenderal-18 betul-betul tak bisa membayangkan konsekuensi yang diterimanya.
Jenderal-18 sempat menaruh curiga besar terhadap tangan kanannya sendiri. selama ini laki-laki itu bekerja tanpa memberitahu apa saja yang dilakukannya di pusat Kekaisaran. Entah bagaimana pula dalam beberapa waktu sebelumnya, dia sempat beberapa kali melihat tangan kanannya dan Xin Chen di saat bersamaan.
"Tidak kusangka mataku terlalu buta untuk melihat musuh di depan mataku sendiri." Lalu dia tertawa dengan sedikit nada mengejek, "Tapi jujur saja, wajahmu itu benar-benar menipu. Aku mengira kau orang yang sangat baik sampai rasanya semut pun tak kan sanggup kau bunuh."
Xin Chen tak heran lagi, dia juga tahu bahwa banyak dari musuhnya mudah tertipu bahkan tanpa dirinya berkata apa-apa.
Sambil memasang ancang-ancang laki-laki itu menajamkan penglihatan.
Xin Chen berujar dengan berat.
"Aku tahu ini akan terjadi. Meskipun begitu senang bisa mengenalmu."
Jenderal-18 tak mengeluarkan jawaban apa pun, dia sangat fokus menatap ke depan. Beberapa detik berselang hingga akhirnya dia maju sembari berteriak layaknya seorang ksatria. Tanpa takut dan ragu, hentakan kakinya terdengar amat kencang hingga bunyi deritan pedang terdengar. Tubuh Jenderal-18 masih tetap berlari, tapi tidak dengan kepalanya yang kini tergeletak di atas genangan darah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Reader 💯
Eh, tong! pala lu ketinggalan noh 🙈
2023-01-28
0
Dina⏤͟͟͞R
😍😍😍wwooww..kak vi..ini direvisi ya..kok dulu aku bacanya gak gini..apa aku yg lupa ya🤔😂
2022-12-18
1
Onez Dewa Ganaz Trisula
Maaannntaaapp...
2022-09-22
2