Sebuah kobaran api biru menyala kecil dalam ruangan hampa gelap gulita. Sinar biru pucat mengawasi sekitar yang begitu dingin. Xin Chen membuka kedua matanya yang langsung bersambut dengan gelegak kemarahan Roh Dewa Perang di depannya. Mahkluk itu mengamuk dalam dirinya semenjak beberapa menit terakhir, tanduknya telah dipatahkan sebelah. Lantas kemarahannya semakin menjadi-jadi ketika dirinya tahu musuhnya di luar sana belum mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.
"Bajingan, keluarkan aku dari sini!"
"Kau terlalu banyak menciptakan masalah."
"Aku tidak peduli lagi! Cepat keluarkan aku dari sini atau aku tidak akan segan-segan menghancurkan kau sekaligus." Ancaman Roh Dewa Perang sama sekali tak mempengaruhi Xin Chen yang masih berdiam tenang di sana, tapi dari kedua bola matanya tampak jelas menunjukkan kemarahan.
"Kau ingin menghancurkanku? Sebelum kau bisa menghabisi orang itu, kau lebih dulu yang lenyap. Kekuatan ku adalah sumber kekuatan mu. Sementara tanpamu aku masih bisa menggunakan kekuatan ini."
Cukup terpojokkan Roh Dewa Perang membalas dengan nada tinggi. "Kau mengulang kalimat yang sama-!" Amarah mulai ditahannya, dia menelan kata-kata makian yang ingin dikeluarkannya lagi ketika tatapan Xin Chen semakin tak berekspresi. Itu mengerikan.
"Sial ... Sebagai manusia kau tidak tahu arti tanduk ini. Cih, sekarang berikan aku kesempatan sekali lagi untuk merenggut jiwa orang itu."
Tanpa berpikir panjang Xin Chen langsung menyangkal. "Kau tidak sanggup."
Terhenyak, Roh Dewa Perang sampai meminta mengulang pernyataan tadi.
"Kau bilang apa?"
"Kau tidak mampu mengalahkan Li Baixuan. Satu Terkuat dari Kekaisaran Qing."
"Haaaah! Tadi itu aku hanya sedang membiasakan diri dalam pertarungan. Biarkan aku keluar, aku ingin satu kali saja memukuli wajah orang tadi." Roh Dewa Perang seperti tidak mau tahu siapa laki-laki yang menjadi musuhnya tadi. Dia hanya berpikir bagaimana cara membalaskan dendam atas tanduknya yang hilang.
"Sekali pukul kau yang langsung pindah alam."
Tubuh Roh Dewa Perang seketika dipenuhi cahaya merah berkobar. Dia mengamuk.
"Apa katamu?!"
Roh Dewa Perang ingin sekali mengutuk mengapa dimensi bawah sadar Xin Chen begitu kuat. Pantas saja dia mampu mengendalikan ratusan ribu roh dalam dirinya tanpa terpengaruh sedikit pun dari kekuatan tersebut yang seharusnya berdampak amat buruk pada pikirannya.
"Untuk menjatuhkan mereka agaknya orang yang menjadi lawan ku tadi harus dibunuh di awal. Prajurit tumbang ketika pemimpin mereka jatuh. Mereka itu ... Menumpu harapan besar pada orang itu."
"Sebelum membuat pion yang kecil hancur, sepertinya kau harus mengganggu rajanya." Xin Chen menyunggingkan senyum miring, Roh Dewa Perang tak bisa melihat jelas ekspresi itu karena Xin Chen menunduk. Hanya saja, meski dia berada di alam bawah sadar Xin Chen, Roh Dewa Perang dapat mendengar apa yang Xin Chen dengar sekaligus melihat apa yang terjadi di luar.
"Tidak mungkin ...."
Roh Dewa Perang sampai menggigil. "Sebagai roh kuakui otakmu jauh lebih iblis dibandingkan iblis mana pun."
Hoe Xhu, salah satu mantan panglima berperang Kekaisaran Shang berumur 68 tahun yang seharusnya telah pensiun dan beristirahat di rumah hangatnya, dia baru saja mengucurkan darah yang amat deras. Kuda hitam yang ditungganginya melaju kencang membelah kerumunan musuh yang menodongkan tombak tajam ke depan wajahnya. Laki-laki itu tak takut mati sama sekali. Lima anak panah yang menancap di punggungnya sama sekali tak membunuhnya.
Lalu Hoe Xhu menarik anak panah dan membidik dalam posisi menunggangi kuda. Terdapat beberapa titik yang telah ditandai di tempat tersebut.
Anak panah tersebut meluncur, menancap di tanah beberapa detik. Lalu ledakan besar keluar disertai debu-debu pasir yang menutupi pandangan.
Di bagian timur Prajurit Kekaisaran Shang berhasil terpukul mundur. Beberapa mayat tergeletak tak bernyawa di atas tanah, bahkan beberapa dari mereka telah terpisah-pisah bagian tubuhnya. Jenderal-11 turun dari kudanya, menancapkan pedang pada salah satu Prajurit yang sedang meringkuk sekarat. Pandangannya menyapu seluruh tempat, mereka telah memukul mundur lawan yang memang tak sebanding dengan prajurit Kekaisaran Qing sendiri.
"Mereka kabur! Cari dan bunuh sisa-sisa mereka sampai ke tulangnya!"
Pedang di tangan kanannya mengibas ke samping, darah dari korban yang baru saja dibunuhnya menetes beberapa kali. Tanpa peduli sedikit pun laki-laki itu menginjak tubuh mayat, merasakan kemenangan semakin berada di depan mata mereka.
"Jenderal!"
Salah satu bawahannya bersujud dengan sebelah kaki tertekuk, dia berbicara ketika dipersilahkan.
"Di arah celah perbukitan tak jauh dari sini, mereka membawa sisa-sisa pasukan ke sana. Kemungkinan banyak dari mereka yang sudah terluka."
"Cih, dasar pecundang. Sudah sekarat masih berpikir ingin menyelamatkan diri dari perang ini? Tidak akan kubiarkan satu pun selamat! Kejar mereka!!!"
Dalam satu sentakan pasukan berkuda segera bergerak mengikuti Jenderal-11. Laki-laki itu amat bernafsu ingin menghabisi seluruh prajurit Kekaisaran Shang yang ada. Bawahannya tadi bergumam kecil. "Bukankah ini agak aneh? Prajurit Kekaisaran Shang yang kuketahui tak akan berbuat hal memalukan seperti itu ... kabur dari pertarungan? Ini tidak masuk akal."
Wilayah yang ditempuh Jenderal-11 dipenuhi oleh bebatuan terjal di kanan kiri, hanya terdapat jalan selebar satu meter. Jenderal-11 tentu tidak bodoh, dia dapat mencium aroma darah dan bunyi langkah kaki yang terseret-seret. seperti yabg bawahannya katakan tadi, sisa-sisa dari musuh telah sekarat. Jarak mereka dengan musuh semakin menipis seiring dengan cepatnya langkah kaki kuda menyusul rombongan.
Jenderal-11 menghentikan langkah saat tiba-tiba sebuah api menjalar membakar rumput-rumput kering yang sengaja diletakkan di pinggiran batu terjal. 12 tong minyak yang disembunyikan di balik daun kering meledak, membuat batu-batu besar di tebing meluncur cepat ke bawah di mana jenderal-11 serta anak-anak buahnya berada.
*
Seorang laki-laki dengan pakaian rapih khas seorang bangsawan duduk tegap di atas sebuah kursi yang langsung berhadapan dengan meja catur. Rupanya yang telah berusia 40 tahun masih terlihat menawan. Tapi raut wajahnya menyeramkan sehingga semua orang pasti ketakutan saat berhadapan dengannya. Laki-laki itu baru saja mendengar penuturan dari pembawa kabar. Perang di luar sana ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkannya. Meski sudah menyusun strategi dan semua persiapan, nyatanya laki-laki itu merasa gagal.
Bidak di tangannya dia genggam kuat. Giginya bergemerutuk geram.
"Apakah akhirnya aku berhadapan dengan anak sialan itu?"
Wajahnya yang padam akan kemurkaan menjadi makin merah. Tangannya bahkan sampai bergetar hanya untuk menghancurkan bidak catur di dalamnya.
"Atau ada musuh yang jauh lebih pintar di luar sana? Apakah ini ulahmu, tangan kanan Jenderal-18?"
Tapi dia segera menyangkal dugaan tersebut. Dia tahu benar laki-laki itu tak akan mampu menggerakkan rencana ini sendirian.
"Menggunakan senjata yang membunuh secara massal ... ini jauh dari kata kehormatan sebagai seorang petarung. Tapi untuk ide gila tanpa rasa manusiawi seperti ini ... bukankah hanya satu dugaan yang cocok untuknya?"
Laki-laki itu bangun, memerhatikan keluar.
"Sayangnya pertarungan ini berada di dalam genggamanku, Nak. Sekali aku tahu langkahmu, maka sampai langkah terakhir kau tak akan sanggup melawanku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Reader 💯
Siapa sih nih orang, songong beud... 😏
2023-01-28
0
Dina⏤͟͟͞R
siappa ya itu
2022-12-22
1
Alan Bumi
rapi
2022-12-02
1