Di barisan lain, Nan Ran terpisah dari kawan-kawannya. Tanpa sadar dia berada di dalam pusaran musuh dan di sana dirinya merasa dalam bahaya.
Kekuatan para prajurit Kekaisaran Qing seolah-olah makin mengganas, mulut pemuda itu terkatup rapat dengan keringat membanjiri pelipisnya.
"Ada yang tidak benar dengan situasi ini, aku harus mencari Lan Zhuxian-"
Mata Nan Ran membelalak kuat, dia segera berlari kencang menuju tempat di mana adiknya berada, sedang meregang nyawa di samping seorang pendeta.
"Adik bodoh, apa yang kau lakukan?! Cepat lari!"
Jantung Nan Ran semakin memacu cepat, dia bisa melihat Nan Yin tapi tidak melihat tanda-tanda kehidupan lagi di sana. Gadis itu tertelungkup dengan wajah tertoleh ke samping bersimbah darah, tubuhnya menghitam pekat, tidak ada gerakan lagi selain rambutnya yang kini tertiup angin malam. Begitu diam.
Nan Ran menerobos kerumunan musuh, memutar senjata dengan ganas berharap mereka memberikan jalan agar dia bisa mendekati Nan Yin.
Tak sampai sepuluh meter dari tempat di mana Nan Yin terbaring, Nan Ran menghentikan langkah tiba-tiba.
Situasi ini membuat dirinya bingung, merinding dan juga gelisah. Tidak ada yang berbicara di sana, mereka hanya berkeliling membentuk pusaran di tengah-tengah Nan Yin dan pendeta itu. Bahkan Nan Ran yang saat ini sedang berada dalam situasi panik sampai melupakan apa yang dikejarnya. Dan hanya berdiri kaku ibaratnya batu yang tertancap di tanah.
Pendeta itu memiliki hawa yang sangat berbeda. Hawa itu sama sekali tidak menyentuh fisiknya, tapi menghentikan sesuatu di dalam dirinya.
"Kau adalah kakak yang baik."
Kata pertama yang keluar dari mulut pendeta membuat Nan Ran tersadar.
"Lepaskan Nan Yin! Dia sama sekali tidak terlibat perang ini! Dia masyarakat, kau akan dikenakan hukum jika sampai membunuhnya!"
Nan Ran menyesal mengapa Nan Yin harus mengetahui hari perang ini. Dia sudah menasehati Nan Yin mati-matian untuk tidak turun ke medan perang yang hanya akan membahayakan nyawanya. Sebelum pergi Nan Ran sempat memastikan gadis tidak akan pergi ke tempat ini. Namun Nan Yin memang sangat pandai mengelabui. Gadis itu pasti tadi sedang mencarinya dan berakhir terjebak dalam kerumunan musuh.
Di sisi lain dengan tetap tenang, pendeta itu menanggapi omongannya.
"Itu hanyalah peraturan di tempatmu. Lagipula gadis ini sudah terbunuh."
"Kau-" Nan Ran terkejut. Mencoba memahami apa maksud itu semua. Adiknya telah tiada. Kenyataan itu perlahan-lahan membuatnya sadar dan meneteskan air mata.
"Pembunuh!"
"Jika membunuh jiwa-jiwa pendosa adalah demi kebaikan, maka aku rela mengotori tanganku. Seberapa banyak pun itu."
Pikiran Nan Ran kacau di detik itu juga, dia mengangkat senjata setinggi-tingginya dan berteriak hingga siapa pun dapat mendengar. Suara yang putus asa dan kehilangan.
Lao Zi yang ternyata sudah tak jauh dari sana terkejut tak main-main. Nan Ran berdiri di hadapan seseorang yang bukan lawannya. Sebelum Nan Ran benar-benar memulai pertarungan Lao Zi lebih dulu menahan tubuh Nan Ran.
"Jangan ceroboh."
"Jangan ceroboh katamu?! Adikku telah terbunuh, bajingan!"
"Kau hanya akan mati jika berhadapan dengannya!"
"Kau menyuruhku kabur dengan tidak tahu dirinya di hadapan mayat adikku yang telah dia bunuh?!"
Tangan besar Nan Ran menepis Lao Zi keras, wajahnya semakin padam dilalap api kemarahan.
Lao Zi tak bisa menjawab apapun. Dia tahu Nan Ran sedang kehilangan. Tapi sosok Pendeta di hadapan mereka mustahil untuk mereka kalahkan. Dia adalah mantan dari Sepuluh Terkuat, Zhaohuo. Pendeta yang memiliki ilmu bermeditasi tingkat tinggi. Ketenangan di dalam dirinya ibarat pisau tajam yang bisa menghancurkan sekitarnya. Tanpa perlu dirinya menyentuh.
Para kerumunan musuh mendadak mundur tiga langkah. Keduanya memerhatikan gerak-gerik itu tanpa bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi.
Zhaohuo duduk bersila layaknya bunga Lotus. Tangan ditangkupkan di depan, sekitarnya menjadi tenang kembali. Satu menit tidak terjadi apa-apa hingga Nan Ran yang gelap mata berteriak.
"Kau lihat itu?! Dia hanya menggertak! Aku akan membunuhnya!"
Saat Nan Ran berlari ke arah laki-laki itu api besar keluar yang langsung mengejar sekitarnya. Nan Ran yang kaget mundur secepatnya, tetapi api itu masih dapat menjangkaunya. Dan lebih mengejutkan lagi saat api tersebut dapat mencengkram kakinya.
Di depan mata Lao Zi, Zhaohuo terlihat begitu mengerikan. Seorang pendeta yang di sekelilingnya dipenuhi kobaran api. Api-api dari tubuhnya membuat jalan mereka sendiri dan mengincar para prajurit terdekat yang langsung mati terbakar. Semakin banyak yang mati, semakin besar pula api itu.
Nan Ran tidak dapat melepaskan diri, dia digantung begitu saja di udara dengan cengkraman api tersebut. Tubuhnya seperti sedang dipanggang dalam bejana besi. Lao Zi berusaha memanah api-api tersebut tapi hasilnya nihil, api tersebut kembali bersatu dan mengikat Nan Ran semakin keras.
Api milik Zhaohuo mengangkat tubuh Nan Yin yang telah menghitam pekat. Kini Nan Ran tahu bahwa adiknya telah mengalami hal yang sama. Mati terbakar di tangan pendeta iblis. Tangannya terkepal tak berdaya. Di situasi ini pun, Nan Ran bahkan tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
"Aku bukan kakak yang baik ..."
Keputusasaan di wajah Nan Ran terlihat amat menyakitkan. Jika mengingat semua kenangan buruk yang mereka lalui dulu. Bertahan hidup mati-matian di tengah dunia yang begitu ganas. Hanya Nan Yin alasannya hidup. Nan Ran begitu mengingat saat kecil dulu mereka dipukuli habis-habisan karena mengutip butiran beras yang jatuh di tanah. Atau tidur di jalanan bersalju hanya dengan berselimutkan daun jerami yang hampir membusuk.
Tubuh Nan Yin kembali terbakar dan hanya menampakkan siluetnya. Detik demi detik di mana tubuh itu menghilang, berganti menjadi debu.
Nan Ran menunduk lalu berteriak, dia menangis. Tangisan yang hampir sepuluh tahun di tangannya karena takut membuat Nan Yin sedih. Keputusasaan yang dipendamnya karena dia tak ingin melihat adiknya putus harapan. Mereka ingin hidup. Namun mengapa saat mereka telah menemukan rumah yang nyaman, salah satunya harus tiada?
Lao Zi mematung sesaat. Ini tidak bisa terus dibiarkan, pikirnya. Satu-satunya cara adalah dengan membunuh Zhaohuo. Laki-laki itu tidak terlihat seperti makhluk hidup lagi saat ini. Dari lubang matanya kobaran api berkecamuk. Jubahnya tetap berkibar meskipun api seolah-olah sedang membakar tubuh laki-laki itu. Dan pada akhirnya, terdengar suara mengerikan dari Zhaohuo.
"Jika dengan bersatu bersama iblis aku bisa membunuh manusia kotor seperti kalian, maka aku rela membuang semuanya. Demi kebaikan."
Api-api menyebar ke segala arah. Diiringi teriakan-teriakan yang tak berkesudahan. Satu per satu nyawa melayang. Namun laki-laki itu sama sekali tidak menampakkan wajah bersalah.
Yang lebih mencengangkan lagi adalah bahwa api di tubuh Zhaohuo tidak padam meskipun hujan tak henti-hentinya turun di atas mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Johnne Mbah Jowi
xin lg tidur x y
2023-05-10
0
Baim
mn rencana pertahanan? maju doang ga ada aturan. ga ada perhitungan strategi. berapa kekuatan musuh. siapa hadapi siapa? cerita babi busuk menyebalkan. bintang satu pun ga bakal dpt cerita kayak gini
2023-04-19
0
Baim
tokoh utama mn? pemimpin Tp ga ada mengatur tim?tim dibantai musuh dan selama ini mn hasil peningkatan latihan? cerita tolol. apa hasil nyusup? ga ada. cerita ga jelas. kelas embek
2023-04-19
0